bc

Di Ujung Tiga Puluh, Kau Datang

book_age16+
6
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
family
HE
fated
kickass heroine
stepfather
single mother
heir/heiress
drama
sweet
campus
city
office/work place
actor
like
intro-logo
Blurb

Seo-hwa, 29 tahun, baru saja bercerai — cantik, dewasa, memikat, namun hatinya tertutup. Di kafe malam itu, ia bertemu Min-joon, 22 tahun — pemuda tampan, pewaris kaya, dengan tubuh kekar yang sempurna: d**a bidang berotot, perut kotak-kotak yang terbentuk jelas di balik kemejanya. Tatapannya membara, tergoda pesona Seo-hwa sejak pertama kali melihatnya. Seo-hwa pun terpanas — ia tak bisa mengalihkan pandangan dari tubuh tegap pria muda itu, diam-diam mengagumi kekuatannya. Namun cinta mereka tak mudah: mantan suami menyesal dan ingin kembali, mertua menentang, perbedaan usia & status menjadi bahan gunjingan, serta rahasia masa lalu yang mengancam memisahkan mereka. Di tengah badai itu, mereka harus memilih — menyerah pada dunia, atau bertahan demi cinta yang baru tumbuh namun membara lebih dari apa pun.

chap-preview
Free preview
1
✨ BAB 1 — Hujan di Ujung Tiga Puluh Hujan turun di Seoul tanpa henti, rintiknya membasahi aspal kota yang berkilauan seperti permata hitam yang retak. Langit berwarna kelabu pekat, seakan tak ingin memberi ruang bagi cahaya bulan untuk menembus awan tebal yang menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur itu, di sudut kafe paling tenang sekaligus paling mewah di jantung kawasan Gangnam, Seo-hwa duduk sendirian di meja paling pojok, di balik tirai sutra tipis yang berwarna krem. Ia menatap ke luar jendela besar, melihat butiran air hujan yang meluncur turun satu per satu, meninggalkan jejak basah yang perlahan menghilang, seakan tak pernah ada. Persis seperti hidupnya selama tujuh tahun terakhir. Di atas meja marmer dingin itu, secangkir teh melati yang dipesannya sejak tadi sudah dingin. Uap hangatnya telah lama hilang, sama seperti kehangatan yang dulu pernah ia miliki di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman. Di samping cangkir itu, terselip di dalam tas tangan kecil berwarna hitam — surat cerai yang baru saja ia tanda tangani siang tadi. Dokumen itu yang secara resmi mengakhiri tujuh tahun pernikahan yang ternyata hanya menyisakan kesepian, luka, dan rasa tidak berharga yang sedalam lautan. Seo-hwa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Uap samar muncul di kaca jendela di depannya, dan ia menuliskan satu huruf — J — nama mantan suaminya, lalu menghapusnya dengan telapak tangan. Gerakan itu begitu pelan, seakan ia sedang menghapus tujuh tahun hidupnya sendiri. Ia menatap pantulannya di kaca itu. Wanita yang menatap baliknya cantik — sangat cantik, sebenarnya. Usia dua puluh sembilan tahun belum mampu memudarkan pesonanya, justru membuatnya semakin matang, semakin memancarkan keanggunan yang tak bisa ditiru oleh gadis-gadis yang lebih muda. Kulitnya putih bersih, bibirnya berbentuk indah meski saat itu terkatup rapat menahan getaran, dan matanya — mata cokelat gelap yang biasanya hangat dan penuh kehidupan — kini terlihat kosong, lelah, dan penuh luka yang tak terucap. Gaun sutra berwarna hitam yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang tetap terjaga indah meski ia tak pernah peduli untuk memamerkannya. Ia tahu orang-orang melihatnya — beberapa tamu di kafe itu sempat melirik sekilas, lalu menunduk seakan tak berani menatap terlalu lama. Tapi Seo-hwa tak peduli. Sejak kapan pendapat orang lain penting baginya? Sejak tujuh tahun terakhir, ia hidup hanya untuk menyenangkan orang lain — suaminya, ibu mertuanya, tetangga, rekan kerjanya — dan lupa satu hal: menyenangkan dirinya sendiri. "Sudah selesai, Seo-hwa," bisiknya pelan, suaranya hampir tertelan suara hujan yang menghantam kaca jendela. "Semua sudah selesai." Namun kata-kata itu terdengar begitu kosong. Bagaimana bisa selesai, ketika separuh hidupnya telah dihabiskan di dalamnya? Bagaimana bisa bangkit kembali, ketika ia tak ingat lagi bagaimana caranya berdiri sendiri? Di meja yang tak jauh darinya, di sudut lain yang tetap dalam jangkauan pandangan namun tersembunyi dari perhatian Seo-hwa, Min-joon duduk diam sejak ia masuk. Ia telah memperhatikannya sejak wanita itu melangkah masuk ke kafe itu, sejak pintu kaca otomatis terbuka dan cahaya lampu kristal jatuh tepat di wajahnya yang basah karena rintik hujan. Jantungnya, yang biasanya tenang dan teratur, tiba-tiba berpacu begitu kencang hingga ia harus menarik napas dalam-dalam untuk menenangkannya. Min-joon, dua puluh dua tahun, pria yang sejak lahir sudah memiliki segalanya — kekayaan yang tak akan habis untuk tujuh turunan, wajah yang tampan seperti dewa yang turun dari langit, dan tubuh yang terlatih sempurna. Di balik kemeja putih berkerah rapi yang dikenakannya, bahunya yang lebar dan bidang terlihat jelas, dadanya yang kekar berotot naik turun perlahan mengatur napas, dan di balik kain kemeja yang tipis itu, garis-garis perutnya yang berbentuk kotak-kotak terbentuk dengan sempurna — hasil latihan keras dan disiplin yang tak pernah ia langgar. Ia bukan pemuda biasa. Ia adalah pewaris tunggal kekaisaran bisnis terbesar di Korea Selatan, nama keluarganya cukup untuk membuat siapa pun tunduk dan hormat. Namun di saat itu, di hadapan wanita yang duduk tak jauh darinya, ia merasa seperti anak laki-laki yang tak berani mendekati bunga yang paling indah di taman, takut kelopak bunganya akan gugur jika disentuh. Min-joon mengenalnya. Tentu saja ia mengenalnya. Seo-hwa — istri dari sahabat kakaknya, wanita yang pernah ia lihat beberapa kali di acara keluarga, wanita yang selalu tersenyum lembut namun matanya selalu menyembunyikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Dan diam-diam, sejak pertama kali melihatnya, ia tak pernah bisa melupakan wajah itu. Tujuh tahun. Selama tujuh tahun ia melihatnya dari jauh, melihat bagaimana wanita itu perlahan memudar, kehilangan cahayanya, seiring berjalannya waktu di dalam pernikahan yang tampak bahagia dari luar namun ternyata kosong di dalamnya. Dan hari ini — hari ini ia melihatnya lagi, dan kali ini... kali ini ada yang berbeda. Ada kebebasan di matanya, namun juga ada kehancuran. Ada ketegasan di bibirnya, namun juga ada kesedihan yang begitu dalam hingga membuat hatinya terasa sakit hanya dengan melihatnya. Dia sendirian, pikir Min-joon, dan jantungnya berpacu lebih cepat. Dia benar-benar sendirian. Seo-hwa menyesap teh dinginnya tanpa menyadari kehadiran pria itu. Ia sibuk dengan dunianya sendiri — dunianya yang baru saja runtuh, yang harus ia bangun kembali dari puing-puingnya sendiri. Ia memainkan ujung cangkir dengan jari-jemarinya yang lentik, pandangannya kembali jatuh ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang kabur karena air hujan. Tanpa ia sadari, kursi di hadapannya ditarik keluar. Suara gesekan kursi di atas lantai kayu halus membuatnya terjaga dari lamunan. Ia mendongak perlahan, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata hitam yang begitu dalam, begitu tajam, dan begitu... membara. Pria itu berdiri di hadapannya, setengah membungkuk sedikit seakan meminta izin, namun tatapannya tak pernah berpaling sedikit pun. Cahaya lampu kristal di langit-langit jatuh tepat di wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas, hidung yang tegak, dan bibir yang tertutup rapat namun terlihat begitu penuh ketegasan. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya. Suaranya rendah, berat, dan terdengar begitu dekat meski bibirnya belum bergerak terlalu jauh. Seo-hwa terdiam beberapa detik, tak mampu mengalihkan pandangannya. Ia mengenali wajah itu — atau setidaknya, ia pernah melihatnya sekali atau dua kali di acara keluarga. Pria muda itu... adik dari sahabat mantan suaminya. Namanya... Min-joon. "Kau..." suaranya terdengar serak, ia berdeham pelan. "Kau yakin? Tidak ada kursi lain?" "Aku yakin," jawab Min-joon tanpa ragu sedikit pun. Ia duduk di hadapannya, punggung tegak, bahu yang lebar memenuhi ruang di hadapannya. "Tempat ini paling nyaman." Seo-hwa menunduk, meremas ujung gaunnya dengan jari-jemari yang tiba-tiba berkeringat. "Kau kenal aku?" "Seo-hwa," ucap namanya dengan lembut namun jelas, seakan ia mengucapkan kata yang paling berharga di dunia. "Tentu saja aku kenalmu." Saat itu, di bawah meja, di ruang yang begitu sempit di antara mereka, jarak di antara wajah mereka begitu dekat hingga Seo-hwa bisa melihat detail wajahnya yang tak pernah ia sadari sebelumnya — bintik cokelat kecil di dekat sudut matanya, garis halus di dahi yang muncul saat ia menatapnya dengan saksama, dan... dan tubuhnya yang begitu besar, begitu kekar, terasa memenuhi ruang di hadapannya. Tanpa sengaja, pandangannya jatuh ke d**a pria itu. Kemeja putihnya terlihat ketat di bagian d**a, menonjolkan otot-otot yang keras dan terlatih — bidang, kokoh, dan penuh kekuatan yang tak disembunyikan. Napas Seo-hwa tercekat. Ia buru-buru menunduk, pipinya terasa panas tanpa sebab yang jelas. Dan saat ia mencoba mengembalikan pandangannya ke wajah pria itu, matanya tanpa sadar turun lebih rendah — ke arah perutnya, di mana kemeja itu menempel rapat pada tubuhnya, membentuk garis kotak-kotak otot yang tercetak jelas di balik kain tipis itu. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga ia takut pria itu bisa mendengarnya. Apa yang sedang aku lakukan? batinnya panik. Dia lebih muda dariku. Dia bahkan belum aku kenal dengan baik. Kenapa aku melihatnya seperti ini? Min-joon seakan menyadari ke mana pandangannya jatuh. Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum tipis yang penuh kemenangan dan... kekaguman yang tak disembunyikan. "Kau terlihat cantik malam ini, Noona," ucapnya pelan, namun kata-kata itu terdengar begitu jelas di telinga Seo-hwa, seakan diucapkan tepat di samping telinganya. Seo-hwa mendongak dengan cepat, matanya membelalak sedikit. "Noona?" "Kau lebih tua dariku," jawab Min-joon tenang, namun tatapannya tetap membara, tak pernah berpaling. "Dan kau terlihat sangat cantik malam ini." Kata-kata itu sederhana — terlalu sederhana, bahkan. Tapi bagi Seo-hwa, yang selama tujuh tahun tak pernah mendengar pujian tulus dari siapa pun, terutama dari orang yang seharusnya mencintainya — kata-kata itu terasa seperti hujan segar di tengah kekeringan panjang. Matanya memanas, dan ia buru-buru menunduk agar air mata yang tiba-tiba muncul di pelupuk matanya tak jatuh. "Kau tidak perlu berkata seperti itu," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku." "Aku tahu," kata Min-joon lembut namun tegas. "Aku tahu kau sedang terluka. Aku tahu kau sedang sendirian. Dan aku tahu... kau pantas didengar, dilihat, dan dihargai — bukan sekadar ada." Seo-hwa mendongak perlahan, matanya bertemu dengan mata pria itu lagi. Dan di detik itu, di tengah kafe yang hangat dan penuh aroma kopi dan bunga, di balik tirai sutra yang melindungi mereka dari dunia luar — Seo-hwa merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama tujuh tahun terakhir. Dilihat. Dipahami. Diinginkan. Bukan karena ia wanita yang baik, bukan karena ia istri yang penurut, bukan karena ia memenuhi syarat siapa pun — tapi karena ia adalah dirinya sendiri. Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela dengan suara yang semakin keras. Namun di dalam kafe itu, di meja kecil itu, keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari suara hujan itu sendiri — penuh pertanyaan, penuh ketakutan, dan penuh sesuatu yang baru saja tumbuh, begitu cepat dan begitu kuat, hingga keduanya tak sempat mencegahnya. Min-joon mengulurkan tangan perlahan, seakan takut mengejutkannya, dan meletakkan tangannya di atas punggung tangan Seo-hwa yang dingin dan gemetar. Sentuhannya hangat — begitu hangat hingga Seo-hwa merasa sepanas terbakar dari dalam. "Biarkan aku menemanimu malam ini, Seo-hwa," bisiknya, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Tidak perlu bicara. Tidak perlu menjelaskan. Biarkan aku hanya... di sini." Seo-hwa menatapnya, matanya berkaca-kaca. Ia tahu ia seharusnya menolak. Ia tahu ini tidak benar — seorang wanita yang baru saja bercerai, duduk bersama pria yang jauh lebih muda, yang bahkan belum ia kenal dengan baik. Tapi saat itu, di saat ia merasa paling hancur, paling tidak berharga, dan paling sendirian di seluruh dunia — ia tak sanggup menolak satu-satunya tangan yang terulur untuknya. Ia mengangguk pelan, dan air mata yang ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Dan di meja itu, di bawah cahaya lampu kristal yang hangat, di tengah hujan yang tak kunjung reda — sebuah pertemuan yang bukan kebetulan baru saja terjadi. Sebuah awal yang penuh luka, penuh keraguan, namun juga penuh harapan yang belum pernah ada sebelumnya. Tak ada yang tahu, bahwa malam itu, di ujung usia dua puluh sembilan tahunnya — Seo-hwa baru saja bertemu dengan orang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
99.5K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
11.4K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.1K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook