Bab 16

1592 Words
Shara masuk kelas yang mulai ramai. Entah kenapa hari ini semua orang ngeliatin dia. Sebenarnya itu sudah biasa sih, dia gak pernah ikut gabung teman-teman sekelas. Dia cuma bergaul sama Mila dan Igor. Itu juga karena mereka yang ngajak Shara ngomong duluan. Shara bukan gak mau dapat teman. Dia cuma gak bisa. Ia gak mau dijadikan bahan obrolan sama orang-orang. Tapi ternyata, hari ini dia ngerasain itu. Cewek-cewek itu kelihatan banget ngomongin dia.  “Sha, sini deh.”panggil Igor yang lagi duduk dibelakang.  “Kenapa Gor?” “Gak usah dipikirin itu cewek-cewek.” “Hah?” “Lo diomongin. Katanya lo gak mau bersosialisasi, sombong, selfish.” “Mereka yang bilang gitu?” Igor mengangguk. Shara benar-benar muak. Kumpulan cewek bertiga itu emang paling sinis sama Shara.  Shara mendengus kesal. Cowok-cowok disamping Igor melihat Shara dengan penuh perhatian. Gak tahu kenapa, Shara gak jadi salting karena mereka. Kekesalannya melenyapkan semua itu. Marah dan kesal. Sudah lama Shara pengen ngelabrak cewek-cewek itu. Kini mereka sesekali melirik ke arah Shara. Masih belum banyak yang datang. Mila aja belum datang.  “Heh, mau kemana?”tanya Igor. “Lihat apa yang bisa gue lakuin.” “Woah!!!”teriak cowok-cowok itu. Mereka gak mau ikut campur, karena ini urusan cewek. Cukup jadi penonton aja udah puas rasanya. Tatapan mata Shara membuat mereka ciut. Mereka yang tadinya berisik langsung diam karena merasa Shara mau datang. Sebagian dari mereka merasa paling powerful. Terutama dengan tampilan yang mencolok dibanding mahasiswa lain. Pakaian yang cenderung bermerk dan pertemanan yang hanya di lingkup mereka saja. Hal yang bikin Shara kesal adalah judging. Enak aja, ngomong orang lain dibelakang. Tidak tahu malu. “Heh, maksud lo apa?” “Apaan sih, labil lo. Lo aja gak masuk grup kelas, sok tahu banget.” “Terus kenapa ngomongin gue? Gue punya salah?” “Salah lo itu, lo gak selevel sama orang di kampus ini. Sadar atuh, kita tahu kok lo dapat beasiswa. Kayak gak pas aja gitu, masuk sini. Udah gitu, sering bolos lagi.” “Jangan -jangan lo dapet duit dari om-om?” “Ayam kamp….” Mereka tertawa terbahak-bahak. Seperti memenangkan sebuah pertandingan. Igor hendak ikut bergabung, tapi teman-temannya menghalangi. Kata mereka itu urusan perempuan. Mereka juga penasaran apa jawaban Shara. Bisakah cewek itu membalasnya? “Hahaha. Kalian sadar gak, kalian gak kaya-kaya amat, tapi songong banget. Dan for your information, gue dapet duit dari kerja. Gak kayak lo, bisanya minta sama orang tua.” “Daripada lo, miskin!”balas salah satu diantara mereka. Cewek paling dominan dari yang lain. Namanya Caca. Cantik, body goals, berkelas tapi gak punya sopan santun. Ngeliat dia ngomong bikin Shara kesal sampai ke ubun-ubun. Semua juga tahu kalau Caca sering banget ngomongin orang. Bahkan Shara pernah ngeliat dengan mata kepalanya sendiri. Caca memperhatikan cewek yang ia anggap gak banget dari atas sampai bawah. Istilahnya tuh, ngasih rating buat orang itu. Semua aja dikasih rating, dikira hidup ini perlombaan untuk jadi sempurna?  Shara langsung menarik rambut Caca. Caca membalasnya dengan jambakan yang lebih dahsyat. Bak pertempuran berdarah, mereka berteriak dengan histeris. Namanya  juga cewek, apa-apa diteriaki.  Teman-teman Caca berusaha melerai, tapi dua cewek itu seakan tak mau berhenti. Igor udah gak tahan. Ia ingin menghentikan perkelahian itu. Bikin malu aja. Sebelum ia sampai ke tempat Shara, seseorang keburu mengambil alih. Cowok dengan pakaian rapi, kulit putih dan kelihatan pintar. Ia menghentikan mereka dengan mudah. Cowok-cowok di belakang tertawa dan kagum. Bagi mereka, kalau ada dua cewek ribut biarin aja. Toh entar bakal selesai kalau mereka bosan. Atau kalau sudah ada yang kalah. Cowok itu membawa Shara keluar kelas. Igor keluar dari pintu satunya dan melihat Shara pergi dari pandangan mata. Ia khawatir dan ingin menyusul. Tak keburu lagi, karena dosen sudah datang.  Josen membawa Shara ke tempat yang sepi. Rambut Shara acak adul dan wajahnya masih membara karena kesal. Ia tak peduli dengan tampilannya. Ia masih ingin memukul Caca. Semua yang ngeliat pasti heran. Biasanya, kejadian ini terjadi waktu masa SMA. Tapi kini, masih ada yang jambak-jambakan padahal sudah seharusnya dewasa.  “Aahhhhh!! Kesal banget!” “Kenapa sih mesti berantem?” “Ternyata begini rasanya berantem. Gue sering melihat waktu sekolah dulu. Dua cewek yang berantem karena berebut cowok. Ternyata gak menyenangkan. Bisa malu gue ketemu cowok satu kelas.’ Hal yang belum pernah Shara lakukan adalah berantem. Ia selalu menghindari masalah. Dan sekarang dia lumayan bangga. Dia bisa merasakan itu. Walau ternyata gak sesuai ekspektasi. Ia kira berantem itu bikin keren. Ternyata nggak. Dia harus melewatkan kelas dan wajahnya jadi luka. Terlebih rambutnya jadi berantakan. Butuh waktu lama biar rambutnya badai lagi. “Jos, kok lo bisa ke kelas gue?” “Tadi gue gak sengaja lewat. Ternyata lo lagi berdebat sama tu cewek.” “Tapi yang gue lakuin bener kan Jos? Dia yang salah kan?” “Iya. Tapi gak baik  berantem gitu. Lo jadi punya musuh.” “Iya juga sih. Apa gue minta maaf aja?” “Gak gitu juga. Lo gak salah.” “Ohhh, ah, menyebalkan. Gue jadi gagal kuliah.” “Aish,, gue kan mau kuliah juga.”ucap Josen syok. Dia ada kelas dan sudah lewat 5 menit. Ah, masih lima menit rasanya tidak masalah. Ia hendak pergi tapi ingat kalau ada Shara lagi membersihkan wajahnya. Ia menarik tangan cewek itu. “Lo mending masuk kelas gue.”ucapnya lagi. “Eh, tapi kan…...” Josen gak peduli. Ia berlari dan memaksa Shara mengikut. Kelas Pengantar Bisnis yang diadakan pagi ini. Ia masuk kelas dengan beberapa mahasiswa lain yang juga terlambat. Daripada nganggur mending ikut kuliah. Mereka duduk dibangku yang agak belakang. Biar gak ketahuan kalau Shara mahasiswa gelap.  Shara tampak gusar dengan rambutnya yang makin mekar. Kalau rambutnya jadi bunga ya gapapa sih kalau mekar. Tapi ini benar-benar meresahkan. Ia jadi gak bisa percaya diri. Terasa ada sekarung beras di kepalanya. Berat dan bikin pusing. Josen memperhatikannya dan tahu kalau cewek itu butuh jepit rambut. Ia mencari di dalam tasnya. Semoga ada yang bisa dipakai untuk mengikat rambut Shara. Ah, ketemu. Karet gelang yang bisa ngebantu Shara.  “Nih..” “Woah, makasih lo Jos. Diem-diem perhatian.”balas Shara. Ia mengikat rambutnya dan wajahnya langsung terlihat beda. Gak tau kenapa, Josen jadi salting sendiri. Ia melirik mulu ke arah Shara. Ia gak bisa fokus lagi sama kuliah hari ini. Awalnya Shara berusaha untuk ikut mendengarkan. Ternyata gak menarik. Ia bosan dengan penjelasan itu.  “Kenapa lo tiba-tiba kuliah?”bisik Shara karena bosan. Toh dosen gak bakal sadar. Cukup banyak mahasiswa yang ngobrol. Tapi mungkin saja mereka ngobrolin pelajaran.  “Demi gak dijodohin.” “Eh, serius? Enak banget.”balas Shara dengan nada sedih. Ia kaget aja. Kok bisa Josen menggagalkan rencana itu hanya dengan kuliah. Sedang bokapnya gak peduli padanya. Sandiaga pernah bilang kalau abis lulus SMA sebaiknya Shara fokus pada perjodohan.  “Kok enak?” “Maksud gue, lo udah punya solusi biar perjodohan itu gagal.” “Nah itu, awalnya gue bingung. Gue kira bakal ditolak sama kakek.” “Terus perjodohan yang kemarin gagal gimana? Lo gak di sidang?” “Enggak. Atau kakek udah nyerah sama gue.” “Ah, gue bangga sama lo Jos. Akhirnya bisa nyelesain masalah tanpa kabur.” “Iya juga ya. Dulu gue selalu kabur dari masalah. Sekarang gue bisa nyari solusi. Ah, tapi emang keberuntungan lagi berpihak sama gue. Kayaknya, lo pembawa keberuntungan.” “Kok gue?” “Sejak ketemu sama lo, gue jadi bisa mengambil keputusan sendiri.” “Ngak, ngak. Itu karena lo udah dewasa.” Josen tersenyum. Mendengar kalimat barusan membuatnya bangga. Ya, itu kayak semacam pujian buat dia. Ternyata ada juga orang yang bilang dia udah dewasa.  Shara kini fokus sama game diponselnya. Ia gak mau ngeganggu Josen ngerjain tugas. Tugas itu harus dikumpul hari itu juga. Tugas yang nantinya jadi nilai partisipasi buat ngebantu nilai akhir mahasiswa.  Akhirnya kelas selesai. Waktu yang cukup melelahkan bagi Shara. Kuliah sesuai jurusannya aja kadang bikin mumet. Perutnya keroncongan karena lapar. Duh, rasanya dia bisa memakan apa saja. “Jos, buruan. Gue laper banget!” Josen segera membereskan tasnya. “Ayo, gue traktir makan enak.” “Eh, gak usah ditraktir. Entar gue jadi ngutang.” “Diem aja. Dekat sini ada Soto Bogor yang enak banget. Lo pasti belum pernah nyoba.” “Iya sih, tapi bayar masing-masing aja.” “Oke.” Ditraktir sama Josen rasanya gak nyaman. Beda banget kalau ditraktir David. Gak tahu kenapa, Shara lebih nyaman morotin David. Ia gak mau bikin Josen merasa dimanfaatkan. Ya, karena dia tahu dengan jelas kalau Josen itu orang kaya.  “Lo ga apa-apa kan?” “Apa nya?” “Tadi lo dikatain miskin sama cewek yang tadi.” “Hahaha, ga apa-apa kok. Dia aja yang sok kaya, jelas-jelas lo lebih kaya dari mereka. Tapi lo gak kayak mereka.” “Ah, baguslah. Banyak yang gak kuat digituin. Gue dulu punya teman yang sering dikatain. Dia sampai gak mau masuk sekolah.’ “Oh,,” “Pokoknya lo gak boleh kalah sama orang kayak gitu. Kalau butuh bantuan, telpon gue aja.”seru Josen. Shara mengangguk. Ia senang ada orang sebaik Josen. Dulu Shara selalu berpikir kalau orang kaya itu jahat. Sama seperti keluarganya. Sepupunya yang sering menyepelekan orang lain. Tante dan omnya yang selalu tampil sempurna di muka umum. Padahal dibelakang layar mereka jahat banget. Itulah alasan Shara gak mau dijodohkan. Palingan, dia dijodohin sama orang kaya yang jahat. Kalau gak jahat, suka pencitraan di muka umum. Biar dapat simpati dari orang-orang. Padahal aslinya sangat buruk. Munafik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD