Pagi-pagi buta kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang, cukup bagi kami mengenang Cesa di kamarnya. Sudah waktunya kami menjalani kehidupan sehari-hari layaknya biasanya.
Masih terlelap ketika Kanya menggendong Ara dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tante Dea yang matanya masih begitu tembam, kurasa tidurnya kurang nyenyak semalam. Om Mukti yang sudah sama segarnya denganku, atau memang terpaksa segar sebab kami akan menyetir bergantian pagi ini. Om Shandi, dia bahkan masih bermuka bantal meski wajah tampannya itu telah terguyur oleh air wudhu.
Perjalanan dimulai setelah semua orang menyembah Tuhan dalam ibadah khusyuk. Di saat matahari belum menampakkan sinarnya, bahkan ayam jago belum berhenti berkokok. Ini terpaksa sebab aku dan Mukti harus segera kembali bertugas meski ini hari Minggu. Mana ada yang bisa memilih tugas semaunya? Tidak ada.
Tidak sampai tiga jam, kami sudah singgah di rumah masing-masing. Ara yang masih tertidur juga langsung meringkuk di atas tempat tidurnya. Sementara Kanya langsung sibuk dengan tugasnya sebagai seorang Ibu dan Istri.
Aku tahu itu tidak akan mudah bagi Kanya. Hamil muda, lelah habis perjalanan panjang, dan langsung melakukan pekerjaan rumah. Maka hebatlah perempuan-perempuan yang mendampingi suaminya tanpa bantuan orang lain.
"Yah, seragamnya di pintu almari ya? Sepatunya baru Bunda semir," teriak Kanya saat aku masih mengguyur tubuhku dengan air dingin.
"Biar Ayah yang nyemir sendiri," balasku dari dalam kamar mandi.
"Terlanjur, Yah."
Jika sudah begitu, kubiarkan saja dia menyemir sepatuku dan sebetulnya dia paling suka hal itu. Kanya akan merasa lebih baik saat bosan, marah, kesal atau emosi-emosi buruk lainnya ketika sedang menyemir sepatu. Katanya menenangkan emosinya. Aneh-aneh saja. Tapi kupikir dia sesemangat itu untuk melupakan pikirannya semalam soal Cesa.
"Bunda," panggilku sambil merapikan ikat pinggang.
"Hemmm?" Mengangkat dagunya menatapku.
"Habis ini langsung istirahat saja. Biar Ayah panggil Simbok di rumah Uti buat beresin sisa pekerjaanmu."
"Tapi..."
"Jangan protes kalau dibilangin suami. Sekarang sudah punya anak satu, mau dua lagi kan? Apa iya terus-terusan membantah apa perintah suami? Bahkan prajurit Ayah tidak berani membantah setiap perintah yang diberikan, justru istri sendiri yang sering bantah. Apa itu wajar?"
Kanya terdiam di tempatnya, dia hanya bisa tersenyum tipis dan kembali menyemir sepatuku.
"Anak perempuanmu itu kalau tidur macam Bundanya. Kaki yang tadinya di barat jadi di timur," kataku sambil mengusap lembut kepala Ara.
"Memangnya Bunda kalau tidur seperti itu? Tidak loh!" Protes Kanya yang jelas tidak menyadari posisi tidurnya, memang siapa yang sadar bagaimana geraknya saat tertidur.
Aku menatap Kanya sekilas, "orang kalau tidur itu enggak sadar. Iya pas awal nikah masih pada jaga image, begitu anak sudah satu semua jadi ketahuan."
Kanya menahan malunya, pipi merah bak tomat hampir matang. "Ayah juga begitu kan? Dulu awal nikah tidurnya enggak ngorok, kenapa sekarang-sekarang sering ngorok?"
"Ya makanya itu, Ayah dulu jaga image biar Bunda enggak nyesel aja nikah sama Ayah. Masa' baru nikah langsung ketahuan buruknya," candaku menghampirinya yang sudah selesai menyemir sepatu.
"Dasar!"
Kami duduk berdampingan saat aku mengenakan sepatu dinasku. Kanya memandangiku, semua gerakkanku, sementara aku tetap fokus pada tali-tali sepatu.
Setelah menyelesaikan ikatan terakhir, aku langsung menghadap pada Kanya. Menatap bola mata hitamnya itu begitu dalam. Menikah sudah hampir 3 tahun tapi Kanya tetap saja berpipi merah saat aku menatapnya terlalu dalam. Dan aku menyukai itu.
"Pokoknya habis ini langsung tidur, jagain Kak Ara sama calon Adiknya. Jangan lupa nanti makan siangnya, Ayah bilangin ke Simbok nanti menunya buat Bunda apa, buat Kak Ara apa. Pulang mau dibawain apa?"
Setelah mengangguk-angguk untuk perintahku, "em, cukup bawa keselamatan saja. Cepat pulang," katanya bernada manis.
"Pasti kalau itu. Untuk kamu dan Ara."
Kanya menyunggingkan senyum yang selalu membuatku rindu. Kukecup keningnya lalu dia mencium punggung telapak tanganku, selalu begitu saat kami harus berpisah demi tugas. Meski hanya beberapa jam saja, nanti juga kembali lagi.
Lagi-lagi bosannya aku bertemu dengan Mukti. Setiap saat hanya Mukti yang kutemui, masih mending sekarang ada Perwira baru, fresh graduate dari Akmil. Masih lebih baik daripada harus dengan Mukti bertahun-tahun.
"Abang," panggil Mukti menghampiriku yang tengah duduk santai dengan Letda Syahrian.
"Apa?"
"Dea masa' marah-marah pagi ini," katanya tidak melihat ada orang lain di sebelahku.
"Kenapa?"
"Abang ini, tiap hari kalau ketemu sama Bang Sada selalu curhat soal rumah tangga. Aku belum ngerti, Bang." Syahrian agaknya kurang pas dengan setiap pembicaraan kami. Lebih banyaknya soal keluarga, bukan soal pacar seperti halnya yang Syahrian selalu curhat kan pada kami.
Aku menahan tawa, "dua tahun lagi nikahlah biar ngerti."
"Benar itu, Letda satu ini kalau curhat tentang pacar yang sering protes soal waktu, soal jarak, berisik katanya, Bang. Tidak tahu saja berisiknya pacar dia hari ini lebih berisik lagi pacar dunia-akhirat kita, Bang."
Mukti benar, omelan Kanya waktu kami masih pacaran dengan setelah kami menikah benar-benar lebih berisik setelah kami menikah. Kanya kalau sedang mengomel bisa sampai 350 tahun lamanya. Panjang dan banyaknya kalimat bisa sampai dibukukan. Tapi aku tetap mencintainya.
"Ah, Abang ini, bikin takut nikah."
"Alamak, bagaimana pula si Letda ini, Bang?"
"Nikah memang rumit, Syahrian. Tapi lebih membahagiakan, menyenangkan dan lebih berkah dari sekedar pacaran. Jangan takut," kataku sedikit mentertawakannya.
Syahrian hanya menghela napas.
"Terus kamu mau curhat apa sama Abang? Tunggu, kamu percaya sama Abang, sama Syahrian?"
"Harusnya ya percaya, Bang. Lah masa' iya kita mau ember ke orang-orang. Kek Ibu-ibu yang lagi nungguin anaknya di TK, ngerumpi aja." Justru Syahrian yang menanggapi lebih dulu, bukannya Mukti.
Aku menghela napasku, Syahrian mana tahu soal urusan rumah tangga. Dia tidak mengerti apapun, jika sudah mengerti juga tidak akan dia pacaran terlalu lama, ah tapi dia masih ikatan dinas.
"Syahrian, namanya keluarga itu saling menjaga dan menutupi, bukan menutupi rahasia adanya istri muda."
Syahrian dan Mukti tertawa.
"Setiap manusia kan tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangannya. Dan setiap pasangan suami istri itu tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing individu. Kekurangan itu yang akhirnya menjadi aib bagi masing-masing, dan suami wajib menjaga aib istrinya begitupun sebaliknya. Sekarang, Om Mukti, kalau mau cerita tentang Tante Dea, Abang tak masalah, cuma itu masalah enggak buat kamu, kamu juga percaya atau tidak sama Abang dan Syahrian."
Keduanya mengangguk paham, harusnya Syahrian ingat-ingat betul kalimatku hari ini. Sebab berguna sekali ketika dia akan membangun rumah tangganya, bukan aku sok mengajari tapi aku sudah lebih dulu mengalami ini. Orang pintar selalu kalah dengan orang berpengalaman kan? Kenapa, perihal teori itu terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
"Itukah alasan Abang tidak pernah bercerita tentang masalah keluarga? paling masalah perkembangan Ara," kata Syahrian.
Aku mengangguk, toh tidak ada pula yang harus aku curhat kan sampai pusing tujuh keliling.
"Terus kalau pusing banget gitu, Abang curhat sama siapa?"
"Sampai detik ini masih dengan Mama dan Tuhan, baik Mama mertua ataupun Mamaku sendiri. Beliau bisa mengerti dan dijamin tidak membocorkan aib Kanya."
"Oh, wajar. Sekarang yang aku punya juga cuma Abang. Mamaku sudah tidak ada, Mama mertua? Entahlah, beliau sudah terlalu sepuh untuk memikirkan masalah rumah tanggaku. Macam mana pula ini aku mau cerita, Bang?"
"Aib istri bukan ini, Bang?" Tanya Syahrian pada Mukti yang duduk di depannya, mungkin dia tahu Mukti bingung jadi curhat atau tidak setelah mendengar tausiyah-ku.
Mukti berpikir sejenak, "entahlah ini aib atau tidak. Tapi aku percaya sama Abang dan Letda Syahrian. Ah, macam mana pula." Dia kebingungan sendiri.
"Tante Dea lagi sindrom kali, Om," aku lebih dulu menyela. Menebak saja, seseorang yang hamil tua biasanya kalut dan bingung sendiri, sering marah dan khawatir. Panik juga perihal melahirkan yang belum pernah dia jalani sebelumnya. Kanya dulu juga begitu, mendekati kelahiran Ara, dia sering marah padaku.
"Sindrom gimana?"
"Menjelang melahirkan, Abang tengok dia itu biasanya sabar menghadapi kamu. Mungkin dia sama seperti Kanya, menjelang melahirkan itu mulai buka-buka video melahirkan, persiapan katanya tapi dia jadi parno sendiri, panik sendiri, karena itu emosinya meledak-ledak kadang-kadang. Tapi ya gitu sih, itu cuma sampai dia melahirkan, setelah melahirkan beda lagi sindromnya."
"Sememusingkan ini menghadapi istri yang hamil tua, Bang?" Dengan raut wajah penuh dengan keluhan.
Aku menahan tawa, dia yang bilang siap nikah tapi baru begitu saja sudah mengeluh, sudah pusing. Sebelum menikah, harusnya dia pastikan kuat menghadapi segala macam hal yang tidak terduga.
"Om, emosionalnya istri waktu dia mengandung itu masih ringan. Nanti kalau sudah melahirkan, suara anak nangis tengah malam, suara istri menimang, emosi tambah naik turun. Itu lebih memusingkan, tapi melihat wajah mereka selalu melegakan. Memang agak kaget awalnya, tapi Om yang memilih menikah, jadi biasakan saja." Menepuk bahunya dengan sedikit menahan tawa.
Mukti hanya mengangguk-angguk kecil.
"Aih, ini kumpulan Papa dan calon Papa. Kurang paham, tapi terimakasih atas pelajarannya, Bang. Mungkin bisa jadi pelajaran kalau nanti aku nikah," sahut Syahrian.
"Persiapan, Syahrian. Besok biar enggak kaget," kataku menepuk bahunya.
Aku melangkah pergi meninggalkan dua manusia yang terkadang ribet sendiri itu. Asal kalian tahu, mereka itu sering sekali terlalu panik dan terlalu ribet menyikapi sebuah masalah. Nanti juga kalian tahu.
Dinas hari ini tak akan panjang, belum ada pekerjaan yang melelahkan semacam latihan atau harus bertemu Danki juga Danyon. Jadi aku bisa pulang lebih awal dan menemui Ara, mengganti Bundanya yang jelas akan lebih fokus pada janin di kandungannya. Kemarin sempat aku katakan kandungannya sempat lemah, dan itu membuatku harus ekstra mengingatkan juga membantunya. Kalian harusnya tahu sepanik apa aku kala itu, sampai sekarang paniknya masih. Walaupun aku sembunyikan, sok tenang saja sebenarnya.
Memasuki rumah tanpa ada yang menyambut, Kanya pasti tengah sibuk di dalam, atau syukur-syukur dia sedang tertidur lelap.
Kudengar suara Ara berbicara tak jelas dari kamar, juga suara langkah kaki dari arah dapur.
"Pak, Simbok mau pamit dulu. Sudah selesai semuanya," kata Simbok yang biasa berkerja di tempat Mama. Memang tadi aku panggil untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah hari ini. Biar Kanya bisa istirahat lebih banyak.
"Oh iya," aku bangkit dan hendak mengeluarkan hak Simbok atas pekerjaannya.
"Maaf, Pak. Tadi Ibu sudah ngasih. Mpun mboten sah, niki mawon kekathahan, Pak. Simbok nggeh mboten khatah kerja wau, dibantu sama Ibu," kata Simbok menghentikan gerakanku.
Dahiku mengernyit, berpikir sejenak. "Ibu enggak tidur tadi, Mbok?"
Ternyata masih susah juga bilangin Kanya biar lebih banyak istirahat. Istriku itu memang bukan orang yang suka berdiam diri, lebih suka gerak dan menyibukkan diri. Nanti kalau kambuh vertigonya baru diam sebentar.
"Tadi sudah mau tidur tapi katanya tidak bisa tidur, terus bantuin Simbok, baru bisa tidur lima belas menit yang lalu, Pak. Vertigonya kambuh gitu. Sepertinya banyak yang Ibu pikirkan, Pak."
Terdiam sejenak, sejak kemarin memang aura Kanya belum sepenuhnya bebas seperti biasanya. Mungkin masih karena Cesa.
"Nggeh, Mbok. Matursuwun nggeh. Ngapunten menawi wonten kirangipun," kataku halus pada Simbok yang juga selalu sopan padaku.
"Nggeh, Pak. Pamit riyen," sahut Simbok melangkah pergi.
Aku menghela napas panjang, mempersiapkan diri sebelum masuk ke dalam kamar yang jelas isinya Kanya dan Ara.
Semakin mendekat semakin jelas suara Ara mengoceh sebisanya. Ada kata yang sudah jelas, ada pula yang tidak bisa kumengerti dia ngomong apa. Dia macam mainan kecil yang baterainya kualitas terbaik, makanya tidak punya lelah dalam mengoceh.
"Yah," panggil Ara ketika melihatku masuk ke dalam kamar masih dengan seragam lengkap juga baret di bahu.
"Sssst," meletakkan telunjukku di depan mulut.
Ara langsung terdiam kaku dan matanya membulat.
Aku mendekati Ara dan memangkunya. Di depan kami sekarang ada Kanya yang tengah terlelap dengan wajah lelahnya. Dia tetap terlihat cantik seperti biasanya.
Kuusap lembut kepalanya tak akan kuganggu dia, biar istirahat dulu sepanjang yang dia mau. Syukur-syukur bisa kembali lebih baik dari yang sebelumnya.