Niel mengusap bibir Milana, mereka saling menatap tiba-tiba saja seekor anjing minipom muncul dan naik ke atas pangkuan Milana. Niel sedikit terkejut saat itu, ia belum mengetahui jika pacarnya memiliki hewan peliharaan.
“Namanya Popo, kesayangan gue. Lu musti baik-baik ama Popo,” ujar Milana.
Niel hanya terdiam, lalu ia mulai menggendong tubuh Milana untuk turun ke lantai satu. Popo yang turun dari pangkuan Milana, juga mengikuti langkah Niel membawa cewek itu.
“Guk … guk.”
“Popo juga ikut tinggal di asrama!” ungkap Milana.
“Terserah.”
Perlahan Niel menurunkan tubuh Milana untuk duduk di kursi mobil bagian depan. Sementara itu, Popo juga ikut melompat ke atas pangkuan Milana lagi.
“Gak ada yang ketinggalan kan? Kita ke dokter dulu, kaki lu perlu di benerin itu,” ujar Niel.
“Oke.”
Mobil itu melaju menuju rumah sakit terlebih dahulu, meski terlihat biasa saja. Tetapi, Niel menaruh perhatian pada Milana, ia tidak ingin melihat pacarnya itu mengeluh setiap saat karena rasa nyeri pada kakinya.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Niel kembali menggendong Milana untuk menuju ruang UGD. Sementara itu, Popo tetap berada di dalam mobil.
“Itu anjing gak akan jalanin mobil gue kan?” tanya Niel.
“Gak, palingan mobil lu tiba-tiba aja udah di sekolah,” sahut Milana.
“Gue jadiin masakan tu anjing kalo bikin rusuh.”
“Ihh … kok lu jahat sih ama Popo.”
"Daripada gue jahat ama lo."
"Ish, dasar tebing es."
"Hmm ...."
Sampai di ruang UGD, Milana langsung ditangani oleh dokter dan dua perawat. Milana hanya diam melihat paramedis mengobati kakinya. Hingga beberapa menit berlalu dan Milana telah selesai di obati. Dokter memberikan obat dan juga beberapa saran agar kakinya cepat pulih.
Setelah urusan di rumah sakit selesai, keduanya langsung menuju asrama untuk meletakkan barang-barangnya terlebih dahulu di sana.
“Niel … gue belom makan tadi, gue laper,” ujar Milana.
“Gue yang pesen.”
Niel meraih ponselnya dan memesan makanan secara online di Menu Makan Sehat. Niel memesan beberapa menu untuk dirinya dan sang pacar. Tentu saja menu yang dipesan bukan makanan sembarangan, karena Niel sangat suka dengan makanan sehat.
“Niel, lu pesen apa?” tanya Milana.
“Yang jelas makanan sehat,” sahut Niel.
“Hmm ….”
Milana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lagi-lagi ia harus makan makanan itu. Makanan yang kemungkinan besar tidak akan memenuhi rasa kenyang pada perutnya. Dan Milana harus pasrah dengan pemberian pacarnya itu.
Niel menyuruh Milana untuk menunggu di ruang tamu, sementara ia membawa tas koper Milana ke atas. Kamar Milana dan Niel bersebelahan, jadi memudahkan dia untuk menata barang di sana.
Tidak lama kemudian, satpam asrama datang dan memberikan bungkusan makanan yang sudah di pesan oleh Niel.
“Non, ini pesanannya,” ujar satpam asrama.
“Oke, makasih ya, Pak.”
Milana meletakkannya di atas meja. Alisnya mengerut saat mencium aroma dari masakan itu.
“Ini apa?” gumam Milana.
“Makanan.” Suara Niel membuat Milana terkejut dan mendengus kesal.
“Ini apa?” tanya Milana saat melihat Niel menyajikan makanan untuk dirinya.
“Sereal buah, steak tuna, sayur sop,” jawab Niel.
“Niel … serius? Mana nasinya?” tanya Milana.
“Gak ada.”
Milana kembali menelan ludahnya kasar, mau tidak mau … dia harus menghabiskan makanan itu. Bahkan meski makanan itu tidak akan membuat kenyang perutnya.
“Niel, ini cuma camilan buat perut gue,” jelas Milana.
“Makanan berat kalo buat gue.”
Setelah keduanya menghabiskan makanan itu, Niel yang melihat Milan amasih kesulitan untuk berjalan menyuruhnya tetap di asrama. Bukan Milana jika hanya menurut begitu saja, Milana tetap ingin mengikuti pelajaran di sekolah.
“Gue mau sekolah!” tegas Milana.
“Terserah.”
“Dan lu harus temenin gue!”
“Gak mau, pergi aja sendiri.”
Niel berdiri dari tempatnya dan meninggalkan Milana keluar dari asrama. Melihat pacarnya melangkah pergi, Milana merasa kesal dan memaksa untuk berjalan. Sial untuk cewek itu, ia terjatuh dan merasa kakinya semakin nyeri. Milana menahan rasa sakit itu dengan memegangi kakinya.
“Eh … eh.” Tubuh Milana terangkat ke atas, dan Niel tengah menggendongnya untuk membawa Milana ke kamar yang ada di lantai dua.
“Katanya mau sekolah?” tanya Milana.
Tidak menjawab, Niel tetap membawa Milana masuk ke dalam kamarnya. Perlahan, Niel merebahkan tubuh Milana di atas ranjang. Lalu ia duduk di tepi ranjang dengan memandang wajah Milana.
“Susah banget dikasih tau,” ujar Niel dengan menyentil dahi Milana.
“Niel! Sakit!” keluh Milana.
Niel berdiri dan mengambil obat yang diberikan oleh dokter. Ia juga mengambil segelas air untuk Milana.
“Minum.”
Milana meminum obat itu dan kembali berbaring. Setelah itu, Niel merapikan ranjang, dan menarik selimut untuk menutup tubuh Milana.
“Tidur! Gue mau kasih tau kakak lu dulu,” ujar Niel.
Milana tidak membiarkan cowok itu pergi dari sana, ia menarik tangan Niel dengan keras hingga tubuhnya jatuh diatas Milana.
“Akh!” pekik Milana saat merasakan tubuh Niel yang berat menindihnya.
Niel hany mendengus kesal melihat tingkah Milana, bukannya bangun dari posisinya. Justru Niel semakin menindih tubuh Milana, dan membuat wajah mereka berhadapan. Niel mendekatkan wajahnya dan menyapu jarak diantara mereka. Bibir keduanya bertemu, dan Niel melumat bibir Milana. Rasanya begitu manis, hingga membuatnya tidak ingin berhenti dari kegiatan itu.
Tanpa di sadari, tangan Niel bermain pada area d**a Milana. Mata Milana semakin terpejam saat merasakan sentuhan dari pacarnya.
“Ehm, ahh,” desah Milana disela ciumannya.
Mendengar desahan itu, Niel menghentikan kegiatannya, lalu kembali menatap mata Milana.
“Niel … lu mau ngapain?” tanya Milana.
“Lu pernah ….”
Ucapan Niel terhenti, ia seperti sedang berpikir untuk menanyakan hal itu. Sayang … cewek yang ada di hadapannya seperti tidak mengerti dengan kegiatan itu.
“Mau lanjut?” tanya Niel.
“Lanjuta apa? Ciuman? Lanjut aja kalo cuman gitu,” jawab Milana.
“Hmm, kalo lainnya?”
“Ha? Emank Niel mau ngapain Lala?”
“Mau … dah lah. Gue pinjem kamar mandi lu bentar,” ujar Niel sambil beranjak dari ranjang.
Cowok itu masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower.
“Emang tadi pagi dia belum mandi ya? Kok baru mandi sekarang?” gumam Milana.
Milana merasa kantuk karena obat yang dia minum beberapa saat lalu, dan akhirnya matanya terpejam.
Beberapa menit berlalu, Niel keluar hanya dengan mengenakan handuk yang menutup bagian bawahnya saja. Ia melihat Milana sedang terlelap dengan memeluk boneka miliknya. Niel meraih pakaiannya kembali dan mengenakannya saat itu juga.
Sekarang sudah lewat dari jam masuk sekolah, Niel memutuskan untuk duduk di sofa dan tidak pergi kesekolah, hanya untuk menunggu Milana membuka mata.
***
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Vivi melihat Milana tengah terlelap di atas ranjang. Dan Niel tertidur di atas sofa yang ada di dalam kamar itu. Melihat hal itu, Vivi kembali keluar dan menutup pintu kamar.
“Milana mana?” tanya Theo.
“Tidur, udah biarin.”
Theo mengangkat bahunya sekilas, dan akhirnya mereka masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.
Sementara itu, di dalam kamar. Milana mulai bergerak, dan meregangkan tubuhnya. Matanya juga terbuka secara sempurna. Saat menyusuri sudut kamar, ia menemukan Niel yang tengah terlelap di atas sofa. Cewek itu berusaha untuk bangun dan menghampiri pacarnya.
“Niel … bangun,” ujar Milana lirih.
“Kok lu udah bangun?”
“Udah hampir sore, gue laper lagi … makan,” rengek Milana.
“Bentar, gue pesen dulu.”