Jari-jari Mila mengetik cepat di atas keyboard, tetapi pikirannya masih saja melayang pada kejadian pagi tadi. Bayangan Ndaru yang hampir jatuh tersungkur saat berusaha terlihat keren benar-benar tak bisa ia lupakan. Setiap kali mengingat wajah kakak sepupunya yang panik dan ekspresi datar Tari yang kemudian berubah menjadi tawa kecil, ia tak bisa menahan senyum. Sesekali, ia bahkan tertawa kecil, membuat beberapa rekan kerjanya menoleh heran ke arahnya. Namun, senyum Mila perlahan memudar ketika mendengar kasak-kusuk di dekat meja pantry. Suara-suara itu samar, tapi cukup jelas untuk didengar. “Lo tahu nggak? Barusan gue liat Deni masuk berdiri di connecting room lagi..” “Serius? Halah, paling mau nyari si Rahmi lagi.” “Ya iyalah! Kemarin aja mereka ketahuan makan bareng di re

