Warga mulai berkerumun di depan rumah Tari.
Bisikan-bisikan memenuhi udara, menciptakan suasana tegang yang semakin memuncak.
Beberapa ibu-ibu berdiri dengan tangan terlipat di d**a, sementara bapak-bapak hanya menggeleng pelan.
Di depan rumah, Tari berdiri dengan wajah merah padam, matanya membara. Napasnya tersengal saat ia berteriak di hadapan Deni yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku nggak tahan lagi, Mas! Aku capek hidup kayak gini!"
Suasana semakin gaduh. Beberapa warga saling pandang, terkejut dengan pernyataan Tari yang meledak-ledak. Wanita yang terkenal pendiam itu berteriak penuh amarah di hadapan suaminya yang juga terlihat kacau.
Deni melangkah maju, rahangnya mengeras. "Kamu gila, Tari?!" Ia menunjuk wajah istrinya dengan kasar. "Aku udah kasih semuanya ke kamu! Semua uang yang aku punya, aku kasih buat kamu dan anak itu! Kamu aja yang boros!"
Tari tertawa pahit. "Semua uang? Semua?! Mas bahkan nggak bisa beliin anak kita s**u! Kita hidup di bawah kemiskinan, dan Mas masih berani bilang udah kasih semuanya?”
Ia menggeleng, menatap suaminya dengan jijik. "Aku menyesal, Mas. Aku menyesal harus sampai sejauh ini! harusnya aku menyerah dari awal! Kamu nggak sanggup ‘kan? ceraikan aku sekarang juga!"
Warga terperangah. Beberapa mulai berbisik semakin nyaring.
Deni mengepalkan tangannya. "Oke, kalau gitu! Kalau kamu minta cerai, keluar dari rumah ini sekarang juga! Ini rumahku! Kamu nggak punya hak di sini!"
Tari menatapnya tak percaya. **"Oh, jadi aku yang harus pergi? Setelah bertahun-tahun aku sabar hidup sama kamu, Mas, aku yang harus keluar?! Aku yang salah?!"
Beberapa orang mencoba menenangkan, tapi suara Tari semakin meninggi. Kepala RT dan kepala RW akhirnya datang, berjalan cepat ke arah mereka.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar di depan warga! Ayo, masuk dan bicarakan baik-baik," Kepala RT mencoba menengahi.
Tapi Tari justru mendekat ke arah Deni dan berteriak lebih keras. "Dengar, Pak RT, Pak RW, dan semua warga di sini! Suami saya ini bukan cuma nggak bisa menafkahi saya, tapi dia juga SELINGKUH! Dia lebih memilih menafkahi wanita lain daripada anaknya sendiri!"
Warga semakin ramai berbisik.
Deni menggeram, wajahnya merah karena marah dan malu. "Mulutmu itu, Tari! Kamu asal tuduh! Kamu pikir aku selingkuh? Kamu itu nggak lebih dari—"
"APA? Aku apa?!" Tari menantang.
Deni menyeringai sinis. "Kamu jalang. Kamu bukan istri yang baik. Bahkan aku ragu kalau anak itu benar-benar darah dagingku."
Suasana langsung hening. Warga menatap Deni dengan kaget, sebagian besar langsung berbisik-bisik lagi, kali ini lebih keras.
Dari kejauhan, Ndaru yang sejak tadi diam mulai mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras melihat Tari dihina di depan banyak orang. Tubuhnya sudah bergerak maju, tapi sebuah tangan mencekal bahunya.
"Jangan ikut campur, Dar," suara Aji rendah dan penuh peringatan.
"Lo denger sendiri, kan? Ini keterlaluan, Ji! Gue nggak bisa diam aja!" Ndaru mendesis marah.
Aji menggeleng. "Ini urusan rumah tangga orang. Lo nggak bisa sembarangan masuk gitu aja."
Sementara itu, Tari membeku di tempatnya. Tubuhnya gemetar hebat. "Mas baru saja bilang apa...?" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Deni mendengus. "Kamu dengar sendiri. Anak itu bukan anakku! Iya ‘kan?!"
Tiba-tiba, Tari berteriak histeris. "AKU MAU CERAI! CERAI, DENI! SEKARANG JUGA!"
Deni tersentak, tapi hanya butuh beberapa detik baginya untuk kembali angkuh. Ia menatap Tari dengan sorot mata dingin, sebelum akhirnya membuka mulut.
"Baik. Aku ceraikan kamu. Mulai saat ini, kamu bukan istriku lagi, Cahaya Utari!"
Hening.
Semua orang menahan napas. Mata Tari membelalak, air matanya jatuh, tapi bibirnya melengkung kecil. Entah lega, entah putus asa.
Pertengkaran yang meledak-ledak akhirnya berakhir dengan satu kalimat yang tak bisa ditarik kembali.
Kata-kata talak yang diucapkan Deni masih menggema di telinganya, membuat hatinya terasa hampa, meski di sisi lain ia merasa lega. Namun kelegaan itu tak bertahan lama saat Deni menatapnya dengan dingin dan berkata, “Ambil barang-barangmu. Pergi dari sini sekarang juga.”
Warga yang masih berkerumun mulai berbisik-bisik. Beberapa ibu-ibu menggelengkan kepala, sementara para pria yang menyaksikan hanya bisa menarik napas panjang.
“Jahat sekali Deni itu,” bisik salah seorang tetangga.
“Tari baru saja diceraikan, sekarang malah diusir? Siapapun yang salah, kok ya tega, anaknya masih bayi di usir juga?”
“Kasihan Fendi, masih bayi sudah harus hidup begini,” sahut yang lain, menatap Tari dengan iba.
Ndaru, yang sejak tadi berdiri dengan tangan terkepal, akhirnya melangkah maju. Namun sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, Aji kembali menahannya.
“Jangan, Dar. Ini bukan urusan kita.”
“Gue nggak bisa diam aja! Lo lihat sendiri, kan? Deni itu keterlaluan!” Ndaru mendesis marah.
Aji menatapnya tajam. “Kalau lo masuk sekarang, lo malah bikin masalah makin runyam. Tari perlu bantuan, gue tahu. Tapi kalau kita masuk sekarang, yang ada lo bakalan jadi sasaran empuknya. Mau lo di kira pebinor? Masalahnya bukan cuma di elo nanti, nama baik Tari juga.”
Ndaru menggeram, frustrasi. Ia ingin sekali membantu, tapi ia tahu Aji ada benarnya.
Di tengah keheningan, Ibu Aji, Sainah, maju ke depan. Wanita paruh baya itu dikenal ramah dan sering mengobrol dengan Tari saat belanja di tukang sayur. Ia sudah lama memperhatikan kondisi Tari yang semakin lama semakin memprihatinkan.
“Aji,”** panggilnya pada putranya, “Ibu ajak Tari ke rumah kita, ya? Setidaknya biarkan dia beristirahat malam ini. Besok pagi, biar dia sendiri mau menentukan bagaimana baiknya. Kalau dia mau balik ke kampung, nanti kita bantu.”
“Ibu yakin?” tanya Aji.
Sainah mengangguk saja. “Kasihan, Ji. Dia biasanya yang ngobrol sama Ibu di tukang sayur. Boleh ya, Nak?” izin Sainah yang walaupun sebagai kepala keluarga di kartu keluarga, baginya persetujuan anaknya yang tinggal serumah pun juga penting.
“Tolong ya, Ji. Besok Gue sama Mila jemput Tari. Sekarang udah terlalu malam, kayak kata lo, nanti jadi omongan orang.”
Aji pun mengangguk.
Sainah pun terlihat tersenyum lega. lekas Sainah menoleh ke arah Tari yang masih berdiri di depan rumah dengan wajah kosong. “Tari, kalau kamu mau, kamu bisa istirahat di rumah kami dulu.”
Tari menatap wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca. Rasa malu menyelimutinya, tapi ia tahu tak ada pilihan lain. Ia tidak mungkin membawa Fendi menginap di jalanan.
Ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu Inah.”
Beberapa warga mulai bersuara, ada yang ikut menawarkan bantuan, termasuk istri Pak RT dan istri Pak RW. Namun Tari tetap memilih untuk ikut dengan Ibu Sainah. Ia tahu, wanita itu tulus dan cukup baik.
Dengan langkah gontai, Tari berjalan menjauhi rumahnya sambil menggendong Fendi yang tertidur. Beberapa tetangga masih menatapnya dengan iba, tapi tak ada yang benar-benar bisa membantu.
Baru saat melangkah beberapa meter dari rumahnya, Tari menyadari betapa banyaknya orang yang menyaksikan pertengkarannya.
Pipinya memanas karena malu, tapi ia menggigit bibir dan terus melangkah.
Di belakangnya, Deni masih berdiri di ambang pintu. Tatapan sinisnya mengiringi kepergian Tari. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya mendengus sebelum berbalik masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan kasar.
Tari tidak menoleh lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melangkah pergi tanpa menyesal.
"Kamu akan menyesal, Mas! Seumur hidupmu."
***