Ada komputer di perpustakaan. Kupikir aku tidak akan menemukan elektronik modern karena tidak ada televisi di sini. Kepalaku menyembul keluar dari ruangan penuh buku itu, melihat pintu kamar Levine yang berada di samping. Celah pintu tidak memancarkan cahaya, berarti lelaki itu sudah tidur. Dean bilang aku boleh memakai komputernya, tapi aku resah si tuan rumah akan menagih biaya pemakaiannya. “Ah, biarlah, toh aku ingin mencari lowongan pekerjaan. Bukan untuk hal yang tidak-tidak,” gumamku sambil menutup pintu perpustakaan. Mataku menyisir sekitar, tembok model catur, pajangan saxophone dan piringan hitam dalam album lagu lama ditempel berbaris dari atas ke bawah di sisi rak-rak buku, tak lupa dengan alat pemutar piringannya. Aku tidak bisa menebak kenapa Levine mendekor ruangannya den

