8. Balasan ...

1184 Words
Tiga hari setelah kejadian Milana terkunci di dalam kantor ekstrakurikuler hockey. Niel dan Milana sedang berjalan menuju ruang kelas Bahasa. Niel mengantarkan Milana hingga sampai di kelas dan duduk di bangkunya. “Niel, entar jadi anter gue ke Mall ya?” tanya Milana. “Iya.” Milana tersenyum mendengar jawaban Niel, setelah itu Niel kembali ke kelasnya yang ada di ujung lain lorong sekolah. Saat berjalan menuju kelas, Niel bertemu dengan seorang cowok yang mengunci Milana di gedung olah raga tiga hari lalu. Niel telah mengamati pergerakan anak cowok itu selama tiga hari, kesehariannya bahkan siapa saja yang selalu bersamanya. Cowok yang terkenal pendiam dan juga memiliki wajah datar seperti Niel, tidak akan terlihat jika sedang kesal atau menaruh dendam pada seseorang. Saat cowok itu berjalan di depan Niel, lalu masuk ke dalam kelas. Semua murid sedang berdiri melihat bangku milik cowok yang bernama Roni. Roni nampak bingung saat melihat teman-temannya bergerombol di meja miliknya. Lalu ia mendekat dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sana. “A-apaan nih! Siapa pelakunya? Woy! Ngaku!” teriak Roni. Niel masih berdiri di depan pintu masuk, ia tersenyum miring, lalu berjalan masuk dan duduk pada bangku miliknya. Tidak peduli dengan teriakan Roni dan makian yang dilontarkannya. Niel masih tenang menanggapi anak cowok itu, hingga akhirnya Roni berjalan menghampiri Niel. Brak! “Ini pasti kerjaan lu kan!” teriak Roni pada Niel. Niel melirik tajam pada Roni, membuat anak cowok itu mengambil langkah mundur. “Lu gila, Ron? Niel dateng setelah lu dateng,” sahut seorang teman Niel. “Kalian pikir gue gak tau! Kalian pasti kerjasama ama anak pungut ini!” seru Roni. Niel masih terdiam dan tidak membalas ucapan Roni. Hingga ketua kelas di sana datang dan menghampiri Roni. “Ada apa?” tanya Jason. “Jas, lu mending diem aja! Ini urusan gue ama bocah pungut ini!” “Gak bisa gitu, lu tau kagak apa yang udah lu ucapin barusan? Kalo keluarga Niel kagak terima, lu bisa aja kena masalah,” ujar Jason. “Gue kagak peduli!” “Udahlah, Jas. Biarin aja,” sahut seorang murid lainnya. “Lu mendadak bisu ya! Nape diem? Lu takut?” tanya Roni. Niel masih terdiam, ia justru mengambil earphone dari dalam tas, dan mengenakannya. Sayangnya … Roni yang lepas kendali, merebut earphone milik Niel dan membuangnya, hingga ponsel Niel ikut terbuang dan pecah pada layarnya. Niel menatap tajam pada Roni, kini ia berdiri dari posisi duduknya dan mencengkeram kerah seragam Roni. Melihat tatapan Niel, Roni menelan ludahnya dengan kasar beberapa kali. “Gue udah diem dari tadi, sengaja karena emang bukan gue pelakunya! Lu iru murid sekolah elit dengan otak genius. Tapi sayang … otak genius lu kagak lu pakek dengan benar,” ujar Niel panjang lebar. Banyak suara berbisik saat mendengar Niel membuka suara. Ya … cowok itu memang sangat jarang berbicara jika tidak penting. Niel melepaskan kerah seragam Roni dengan sedikit mendorong tubuhnya hingga terbentur meja lain. Tidak lama setelah itu, seorang pengajar masuk ke dalam kelas dan melihat ketegangan diantara Niel dengan Roni. “Ada apa ini?” tanya Pak Wahyu, guru Biologi. “Gak ada apa-apa, Pak,” jawab Niel. Roni yang terlihat kesal akhirnya memilih untuk berpindah tempat duduk. “Kenapa bangku kamu banyak kotorannya?” tanya Pak Wahyu pada Roni. “Saya juga gak tau, Pak!” jawab Roni, kesal. “Kamu bawa keluar bangku itu, lalu kamu bersihkan!” “Kok saya? Kan bukan saya yang lakuin ini.” “Tapi ini bangku kamu! Kamu beruntung karena Lili tidak masuk kelas, kalau Lili masuk kelas ,kamu mau kasih tempat duduk itu sama dia?” Kesal … Roni akhirnya mengangkat meja miliknya, lalu membersihkan meja itu di halaman belakang sekolah. Kesialan Roni tidak sampai di situ, saat sedang membersihkan meja itu, tubuhnya tersiram air dari cucian piring yang ada kantin. “Bangke! Siapa woy!” teriak Roni. “Eh … ada orang toh! Maaf Mas, gak sengaja!” teriak seseorang dari lantai atas. “Anjir, apaan nih!” Roni akhirnya berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat kelasnya. Sebelumnya ia mengambil pakaian olah raga dari loker, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagi-lagi … entah siapa yang melakukan hal itu pada Roni, sekarang ia harus terjebak di dalam kamar mandi yang tidak ada aliran airnya. Ya … semua shower tidak mengeluarkan air, dan saat ini Roni tengah memberikan shampoo pada bagian rambutnya. “Sial! Woy!” teriak Roni. Entah kesialan apa lagi yang akan Roni terima, dan kali ini ia hanya bisa pasrah di dalam kamar mandi. Sementara di dalam kelas, Niel tengah memperhatikan penjelasan Pak Wahyu mengenai pelajaran hari itu. Tidak lama kemudian ada pesan masuk dari Milana, dan Niel langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku pakaiannya. Chat dari Lala : Lala : Niel … gue mau beli s**u yang ada di kantin ya nanti? Anda : iya. Lala : Niel … lu apain anak orang? Anda : Gak gue apa-apain. Lala : Boong, itu yang di kamar mandi siapa? Anda : Setan kali. Lala : Niel … Anda : Hmm. Lala : Gue boleh kan beliin Karina hape? Anda : Terserah. Duit-duit lu. Lala : Gue pake duit Kak Theo aja ah … Anda : Ide bagus. Read. Niel kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku pakaiannya. Lalu ia menatap pada pengajar yang kini memberikan beberapa pertanyaan sebagai kuis. Tentu saja Niel akan dengan mudah menjawab setiap pertanyaan pengajar di sana. Setelah beberapa jam pelajaran berlangsung, akhirnya jam istirahat datang. Niel bisa melihat Milana tersenyum di depan pintu kelasnya. Milana melangkah masuk ke dalam kelas Niel untuk mengunjungi pacarnya. Tetapi, saat Milana masuk ada tiga orang cewek yang berjalan berlawanan arah dengannya, dan sepertinya dengan sengaja menabrak bahu Milana hingga cewek itu terjatuh kebelakang. “Aduh!” keluh Milana. “Makannya kalo jalan liat pake mata!” ujar cewek itu yang akhirnya berlalu sebelum Niel menegur mereka. Niel berjalan mendekat dan membantu Milana untuk berdiri. “Sakit?” “Gak kok.” “Jadi beli s**u?” tanya Niel. “Iya.” Mereka akhirnya berjalan keluar dari kelas, dan menuju kantin sekolah. Di dalam kantin, Milana bisa melihat kakaknya bersama anggota GTM lainnya. Setelah selesai membeli s**u juga memesan beberapa menu sehat, Niel dan Milana berjalan mendekati anak GTM di sana. “Kak.” “Duduk, La,” ujar Vivi. Milana mengambil kursi dan duduk tepat di samping Vivi. sementara Niel berada di sisi lain Milana. Mereka tengah membicarakan mengenai kenaikan kelas, dan juga beberapa masalah dalam anggota inti. “Lala masih mau jadi anak inti kalo kita udah gak di sini lagi?” tanya Vivi. “Ehm … tergantung.” “Lah … metong dong.” “Ih … nggak gitu,” jawab Milana. “Terus?” “Kalau Niel masih ada di GTM, gue juga masih mau sih. Hehehe.” “Lu pake pelet ke adek gue?” sahut Theo. Niel hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali terdiam dan memilih untuk berkutat dengan ponsel di tangannya. “Pelet apaan, Kak?” tanya Milana. “Pelet itu gini nih,” jawab Rhea sambil menjulurkan lidahnya. “Itu melet!” jawab Vivi dan Theo bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD