9-Pesona Wanita Belum Resmi Jadi Janda

1546 Words
Tari melangkah masuk ke dalam rumah besar yang kini akan menjadi tempat tinggal sementaranya. Halaman luas dengan beragam bunga yang bermekaran menyambutnya. Udara di pagi hari terasa lebih segar, namun hatinya masih dipenuhi kegelisahan. Almira berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang dan senyum tipis. "Selamat datang, Tari. Jangan sungkan, anggap saja rumah ini rumahmu sendiri." Tari mengangguk dengan canggung, lalu menunduk sopan. "Terima kasih Tante sudah sudi membantu saya. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuan Mila dan Tante. Tapi... saya janji, saya tidak akan tinggal secara cuma-cuma, Tante.” Almira menggeleng pelan. "Nggak perlu mikirin aneh-aneh, Tari. Kamu bisa pikirin nanti. Yang penting sekarang, kamu dan Fendi bisa merasa aman di sini. Jangan merasa terbebani, anggap saja seperti rumah saudaramu sendiri kalau kamu merasa sungkan. Tari terdiam sejenak, lalu tersenyum lemah. Ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ada seseorang yang benar-benar peduli padanya seperti ini. Pandangan Almira kemudian beralih pada Fendi, yang tampak lebih pendiam dibanding kemarin. Bocah kecil itu hanya bersandar di bahu ibunya, seakan masih merasa lelah atau mungkin tidak nyaman dengan tempat baru. Almira mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Kenapa diam saja, Nak? Capek ya?" Tari mengelus kepala putranya dengan penuh kasih. "Sepertinya begitu, Tante. Dia mungkin–” kata-kata tari menggantung di udara, ia tidak ingin dianggap mencari simpati. “Dia mungkin nggak nyaman karena belum mandi. Almira mengangguk, “ya udah. Ayo masuk.” Mila yang sejak tadi setia menemani Tari segera menggandeng tangannya. "Ayo, aku antar ke kamar. Kalian pasti butuh istirahat.” Langkah Mila dan tari yang beriringan, tidak membuat Almira ikut melangkah, apalagi saat melihat Fendi menoleh ke arahnya dan mengintip Almira dari balik bahu ibunya. Almira merasa ada sesuatu yang familiar saat mata keduanya saling bertemu. Seolah-olah ia pernah melihat ekspresi serupa sebelumnya. ‘Mirip…’ batin Almira tanpa sadar, namun ia tidak melanjutkan pikirannya lebih jauh. Tari mengikuti langkah Mila ke salah satu kamar di lantai atas. Ruangan itu cukup luas, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakang. Mila membantu Tari membereskan barangnya, membuka ransel besar yang dibawa Tari. "Cuma ini barang kamu, Tar?" tanya Mila, sedikit terkejut. Tari mengangguk pelan. "Iya... hanya dua ransel ini. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tepatnya memang gak punya apa-apa dari awal sepertinya, Mil." Tari menghela nafas panjang. “Kok bisa aku sebodoh itu ya, Mil. Satu-satunya yang bosa aku syukuri cuma Fendi aja.” Mila menatapnya penuh iba. "Jangan mikir aneh-aneh, Tar. Yang berlalu biar berlalu. Walaupun prakteknya gak gampang, tapi kita harus realistis. Sekarang cukup pikirin kamu dan Fendi aja dulu.” Tari menunduk, menggenggam ujung bajunya. "Mil, makasih ya semuanya. Kamu… kenapa mau sih, temenan sama aku, Mil?” “Apa sih, Tar? Gak jelas banget. Namanya sahabat, ya sahabat. Jangan mikir aneh-aneh.” “Aku merasa nggak pantas, Mil. Aku dan kamu dari dunia yang berbeda. Kamu punya segalanya, Mil. Cantik, pintar, cukup. Sementara aku… lihat aku, Mil. Kumal, bodoh, dan sekarang— janda… kalau gak kamu tolongin, aku gak ngerti lagi, Mil. Aku gak ngerti harus ngelanjutin hidup dengan cara apa.” “Tar, kamu kok ngomong gitu, sih!” Mila mendengus dan menepuk bahu Tari. "Kita itu temenan sejak kecil lho, Tar. Kamu harus inget, dari kita main rumah-rumahan, sampe segede ini, kamu sahabatku. Itu aja cukup. Jarang orang yang punya persahabatan kayak kita ini. Jadi, please banget! jangan mikir aneh-aneh. Okay?!” Tari tersenyum kecil, meskipun matanya masih berkaca-kaca. "Aku ke kamarku dulu ya, mau ganti pakaian. Kamu istirahat saja dulu." ujar Mila sebelum keluar dari kamar. Namun, saat keluar, Mila tidak bisa menahan emosinya. Air mata menetes di pipinya begitu ia menutup pintu kamar Tari. Baju-baju yang di pakai Tari benar-benar memprihatinkan. ada beberapa bagian yang terlihat robek. Begitu juga baju Fendi yang tampak kotor di beberapa bagian. “Suamimu se-b******k apa sampai membiarkan gadis cantik kayak kamu jadi seperti ini, Tar! Kamu memang bodoh, Tari. Bodoh!” gumam Mila yang sebenarnya ingin sekali mengumpati Tari di depannya. Tapi jangan kan mengumpat, melihat beberapa luka lebam di kulit Tari yang kering itu saja, Mila sudah tak tega. Di lorong, ia melihat Ndaru yang sudah berpakaian rapi. Mila segera mengusap air matanya dan mencegat Ndaru yang tampak segar dengan kemaja dan celana bahan yang membuat Kakak sepupunya itu terlihat tampan. "Kak, aku numpang dong! Searah ‘kan kalau mau ke ke supermarket?” "Mau ngapain?" tanya Ndaru. "Aku mau beli keperluan Tari. Dia nggak punya apa-apa. Bahkan untuk Fendi pun dia cuma punya sedikit perlengkapan.” Ndaru menatap adik sepupunya itu sejenak, lalu mengangguk. “Ya udah, ayo!” *** Beberapa jam kemudian, mereka kembali dari supermarket dengan beberapa kantong besar berisi kebutuhan bayi dan beberapa barang lainnya. Mila tak menyangka, biaya yang dihabiskan ternyata cukup besar. "Popok sama s**u ternyata mahal, ya..." gumamnya saat Ndaru membayar semuanya tanpa ragu. "Kamu pikir murah? Makanya, kerja yang rajin! Jangan hobi bolos! Keperluan bayi emang gak murah, makanya jangan nyampe keenakan kalau pacaran," seloroh Ndaru dengan nada menggoda. Mila mendelik. “Ish, Kak Ndaru mikir apa sih?!” Ndaru terkekeh. “Udah ayo cepetan. Aku udah telat banget, nih.” Mila mengangguk dan berterima kasih sebelum Ndaru pergi. Sesampainya di rumah, ia segera membawa belanjaan ke dalam dan mulai mengaturnya. Namun, saat ia sibuk memasukkan barang-barang ke lemari, Tari masuk ke dapur dan melihatnya. "Mia, ada bayi di rumah ini?" tanya Tari heran saat melihat banyaknya popok dan s**u formula. Mila menoleh dan tersenyum. "Iya. Nama bayinya Fendi. Yakin banget dia lagi tidur pules di kamar ‘kan?” Tari terdiam, menyadari bahwa semua barang yang dibeli ternyata untuknya dan Fendi. "Mila... jangan ngaco ah.” "Anggap saja ini kado dari aku. Aku ‘kan belum sempet ngasih hadiah waktu Fendi lahir, jadi anggap aja ini rapelan. Hadiah baru lahir, ulang tahun ke satu sama ulang tahun ke dua. Tada…” ucap Mila dengan nada ceria dan tangan bergerak menunjuk ke arah barang-barang yang ia belikan untuk Fendi. Tari merasa dadanya sesak oleh emosi yang bercampur aduk. "Ini… berlebihan, Mil…” Mila menggeleng. "Kamu butuh semua ini, Tar. Jangan nolak, jangan dibalikin. Nanti aku bintitan. Pamali udah dibeliin terus dibalikin!” Tari menunduk, tangannya menggenggam sudut meja. "Aku benar-benar nggak tahu gimana ngebalas semua perbuatan baik kamu, Mil.” Mila tersenyum lembut dan menggenggam tangan Tari. "Cukup dengan menerima dan bertahan, itu udah lebih dari cukup buat aku, Tar. Oh, satu lagi… dengan kita berteman sampai tua, Tar! Janji ya, harus semangat terus!” Tari akhirnya mengangguk, meskipun air mata kembali mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian. *** Malam di rumah Almira berjalan dengan tenang. Seperti biasa, hanya ada Almira, Ndaru, dan Mila. Sedangkan Arjuna dipastikan akan lembur lagi malam ini. Sementara itu, Tari yang sebenarnya diajak makan bersama, berkilah bahwa ia belum lapar. Namun setelah semua orang selesai makan, Tari memperhatikan meja makan yang masih dipenuhi dengan piring dan gelas kotor. Para asisten rumah tangga sudah bersiap untuk membereskan semuanya, tapi Tari buru-buru bangkit dari tempat dirinya berdiri. “Biar saya aja yang cuci,” ucapnya sambil mengangkat beberapa piring. Seorang asisten rumah tangga, Mbak Wati, buru-buru menahan tangannya. “Aduh, Mbak Tari, nggak usah repot-repot. Ini memang sudah tugas kami.” Tari tersenyum lembut. “Tapi saya juga tinggal di sini, kan? Saya nggak mau diam saja sementara kalian bekerja. Lagipula, saya dan kalian nggak ada bedanya, kita sama-sama manusia yang bekerja untuk bertahan hidup.” Mbak Wati masih terlihat ragu, tapi Tari sudah lebih dulu membawa piring-piring itu ke wastafel. Dengan cekatan, ia mulai mencuci satu per satu. Beberapa asisten rumah tangga lainnya saling berpandangan, terkesan dengan sikapnya. “Aduh, Mbak Tari ini baik banget,” bisik salah satu dari mereka. Ndaru yang baru saja masuk ke dapur untuk mengambil air minum menghentikan langkahnya ketika melihat Tari mencuci piring. Alisnya naik, menatap sosok perempuan itu dengan ekspresi tidak terduga. Tari tampak begitu alami, dengan rambutnya yang tergerai sedikit berantakan dan lengan bajunya yang tergulung. Wajahnya tampak serius menggosok bagian piring yang tampaknya dipenuhi noda mengering yang susah di hilangkan. Ndaru yang merasa lucu, tanpa sadar menyunggingkan senyumnya dan matanya tak henti melihat tingkah konyol Tari. “Ndaru? Ngapain berdiri di situ?” suara Almira yang tiba-tiba muncul membuat Ndaru tersentak dari lamunannya. “Eh? Nggak… Aku… Eh… air! Aku cuma mau ambil air!” katanya terbata-bata, lalu dengan kikuk membuka kulkas. Namun, Almira menyipitkan mata dan menemukan Tari begitu ceria mencuci gelas dan piring makan yang terlihat menumpuk itu. “Masa? Jangan di liatin mulu. Surat cerainya belum ada.” “Dih, apa sih, Ma?!” elak Ndaru yang sebenarnya sedang menutupi degup jantung yang entah mengapa berlompatan. Saking gugupnya, gelas yang baru saja dipegangnya malah terlepas dari tangannya. PRAANG! Gelas itu pecah di lantai. Ndaru menatap pecahan gelas itu dengan wajah merah padam. Tari dan Para asisten yang lain pun segera menoleh ke sumber suara. “Ya ampun, Mas Ndaru. Hati-hati, Mas. Kok bisa, sih. Minggir dulu aja, Mas. Nanti kena pecahan kaca,” ucap Tari yang beranjak cepat dengan membawa sapu yang entah diambil dari mana. Almira yang melihat kejadian itu hanya bisa menepuk dahinya dan kemudian segera berlalu setelah melihat anaknya yang kikuk. Ndaru sendiri menggaruk kepalanya dan menghela napas panjang. “Aduh… kenapa aku jadi kayak orang bego gini, sih?” gumamnya pelan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD