Shara sampai di hotel Amaris. Jangan salah, outfit yang Shara pakai gak bikin dia kelihatan miskin. Meskipun aslinya dia emang lagi miskin banget. Dia sedang menunggu Josen di sana.
Ia teralihkan oleh sepasang suami istri dengan anak perempuannya. Mereka baru saja turun dari mobil. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah mereka. Senyum yang merekah dan aura positif. Andaikan Shara punya orang tua seperti mereka. Angan itu hanya sekedar halusinasi belaka. Iri sih, tapi ia harus tabah punya bokap overprotektif seperti Sandiaga Cuatro.
“Hey!!”sapa Josen menghentikan lamunannya. Josen datang dengan jas rapi dan sepatu pantofel. Shara sampai mengucek matanya. Ia mau memastikan kalau cowok tampan di depannya itu adalah Josen.
“Lo mau kemana?”
“Hmm, tampilan lo udah oke. Tapi perlu ke salon.”seru Josen tersenyum.
“Jelasin dulu Jos, kita mau kemana?’
“Hmm, jadi gini, gue ada kencan buta yang dirancang sama kakek gue. Gue benar-benar gak mau dijodohin. Dan gue butuh lo buat bikin cewek-cewek itu ilfeel.”
“Hah? Jadi tujuan lo itu. Gue gak mau.”
“Bukannya lo butuh uang?”
Pertanyaan yang sungguh membuat jiwa matre Shara menggelora. Josen menjanjikan uang yang lumayan banyak. Kalau ia tolak, ia akan kelaparan akhir bulan ini. Dan David akan jadi korban keserakahannya. Sungguh pilihan yang berat.
“Gue tambahin deh, lima puluh persen dari jumlah yang sebelumnya.”
“Oke.”seru Shara.
Shara mengikuti Josen menuju salon di gedung itu. Salon mahal dengan kualitas diatas rata-rata. Outfit Shara sudah sangat oke, tinggal bagaimana wajahnya dipermak. Ia harus lebih berkelas dibanding cewek yang akan ia temui hari ini.
Disinilah terbukti bahwa harga menentukan kualitas. Shara sampai kaget melihat wajahnya sendiri. Apa yang terpampang di cermin seperti bukan dia. Sungguh, ternyata Shara secantik itu. Tak hanya Shara yang kaget, Josen sampai batuk melihat malaikat tanpa sayap yang muncul di depannya. Ciptaan Tuhan memang luar biasa. Jauh di atas nalar manusia. Cewek yang tadinya sederhana dan biasa, jadi berubah signifikan. Cantik, manis dan menggoda.
“Ehmm, lo cantik.”ucap Josen dengan mata yang masih dihipnotis.
“Hah?”
“Ga apa-apa. Let’s go!”seru Josen tersenyum.
Sungguh, berjalan bersama Josen membuat Shara ingat akan hari pernikahan. Mereka udah kayak dua sejoli yang siap menikah. Tampilan mereka berhasil bikin orang-orang salfok.
“Kenapa kakek lo sehina itu?”tanya Shara kurang ajar. Mereka lagi dalam perjalanan ke Pasifik Place, tempat pertemuan.
“Lo kok kurang ajar sih?”
“Ya, sama aja kayak bokap gue. Mereka sama-sama hina. Hobby nya ngurusin jodoh orang.” Josen tertawa keras. Bukannya menghina orang lain, Shara malah menghina dirinya sendiri.
“Kakek gue itu punya banyak saudara. Dan dia orang yang punya banyak harta. Ya, lo bisa lihat sendirilah. Semua yang gue pake ini dari dia. Cucu satu-satunya dari anak laki-lakinya itu cuma gue. Saudaranya dia punya cucu banyak banget. Dia cuma mau gue bisa memperkuat diri dengan nikah sama anak orang kaya. Setidaknya, gue bakal ambil alih perusahaan. Dan bukan sepupu gue.”
Harta memang sangat menggiurkan naluri manusia. Apapun akan dilakukan biar harta itu tetap bertahan. Bukannya bersyukur, mereka malah ingin semakin kaya. Gak pernah puas dengan yang dipunya. Shara serasa berkaca. Bokap nya juga ngebet banget lihat Shara nikah. Tentu dengan orang pilihannya. Tentu saja untuk memperkuat statusnya.
“Jangan bilang lo pernah pacaran sama orang biasa dan gagal?”
“Ya, cuman orang itu malah dengan rela hati nurutin kakek gue. Artinya dia deketin gue karena gue kaya.”
“Jangan suudzon dong Jos. Bisa saja dia terpaksa. Kayak di film-film.”
“Sumpah, engga. Gue bisa pastikan itu.”
“Pasti dari mana. Bisa aja dia diancam akan dibunuh. Atau keluarganya bakal dicekoki baygon biar mati. Aih, seram.”seru Shara dengan halusinasinya yang tingkat tinggi.
“Dia selingkuh.”
Satu kata yang bikin mulut Shara berhenti nyerocos. Itulah pentingnya mendengarkan. Kadang manusia memang sukanya bertindak sebelum berpikir. Jadilah menyesal seperti Shara.
“Maaf ya.”ucapnya dengan mulut ditekuk. Ternyata kisah Josen tak seperti drama korea yang sering Shara tonton. Dia jauh lebih mengenaskan dibanding kisah itu. Mungkin itu alasan Josen gak mau dijodohin. Dia pasti ogah memberi hati pada cewek baru.
Mereka sampai di Pacific Place lantai 4. Sebuah tempat mewah yang menyajikan steak dengan kualitas daging yang bagus. Mata Shara berbinar karena pasti ia akan makan enak hari ini.
Cewek yang mereka temui sudah menunggu. Cewek itu memang cantik. Tapi soal style, Shara masih nomor satu.
“Jenny ya?”tanya Josen basa-basi.
“Josen?”
Mereka saling bertukar sapa. “Ah, ini teman gue Shara.”seru Josen ngenalin. Shara tersenyum sambil membalas jabatan tangan itu. Sejak perkenalan Shara, cewek itu sudah terlihat sangat kesal. Dan ya, itulah yang Josen inginkan.
“Lo tahu kan ini pertemuan penting? Buat apa bawa teman?”tanya Jenny dengan nada yang mulai meninggi.
“Sebenarnya, perjodohan ini cuma keinginan kakek gue. Gue gak tertarik sama cewek. Tapi sama cowok.”
Jenny mendengus kesal. Ia langsung mengambil tasnya dan keluar dengan wajah kelas. Tentu saja dia bakal lapor ke kakeknya Josen. Biarlah, Josen udah bilang berkali-kali kalau dia gak mau dijodohin.
“Jadi lo suka cowok?”tanya Shara dengan mata penuh selidik. Josen tertawa keras.
“Nggak gila. Gue bilang gitu biar dia gak berharap. Sekalian biar dia bilang ke kakek juga. Gue sih bodo amat.”
“Gue kira beneran.”
“Sekarang lo pesan makan aja. Gue traktir.”
“Yes!!”seru Shara bahagia. Ia mencari makanan yang kelihatannya lezat. Pekerjaan semudah ini ternyata bisa menghasilkan uang. Sungguh diluar dugaan. Selama ini Shara sibuk di Kafe TG banting tulang. Dalam waktu sekian menit, dia bisa dapat dua kali gaji. Beruntungnya ia ketemu Josen. Ia menikmati steak lezat dengan gratis. Ia tidak sadar kalau ada yang memperhatikan mereka dari jauh. Mengambil foto dan mengirimkannya kepada bosnya.
Coldman Paris, pria yang merupakan sesepuh dengan perusahaan bercabang di Indonesia. Ia punya reputasi cemerlang di dunia bisnis. Salah satunya adalah Kampus CI yang sekarang tempat Shara kuliah. Ya, tempat itu adalah milik keluarga Paris. Satu-satunya cucu Coldman Paris adalah Josen Pradio Paris. Josen tak perlu kuliah dan cukup menikah saja. Itulah wejangan yang ditanamkan sejak dulu. Sayangnya Josen malah gak mau.
“Kali ini gak berhasil pak. Dia malah bawa orang lain.”ucap Joko, kaki tangannya. Joko memberikan foto yang diambil oleh fotographer suruhannya.
“Cewek ini siapa?”
“Dia sekolah di kampus CI. Mungkin mereka ketemu disana. Dan sepertinya dia dapat beasiswa.”
“Oh, dia anak pintar. Cukup mudah, tinggal lakukan seperti biasa. Kasih uang biar dia gak dekat-dekat sama Josen. Josen harusnya sadar kalau dia berbeda dengan orang-orang itu.”
“Ah, sebenarnya ada informasi lain pak.”
“Apa?”
“Gadis itu bernama Shara Indriani. Saya tidak tahu pasti kenapa dia ikut beasiswa, tapi dia anak pengusaha Sandiaga Cuatro.”
“Sandiaga Cuatro yang dari Malang?”tanya Coldman memastikan.
“Iya pak. Cuman rasanya memang aneh. Buat apa anak pengusaha sebesar Sandiaga menyekolahkan anaknya di Kampus CI. Terlebih dia mengambil beasiswa.”
Keanehan ini membuat kepala Coldman pusing. Perlu dicari tahu apa yang terjadi. Ia perlu tahu kenyataan yang sebenarnya untuk membuat keputusan. Dua hal yang berbeda akan membuat hasil yang berbeda juga.
“Untuk anak itu, dibiarkan saja dulu. Tolong buat jadwal untuk pertemuan saya dengan Pak Sandiaga.”ucapnya kepada Joko.
Joko mengangguk setuju dan keluar dari ruangan itu. Jika prasangka itu benar, maka akan semakin mudah bagi Coldman. Ia tidak perlu capek mencari mengurus cucunya yang keras kepala itu. Dan sudah sangat lama Josen tak terlihat bahagia seperti foto yang dibawa Joko. Josen tertawa lepas dan terlihat berbeda. Dia tak seperti biasanya.