Aku melangkah maju mendekati penjual yang lain. Seorang wanita melangkah dari arah berlawanan, hendak melewatiku. Tubuh sontak membatu, aku tahu wajah itu. Ya, aku melihatnya dari memori lama Levine. Rambut hitam panjang lurus yang kaku sepanjang pinggul, manik ungu gelap, wajah yang tidak menua sedetik pun dari jaman itu. Dia wanita yang mencuri jam kehidupan Levine! Aku harus segera bergerak, memanggil Levine dan merebut jam saku itu wanita ini. Namun, suaraku terperosok ke dalam tenggorokan dan menghilang, otot-otot tubuhku mati rasa seolah aku tidak pernah bergerak. Levine, Levine, Levine! “Fania?” Tepukan ringan di bahu membuatku tersentak, terlepas akan kuncian dingin ketakutan. Aku memalingkan wajah ke laki-laki bermanik biru kelabu di belakang. Mulutku terbuka, mencoba mengataka

