6-Dentang Bahaya

1268 Words
“Masih ingat pulang kamu, Mas?” kata pembuka yang terdengar tajam itu nyatanya tanpa intonasi marah, hanya terdengar dingin. “Sudah berani kamu menjadi jalang, Tar?” Bukan jawaban yang Tari dapatkan, tapi pertanyaan lain yang langsung menghantam dadanya. Rasa sakit merayapi hatinya, tapi tak ada niatan bagi Tari untuk menjelaskan siapa pria yang mengantarnya menggunakan mobil hingga di depan rumah mereka. “Apa pedulimu?” “Kurang ajar!” Deni melangkah cepat, matanya membara. “Aku pulang, malah melihat istriku diantar laki-laki lain?! Kamu mau mempermalukan aku, hah?!” Tari mengepalkan tangannya. “Oh, pulang ya?” ia terkekeh pahit. “Lucu sekali. Mas baru pulang setelah tiga hari menghilang, tanpa kabar, tanpa sepeser uang untuk anak kita, lalu Mas menuduh aku yang macam-macam?” Deni mencibir. “Jangan alihkan pembicaraan, Tari! Siapa laki-laki itu?!” Tari mendengus. “Jadi itu yang penting buat Mas, ya? Bukannya menanyakan bagaimana aku dan anak kita bertahan selama Mas pergi?” Ia melangkah maju, menatap Deni penuh kebencian. “Mas pikir uang yang Mas tinggalkan cukup? Inget gak, Mas? Berapa uang yang kamu tinggalin buat aku dan Fendi?!” Deni mendengus, lalu menatap Tari dari kepala hingga kaki dengan penuh jijik. “Makanya jangan boros!” “Boros?” Tari tertawa miris. “Sejak kapan membeli kebutuhan anak sendiri dibilang boros? Seharusnya Mas yang bertanggung jawab, bukan malah menghilang tanpa jejak!” Deni mendengus kasar. “Serius, Tar?! Setiap aku pulang, kamu malah mengomel. Aku capek kerja, pulang-pulang malah diomelin. Memangnya aku pergi bersenang-senang?” Tari menatap suaminya tajam. “Kamu yang mulai, Mas! Capek kerja?! Bukan capek ngurusin Rahmi? Tiga hari lho, Mas. Diluaran sana kamu berkeliaran tiga hari? Punya uang kamu, Mas? Kenapa uangmu yang digunakan selama tiga hari ini gak di kasih ke aku aja, Mas?!” Deni mengepalkan tangannya. “Kamu jangan asal tuduh, Tari!” “Asal tuduh?” Tari menertawakan pernyataan itu. “Aku mungkin cuma ibu rumah tangga biasa, Mas! Tapi aku gak bodoh. Akalku bahkan masih jalan, Mas! Aku bahkan bisa menghitung berapa kebutuhanmu di luar sana selama tidak pulang! Oh, kecuali… kamu bahkan gak tahu malu untuk ikut menumpang hidup sama wanita jalang yang gak tahu malu itu!” “Jaga ucapanmu, Tari!” Deni mengangkat dagunya dengan angkuh. “Kalau pun iya, memangnya kenapa? Rahmi bahkan bisa membantu aku di banding kamu yang hanya bisa menghabiskan uangku!” Jantung Tari mencelos. Tapi Deni belum selesai. “Dia cantik, pintar, berwibawa. Tidak seperti kamu yang bahkan tidak bisa merawat diri sendiri.” Deni menyapu pandangannya ke tubuh Tari dengan jijik. “Kamu bahkan nggak menarik sama sekali! Wajar aku bosan.” Tari mengepalkan tangannya erat. Matanya mulai panas, tapi ia menolak menangis. “Mas tahu kenapa aku jadi begini? Karena aku lebih memilih membelikan keperluan anak kita daripada membeli baju baru. Aku lebih memilih memastikan Fendi bisa makan daripada mengurus tubuhku. Sementara Mas? Mas bahkan tidak bisa membelikan kebutuhan kami! Bedak, Mas! AKu minta bedak lima belas ribu dan kamu malah memaki aku?! Ingat itu.” “ALASAN!” bentak Deni. “Masalahnya bukan di aku! Kamu yang nggak menarik! Makanya aku males pulang! Makanya aku lebih memilih Rahmi!” Tamparan itu datang sebelum Deni sempat mengeluarkan lebih banyak hinaan. Tari tidak peduli lagi. Tangannya bergetar, dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak. Deni membeku sejenak, sebelum akhirnya rahangnya mengeras. Tanpa pikir panjang, ia membalas dengan tamparan keras ke pipi Tari. PLAK! Tari jatuh terduduk di lantai. Pipi kirinya panas dan perih, tapi lebih sakit lagi hatinya. Ia menatap Deni dengan mata penuh kemarahan. Tangannya menggenggam lantai, berusaha menahan gemetar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di tengah ketegangan itu, suara tangisan nyaring terdengar. Fendi menangis kencang di dalam kamar. Mungkin terbangun karena suara pertengkaran mereka. Tari buru-buru bangkit, hendak masuk ke kamar, tapi Deni lebih dulu berteriak. “DIAM! BOCAH INI SELALU AJA NGEREPOTIN!” Tangisan Fendi semakin keras. Tari menoleh ke arah Deni dengan mata melebar. “Jangan teriak ke anak kita, Mas!” Deni mendengus, matanya masih menyala penuh kemarahan. “Dia anak kita? Atau cuma anak kamu? Karena aku nggak pernah merasa punya anak sepertinya!” Dunia Tari seakan runtuh. Ia berdiri terpaku, sementara di dalam kamar, Fendi masih menangis tanpa henti. *** Ndaru mendorong pintu kayu yang sedikit berderit saat ia memasuki warung kopi kecil di ujung jalan. Aroma kopi hitam yang pekat langsung menyergap hidungnya, membawa sekelebat nostalgia masa SMA. Warung ini tidak banyak berubah, meja kayu tua yang dulu sering ia duduki masih ada, hanya sedikit lebih usang. "Astaga, nggak salah lihat ini gue? Ndaru?!" suara berat seorang pria membuatnya menoleh. Seorang pria berambut ikal dan bertubuh sedikit lebih gempal dari terakhir kali ia ingat melangkah mendekat dengan ekspresi tak percaya. Aji. Ndaru tertawa, meletakkan ponselnya di atas meja dan mengangkat tangan. "Gila, Ji! Warung lo masih berdiri juga, ya?! Kirain udah bangkrut dari zaman dinosaurus." Aji terkekeh, menepuk bahu Ndaru dengan keras. "Gue ini pengusaha sukses, bro! Warung gue langgeng karena pelanggan setia kayak gue sendiri!" Ndaru menggeleng sambil tertawa. "Iya, iya. Masih suka nyolong makan sendiri, ya?" "Biasa lah," Aji menjawab santai. "Eh, lo dari mana, Dar? Sumpah gue kaget. Lo kan orang kaya, ngapain mampir ke gubuk reot gue?" "Nyari suasana," jawab Ndaru sambil duduk. "Gue habis nganter temen sepupu gue, Tari. tetangga lo itu tuh. Kenal kan? orang rumahnya deket banget. Nggak tega gue biarin dia pulang sendirian bawa bayi malem-malem." Aji mengangguk pelan. "Tari? Oh, Tari yang tinggal di belakang itu?" "Nah, bener. Lo kenal?" Ndaru bertanya sambil menyandarkan punggungnya. Aji menghela napas panjang. "Kenal sih nggak, tapi sering dengar soal dia. Rumahnya itu udah kayak radio drama. Kadang berisik banget, kadang sunyi mencekam. Gue bahkan udah hafal siklusnya." Ndaru mengangkat alis. "Maksud lo?" "Gini, Dar. Biasanya tiap beberapa hari ada pertengkaran. Nggak jelas masalahnya apa, tapi suara bentakan, barang jatuh, itu udah biasa. Anehnya, udah tiga hari ini rumah itu tenang. Makanya, kalau sekarang mulai gaduh lagi, ya... kayak siklusnya mulai lagi." Ndaru mengernyitkan dahi. "Terus, kalau gitu kenapa nggak ada warga yang datang buat lihat atau misahin?" Aji hanya mengangkat bahunya sambil menuangkan kopi ke dalam cangkir Ndaru. "Orang-orang di sini udah biasa. Awalnya sih ada yang peduli, tapi lama-lama mereka mikir, 'Ah, nanti juga beres sendiri'. Jadinya ya... orang-orang mulai bodo amat." Ndaru menghela napas. Ia tidak habis pikir bagaimana orang-orang bisa begitu apatis dengan keadaan seperti itu. Namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh, sebuah suara keras dari arah rumah Tari membuatnya refleks menoleh. BRAK! Aji ikut menoleh, matanya menyipit. "Nah, kan. Mulai lagi. Ini pasti Deni sama Tari ribut. Tapi, biasanya cuma sebentar. Kalau beruntung, nggak ada barang pecah belah yang ikut tumbang." Ndaru merasakan amarah pelan-pelan naik ke dadanya. "Ini bukan cuma sekadar berisik, Ji. Tadi gue lihat sendiri, Tari itu— keliatan kasihan banget. Apalagi anaknya. Kalau pertengkaran ini beneran buruk, terus semua orang diem aja, ini keterlaluan." Aji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue ngerti, Dar. Tapi lo pikir bisa ngapain? Warga sini udah sering dengerin itu berantem. Kecuali Tari sendiri teriak minta tolong, orang-orang nggak bakal bertindak." Ndaru ingin membalas, tapi sebelum sempat membuka mulut, suara kaca pecah menggema di udara. PRANGGG!!! Suasana mendadak hening. Bahkan suara jangkrik pun terasa tenggelam dalam ketegangan. Seperti alarm yang akhirnya berbunyi, beberapa warga mulai keluar dari rumah mereka, menoleh ke arah rumah Tari dengan raut waspada. Aji bangkit dari duduknya. "Oke, ini beda dari biasanya." Matanya melirik Ndaru yang juga sudah berdiri, rahangnya mengeras. "Kita ke sana?" Ndaru tidak perlu menjawab. Ia sudah melangkah cepat menuju sumber keributan, diikuti oleh Aji dan beberapa warga yang mulai berkerumun di depan rumah Tari. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD