7. Di mana Lala? ...

1332 Words
Di kelas IPA, Niel tengah mendengarkan penjelasan pengajar, ia tidak menaruh curiga sama sekali mengenai keberadaan Milana. Meski ia mendapat laporan jika Milana tidak masuk pelajaran pertama, Niel hanya santai menanggapi sikap pacarnya. Hingga saat jam istirahat ia tidak melihat Milana sama sekali, Niel yang menunggu Milana di dalam kelasnya sudah merasa curiga. Tidak biasanya cewek itu melewatkan jam istirahat jika tidak ada hal penting seperti latihan kompetisi. “Lu mau kemana, Niel?” tanya seorang teman kelas. “Mau tau aja!” Niel berlalu begitu saja tanpa menggubris teman lainnya. Ia berjalan menuju kelas Milana dan mencari tahu apa yang terjadi di sana. Saat sampai di depan kelas Milana, Niel bahkan tidak melihat pacarnya di sana. “Niel, Milana kagak ada,” ujar Terre. “Lala kemana?” tanya Niel. “Kagak tau, sejak pagi dia pergi. Ehm … ini hape dia ketinggalan,” ujar Terre. Niel menerima ponsel Milana, dan ia kini berjalan dengan santai menuju kelas umum. Kelas dimana Ranjiel berada, dan di sana ada seorang yang bisa membantunya untuk menemukan Milana. “Niel … ada apa?” tanya Ranjiel yang kebetulan sedang bersantai di kelas. Niel tidak menggubris pertanyaan Ranjiel dan justru melangkah mendekati Samud. “Periksa CCTV dari jam tujuh sampek jam sepuluh. Khususnya wilayah kelas Bahasa dan juga gedung olah raga.” Samud yang mendengar ucapan Niel hanya mengernyitkan dahinya, tidak tahu apa yang membuat muka datar itu meminta bantuannya. Ranjiel yang mendengar ucapan adiknya pun hanya terdiam, bukannya tidak ingin membantu, tetapi Niel akan melakukannya sendiri saat merasa mampu. “Ini … lu nyari cewek ini?” tanya Samud sambil menunjukkan ponselnya pada Niel. “Itu, dari posisi kamar mandi,” ujar Niel saat melihat Milana masuk ke dalam kamar mandi. Samud akhirnya memfokuskan langkah Milana yang menuju ruang loker bersama Karina, dan setelah itu mereka berjalan menuju gedung olah raga, tempat latihan anak ekstra hockey. “Oke, thanks.” Setelah mengatakan ucapan terima kasih, akhirnya Niel berjalan menuju gedung olah raga. Tidak peduli dengan beberapa temannya yang menyapa, Niel berjalan terus dan hanya memberikan tatapan tajam saat ada yang mencoba menghalangi langkahnya. “Niel, kekantin bareng kuy!” ajak seorang temannya. “Gue gak bisa.” “Yaelah … lu kagak jajan apa?” “Nggak!” Sambil terus melangkah, Niel akhirnya mempercepat langkahnya. “Dasar anak pungut! Sombong amat dah!” celetuk seorang anak cowok yang mengajak Niel beberapa saat lalu. Tidak menggubris, Niel masih tetap berjalan menuju gedung olah raga. Akan tetapi … hampir saja ia sampai di gedung olah raga, bel untuk jam pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. “Sial!” umpat Niel saat melihat Pak Herman di depannya. “Kamu mau kemana?” tanya Pak Herman. “Mau ke sana sebentar,Pak. Ada yang ketinggalan.” “Udah bel, buruan masuk kelas, nanti aja diambil!” ujar Pak Herman sembari menarik tangan Niel. “Tapi, Pak! Ini penting!” “Yang paling penting itu kamu masuk ke dalam kelas aja dulu!” Pak Herman semakin mempercepat langkahnya dengan menarik tangan Niel. Hingga sampai di kelas, Niel melihat sudah ada pengajar di sana. Niel pun duduk kembali ke bangkunya, dan melihat ada satu tatapan tajam mengarah kepadanya. Tatapan itu tidak seperti lainnya, ia menatap Niel seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari cowok dingin bermuka datar itu. Niel melihat pada ponsel Milana, dan ada pesan masuk dari Theo juga beberapa temannya. Sejak pukul tujuh pagi Milana tidak menyentuh ponsel itu sama sekali. “Gue harap lu bertahan.” Akhirnya jam pelajaran berakhir, Niel meraih tasnya dan berlari keluar kelas. Ia mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya sampai di gedung olah raga. “La!” seru Niel. Tidak ada jawaban, akhirnya Niel menyusuri seluruh ruangan di dalam gedung itu. mulai dari ruang ganti, hingga kamar mandi. Dan ruangan terakhir adalah kantor sekretariat. Niel melihat ada kunci di luar pintu itu, lalu ia membuka pintu dengan segera. Ceklek … “La,” panggil Niel. “Niel!” Milana berlari dan langsung memeluk Niel, ia bisa melihat jika Milana baik-baik saja. “Lu gapapa?” tanya Niel. “Gapapa.” “Kita balik asrama aja sekarang!” ujar Niel sambil menarik tangan Milana. “Eh, bentar ….” Milana berbalik badan, lalu menggandeng tangan Karina. “Ayok balik!” ajak Milana. “Kalian berdua.” “Iya.” Akhirnya mereka berjalan keluar dari dalam gedung itu. Niel dan Milana kembali ke asrama, sedangkan Karina memilih kembali ke kelas untuk mengambil tasnya terlebih dahulu. Sampai di asrama, keduanya masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Milana meletakkan tasnya di atas ranjang, lalu ia masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil pakaian santainya. “Apa gue beliin Karina hape aja ya?” gumam Milana. Ceklek “La,” panggil Niel yang masuk begitu saja ke dalam kamar. “Masih ganti baju, Niel.” “Oke.” Niel duduk di sofa dengan berkutat pada ponselnya. Ia juga membawa ponsel Milana dan meletakkannya di atas meja. Tidak lama kemudian, Milana keluar dari dalam kamar gantinya. “Niel, mau anter gue ke mall?” tanya Milana. “Ngapain?” “Mau beli hape.” “Ini hape lu.” “Bukan buat gue, gue mau beliin Karina.” “Oh.” “Hayuk!” Milana menarik tangan Niel untuk segera pergi. Tetapi … tiba-tiba saja perut Milana melilit, dan terasa sakit. “Akh! Aduh … Niel, perut gue sakit banget,” keluh Milana. “Kan lu belum makan dari siang, makan aja dulu.” “Udah kok, tadi di kantor ada mie instan, dari pada kelaperan, sama Karina di buatin itu,” ungkap Milana. “Terus sekarang sakit? Bagus, lu mau ngerepotin gue lagi.” “Akh!” pekik Milana hingga ia terduduk. Niel meraih tubuh Milana dan merebahkannya di atas ranjang. Niel mengambil obat di dalam kotak obat yang tersedia di ruang tengah. Lalu ia kembali untuk memberikan obat itu pada Milana. “Minum ini.” Niel membantu Milana untuk meminum obat itu. dan setelah itu karena reaksi obat tidak langsung menghilangkan rasa sakit itu, Milana meringkuk  dengan memegang bagian perutnya. Milana mengeluarkan keringat dingin, dan semakin membuat Niel khawatir. Cowok itu meraih ponselnya untuk memanggil dokter. “Dok, ke asrama sekarang!” ujar Niel yang langsung memutuskan sambungan telepon setelah mengatakan keinginannya. Ceklek Terlihat Theo masuk ke dalam kamar Milana, dan tidak sengaja melihat pemandangan itu. “Lu apain lagi adek gue, Kuda Nil?” “Nggak gue apa-apain.” “Nah itu nape dia begitu?” “Salah sendiri makan mie instan.” “Kok lu makan mie instan? Dari mana?” tanya Theo pada Milana. “Milana kekunci di ruang hockey tadi.” “Siapa yang kunci lu?” “Temen kelas Niel.” Mendengar pengakuan Milana, Theo menatap tajam pada Niel yang hanya berwajah datar. “Gue gak tau apa-apa,” ujar Niel sebelum Theo bertanya. “Kan gue belom nanya!” “Makannya itu, sebelum nanya gue jawab dulu.” “Yang mana orangnya?” tanya Theo. “Biar gue yang urus,” sahut Niel. “Jagain adek gue! tangan lu jangan pegang aneh-aneh!” ujar Theo. “Belum juga pegang udah diancam,” gerutu Niel. “Apa lu bilang?” “Nggak ada.” Theo melangkah keluar dari kamar Milana, dan ia melihat seorang dokter datang untuk memeriksa adiknya itu. “Dok periksa yang laki sekalian,” ujar Theo. “Loh, Niel juga sakit?” tanya Dokter. “Iya, sakit saraf keknya. Lihat aja tuh muka kagak ada ekspresinya sama sekali.” Mendengar penjelasan Theo, sang Dokter hanya tersenyum. Lalu dokter itu mulai masuk dan memeriksa kondisi Milana. “Asam lambungnya naik, saya kasih resep nanti tebus di apotik ya!” “Iya.” Cukup dengan pemeriksaan yang dilakukan pada Milana, dan akhirnya dokter itu melangkah keluar dari asrama GTM. Niel yang tidak bisa meninggalkan Milana, kini menyuruh seorang keamanan asrama untuk menebus obat ke apotek terdekat. “Niel ….” “Hmm?” “Peluk ….” “Manja!” “Sama pacar sendiri gapapa kan?” “Bikin repot aja.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD