2. Tebing Es ku ...

1237 Words
“La, bangun.” Niel mencoba membangunkan Milana yang masih terlelap. Tidak ada jawaban dari Milana, sementara Niel bisa melihat jika ada banyak murid dan guru yang berdiri di lapangan dari jendela kamar Milana. “”La, bangun! Udah pada ngumpul di lapangan tuh!” ujar Niel. “Ehm … ngantuk, Niel.” “Iya, tau. Sekarang bangun dulu, gue gak mau kena hukum Pak Pea,” ujar Niel sambil menarik tangan Milana. Cewek itu segera bangun dari posisinya, Niel kembali meraih tubuh Milana, dan menggendongnya menuju lapangan. Milana kembali memejamkan mata saat perjalanan menuju lapangan. Sampai di lapangan, Theo melihat adiknya yang sedang di gendong oleh Niel. Theo mengerutkan dahinya, lalu mendekati keduanya. “Dia kenapa?” tanya Theo. “Kakinya terkilir pas lari dari setan,” jawab Niel. “Kenapa bisa gitu?” tanya Theo lagi. “Gak tau.” Niel menurunkan Milana perlahan, dengan masih berpegangan pada Niel, Milana melihat apa yang terjadi di depannya saat ini. Wajah Milana memucat, apalagi saat ia melihat Lia tidak sadarkan diri karena hantu yang sedang terusik itu. “Niel, takut … Mbaknya liatin gue,” rengek Milana. Niel memeluk tubuh Milana dengan erat, dan tiba-tiba saja Milana ikut tidak sadarkan diri karena terlalu takut. Merasa khawatir, Niel dan Theo membawa Milana untuk masuk ke dalam mobil. “Lu gak tau kalo Milana bisa liat setan, Yang?” tanya Vivi. “Gak tau, Ayang … kan dia selama ini di Paris,” jawab Theo yang kini terlihat gelisah. “Ya udah, kita bawa pulang aja deh,” ujar Vivi. “Eh, kuda nil! Makasih. Gue mau bawa balik adik gue dulu,” ujar Theo pada Niel. Tidak ada jawaban dari Niel, karena ia hanya mengangguk saat menjawab Theo. Niel melihat mobil itu melaju begitu saja, pergi meninggalkan dirinya yang masih berada di parkiran mobil. Tidak lama kemudian, seorang teman kelas Niel datang dengan membawa kunci mobil milik Niel. “Kunci mobil lo, gue nemu pas lari tadi. Yang punya mobil begini cuma lo, makannya gue langsung aja kasih,” ujar teman Niel itu. “Oke.” Niel tidak ingin terlalu lama di sana, ia ingin segera kembali ke rumah dan tinggal di dalam kamarnya. Lagi pula, Niel juga masih belum mengepack barangnya untuk tinggal di dalam asrama GTM. Sementara itu di rumah Vivi. Theo menggendong adiknya hingga sampai di kamar. Theo selalu tidak menyukai seseorang yang di sayang terluka. Nampak dari wajahnya yang masam karena tidak bisa berbuat apa-apa pada Niel. “Kakak kenapa sih?” tanya Milana. “Putus ama Niel!” tegas Theo. “What? Big no! Gue ngumpulin jiwa dan raga waktu bilang suka ama dia,” ujar Milana. “Lu yang nembak?” “Iya.” “Otak lu ikutan sengklek keknya,” celetuk Theo. “Bukannya gue begini juga gara-gara lu, siapa suruh bawa gue balik Indo!” “Hmm, serah lu deh! Awas aja kalo dia macem-macem!” ancam Theo. “Apa?” Theo mendengus kesal, lalu berjalan keluar dari kamarnya. Sementara Milana meraih ponselnya dan mengirim pesan pada sang pacar. Chat to Tebing Es : Anda : Udah sampek rumah? Tebing Es : Udah. Anda : Besok mulai pindah ke asrama, udah siapin barang yang di bawa? Tebing Es : Udah. Anda : Udah kangen belom ama gue? Tebing Es : Udah. Read. Milana tersenyum bahagia, ingin rasanya ia melompat kegirangan, sayang kakinya masih sakit karena terkilir. Milana kembali mengirim pesan pada Niel. Anda : Besok jemput ya? Tebing Es : Iya. Anda : Tayang lu Tebing Es ku … Tebing Es : Gue juga. Read. Milana meletakkan ponselnya dan mulai menarik selimutnya. Ia memejamkan matanya lagi hingga akhirnya terlelap di dalam mimpi. *** Pagi ini, Milana baru saja terbangun dan mengalami kesulitan untuk pergi ke kamar mandi. Beberapa kali ia berteriak memanggil kakaknya, tetapi tidak ada jawaban dari Theo maupun Vivi. Milana yang kesal akhirnya berusaha sorang diri untuk bisa masuk ke dalam kamar mandi. “k*****t, pada kemana sih!” gerutu Milana. Milana meringis menahan sakit pada kakinya, dan ia berhasil masuk ke kamar mandi. Cukup lama ia di dalam sana untuk membersihkan diri. Karena semalam tidak sempat membersihkan diri, pagi ini ia ingin badannya bersih dari sisa semalam. “Gue juga lupa belom beresin barang, ish … sial banget sih!” gumam Milana. Selama Milana di dalam kamar mandi, Niel sudah berada di depan pintu dan mencoba menjadi pacar yang baik dengan menjemput Milana. “Kuda nil mau ngapain?” tanya Vivi yang membuka pintu saat itu. “Jemput Lala, Kak.” “Milana masih mandi, tunggu aja. Masuk gih,” ujar Vivi. Niel mengangguk dan akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah Vivi. “Yang, Milana udah siap belum?” teriak Theo dari lantai dua. “Belum, masih mandi.” Theo berlari ke lantai satu, dan melihat Niel duduk di sofa ruang tamu. “Itu anak ngapain disitu?” tanya Theo pada Vivi. “Hmm? Biarin aja, oya … kita otewe dulu deh, biar Milana ama Niel entar,” ujar Vivi. “Ha? Gak! Milana ama kita,” bantah Theo. “Mau tidur di kamar sendirian?” tanya Vivi dengan tersenyum. Vivi kembali menghampiri Niel yang kini duduk di ruang tamu, ia tersenyum pada Niel dan berkata,”Niel, lu tungguin Milana ya? Gue ama Theo berangkat duluan.” “Oke.” “Kamar Milana ada di pojokan dekat balkon,” ujar Vivi memberitahu. “Iya.” Theo dan Vivi terlihat membawa barang-barangnya untuk masuk ke dalam mobil. Dan mereka akhirnya pergi terlebih dahulu menuju asrama GTM. Niel masih terdiam di sofa ruang tamu, dia melihat kea rah jam dinding, dan di sana sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. “Lama amat sih!” gumam Niel. “ARGH!” Teriakan Milana membuat Niel segera berlari menuju lantai dua. BRAK “Lala!” seru Niel. “Niel? Bantuin … sakit!” keluh Milana. Saat ini, Milana sedang terduduk dengan tas koper yang menindih bagian kaki yang terkilir. Niel dengan segera menyingkirkan tas koper milik Milana, dan membantu kekasihnya untuk beranjak dari sana. “Mana yang sakit?” tanya Niel. “Ini.” Niel melihat kaki Milana yang membiru karena terkilir. Ia terlihat mendengus kesal, kenapa tidak segera diobati semalam. “Kakak lu diem aja liat ini?” tanya Niel. “Kakak gak tau, gue aja baru tau pagi ini,” ujar Milana. “Ada minyak?” “Coba liat di kotak P3K itu,” ujar Milana sambil menunjuk pada kotak P3K yang ada di atas lemari kecil. Niel mengambil minyak gosok untuk membalur kaki Milana. Perlahan cowok itu memijat kaki pacarnya. Dan tentu saja hal itu membuat Milana meringis dan mengaduh karena rasa nyeri. Setelah selesai, Niel kembali meletakkan minyak itu pada tempatnya. Lalu ia mencuci tangan di dalam kamar mandi. “Barangnya ini aja?” tanya Niel. “Iya.” “Gue tarok mobil dulu,” ujar Niel. “Oke.” Sementara Niel turun ke lantai satu, Milana mencoba untuk berdiri dan berjalan perlahan. “Akh! Sakit ….” Milana memaksakan kakinya untuk bisa berjalan meski rasa nyeri yang luar biasa itu datang. “Lu ngapain?” tanya Niel yang sudah kembali lagi. “Mau turun lah,” jawab Milana. Milana kembali duduk di atas ranjang, menatap Niel dengan wajah yang memelas. Niel mendekati pacarnya itu, lalu mencoba meraih tubuh milana dan menggendongnya. Sebelum itu, wajah keduanya saling bertemu, mata Milana tertuju pada bibir tipis milik Niel. Dan jarak diantara keduanya terhapus saat Niel mulai mencium bibir Milana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD