02 RS Diamond Group

2967 Words
Sore hari. Pukul enam sore, Tuan Park menginjakkan kaki di rumah mewahnya. Setelah dua minggu pria paruh baya itu melakukan perjalanan bisnis, akhirnya sore itu dia bisa pulang ke rumah. Ketika memasuki ruang tamu, Tuan Park melihat Jiyeon tengah asyik membaca buku kedokteran miliknya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ayahnya sudah pulang dari luar kota. “Kenapa kau tidak menelepon ayah ketika sampai di rumah?” tanya Tuan Park pada putri bungsunya yang masih fokus membaca buku itu. Jiyeon mendengar pertanyaan Tuan Park dengan jelas. Lalu ia mendongakkan kepalanya, melihat ayahnya sudah berdiri dengan jarak tujuh meter dari tempat duduknya. “Ayah sudah pulang?” Ia beranjak dari tempat duduknya dan segera memeluk ayahnya yang bahkan belum istirahat sama sekali. “Aku sangat merindukan ayah.” Tuan Park tersenyum. “Aku juga merindukanmu, Putriku.” “Aku menunggu ayah pulang. Aku kira kalau ayah akan pulang seminggu lagi. Ada yang ingin aku bicarakan dengan ayah. Ini sangat penting.” “Baiklah. Putri ayah sekarang sudah dewasa sehingga memiliki masalah yang sangat penting untuk dibicarakan dengan ayahnya.” Jiyeon tersenyum. “Aku akan siapkan air hangat untuk mandi ayah. Ayah bisa makan dulu. Ada Kak Mina di meja makan. Mungkin dia sengaja menunggu ayah di sana.” Tanpa menjawab, Tuan Park melepas pelukan Jiyeon dengan pelan kemudian berjalan menuju ruang makan. Perutnya terasa lapar sekali karena lelahnya perjalanan jauh. Sedangkan Jiyeon, segera pergi ke kamar ayahnya untuk menyiapkan air hangat. Hal itu juga sering dilakukan oleh Jiyeon ketika ibunya masih hidup. FLASHBACK Tiga tahun yang lalu. Ceklek! Seorang wanita paruh baya membuka knop pintu dengan sisa tenaga yang dimiliki. Wanita yang sering dipanggil dengan nama Nyonya Park itu baru saja pulang dari rumah sakit, tempatnya bekerja setiap hari. Ya, Nyonya Park adalah seorang dokter spesialis syaraf yang cukup terkenal di kota Berlin. Kemampuannya membantu kesembuhan pasien berpenyakit kronis tidak bisa disepelekan. Hampir semua diagnosa dan cara ia menangani pasien tepat sasaran. Ratusan orang yang memiliki penyakit syaraf atau yang berhubungan dengan syaraf sudah berhasil ia bantu kesembuhannya. “Ibu, istirahatlah sebentar. Aku siapkan air hangat untuk Ibu mandi, ya.” Jiyeon memberikan secangkir teh hangat untuk ibunya tersayang. Ia tahu betapa lelahnya sang ibu saat pulang dari rumah sakit. Pekerjaan ibunya bukanlah pekerjaan ringan, bukan pula pekerjaan yang bisa dilakukan dengan sembarangan. Dengan semangat, Jiyeon menyiapkan air hangat, pasta gigi, hingga handuk untuk ibunya. “Ibu, apakah Ibu juga memerlukan pakaian ganti yang bisa ku siapkan?” Jiyeon menghentikan langkahnya menuju kamar ibunya. Ia menoleh ke arah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. “Tidak usah. Ibu bisa menyiapkannya sendiri.” “Baiklah. Air hangat, pasta gigi, dan handuknya sudah siap. Ibu mandilah dulu. Aku akan menyiapkan makan malam untuk Ibu. Kebetulan tadi siang aku belanja bersama Jaehwan untuk membeli keperluan dapur yang habis.” Jiyeon mendekati ibunya dan membantu wanita itu berdiri. “Ayo, Ibu. Malam semakin larut.” FLASHBACK END ..... Tap! Tap! Tap! Suara langkah Jiyeon terdengar hingga radius 10 meter. Ia berjalan mencari ayahnya di ruang makan yang terletak tepat di dekat tangga. Ayah tersayangnya sedang duduk di kursi dan menyantap makan malam itu. Jiyeon ingin mendekati dan mengatakan kepada ayahnya bahwa air hangat sudah siap digunakan untuk mandi. Tapi sejurus kemudian, ia memilih diam. Membungkam mulutnya karena pada saat ia tiba di ruang makan, ayah dan kakaknya, Mina, sedang membicarakan sesuatu yang serius. Jiyeon mendekati meja makan dengan langkah pelan. Supaya tidak mengganggu mereka berdua yang tengah serius membahas masalah perusahaan. “Jika bukti sudah ada di tangan kita, untuk apa lagi menundanya, Ayah?” Mina tampak sedikit emosi saat membahas masa depan perusahaan dengan ayahnya. Tuan Park terlihat santai sambil menikmati sushi yang tertata rapi di atas piringnya. Sedangkan Jiyeon, duduk dan diam di kursi bagian pojok seraya memperhatikan dua anggota keluarganya. Ia berusaha memahami apa yang dibahas mereka berdua. “Kita tidak bisa bertindak tergesa-gesa seperti itu. Semua bukti sudah dibawa pengacara Han. Kita akan menjebloskan dia ke penjara di saat yang tepat.” Kekecewaan terpampang jelas di raut wajah Mina. “Menunggu apa? Menunggu orang itu korupsi lebih banyak lagi, Ayah?” Jiyeon mengerutkan keningnya. Korupsi? “Jika dia berani mengambil lebih banyak uang perusahaan maka hukumannya juga semakin berat.” Tuan Park tetap santai menanggapi kata-kata Mina. “Tapi... Jika dia korupsi lebih banyak lagi, bukankah kita yang akan dirugikan, Ayah? Uang perusahaan tidak akan kembali 100 persen.” Tuan Park menyadari bahwa Jiyeon mendengarkan pembicaraan mereka. Kemudian ia menatap Mina. “Aku akan menyita aset-aset berharga miliknya.” Jiyeon bertanya-tanya dalam hati. Korupsi? Siapa yang melakukan korupsi? Berapa uang perusahaan yang sudah dibawa kabur oleh orang itu? Bagaimana nasib perusahaan kelak? “Ayah...” lirih Jiyeon yang memandang ayah dan kakaknya secara bergantian. Jiyeon ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia tidak yakin bahwa yang dikatakannya nanti mendapat persetujuan dari ayah dan kakaknya. “Ada apa, Jiyeon? Kau mendengar pembicaraan kami?” tanya Tuan Park dengan nada datar, tanpa intimidasi atau nada marah. “Mm... Begini, Ayah. Aku ingin bekerja di perusahaan, bukan di rumah sakit.” Uhuk! Mina tersedak mendadak saat mendengar pernyataan Jiyeon. Ia menatap lekat pada adik kandungnya yang notabennya adalah seorang dokter spesialis jantung. “A, apa yang kau katakan? Kau seorang dokter, bukan akuntan, pebisnis, investor atau yang lainnya.” Tuan Park masih diam. Pria paruh baya itu nampak sedang memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan pernyataan Jiyeon. “Kalau kau yakin, kenapa tidak dilakukan saja? Aku tidak pernah memaksamu melakukan hal-hal yang ku sukai. Lakukan sesukamu, Jiyeon.” Mina meletakkan garpu dan pisau makannya. Selera makannya hilang seketika. “Jiyeon... Sadarkah kau bahwa... Kau adalah penerus ibu. Kau harus meneruskan perjuangan ibu sebagai dokter. Tidak ingin kah kau menyelamatkan banyak nyawa dengan tanganmu seperti yang ibu lakukan ketika masih hidup?” Kedua manik mata Mina berkaca-kaca. Selama ini dia menahan hasrat untuk tinggal bersama Jiyeon dan ibunya di Jerman demi masa depan adiknya. Supaya Jiyeon bisa lebih fokus mempelajari bidang kedokteran ditemani ibunya. “Harapanku dan ibu adalah kau menjadi seorang dokter yang hebat, Jiyeon. Bukan pengusaha.” Jiyeon tertunduk sedih. Air bening hangat menetes dari kedua sudut mata indahnya. Ia teringat pesan sang Ibu yang menginginkan dirinya menjadi dokter yang hebat. “Dengarkan aku, Jiyeon.” Mina beralih posisi. Saat ini gadis cantik itu berdiri di samping kursi yang Jiyeon duduki. “Dengarkan aku!” Mina memegang bahu adiknya dan meminta sang adik menatap matanya. “Tataplah aku.” Jiyeon menahan tangisnya. Ia berusaha sekuat hati menatap kakaknya. “Bukankah kau tahu bahwa cita-cita ibu adalah menjadi dokter spesialis syaraf terhebat di Jerman? Ibu tidak bisa mewujudkannya karena beliau sudah tiada. Bukankah kau sendiri yang mendengar sebelum ibu tiada, ibu menggantungkan harapan besar padamu? Ibu ingin kau menjadi dokter spesialis jantung terhebat di Korea Selatan, Jiyeon. Kau sudah mendapatkan gelarmu. Langkahmu tinggal separuh lagi menuju sukses. Tapi... Sekarang kau ingin menyerah? Kau ingin ibu kita kecewa di alam baka sana?” Kata-kata Mina semakin membuat Jiyeon menangis tanpa kata. Ia ingat semua yang dikatakan Mina. Ia juga teringat pesan ibunya sebelum meninggal. Ia mengingat semuanya dengan jelas. Bagaimana ibu tersayangnya meninggal di pangkuannya. “Cukup, Kak. Aku mohon...” Jiyeon menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Ia sudah tidak sanggup mendengar kata-kata Mina yang membahas tentang ibu mereka. Hati Jiyeon terlalu sakit jika harus mengingat kematian ibunya. Kakaknya benar. Dia harus tetap menjadi seorang dokter demi mewujudkan cita-cita ibunya. “Ibu meninggal karena aku,” lirih Jiyeon diiringi isak tangisnya. Mina memeluk Jiyeon dan menumpahkan air matanya di bahu adik kesayangannya. “Maafkan aku, Jiyeon. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya tidak ingin ibu kecewa padamu.” Mina tak kalah sedih dari adiknya. “Aku akan selalu mendukungmu, Adikku. Kau dan aku harus melindungi masa depan keluarga kita.” Tuan Park tak dapat meneteskan airmata seperti kedua putrinya. Dia hanya nampak sedih dengan mata berkaca-kaca. “Itulah alasanku, kenapa aku tidak pernah melarangmu melakukan apapun yang kau suka, Jiyeon. Kau pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan. Ayah hanya bisa mendukungmu.” Tuan Park mengambil segelas air putih yang terletak tepat di samping piringnya. “Kasih sayangku pada kalian berdua tidak pernah ku beda-bedakan. Kalian sama. Kalian berdua adalah putriku yang memiliki kemampuan berbeda tapi sama hebatnya. Aku yakin padamu, Jiyeon, kau akan menjadi dokter yang hebat seperti yang diinginkan oleh ibumu.” Mina melepaskan pelukan pada adik cantiknya. Ia mengusap airmata Jiyeon yang masih mengalir di pipi mulus itu. “Besok pagi kita bisa bicara lagi, Jiyeon. Sekarang istirahatlah.” Tuan Park terlihat begitu perhatian pada putri bungsunya. “Ayah juga akan mandi lalu istirahat. Air hangat yang sudah kau siapkan tidak akan ayah sia-siakan begitu saja.” Jiyeon tidak menyangka bahwa ayahnya kan mengatakan hal manis seperti itu padanya. Tuan Park memang menyayangi Jiyeon. Tapi ketika gadis itu masih kecil, kasih sayangnya berat sebelah. Tuan Park lebih menyayangi Mina daripada Jiyeon. Terlebih, Jiyeon adalah alasan ibunya meninggal. Demi menyelamatkan Jiyeon, nyonya Park rela meregang nyawa. Tak ingin mengucapkan sepatah kata pun, Jiyeon berdiri kemudian berjalan pelan menapaki setiap anak tangga agar sampai di kamarnya. Jiyeon POV Sejak kemarin, kakiku terasa tak berdaya menopang tubuhku. Aku masih mengingat setiap kata yang dikatakan oleh Kak Mina. Mungkin itulah yang menjadi alasanku dibenci oleh keluarga ibu di Jerman. Aku adalah satu-satunya penyebab ibu meninggal. Aku yang bersalah atas kejadian malam itu hingga ibu harus mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku. Aku... Benar-benar tidak berguna. Kak Mina mengingatkanku pada cita-cita Ibu. Ya, benar. Ketika ibu meninggal, aku bertekad melanjutkan perjuangan ibu sebagai dokter. Itu janjiku pada ibu. Aku akan tetap menjadi dokter. Kriiiing! Aku tersentak kaget mendengar dering ponselku yang membahana di kamarku. Ku lihat ponsel berlayar datar yang ada di atas ranjang, di sampingku. Nama Kim Jaehwan dan fotonya terpampang dengan jelas di layar itu. “Ya, halo,” ucapku lirih. “Hei, apa yang terjadi padamu?” tanya Jaehwan yang mendengar suaraku lesu, lirih, tidak seperti biasanya. Aku menarik nafas panjang demi menenangkan pikiran dan hatiku. “Sesuatu telah terjadi. Ternyata kepulanganku membawa dampak buruk pada keluarga.” Tak ada respon dari Jaehwan. Mungkin dia sedang menerka-nerka maksud kata-kataku. “Aku mengerti perasaanmu, Jiyeon. Kamu sudah benar, mengambil keputusan pulang ke Korsel. Keluargamu ada di sana, bukan di Jerman. Lalu dampak buruk apa yang kau maksud ,heh?” Kali ini aku yang terdiam. Mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan perkara tadi padanya. “Akan aku ceritakan jika kau sudah pulang ke Korsel. Baru empat hari aku di sini, sudah banyak masalah yang mengganggu pikiranku.” Ku akui saja apa yang kurasakan dan apa yang terjadi padaku pada Jaehwan. “Hei, kau pelit sekali sekarang. Aku sudah sangat penasaran, malah kau bikin menunggu untuk mendengar ceritamu?” “Aku tidak bisa menceritakannya via telepon. Mengertilah, Bodoh!” Aku kembali pada Jiyeon milik Jaehwan yang selalu bertengkar dengannya. Jaehwan tertawa. “Hmm... Haruskah aku memanggilmu nyonya Kim? Atau tetap memanggilmu dengan panggilan nona Park?” “Hei, Kim Jaehwan! Jangan bercanda! Aku sedang sedih. Tidak ada prihatinnya sama sekali. Suami macam apa seperti itu pada istrinya...” Jaehwan tertawa terpingkal-pingkal. Mendengarnya tertawa seperti itu, membuat sedihku hilang seketika. Aku pun tersenyum tanpa bisa dilihat oleh Jaehwan. “Aku akan pulang dalam waktu dekat ini. Mungkin besok ijazahku bisa diambil. Ya, aku telat mengambil ijazah dua hari yang lalu.” “Dasar payah!” ketusku. Dia selalu seperti itu. Sering telat, sering lupa, sering apapun. “Telepon aku jika kau pulang, ya?” pintaku dengan nada datar. Aku belum bisa bermanja padanya. Suasana hatiku masih belum kembali normal. “Tidak akan. Aku tidak akan meneleponmu.” “Kau! Berani kau, Jaehwan jelek!” “Jika aku meneleponmu, berarti kau harus menjemputku di bandara. Setuju?” Ah, selalu aku yang kalah. Menyebalkan! “Baiklah, aku yang akan menjemputmu. Semoga aku tidak lupa.” Jaehwan tertawa lagi. “Ada yang ingin aku bicarakan dengamu. Ini tentang kak Mina. Jadi, kau harus segera kemari.” “Mina? Memangnya ada apa dengan kakakmu?” Aku sengaja tidak menjawabnya. Aku bahkan bingung menjelaskan itu padanya. “Entahlah. Ku tunggu kau pulang.” Keesokan hari. Jiyeon sengaja bangun jam enam pagi untuk menyiapkan sarapan bersama bibi Han di dapur kesayangan wanita yang mengasuhnya sejak masih bayi itu. Jiyeon membantu bibi Han menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak makanan. Ia biasa melakukan pekerjaan seperti itu saat masih tinggal di Jerman, tentunya bersama ibu tercinta ketika mendiang masih hidup. Jiyeon meminta bibi Han untuk tidak sungkan padanya. Jika membutuhkan sesuatu, bibi Han panggil saja Jiyeon. Pasti gadis itu akan datang membawakan sesuatu yang diminta. Sayur mayur telah disiapkan, daging sapi telah diiris sesuai kebutuhan bibi Han, bumbu-bumbu disiapkan juga oleh Jiyeon sehingga bibi Han semakin mudah dan cepat menyelesaikan tugas memasak di dapur. Bibi Han sendiri sangat menyayangi Jiyeon seperti putri kandungnya. Sedari kecil, Jiyeon adalah gadis yang ringan tangan. Dia suka membantu siapapun selagi dia bisa melakukan pekerjaan itu. Sudah lama bibi Han tidak bertemu Jiyeon. Tetapi menurutnya, Jiyeon sama sekali tidak berubah. Semua sifat dan sikapnya masih sama dengan yang dulu. Baik dan sopan. Yang berbeda adalah wajah gadis itu semakin cantik dan semakin pandai merawat diri. Dua jam telah terlewati dengan kesibukan di dapur. Jiyeon merasa lega karena berhasil membantu bibi Han di dapur. Kini tugas wanita itu tidak seberat kemarin-kemarin. “Bibi Han, mulai hari ini, sampai besok dan besok, besok, seterusnya, aku akan membantu bibi di dapur. Aku tahu bibi sudah semakin tua dan...aku tidak tega melihat bibi Han bekerja seorang diri. Aku akan membantu bibi seperti tadi.” Bibi Han tersenyum senang mendengar Jiyeon yang bersedia membantunya. Meskipun Jiyeon tidak membantu seperti tadi, dirinya tetap akan memasak untuk keluarga Park setiap hari. Itulah yang dilakukannya sejak 26 tahun yang lalu. “Bibi berterimakasih sekali pada nona Jiyeon. Sungguh, bibi merasa sangat senang dan bangga pada nona.” Jiyeon tertunduk malu. Kata-kata bibi Han membuatnya berbunga-bunga. Diselipkannya rambut berwarna coklat miliknya ke belakang telinga. Seandainya ibu masih hidup, batin Jiyeon. Makanan sudah siap, tersaji dengan rapi di atas meja makan berbentuk persegi panjang dan dikelilingi delapan kursi. Jiyeon masih membantu bibi Han menyajikan sarapan pagi itu. Lengkap dengan menuangkan s**u ke dalam masing-masing gelas yang tersedia di atas meja. Tuan Park telah bersiap pergi ke kantornya pagi itu. Sebelum berangkat, sang putri bungsu membujuknya untuk sarapan terlebih dahulu. “Ayolah, Ayah. Tolong... Aku yang membantu bibi Han menyiapkan semua ini. Jadi, ayo kita sarapan bersama,” bujuk Jiyeon sambil menggandeng tangan ayahnya. Usaha Jiyeon berhasil. Ia telah membujuk ayahnya dan kini pria pendiri Diamond Group itu duduk di kursinya, menunggu Jiyeon selesai menyiapkan roti yang diolesi selai coklat. “Kemarin malam ayah mengatakan akan membicarakan hal yang penting denganku. Pagi ini, kan? Ayah ingat?” Jiyeon menagih janji ayahnya saat sarapan. “Aku akan mendengarkan ayah dengan baik. Oh iya, tunggu. Di mana Kak Mina?” Jiyeon meletakkan roti di atas piring ayahnya kemudian membalikkan badan hendak melangkah ke kamar Mina. “Kakakmu sudah pergi ke kantor. Pagi-pagi sekali dia ada janji dengan pengacara perusahaan. Ada hal penting yang harus mereka bicarakan,” terang Tuan Park. “Oh, begitu rupanya.” Jiyeon membatalkan niatnya memanggil Mina untuk sarapan bersama pagi itu itu. “Duduklah! Setelah sarapan, kita akan membicarakan tentang karirmu.” Karir? Mendengar kata itu, Jiyeon langsung menurut. Ia duduk di samping ayahnya dan mulai menyantap sarapan paginya. ..... Setelah sarapan, Tuan Park meminta Jiyeon bicara empat mata dengannya di ruang tamu. Jiyeon pun menurut. Setelah membereskan piring dan peralatan lainnya dari meja makan, ia berjalan mengekor ayahnya menuju ruang tamu. Tuan Park nampaknya ingin membicarakan hal yang penting dengan Jiyeon yang berkaitan tentang karir putri bungsunya. “Kemarin sebelum aku pulang dari Busan, direktur rumah sakit Diamond Group mengatakan bahwa di sana sedang mengalami kekurangan tenaga medis. Salah satunya adalah dokter spesialis jantung.” Ayah Park Jiyeon berhenti sejenak. Sedangkan Jiyeon menanti sang ayah selesai mengatak hal yang ingin dikatakan padanya. “Ada beberapa dokter spesialis yang dibutuhkan oleh rumah sakit. Jika kau bersedia bekerja di sana, aku akan mengatakannya pada direktur. Kau juga bisa merekomendasikan rekan-rekanmu bekerja di sana, yang mungkin saja saat ini sedang dibutuhkan oleh rumah sakit itu.” Singkat tapi jelas. Ya, begitulah Tuan Park. Selalu bicara sesuai kebutuhannya, pada intinya, tidak bertele-tele. Jiyeon berpikir beberapa detik. Diamond Group? Bukankah itu rumah sakit milik ayahnya juga? “Rumah sakit itu...bukankah bagian dari saham ayah?” tanya Jiyeon yang ingin memastikan pendapatnya. “Iya, kau benar. Direktur Yoon yang memegang rumah sakit itu. Hanya dia yang bisa ku percaya.” Jiyeon tersenyum. Tanpa pikir panjang, dia setuju untuk bekerja di sana. “Baiklah, Ayah. Aku akan bekerja di sana. Tolong katakan pada direktur Yoon bahwa aku masih membutuhkan pengarahan dari senior-senior di sana.” “Hmm begitu... Baiklah, akan ku sampaikan padanya sesuai permintaanmu.” “Terimakasih, Ayah.” Jiyeon mencium pipi kiri ayahnya kemudian beranjak pergi ke kamarnya. Ia ingin menyiapkan segala sesuatu untuk bekerja besok pagi di rumah sakit Diamond Group. .... Busan, Korea Selatan Sore hari pemandangan di Busan tak kalah cantik dengan pemandangan di Seoul. Kesibukan para penduduk juga nampak jelas di jalan raya dan banyak tempat pertokoan, kantor, dan lain-lain. Kota Busan merupakan kota penting kedua di negeri ginseng Korea Selatan, setelah Seoul tentunya. Busan memiliki beberapa rumah sakit besar yang bisa bersaing secara Nasional bahkan dengan rumah sakit besar yang ada di Seoul. Salah satu rumah sakit besar di Busan adalah RS Diamond Group. Sebuah rumah sakit swasta yang mengutamakan pelayanan dan kualitas. Kesembuhan pasien merupakan prioritas di rumah sakit itu. Entah pasien dari golongan mampu (kaya) atau bahkan miskin. Seorang pemuda berpostur tubuh tinggi, berparas tampan, memakai jas putih layaknya seorang dokter, berjalan dengan langkah santai melewati pintu kaca RS Diamond Group yang otomatis terbuka saat seseorang melewatinya. Pemuda itu merupakan dokter spesialis jantung yang baru satu hari bekerja di rumah sakit itu. “Dokter Kim!” Seorang perawat memanggil pemuda itu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD