Malamnya, aku sedang membaca buku soal dimensi paralel dari ruang baca Levine di kamarku. Otakku bekerja keras mencerna setiap penjelasan seraya mengunyah keripik kentang. Mendadak pintu kamarku di geser. Aku bangkit dari posisi tengkurap, melihat Levine di ambang pintu. Mataku menyalang. “Levine!” “Hei,” ujarnya. “Kau sibuk?” Aku berdiri melihat dirinya yang sudah menghilang selama dua hari. Seperti biasa, dia mengenakan mantel panjangnya, dengan kemeja hitam dan celana panjang senada. Kudengar napasnya agak tersengal. “Ke mana saja kau?” “Aku bermain dengan Biru.” Aku mengangguk tidak yakin atas jawabannya, tapi aku tak ambil pusing soal itu. “Aku tidak sibuk,” ucapku. “Kalau begitu, aku ingin kau melihat ingatanku lagi.”

