Dean membuat sarapan Toast dengan bacoon dan egg benedict di minggu pagi. Levine duduk di sampingku, ditemani botol wine. Ya, pagi-pagi begini dia sudah menyantap anggur daripada teh. Kami membahas soal pekerjaannya yang jarang diketahui orang bahkan media. “Moirai yang mengambil alih bagian itu.” Levine menusuk egg benedict. Kuning telurnya mengalir keluar, menyelimuti roti terpanggang garing di bawahnya. “Dia juga yang menyortir kasus masuk dan memegang rekening.” “Ngomong-ngomong soal kasus, apa poltergeist semalam tidak akan mengganggu orang lain? Kau hanya menyegelnya, kan?” tanyaku sambil menyuap roti panggang. Laki-laki itu meneguk Wine. “Seharusnya sudah cukup, kecuali ada orang jail yang bermain-main dengan kerangka itu.” “Meg bilang itu jasad pria. Induk semangnya ingat kalau

