01 Pulang
Berlin, Jerman 2021
Hari ini bukanlah hari Senin biasa. Seorang wanita muda tengah menunggu hari ini sejak lama, lebih dari tiga tahun. Ya, Park Jiyeon – putri pengusaha kaya asal Korea Selatan telah menyelesaikan kuliahnya di Jerman dengan jurusan kedokteran hingga program S2 Spesialis jantung. Jiyeon merupakan salah satu mahasiswa teladan dengan nilai IP kumulatif Cumlaude yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian di saat wisuda kelulusan. Siapa yang tidak mengenalnya? Jiyeon gadis tercantik di jurusan kedokteran dengan kecerdasa di atas rata-rata. Tubuhnya yang langsing, mata khas Asia, hidung mancung, bibir tipis yang seksi, dan rambut panjang berwarna coklat yang sering ia biarkan berjuntai menutupi punggungnya.
Ia berdiri di balik jendela apartemennya yang dihiasi tirai berwarna putih transparan. Sembari menikmati pemandangan kota Berlin untuk yang terakhir kalinya, ia menyeruput kopi latte yang dibuatnya sendiri.
Jiyeon tersenyum memandang ke arah luar jendela. Imajinasinya jauh melayang ke negeri asalnya, Korea Selatan.
“Aku sangat merindukan kalian, ayah dan kak Mina,” gumam Jiyeon. Senyum kecil menghiasi wajah cantik khas wanita Asia yang selalu menunjukkan keceriaan itu.
Ceklek!
Seseorang menarik knop pintu lalu membuka benda keras itu perlahan. Seorang pemuda yang tak asing bagi Jiyeon, masuk apartemen Jiyeon tanpa minta izin pada si empunya apartemen itu.
“Pesawatmu segera tinggal landas. Sampai kapan kau akan berdiri di tempat itu?” Pemuda yang masuk apartemen tanpa ijin itu tampak kesal melihat Jiyeon yang sedari tadi hanya berdiri di balik jendela.
Deg!
Jiyeon menoleh, kaget, kemudian menghela nafas panjang. Bukannya senang melihat pemuda tampan yang berdiri di depannya itu, Jiyeon malah tampak super kesal.
“Sejak kapan kau berdiri di depan pintu seperti itu?” tanya Jiyeon balik. Tangan kanannya meletakkan cangkir yang berisi kopi latte di atas meja kecil di bawah jendela.
Kim Jaehwan, nama pemuda tampan itu, yang kini tengah berjalan santai ke arah tempat Jiyeon berdiri. “Hei, Nona Park! Kau mau pulang, tidak?” Jaehwan mengacak rambut Jiyeon yang sudah disisir rapi.
“Kenapa setiap kali bertemu denganmu, aku selalu sial? Ada apa dengan tanganmu yang selalu mengacak rambutku, hah?” Jiyeon heran.
Ia dan Jaehwan saling mengenal sudah lebih dari enam tahun. Ya, tentu saja sejak mereka masih duduk di bangku SMA, di Korea Selatan. Jaehwan adalah kakak kelasnya yang selalu mengacak rambut panjangnya sejak pertemuan mereka yang kedua kali. Sampai sekarang sudah enam tahun, entah sudah berapa kali pemuda itu mengacak rambut Jiyeon.
Jiyeon yang kesal segera mengambil tas ransel berisi laptoo dan kopernya yang berwarna pink tua supaya pemuda bernama Kim Jaehwan itu tidak mengomel lebih banyak lagi. “Kau itu lebih cerewet daripada ibuku,” gerutu Jiyeon saat dia berjalan di samping Jaehwan, menuju pintu apartemen.
Jaehwan tertawa kecil. Selama enam tahun ia mengacak rambut wanita muda yang cantik itu. Selama itu pula Jiyeon selalu membandingkannya dengan nyonya Park. “Biar aku saja yang membawa kopermu. Badanmu terlalu kurus, bisa-bisa kau terjatuh dan oleng saat menenteng koper itu.”
Dengan kesal, Jiyeon menghentikan langkahnya. Kemudian melirik tajam pada sosok pria yang ingin dicakarnya. Ia mendengus kesal setelah mendengar ejekan dari Jaehwan. “Baiklah, terimakasih, Tuan Kim.” Dengan langkah pasti, Jiyeon keluar dari apartemen yang telah ia tempati selama dua tahun terakhir. Ya, sejak ibunya meninggal dua tahun lalu. Ia memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri. Jauh dari keluarga ibunya yang merupakan penduduk Jerman asli. Entah masalah apa yang membuatnya memutuskan seperti itu. Mungkin terdapat kesalahan di masa lalu yang menyebabkan keluarga itu tidak menyukai Jiyeon.
.....
Jiyeon POV
Perjalanan menuju bandara tidak begitu lama. Aku hanya duduk manis seperti penumpang taksi online. Tentu saja Kim Jaehwan yang menyetir dan mengendarai mobilnya seperti kilatan petir. Benar-benar membuatku mendadak kena serangan jantung. Berlin tidak pernah macet oleh kendaraan, tak berbeda dengan Seoul. Maka dari itu, Jaehwan membawa mobil mewahnya dengan kecepatan lumayan tinggi, bagiku.
Aku telah sampai di bandara. Tempat terkhirku di negara ini. Ya, bandara ini, aku menebar pandanganku ke segala arah seraya mengucapkan selamat tinggal pada negara ini dalam hatiku. Terimakasih sudah membuatku betah di sini, Jerman. Sembari menunggu Jaehwan membawakan koperku yang berwarna pink tua itu, aku mengecek ponselku untuk membaca pesan yng mungkin masuk tanpa ku ketahui.
“Silahkan, Nona Park yang kurus.”
Iiiish!
Pria ini selalu mengagetkanku kemudian mengejekku.
Jaehwan puas melihatku kesal. Aku sudah kesal sekali padanya tapi dia semakin mengejekku. Ingin ku cakar saja wajah tampannya itu.
“Sini, biar aku yang bawakan troli ini ke dalam,” katanya setelah ia berhasil menata tas ranselku dan koper di atas troli dengan rapi.
Aku tersenyum melihatnya mendorong troli, berjalan tanpa menoleh ke arahku yang masih mematung di belakangnya. Ku tatap punggung datar Jaehwan yang selalu hangat di dalam hatiku.
Sebelum masuk ke dalam pesawat, aku harus cek identitas dan kelengkapan administrasi termasuk paspor dan tiketku terlebih dahulu. Ketika aku berjalan menuju antrian, tiba-tiba Jaehwan menghentikan langkahku. Aku terkejut.
“Kau tidak berpamitan dulu padaku?” Tiba-tiba Jaehwan memegang tanganku yang sukses menghentikan langkahku seketika.
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Berpamitan? Bukankah dia sudah tahu kalau aku akan pulang ke Korsel. Kenapa aku harus mengatakannya lagi padanya?
“A, aku...”
Cup!
Mataku terbelalak. Aku belum menyelesaikan kata-kataku. Tiba-tiba pria tampan di depanku itu mengecup bibirku. Dilepasnya sedetik. Kemudian dia menciumku lagi, melumat bibirku pelan dan lembut. Tangan kirinya melingkar erat di pinggangku sedangkan tangan kanannya memegang tengkukku, memperdalam ciumannya padaku. Tanpa aba-aba, aku pun menutup mata. Menikmati ciumanku yang kesekian kalinya dengan pemuda itu. Jika tidak sadar bahwa kami berada di bandara, pasti kami sudah melakukan hal yang lebih dari itu.
“Kau tidak akan merindukanku, Park Jiyeon?”
Aku kaget mendapat pertanyaan itu dari pria yang ku cintai. “Tentu saja. Aku akan merindukanmu. Jadi, kau juga harus pulang secepatnya. Aku akan menunggumu di sana.” Kata-kataku mampu menghipnotisnya. Aku pasti sangat merindukannya ketika kami sudah berada di negara yang berbeda.
Seketika ia memelukku erat. Seakan tak ingin membiarkanku pergi. Tangan kanannya sibuk mengusap rambut panjangku yang menutupi punggung. Belaian itu pasti akan sangat ku rindukan.
“Lepaskan, ih!” Aku berusaha melepaskan pelukannya. “Kita tidak berpisah selamanya. Kau bisa pulang ke Korsel kapan pun kau mau, kan?”
“Baiklah, Nona Cantik.”
“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik di sini. Aku akan merindukanmu!” Ku lambaikan tangan kiriku padanya karena tangan kananku memegang koper yang cukup berat ini.
Aku pulang dulu, Sayang. Jaga dirimu, jaga kesehatanmu, kau harus selalu meneleponku. Jaehwan terlihat semakin jauh. Sedih, ya, pasti sedih berpisah dengan orang yang ku cintai. Tapi ini bukan untuk selamanya. Kami masih bisa bertemu di Korsel. Aku tersenyum tipis dan melanjutkan langkahku memasuki kabin pesawat yang sebentar lagi tinggal landas.
.....
Bandara Incheon, Korea Selatan
Author pov
"Bandara ini benar-benar ramai. Seakan tak pernah sepi, malah semakin ramai," gumam seorang gadis berambut hitam sebahu yang berjalan pelan sembari mendorong trolinya. Kepalanya tak berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat suasana bandara kesayangannya yang selalu ramai.
Bruuukkk!
Tiba-tiba seorang wanita muda tertabrak trolinya yang dipenuhi dua koper ukuran sedang dan dua tas jinjing. Kelihatannya sungguh berat.
"Aw!"
Terdengar suara wanita muda itu mengaduh sakit seraya melihat sikunya yang terasa sakit.
"Maaf, maaf, Nona. Aku sungguh minta maaf."
Park Jiyeon mendongakkan kepalanya, menatap gadis yang tiba-tiba menabraknya dengan troli berat itu. Posisinya yang terjatuh di atas lantai, membuatnya harus mengangkat kepala untuk dapat melihat si pelaku yang sedang meminta maaf.
Gadis berambut hitam itu membuka kacamata hitamnya. Ini merupakan bentuk kesopanan pada orang yang ditabraknya tadi.
"Kau...Yu Nara?" ucap Jiyeon lirih. Ia tak yakin kalau nama yang baru saja diucapkan itu adalah nama gadis yang sepertinya ia kenal.
Gadis penabrak itu mengerutkan keningnya, menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya. "Park Jiyeon?"
Jiyeon melongo, heran dan tak percaya. Orang yang menabraknya adalah Yu Nara. Teman SMP nya dulu.
"Ah, maaf, aku benar-benar minta maaf, Jiyeon. Kau tidak apa-apa, kan?" Nara membantu Jiyeon berdiri dan melihat tubuh langsing temannya itu, memeriksa apakah ada luka.
"Aku baik-baik saja. Hanya...sikuku agak linu. Tapi tidak apa-apa." Jiyeon membenahi pakaiannya yang sedikit lusuh akibat terjatuh ke lantai.
Nara mengangkat 2 koper dan 2 tas jinjingnya ke atas troli, menata seperti sedia kala.
"Senang bertemu denganmu lagi, Park Jiyeon. Tapi...maaf karena situasinya benar-benar buruk. Seharusnya kau berhati-hati." Nara masih merasa bersalah pada Jiyeon.
"Ah, tidak apa-apa. Sungguh, tidak ada yang perlu dicemaskan. Tidak ada luka sama sekali." Jiyeon berusaha tersenyum saat bicara pada Yu Nara agar temannya itu tidak terus-menerus merasa bersalah.
Mereka berdua berjalan mencari kolega masing-masing yang mungkin saja sudah sampai di bandara untuk menjemput mereka.
"Yu Nara!"
Terdengar seseorang memanggil Nara dengan suara lantang sekali.
Nara langsung menoleh ke arah sumber suara. "Ish! Kenapa memanggilku dengan suara yang keras sekali," gerutu Nara.
Jiyeon yang mendengarnya terkikik geli. "Itu siapa?"
"Kakakku. Menggelikan sekali dia memanggilku dengan suara seperti itu. Lihatlah! Semua orang menoleh ke arahku." Nara mendengus kesal dan beranjak dari tempatnya pelan-pelan.
Jiyeon mengikuti Nara dari belakang karena mereka belum berpamitan.
Seorang pemuda berbadan jangkung berdiri dengan selembar kertas bertuliskan nama Yu Nara.
"Memalukan!" Nara mengambil kertas itu dan merobeknya. "Suaramu...tak bisakah kau turunkan sedikit volume suaramu, Kak?"
Jiyeon menahan tawa. Ia menutup mulutnya agar tidak kelihatan kalau dirinya menahan tawa.
"Dokter Jiyeon?"
Eh? Jiyeon menatap tak percaya pada kakak Yu Nara. "K, kau...tahu tentang aku?"
"Wah, ternyata benar. Kau sangat cantik dan anggun. Tidak seperti adikku ini." Pemuda jangkung itu melihat Jiyeon dengan ekspresi terpana.
Nara memukul kakaknya. "Hei, apa maksudmu?"
"Kenalkan, aku Yu Hanbin." Kakak Yu Nara mengulurkan tangannya, bermaksud ingin berjabat tangan dengan Jiyeon. "Aku teman Jaehwan."
Deg!
Teman Jaehwan?
"Benarkah? Kau teman Kim Jaehwan?"
Hanbin tersenyum. "Tentu saja. Aku mengetahui tentangmu dari Jaehwan. Ia banyak cerita padaku. Kalian seperti pasangan, selalu bersama-sama. Tapi...kenapa Jaehwan tidak ikut denganmu?"
Baru kali ini Jiyeon kenal dengan pemuda bernama Yu Hanbin. Dia heran, bagaimana bisa Jaehwan mempunyai teman seperti Hanbin?
"Ah, itu...Dia harus menyelesaikan ujiannya dulu sebelum kembali ke Korsel."
.....
Hanbin mengangguk pelan. “Oh, jadi begitu...”
“Oh ya, bagaimana kalau kami mengantarmu pulang, Jiyeon?” Nara antusias sekali membawa Jiyeon dengan mobil mereka dan mengantarnya pulang.
Hanbin tampak sumringah mendengar ide adiknya. Ia juga setuju pada pendapat Nara. “Sini, kopermu ku masukkan dalam bagasi. Sedangkan koper Nara ku masukkan jok paling belakang.” Hanbin pun semangat mengangkat dan memasukkan koper-koper milik kedua gadis itu ke dalam mobil.
Jiyeon yang merasa sungkan, sungguh, tidak enak rasanya jika harus menyusahkan orang lain seperti saat ini. “Mm...sebaiknya aku menunggu ayah atau kakakku saja. Aku benar-benar tidak ingin menyusahkan kalian.”
“Hei, apa yang kau katakan? Tidak ada yang disusahkan. Anggap saja ini adalah bentuk permintaan maaf dariku karena kejadian tadi.” Nara menjelaskan maksud kebaikannya. Ia yang merasa sangat bersalah karena tadi menabrak Jiyeon dengan troli yang super berat. “Ayolah, Jiyeon. Jika kau menolak, aku tidak akan bisa tidur tiga malam.”
Kedua mata Jiyeon terbelalak mendengar kata-kata Nara. Pikirnya, sungguh, kakak beradik ini membuatnya merasa terhibur. Lucu sekali. “Baiklah. Aku ikut kalian.”
.....
Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah dengan dua orang penjaga berseragam hitam di sisi kanan dan kiri pintu gerbang yang tingginya sekitar lima meter. Pagar besi tinggi itu tampak sedikit menyeramkan. Tak berbeda dengan pagar besi yang ada di lembaga pemasyarakatan alias penjara.
Mobil hitam yang ditumpangi tiga orang dari bandara itu, kini menunggu para penjaga membukakan pintunya.
“Maaf, ada perlu apa?” tanya seorang penjaga, sebelum ia membukakan pintu gerbang itu.
Jiyeon membuka jendela mobil dan melihat penjaga itu. “Permisi, kau mengenalku, tidak?” Ia tak yakin bahwa penjaga itu hafal dengan wajahnya, putri kedua pemilik rumah mewah itu. “Aku Park Jiyeon. Apakah ayah dan kakakku di rumah?”
Setelah mendengar pertanyaan dari Jiyeon, barulah penjaga itu sadar bahwa putri bungsu tuan Park sudah tiba di rumah.
“Baiklah, silahkan masuk.” Sesegera mungkin, penjaga itu membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi dan dicat warna hitam bak pagar yang ada di penjara.
Mobil keluarga Yu yang ditumpangi Jiyeon melaju pelan memasuki halaman luas nan indah. Taman bunga menghiasi pandangan mereka sejak masuk melewati pintu gerbang. Rumput-rumput yang telah dipotong rapi menambah indah taman di halaman rumah mewah itu. Beragam jenis bunga ditanam dan tumbuh subur. Terdapat kolam ikan Koi asli Jepang yang terletak di bagian bawah pot-pot bunga mawar.
“Wah, luar biasa. Penataan taman dan halaman yang elegan dan asri. Benar-benar bagus.” Nara kagum melihat taman rumah yang seindah milik keluarga Park. Lahan satu hektar hanya untuk membuat halaman dan taman seindah itu. “Taman di rumahmu bagus sekali, Jiyeon. Benar-benar membuatku takjub.”
Jiyeon hanya tersenyum tipis. Ia juga baru melihatnya. Dulu, halaman rumah keluarganya berbeda sekali dengan yang sekarang. Ia akui, taman di halaman itu sangat bagus. Seandainya dulu halaman itu tampak seperti sekarang, mungkin ia akan lebih betah tinggal di sini. Tidak harus pindah ke Jerman bersama ibunya.
Mobil yang dikendarai Yu Hanbin berhenti 50 meter di depan pintu rumah mewah nan elegan milik keluarga Park. Sejenak, Jiyeon menatap rumah itu sebelum dia turun dari mobil.
“Sudah enam tahun aku tidak pulang ke rumah ini. Ada beberapa perbedaan dengan rumah lama yang ku tinggalkan saat itu,” kata Jiyeon lirih. Kedua bola mata bulat itu mulai berkaca-kaca.
Hanbin dan Nara menatap Jiyeon iba. Merekq tidak menyangka kalau Jiyeon tinggal di Jerman selama enam tahun tanpa pulang ke Korsel satu kali pun.
“Turunlah, aku akan membawakan kopermu,” kata Hanbin, memecah keheningan di dalam mobil mewah miliknya itu. Kemudian ia membuka bagasi dan mengeluarkan koper milik Jiyeon.
Jiyeon dan Nara keluar dari mobil.
“Terimakasih atas tumpangannya. Kalian baik sekali. Maaf kalau merepotkan.” Jiyeon masih merasa sungkan atas tumpangan yang diberikan oleh Nara dan kakaknya.
“Hei, jangan seperti itu. Kita adalah teman. Kau temanku sejak SMP. Kau juga selalu baik padaku, Jiyeon. Jadi sudah seharusnya aku baik padamu.” Nara melempar senyum ramah pada Jiyeon. Sedetik kemudian, gadis itu memeluk Jiyeon sebagai tanda pertemanan. “Masuklah! Aku dan kakakku pamit pulang, ya. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi.”
Jiyeon membalas senyum Nara dan mengangguk pelan. “Terimakasih untuk kalian. Hati-hati di jalan.”
Nara dan Hanbin kembali ke dalam mobil. Mereka pun melambaikan tangan pada Jiyeon.
.....
Park Jiyeon masih berdiri di depan pintu. Putri tuan Park yang cantik itu masih tak percaya bahwa dirinya kini berada di rumah ayahnya yang sudah lama ia tinggalkan. Jiyeon menarik nafas dalam, memejamkan kedua matanya. Sejurus kemudian, ia melangkahkan kaki mendekati pintu rumah berwarna coklat yang terbuat dari kayu.
Ting tong!
Jiyeon memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu dengan pelan.
Ceklek!
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya nampak berdiri di balik pintu, menatap Jiyeon dengan mata berbinar-binar.
“Nona Jiyeon?”
Jiyeon tidak menyangka bahwa asisten rumah tangga di rumah ayahnya masih tetap sama seperti dulu. “Bibi Han...” ucap Jiyeon lirih. Dengan sigap, Jiyeon memeluk wanita itu. Ya, wanita yang sudah mengasuhnya, merawatnya sejak ia masih bayi.
“Apa kabar, Bibi Han?” tanya Jiyeon seraya melepaskan pelukannya.
Wanita yang dipanggil dengan nama bibi Han itu mengusap airmatanya. “Baik, baik sekali.” Ia mengusap rambut Jiyeon dan menatap gadis cantik itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau sudah dewasa, Nona Jiyeon.”
Jiyeon mengangguk. “Ya, aku sudah dewasa. Kini aku kembali agar bisa berkumpul bersama ayah dan kakak. Oh iya, di mana ayah dan kakak, Bi?” tanya Jiyeon yang mulai melangkahkan kaki menyusuri ruang tamu rumah mewah itu.
“Kau mencariku?”
Jiyeon menoleh ke arah seseorang yang tiba-tiba bertanya padanya. “Kak Mina!” Melihat sang kakak yang siap memeluknya, Jiyeon lari untuk segera memeluk gadis cantik berambut pendek yang ia panggil kakak.
“Adikku sudah dewasa. Ah, aku kalah cantik, nih.” Mina menggoda Jiyeon.
“Bagiku kakak yang tercantik,” kata Jiyeon yang masih nyaman berpelukan dengan sang kakak.
.....
Jiyeon pov
Rumah ini bentuknya memang sama seperti dulu, sebelum aku dan ibu pergi dari sini. Aku berharap suasana di rumah ini tidak sepi seperti makam. Tapi ternyata, aku merasa begitu kesepian di sini. Meskipun ada kak Mina dan bibi Han. Pagi ini bibi Han membuatkan sarapan nasi goreng dengan sosis bakar dilumuri saos sambal dan mayones. Lembut sekali ku rasakan makanan itu di lidahku. Justru makanan masakan bibi Han ini yang membuatku hangat di rumah sebesar istana presiden ini. Mungkin karena dua tahun aku sama sekali tidak merasakan masakan rumah. Ya, sejak ibuku meninggal, aku tidak pernah lagi makan masakan rumah.
Ya Tuhan... Tiba-tiba aku teringat ibu. Masih sangat jelas di ingatanku saat ibu menyiapkan sarapan untukku sewaktu kami di Jerman. Masa-masa itu tidak akan terjadi lagi. Aku...tidak bisa bertemu ibu lagi.
Suasana di ruang makan yang begitu hening membuat lamunanku bebas terbang ke manapun. Memori itu terputar kembali. Ketika ibu memutuskan pergi dari rumah ini dan membawaku pulang ke rumahnya di Jerman. Pertengkaran hebat yang terjadi diantara ayah dan ibu mampu membuat ibu terpuruk dan akhirnya memutuskan hengkang dari rumah ini.
Kenapa mereka harus bertengkar?
Sejak kecil aku sama sekali tidak merasakan kehangatan keluarga yang utuh. Kebahagiaanku terpecah, terbengkalai. Saat aku bahagia bersama ibu, aku juga ingin ada ayahku. Tapi hal itu tidak terjadi.
“Hei, Park Jiyeon!”
Suara itu...
Aku tersadar dari lamunanku. Ku lihat kak Mina sudah duduk di sampingku dengan sebuah ponsel di tangan kanannya. Ia tersenyum nakal padaku.
“A, ada apa, Kak?” tanyaku bingung karena kakakku menatapku tanpa berkedip.
“Lihat ini!”
Tiba-tiba ia menunjukkan video call dengan seseorang padaku.
“A, apa ini?” tanyaku masih bingung.
“Dasar bodoh!” Terdengar suara seseorang yang sangat ku kenal. Aku melirik ke arah ponsel kak Mina yang disodorkan padaku. Mataku melotot melihat seseorang yang mengatakan aku bodoh tadi.
“Kim Jaehwan! Kau! Kurang ajar kau mengataiku lagi, hah?”
Kak Mina tertawa terbahak-bahak mendengar aku dan Jaehwan bertengkar seperti kucing dan tikus.
“Sedang apa kau di ponsel kakakku? Pengganggu!” Aku berteriak kesal melihat pemuda yang ku cintai ada di ponsel kakakku.
Ya, Jaehwan adalah suamiku. Akan tetapi kami benar-benar unik. Terkadang kami mesra, tapi kami sering mengejek satu sama lain. Sering bertengkar dan membuat kesal. Aku dibuat kesal lagi oleh Kim Jaehwan, suamiku tercinta.
Klik!
Aku mematikan panggilan video itu. Sungguh, kesal bercampur rindu melihat paras Jaehwan.
“Kenapa dimatikan?” tanya kak Mina.
“Untuk apa dilanjutkan? Dia akan terus membuatku kesal,” jawabku yang memang sudah merasa kesal.
“Bagaiman kabar Jaehwan di sana? Apakah dia belum menikah?”
Deg!
Aku menoleh ke arah kak Mina. Hatiku bertanya, kenapa dia menanyakan hal itu? “Setahuku belum, Kak. Tapi aku tidak tahu, apakah dia punya kekasih atau tidak.” Hatiku merasa ada yang menusuknya sedikit.
Kak Mina tersenyum. Ia seperti tengah mengingat sesuatu yang indah.
“Kenapa...kakak bertanya seperti itu?”
“Kau tahu, tidak? Jaehwan itu cinta pertamaku.”
Deg!
Kali ini, bukan hanya sedikit. Tapi aku merasa hatiku tertusuk pisau hingga setengah. Aku menelan ludahku pelan. Ya Tuhan... Apakah kak Mina masih mencintai Jaehwan? Tapi dia adalah suamiku.
“Aku sempat syok saat dia memutuskan untuk pindah sekolah ke Jerman. Waktu kau pindah ke sana bersama ibu, aku hampir ingin ikut kalian. Tapi ayah terus saja mempertahankan aku. Ayah tidak ingin aku pergi dari rumah ini bersama kalian.” Panjang lebar Kak Mina menjelaskan padaku. Kini dia tengah mengambil segelas s**u dan meminumnya sedikit.
Hah!
Kenyataan apa lagi ini? Kenapa jadi seperti ini? Apakah mungkin kalau Jaehwan akan meninggalkanku? Ya Tuhan... Seandainya aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Kak Mina. Apa yang harus aku lakukan? Semoga dia telah melupakan Jaehwan dan tidak mencintainya lagi.
Aku membayangkan Jaehwan meninggalkanku sendiri. Hanya dia yang bisa membuatku tertawa. Akankah Tuhan mengambil orang yang ku cintai satu persatu? Ah, tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Jaehwan sangat mencintaiku. Dia bahkan telah menikah denganku. Ya, meskipun secara sembunyi-sembunyi.
“Kau tidak apa-apa, Jiyeon?” Kak Mina menyentuh tanganku yang mengeluarkan keringat dingin.
Sontak aku pun kaget, segera ku buyarkan lamunanku. “Ah, itu...anu... A, aku tidak apa-apa, Kak.” Aku menarik tanganku.
Otakku sedang berpikir sesuatu yang berlebihan. Mengkhayal tentang yang akan terjadi jika Kak Mina mengejar Jaehwan lagi. Aku takut sekali. Tidak bisa, aku tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi. “Maaf, Kak. Aku ke kamar dulu ya. Ada sesuatu yang harus aku beritahukan pada temanku di Jerman. Jadi...aku akan mengambil ponsel di kamar dulu.” Secepat mungkin aku beranjak dari kursi yang ku duduki. Aku tidak ingin berlama-lama di ruang makan bersama kak Mina. Hatiku sakit.
Author POV
Jiyeon berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua dengan kaki yang lemas, seakan tidak mampu menopang tubuhnya yang langsing itu. Ketika hendak melangkahkan kaki menapaki anak tangga paling bawah, Jiyeon sedikit melamun. Ia berhenti. Lagi-lagi dalam pikirannya, sesuatu yang belum pasti terjadi telah membayang-bayanginya. Ketakutannya kali ini berlebihan. Mungkin karena Jiyeon pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya dan dia tidak ingin kehilangan itu terjadi lagi. Dia tidak ingin kehilangan Jaehwan.
Kaki kanan Jiyeon melangkah tanpa ia sadari.
Dug!
Kakinya tersandung anak tangga pertama yang ada di depannya. Beruntung Jiyeon tidak terjatuh karena tangan kirinya memegang kayu yang menjulur ke atas mengikuti arah tangga itu hingga ke lantai dua. Lamunannya buyar.
“Astaga, apa yang terjadi padaku?” lirihnya pada diri sendiri. Ia baru sadar bahwa sedari tadi dirinya melamun dan menyebabkan kaki kanannya tersandung saat hendak menaiki anak tangga itu. Jiyeon mengusap wajahnya, berusaha sadar terhadap apa yang akan dia lakukan. “Baiklah, fokus. Itu tidak akan terjadi. Jaehwan tidak mungkin pergi.” Kali ini dengan semangat, Jiyeon berjalan di atas tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, di mana kamar cantiknya berada.
Ceklek!
Knop pintu kamar berhasil dibuka. Jiyeon mendorong benda keras berwarna coklat tua itu kemudian menutupnya kembali setelah dirinya masuk ke dalam kamar. Sebuah kamar yang cantik, secantik si empunya. Sebuah ranjang ukuran king size berada di tengah ruangan. Sprei, bantal, guling, dan selimut berwarna pink. Sedangkan dinding dan lantainya berwarna putih. Perabotan yang berjejer rapi di kamar itu pun berwarna pink dan putih. Ya, warna pink memang sangat disukai oleh perempuan yang feminin seperti Jiyeon.
Jiyeon mencari ponselnya di atas nakas yang terletak dekat ranjang tidurnya.
Ponselnya mati.
“Baterainya habis?” gumam Jiyeon kesal. Kenapa saat dibutuhkan, ponsel ini malah mati karena kehabisan baterai. Akhirnya dengan kesal, ia langsung menge-charge ponsel itu dan merebahkan tubuh kurusnya di atas ranjang. Ia tidak ingin mengingat kata-kata Mina tentang masa lalunya dengan Jaehwan. Mungkin Mina adalah masa lalu Jaehwan. Tetapi sekarang, Jaehwan adalah miliknya. Pemuda itu adalah suaminya.
Jiyeon merenung, memikirkan apa yang akan ia lakukan besok? Ya, dia harus bicara dengan ayah nya untuk menempatkan dirinya di rumah sakit terbaik di negeri ginseng itu. Kedua tangan Jiyeon terangkat di depan matanya. Ia memperhatikan sepuluh jari-jarinya. Apakah tangan itu sanggup menyembuhkan orang yang memiliki penyakit jantung? Bagaimana jika gagal dan orang-orang meninggal karena dirinya? Ah tidak. Tidak boleh menjadi orang yang pesimis, pikir Jiyeon. Dia adalah dokter yang selalu berusaha membantu kesembuhan pasien. Dokter bukan dewa atau Tuhan. Jadi ketika gagal, itu memang sudah takdir Tuhan. Dia hanya manusia biasa.
.....
Bersambung