Bab 8

1319 Words
Sabtu pagi, Shara kesal bukan main. David bangunin dia jam 5 dini hari demi car free day. David sampai gedor-gedor kamarnya Shara. Shara benar-benar murka. Rasanya ingin ia tabok tapi ia tahu David itu harus dihormati. Dia bukan cuma kakak tingkat di kampus tapi juga kakak kelasnya waktu SMA. Dengan mata yang masih ngantuk, Shara ganti baju. Ia menemui David di depan kosan. Ia menatap cowok itu dengan kesal. “Buru Sha. Kita harus rajin olahraga biar sehat.” “Terserah lo deh kak. Gue mau jalan santai.” “Entar gue tinggalin.”ancam David. Shara langsung menyusul cowok itu. Daripada ditinggal lebih baik ia menggunakan sedikit energinya buat lari.  Sejak Shara tahu kalau David punya pacar, ia jadi kesal banget. Apapun yang David lakukan bikin Shara mumet. Terutama hari ini. Dibangunin pagi-pagi cuma buat olahraga. Shara tuh tiap hari sibuk kerja dan kuliah. Dia bukan kaum rebahan yang gak punya kerjaan.  Car Free Day di Jakarta ternyata tak seburuk yang ia pikir. Banyak makanan yang dijajakan. Mulai dari ketoprak, gado-gado hingga pecel. Semuanya sangat menggiurkan. Langkah kaki Shara malah fokus sama makanan-makanan itu. Apalagi ia melihat seorang cowok lagi makan disana. Suapan-nya itu loh, benar-benar menggugah selera.  “Nih anak malah fokus ke makanan. Ayo Sha, lari dulu lima putaran. Abis itu boleh makan.” “Ish, nyebelin banget sih. Harus lima putaran? Gue udah jarang olahraga kak. Dua putaran aja udah syukur.”keluh Shara tak terima. “Kalau berhasil lima putaran, gue traktir lo makan ketoprak.” Seketika jiwa berjuang Shara datang. Kalau makan pagi ini disponsori David, dia gak perlu ngeluarin duit. Uang bulanannya udah makin menipis. Takutnya dia gak bisa makan entar di  akhir bulan. Dengan sigap Shara menyetujui. Ia berjuang melewati tantangan itu. Badannya sampai lemes. David udah mau sepuluh putaran, ia masih harus berjuang untuk yang keempat. Tapi lagi-lagi, ini demi sarapan gratis. Setelah nafas tersengal-sengal, Shara duduk disamping David yang sudah memesan dua porsi ketoprak dengan telur dadar. Shara sudah request yang pedas, sedang David sukanya yang gak pedas.  “Minum dulu nih.”ucap David sambil ngasih Shara satu botol air mineral. Shara buru-buru meminumnya. Cahaya matahari yang semakin menyengat membuat dia makin gerah. “Geser situ dong kak, disini panas banget.”seru Shara. Tenda itu cuma mampu melindungi David dari sinar mentari. Bukannya geser, David malah berdiri dan menyuruh Shara duduk di tempatnya. Ya, mereka jadi ganti posisi. Siapapun yang melihat itu, pasti mikir kalau David itu laki-laki macho yang disukai banyak cewek. Shara yang kepekaannya makin menurun malah gak sadar. Dengan senang hati, ia duduk di tempat David tadi.  “Makasih pak.”ucap Shara ramah saat dua porsi ketoprak mendarat di tangannya. Ia memberi satu untuk David. Tentu saja yang tidak pedas.  “Makasih loh kak, gara-gara lo gue sarapan gratis.” “Itu cuma sogokan biar lo gak marah.” “Lagian lo itu parah sih. Udah tau gue malas olahraga, mala dibangunin pagi-pagi banget. Kalau mau olahraga, mending sore kak. Gak perlu bangun pagi.” “Sore mah gue ada urusan. Emang elo?” “Yang butuh siapa, yang ada urusan siapa. Nyebelin!” David tertawa kecil. Ia kembali fokus dengan ketoprak di tangannya. Rasanya enak banget. Apalagi mereka sudah masuk di tahap lapar. Apa saja bisa jadi enak kalau sudah lapar.  “Shara, ngapain lo?”tanya seorang cowok berbadan besar. Ia berdiri tepat di depan David. Cowok itu berkumis dan terlihat dewasa. Dios dengan baju olahraga mengganggu konsentrasi Shara makan ketoprak. Bahkan telur dadar yang ia simpan untuk dimakan terakhir terjatuh. Ia menatap Dios tajam. “Pak,pak, minta telur dadar 1 lagi.”seru Dios pada bapak yang jual. Ia langsung ciut melihat wajah kesal Shara. Shara yang tadinya ingin ngomel jadi tertahan. Ia hanya mendengus kesal. “Lo ngapain disini?” “Olahraga dong mas. Masa belajar.” “Maaf deh kalau telurnya jatuh. Itu udah gue pesen yang baru.” “Iya…” David menyenggol badan Shara. Ia penasaran, cowok itu siapa. Bisa-bisanya Shara kenal sama cowok kayak Dios. Cowok tua yang kelihatannya jauh lebih tua dari David. “Ah, kenalin kak. Ini Mas Dios, pemilik kafe tempat gue kerja. Mas Dios, kenalin ini Kak David, teman satu kosan gue.” Mereka saling berjabat tangan. Jabat tangan itu kayak kaku banget. Gak ada keramahan didalamnya. Dalam hatinya, David berpikir keras, kok bisa Shara dekat banget sama pemilik kafe tempat dia kerja. Mereka seharusnya sebatas bos dan karyawan. Tapi ngeliat reaksi yang tadi, mereka lebih dekat dari sekedar rekan kerja. Sedang Dios berpikir yang sama juga. Dia meneliti David dari atas sampai bawah. Pertemanan yang sekedar satu kosan di antara cowok dan cewek. Hey, mereka pasti sangat dekat. Bahkan pergi olahraga bareng.  “Lo olahraga sendiri?”tanya Shara sambil terus menikmati ketopraknya. Dan saat pertanyaan itu tersampaikan, dua orang dayang-dayang Dios datang. Midi dan Jeffrey datang dengan celana ketat yang bikin salfok. “Haiii Shara!!” “Hai,,,”balas Shara dengan suara setengah.  “Gimana Di, jadi lihat cewek yang disana?”tanya Jeffrey dengan mata genitnya. “Udah ayok. Keburu mereka pada pulang.”lanjut Midi dengan keyakinan penuh. “Hmm, kita pergi dulu ya.”seru Dios dengan mata mengarah pada Shara. Shara mengangguk. Dios malah tak menggubris David. Ya, dia pergi tanpa bilang apa-apa ke cowok itu.  Shara kembali melanjutkan makannya. Rasa pedas bumbu kacang itu membuat matanya melek. Ia melihat David yang udah gak selera makan. Ia malah naro bumbu kacangnya di mangkuk David. “Makan kak, beneran enak yang pedas.” “Gak mau ah, gue gak bisa makan pedas.” “Coba dulu. Itu kan cuma sedikit. Please!” Dengan terpaksa David makan bumbu kacang yang dikasih Shara. Saat makanan itu masuk ke mulutnya, ia merasakan pedas yang tak terkira. Ia langsung ambil botol minumnya. Tapi tetap aja pedasnya gak ilang. Dengan sigap Shara ngasih dia permen yang selalu ia taruh di kantong celananya. “Parah lo, pedas banget itu.” “Biasa aja ah. Itu masih standar di mulut gue.” “Hati-hati loh, efeknya bisa entaran.” “Iya kak.” “Cowok yang tadi, lo hati-hati sama dia.” “Mas Dios? Kenapa mesti hati-hati.” “Dia mukanya punya maksud.” “Jangan suudzon kak. Gak baik.” David langsung sadar. Kenapa juga ia mesti peduli? Lagian dia gak seharusnya menilai orang dari tampilan luar. Meskipun tiga cowok tadi sibuk ngedeketin cewek-cewek yang lagi nongkrong di bawah pohon, tapi David seharusnya gak menilai dari itu. Ia melihat wajah mungil Shara. Ah, semoga saja orang-orang yang didekatnya gak membahayakannya. David langsung ingat, kalau kemarin dia nyari informasi tentang Shara. David punya banyak teman waktu SMA, bahkan adik kelas. Mereka tidak mengenal Shara dengan pasti. Hingga akhirnya, David nanyain tentang Shara di grup angkatannya. Satu orang yang tidak terlalu dekat dengan David mengirim pesan secara private. Dia bilang kalau Shara itu anak dari keluarga Sandiaga Cuatro. Keluarga ini dikenal sebagai pengusaha kaya yang tinggal di kota Malang. Jelas saja David jadi kepo. Apalagi kejadian yang terjadi di kampus beberapa hari lalu. Saat ada orang yang nyariin Shara sampai ke kampus. Apa benar itu karena Josen? Atau memang Shara terlibat sesuatu yang bisa membahayakan dirinya? David pengen banget nanya. Tapi kayaknya Shara belum mau cerita. Ia bakal nunggu sampai cewek itu mau cerita. Kan tak baik kepo sama urusan orang.  “Lo kenapa kak, kesambet?”tanya Shara melihat David bengong. “Kesambet apaan jam segini? Udah yuk, pulang.” Shara mengikuti cowok itu. Mereka berjalan beberapa kilometer untuk bisa sampai ke kosan. Dan saat sampai di kosan, mereka melihat Ririn dan pacarnya berantem. Pacarnya itu malah memukul Ririn sampai bikin wajah cewek itu berdarah. David langsung menutup mata Shara dengan kedua tangannya. Ia berbisik lembut. “Jangan dilihat ya.” Satu kata yang bikin jantung Shara berdegup kencang. Entahlah, hatinya masih berfokus sama David. Dia merasakan getaran yang gak biasa. Ia menuruti ucapan David dan menutup matanya dengan sukarela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD