Prolog
“It's holiday, baby.”
Malam tahun baru yang begitu meriah, dentuman suara meriam yang menembakkan kembang api dilangit gelap membuat pekatnya malam menjadi begitu bercahaya.
Cahaya kembang api yang begitu indah, sangat indah.
Tidak dengan hatiku, ada sesuatu yang salah disini.
Ada sesuatu yang tidak aku mengerti tetapi aku tahu aku tidak bisa mengabaikannya.
Kaki jenjangku kembali melangkah menuju ruangan dimana acara tahun baru kami diadakan.
Suara dentingan gelas kristal berisi minuman beralkohol terdengar yang membuat suasana semakin terasa riang dan gembira. Beberapa pasangan mulai berdansa di lantai dansa diiringi wajah yang memerah karena mabuk, beberapa pasangan terlihat tidak malu-malu menunjukan kemesraan dengan berciuman diatas sofa, beberapa pasangan menikmati musik blues dengan gerakan dansa yang begitu intim bahkan terkesan erotis.
Aku tidak pernah terbiasa dengan pesta seperti ini tetapi disinilah aku berada, mencoba menikmati pemandangan disetiap sudut ruangan. Mengedarkan pandanganku mencari sosok yang seharusnya menemaniku, tetapi tidak dapat kutemukan.
Tidak ada yang memperhatikan kedatanganku, mereka semua mungkin menganggapku anak kecil yang tidak perlu diperhatikan tetapi aku bukan lagi anak kecil.
Glek!
Aku harus menelan ludahku, aku harus memejamkan mataku dan mengepalkan kedua tanganku.
Pasangan yang berciuman dibalik tirai, aku mengenal kedua sepatu pasangan tersebut meskipun wajah mereka tertutup tirai.
Aku mengenal mereka.