“Aku.. gak kuat lagi–”
“Tari…” Mila meraih tangan Tari dan menggenggamnya erat. "Kok kamu ngomongnya gitu , sih. Kamu kuat, Tar. Bisa. Aku tahu ini berat, tapi kamu gak sendiri. Aku akan bantu sebisaku.”
Tari tersenyum kecut. “Aku gak kuat ngejalani hubungan yang kayak gini, Mil.”
Isakan tiba-tiba keluar dari mulut Tari. “Semenjak aku hamil sampai melahirkan. Bahkan sampai hari ini… rasanya… Mas Deni jijik sama aku. Dia bahkan gak mau sentuh aku lagi.”
Mila mengusap pelan pundak Tari yang bergetar. fendi pun mulai melihat ke arah ibunya. Pria kecil itu bahkan sudah akan ikut menangis.
“Aku mau pergi, Mil. tapi.. aku gak tau harus mulai dari mana…”
“Tar–”
"Mila?” Belum sempat Tari menjawab, suara seorang pria menyela dari belakang mereka.
Mila menoleh dan menemukan sepupunya, Ndaru, berdiri dengan wajah cemas. “Kak Ndaru, ngapain di sini?”
“Ya elah, Mil. Kamu yang ngapain di sini? Ayo pulang. Udah malem nih, Mama tadi khawatir, nanyain kamu gak bisa di telpon. Di kirim chat juga gak ke kirim. Untung aja Kakak kepikiran mampir ke minimarket.”
Mila mencoba mencari ponsel di dalam tasnya dan benar saja, ponselnya mati. Baterainya memang sedikit bermasalah, jadi sangat cepat habis.
"Iya lho, Kak. Lowbat,” ucap Mila sambil menunjukkan ponselnya yang memang mati.
Mila pun berdecak kesal sambil mencebik. Ia kemudian melihat ke arah sepupunya. “Aku lagi ketemuan sama temenku, Kak. Bentar lagi aku balik, bilang sama Tante, ya?”
Ndaru menghela napas, lalu mengamati Tari dan Fendi yang tampak lelah. "Oh, ini Temen kamu? Ada masalah, Mil?"
Mila ragu sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, Kak. Eh, iya, Tar. Masih inget, gak? Ini Kakak sepupu aku yang waktu SMP kamu idolain itu,” ucap Mila sambil tersenyum riang sambil menaik turunkan alisnya.
Tari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Malu dan salah tingkah bertemu dengan idola masa lalunya menjadi satu. Keadaannya tak baik-baik saja. Di tambah dengan penampilannya yang sangat memalukan dan menggendong bayi kecilnya membuat Tari ingin menghilang saat itu juga.
Ndaru bisa membaca situasinya, dia pun menghela nafas panjang. “Di rumah aja yuk. Udah gelap, lagian kalian nongkrong di luar gini. Bawa anak kecil. Kasian, mending di rumah aja.”
“Ide bagus, Kak. Ayo, Tar!” ucap Mila yang sudah akan beranjak.
“Ja– jangan, Mil. Emh.. kalau kamu mesti pulang, ya udah. Aku… cuma nitip itu aja. Kalau ada kerjaan, kabarin ya, Mil.” Tari pun hendak beranjak namun tangannya di cekal oleh Mila.
“Eh, Tar. Ikut aja, yuk.”
Tari hendak menggeleng namun suara bariton Ndaru terdengar. “Ikut aja, Mamaku kayaknya butuh pegawai. Nanti coba aku ngomong.”
“Oh, iya! Aku baru inget, Tar. Tante Almira punya toko, kayaknya dia butuh pekerja, deh. Yuk, ikut!” ucap Mila sambil menggandeng tangan sahabatnya semenjak kecil itu.
“Tapi, Mil–”
“Gak apa, ayo ikut.”
***
Tari sedang berada di ruang tamu bersama Fendi, saat Mila pamit untuk mandi dan ganti baju sebentar.
Sebelum beranjak ke kamar yang ditempati selama menumpang di rumah sepupunya itu, dia meminta para asisten rumah tangga untuk menyuguhkan beberapa kue dan buah. Mila juga meminta untuk dibuatkan teh hangat untuk tamunya.
Selesainya memberikan instruksi, Mila yang hendak naik ke kamar di hadang oleh Ndaru.
“Temen kamu kenapa?”
Mila berdecak. “Kakak temenin dulu deh, interviu atau apa gitu. Kasih kerjaan. Nanti aku cerita! Sekarang aku mandi dulu, supaya tamu aku gak kelamaan nungguin aku, oke!”
“Bentar dong, minal minul! Kasih tau dulu, dia kenapa? Kenapa butuh kerjaan? Kenapa bawa-bawa–”
“Ish! Kakak!” Mila merasa kesal dengan pertanyaan Ndaru yang bertubi-tubi. "Kak, serius deh. Aku bakal cerita nanti! Kasih aku waktu lima belas menit aja buat mandi dan ganti baju. Setelah itu, kita bisa ngobrol panjang lebar, oke?"
Ndaru menghela napas, akhirnya mengangguk. "Ya.. oke. Tapi nanti aku mau tahu semuanya, ya?"
Mila hanya mengacungkan jempol sebelum akhirnya menaiki tangga dengan cepat. Ndaru menatap punggung adiknya itu sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke ruang tamu, tempat Tari duduk dengan ekspresi kosong sambil sesekali mengusap kepala Fendi yang kini tertidur dalam pelukannya.
Dengan langkah santai, Ndaru berjalan mendekat dan duduk di kursi seberang Tari. Ia menatap wanita itu sejenak sebelum akhirnya bersuara. "Jadi, kamu sahabatnya Mila, ya?"
Tari yang sejak tadi terdiam mendongak, sedikit terkejut karena diajak bicara. "Iya, Kak. Saya Tari."
Ndaru mengangguk. "Aku– Ndaru, sepupunya Mila,” ucap Ndaru mengenalkan diri meskipun jika tidak salah dengar, Tari mengenalnya. Tapi untuk basa-basi, boleh lah dia mengenalkan dirinya secara resmi.
“Itu kamu gak pegel gendongin adek kamu, tidurin aja di sofa. Gak apa-apa,” ucap Ndaru yang melihat Mila sepertinya cukup kewalahan karena bayi yang sepanjang jalan tadi menangis lirih sudah terlelap. Mungkin karena kelelahan.
Tari tersenyum canggung. Adik? Apa wajahnya tidak meyakinkan sebagai seorang ibu? Ia pun memandangi anaknya sebentar sebelum akhirnya kembali mendekap balitanya.
“Oh iya aku denger kamu butuh kerjaan, emh.. kalau boleh tahu pendidikan terakhir kamu apa?"
Tari mengangguk ragu. "Iya, Kak. Kalau ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan... saya sangat butuh." Suaranya terdengar hati-hati. “Emh.. Di rumah ini kalau misalnya butuh tambahan pekerja… saya bisa, Kak. Saya— bisa kerja apapun.”
Ndaru mengernyitkan dahinya. "Lho, kok malah ngelamar jadi ART. Memangnya pendidikan terakhir kamu apa?"
"SMA."
"Oh… kamu seumuran ‘kan sama Mila? Sebelumnya pernah kerja di mana?"
“Emh.. saya…” Tari ragu untuk mengungkapkan dirinya yang sepertinya tidak berkompeten di bidang apapun.
Ndaru menyandarkan lengannya di lutut, menatap Tari penuh selidik. "Kamu belum pernah kerja?"
Tari menelan ludah, Ia hanya mengangguk samar.
Ndaru mengangkat alis. "Oke. Terus selama ini.. kamu ngapain? kalian Lulus paling nggak umur delapan belas ‘kan? Nah kalau kalian seumuran berarti sekitar dua puluh dua tahun mungkin? Jadi empat tahun ini kamu ngapain, Tar?”
“I– itu..”
“Oh, ada tamu? Temannya Mila ya?” ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan setelan bermotif bunga.
Wanita itu tampak ramah dan kemudian segera mendekat. Ia mengulurkan tangannya dan di sambut dengan sopan oleh Tari yang segera mencium punggung tangan Almira.
Tari yang mengira Almira tidak akan sudi bersalaman dengan dirinya itu malah di buat tertegun karena wanita itu mengusap punggung Tari dengan baju kumalnya sambil tersenyum ramah.
“Sudah lama, Nak?”
“Namanya Tari, Ma. Temannya Mila, satu kampung. Iya ya, Tar?”
“I– iya, tante. Kenalin saya Tari.”
“Saya Almira.” Almira membalas senyum Tari, lalu matanya jatuh pada sosok kecil yang tertidur di sofa. "Dan ini...?" tanyanya sambil menunjuk bayi yang terlelap.
Tari buru-buru menunduk sedikit, merasa tidak enak. "Maaf, Tante. Ini anak saya. Kayaknya dia capek soalnya dari tadi rewel.."
Ndaru yang baru saja hendak mengambil minum mendadak menoleh cepat, matanya membesar. "Wait, what?! Anak kamu?!"
Almira tertawa, “Gimana sih, Ndaru. Kamu yang kenalin ke Mama kok kamu gak tau ini anaknya?”
Ndaru mengerjapkan mata, lalu bersedekap. "Lah… mana aku tahu. Aku pikir tadi itu adiknya, Ma. Serius?! Ini… anak kamu?"
Tari tersenyum canggung. "Iya, Kak. Namanya Fendi."
“Ih, aneh. keliatannya tadi ngobrol seru. Ternyata kamunya gak kenal. Tapi emang sih, kamu keliatannya masih cantik, badan kamu juga keliatan kayak gadis. Tante juga kalau gak di bilangi itu anak kamu, Tante mana mikir ke sana,” ucap Almira sambil tersenyum hangat. "Oh iya. Dimana Mila?”
“Lagi mandi, Ma,” ucap Ndaru sambil meneguk minuman yang sejak tadi tertahan di tangannya.
Almira pun mengangguk saja. “Kamu sudah makan? Kalau belum, ayo makan dulu bareng-bareng. Kebetulan Tante bawa makanan. Beli tadi di deket toko roti, Tante. Yuk."
Tari menggeleng cepat. "Terima kasih, Tante, tapi—"
Tari menggigit bibir bawahnya, ragu. Sejujurnya ia memang lapar, tapi merasa tidak enak. Namun, perutnya yang tiba-tiba berbunyi cukup nyaring membuatnya langsung tertunduk malu.
Ndaru tertawa, sementara Almira tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Udah, ayo makan dulu. Sambil nunggu Mila."
Tari akhirnya mengangguk pelan, menerima ajakan Almira untuk makan.
Ia beranjak dari duduknya, hendak menidurkan Fendi di sofa lebih nyaman, ketika suara getaran ponselnya terdengar.
Ia terdiam. Sesuatu di dalam dirinya merasa gelisah.Siapa yang meneleponnya malam-malam begini?
Dengan ragu, ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat layar yang menyala.
Mas Deni
Darahnya seolah berhenti mengalir. Jari-jarinya terasa dingin saat ponselnya terus bergetar di tangannya.
“Kenapa, Tar? Kok mukanya gitu?”
Suara Ndaru berhasil membuat Tari kembali ke dalam kesadarannya. Pria itu menatap Tari dengan pandangan yang seolah cemas.
***