4. Lala kenapa? ...

1206 Words
Setelah satu minggu berlalu, mereka kini sudah resmi menempati asrama GTM. Beberapa kali, terlihat Niel dan Milana tidak sedang bersama. Dan kali ini, cowok itu sedang berada di rumah orang tuanya. Sedangkan Milana harus menjalani hari seorang diri di sekolah. Cewek itu lebih sering menghabiskan waktu dengan teman satu kelasnya. Milana memang sangat jarang sekali bergerombol dengan anggota inti lainnya jika tidak sedang berada di dalam asrama. “La, pacar lo kemana? Tumben gak ada?” tanya Terre. “Hmm? Lagi di rumah ortunya,” jawab Milana. “Owh, tumben. Wah … bisa makan enak nih! Hahahha,” sindir Terre. “Pagi, Mila … kok keliatan pucet muka lu?” tanya Jane. “Padahal udah sarapan tadi,” jawab Milana. “Kalo sakit ke UKS aja, La,” ujar Terre. “Gak deh. Cuma lemes dikit,” ujar Milana. “Lu kek orang kurang gizi tau gak! Badan lu juga kurusan ini,” sahut Sandira. Milana hanya mengangkat alisnya menjawab temannya itu. Ia kini memilih duduk dengan tenang, karena baru saja jam pelajaran dimulai. Selama pelajaran, Milana merasa kepalanya berputar. Wajahnya semakin pucat, ia memilih meletakkan kepalanya di atas meja dan menutup matanya dengan buku. Tiga temannya menghadang agar guru yang ada di depan kelas tidak melihat Milana yang sedang beristirahat. “Ra, gue khawatir nih ama Lala,” ujar Terre. “Sama,” jawab Jane yang duduk di samping Milana. Beberapa saat kemudian, tubuh Milana lunglai dan tergeletak di atas lantai. Seisi kelas heboh dengan kejadian itu, dan pengajar di sana menyuruh beberapa anak untuk membawa Milana ke UKS. Jane mengikuti temannya yang membawa Milana ke UKS, ia juga menghubungi Theo dan Vivi untuk segera ke UKS menemui Milana. Di dalam UKS, dokter Radith sedang memeriksa kondisi Milana. Dan di sana, dokter Radith menyarankan untuk memberikan infus pada Milana. Jane hanya mengangguk, karena memang dia tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukan pada Milana. Tidak lama setelah dipasang infus, Theo dan Vivi berlari menghampiri Milana di UKS. Keduanya terlihat sangat panic saat itu, karena pagi ini mereka tidak bertemu dengan Milana saat berangkat ke sekolah. “Milana kenapa?” tanya Vivi pada Jane. “Gue juga gak tau, Kak. Milana udah keliatan pucet sejak pagi, cuman … pas gue suruh ke UKS kagak mau dia, nah gak lama setelah pelajaran dimulai, tiba-tiba saja Milana pingsan,” jelas Jane. “Adik saya kenapa, dok?” tanya Theo. “Adik kamu sepertinya kurang asupan karbohidrat, karena badannya lemas seperti kurang asupan makanan,” jelas dokter Radith. “Bangkeh! Di kasih makan apaan sih adek gue ama kuda nil!” gerutu Theo. “Ehem, anak bahasa … bahasanya di jaga ya!” omel dokter Radith. “Justru anak bahasa itu paling ekspresif pak dalam mengungkapkan isi hati,” balas Theo. “Seterserah kamu saja lah,” jawab dokter Radith. “Bapak sendiri aja bahasanya amburadul gitu,” sindir Theo. “Kamu jaga adik kamu, belikan makanan yang bener, terus kasih s**u atau minuman yang berenergi,” jelas dokter Radith. “Siap.” Theo sudah menahan emosinya dengan berbincang bersama dokter Radith. Sedangkan Vivi melihat kondisi Milana yang memang terlihat pucat saat ini. Chat 404! Not Found! : Anda : Kuda Nil mana nih! Kuda Nil : Hmm? Anda : Lu apain adek gue bangkeh! Kuda Nil : Emang Lala kenapa? Smile Merries : Ada apa lagi sih, The? Anda : Milana pingsan gara-gara kurang asupan makanan! Selama ini lu kasih adek gue makan apaan? Kuda Nil : Yang jelas makanan manusia. Betoneser : Apaan sih! Lagi pelajaran woy, rame beud. Anda : Tanggung jawab lo bikin adek gue sampek masuk UKS begini! Read. “Yang, stop! Gak usah lo lanjutin, gue gak mau ada masalah lagi,” ujar Vivi. “Lu liat kan! Milana dibikin begitu ama Kuda Nil!” “Iya tau, tapi kita belom tau alasan utamanya apaan.” “Serah dah, gue cuman gak mau kalo Milana kenapa-napa.” “Iya, gue paham. Paham banget ama lu, sekarang udah, jangan lanjutin marah-marahnya. Sekarang lu ke kantin, beliin Milana makan gih, bentar lagi dia bakal bangun.” Theo berdecak kesal dan akhirnya berjalan menuju kantin. Belum sampai kantin, seorang pekerja kantin bertemu dengannya di depan pintu kantin. Ia memberikan bungkusan makanan, dan sebuah pesan. “Dari Mas Niel, katanya buat Non Milana, Mas,” ujarnya. “Oke. Makasih.” Theo berputar arah kembali ke UKS, di sana sudah ada teman Milana lainnya yang menyusul. Dan Theo juga melihat jika Milana sudah sadar. “Nih, makanan. Katanya dari Kuda Nil,” ujar Theo. “Makasih, Kak.” “Lu kenapa bisa pingsan? Lu kan anak hockey, jaga stamina dong, La! Jangan sampai begini lagi,” omel Theo. “Iya, iya … Lala tahu.” Theo duduk di kursi yang ada di kamar itu, di sana begitu ramai hingga Vivi memutuskan untuk kembali ke dalam kelas bersama Theo. Ia menyuruh teman-teman Milana untuk menjaganya. Meski Theo menolak, Vivi justru menarik telinga Theo dengan keras, dan menyeretnya kembali ke dalam kelas. Sementara itu, di dalam UKS. Milana makan dengan di suapi oleh Terre. Mereka menemani Milana hingga akhirnya Niel datang dengan tergesa-gesa. “Niel,” panggil Milana. “Siniin,” ucap Niel sambil meraih makanan yang ada di tangan Terre. Niel menyuruh teman-teman Milana kembali ke kelas mereka. Dan ia kini menjaga Milana di sana. Dengan sabar, Niel menyuapi Milana. “Kalo sakit kenapa diem aja?” tanya Niel. “Pagi tadi emang gak apa-apa kok,” jawab Milana. Niel menghela napasnya, ia kembali menyuapi milana. Hingga akhirnya makanan itu habis tidak tersisa. “Dalam sehari makan karbo satu kali, setelah itu banyakin yang mengandung kalori aja. Kecuali lu lagi latihan hockey, memang harus banyak tenaga yang dikeluarin, dan hanya saat itu aja lu bisa makan karbo banyak,” jelas Niel. Milana mengangguk mengerti, lalu Niel mengusap bibir Milana dengan tissue. “Udah kenyang?” tanya Niel. “Udah. Makasih.” Niel mengangguk, lalu ia merapikan bungkusan makanan itu dan membuangnya ke tempat sampah. Cowok itu kembali duduk di samping Milana dengan berkutat pada ponselnya. Sementara Milana harus merebahkan dirinya hingga air infus itu habis. “Kalo lu sibuk, tinggal aja gapapa, gue bisa panggil temen-temen,” ujar Milana. “Gak mau gue di sini?” “Gak gitu, lu kan tadinya sibuk,” ujar Milana. “Kalo gue maunya di sini.” “Ya udah.” Milana mencoba memejamkan matanya karena Niel lebih fokus pada ponselnya dari pada dirinya. Beberapa kali Milana terlihat berdeham seperti tenggorokan-nya sedang bermasalah. Niel yang mendengar dehaman Milana langsung mengambil air minum dan membantu Milana untuk meminum air itu. “Niel ….” “Hmm?” “Gue sayang ama lo,” ucap Milana. “Gue tau.” “Lu sayang gak ama gua?” Bukannya menjawab, Niel justru menindih tubuh Milana. Cowok itu mencium Milana dengan lembut dan melumat bibir Milana. Terasa manis, hingga ia tidak ingin ciuman itu segera berakhir. Setelah beberapa menit, Niel melepaskan ciumannya. Lalu membersihkan bibir Milana dengan jarinya. Merasa senang, wajah Milana merona seperti tomat. “Air infusnya udah habis, gue panggil dokternya dulu,” ujar Niel sembari melangkah keluar dari UKS. Tidak lama kemudian, Niel kembali bersama dokter Radith. Dokter Radith melepaskan infus yang menancap di tangan Milana, dan memperbolehkan Milana untuk kembali ke asrama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD