Deni melangkah masuk ke rumah dengan langkah gontai. Beberapa kali ia berusaha memijat tengkuknya yang terasa berat.
Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.
Ia menghela napas panjang sebelum menutup pintu dengan hati-hati. Hari ini begitu melelahkan. Pagi-pagi ia sudah harus menjemput Rahmi yang rumahnya harus memutar sedikit lebih jauh, belum lagi ia harus mengantar Rahmi untuk makan di tempat yang ia inginkan, kadang lokasinya cukup jauh dari pabrik. Pulangnya ia masih harus mengantar wanita itu lagi ke rumahnya, sebelumnya tentu mereka akan makan malam terlebih dahulu.
Deni yang kelelahan hanya ingin segera mandi dan tidur. Namun, begitu ia berbalik, Tari sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin.
"Dari mana saja?" tanya Tari dengan nada yang menuntut.
Deni mengusap wajahnya. "Kerja. Memangnya dari mana lagi?"
"Kerja sampai jam segini?" Tari mendekat, matanya menelusuri suaminya dengan cermat. "Kamu berangkat jam enam pagi, Mas. Katamu kerja mulai jam delapan dan pulang jam empat. Ini sudah hampir jam delapan malam!"
"Banyak kerjaan," jawab Deni datar, malas memperpanjang percakapan.
Tari mendengus, lalu tiba-tiba mendekat lebih cepat. Ia menghirup udara di sekitar suaminya, lalu mundur dengan ekspresi marah yang kenatar. "Kamu pakai parfum, Mas?!"
Deni terdiam sesaat, sebelum akhirnya menggeram, "Kamu serius seperti ini sekarang, Tar? Aku ini baru pulang kerja dan capek banget, Tar! Sekarang apa? kamu malah nuduh aneh-aneh? Jangan gila ya kamu, Tar!"
"Jawab aja, Mas!" bentak Tari. "Aku masih punya mata buat ngelihat pesan siapa yang masuk ke handphonemu tiap pagi! Rahmi ‘kan namanya?!"
Deni terkesiap, ekspresinya berubah sekilas, tapi kemudian ia tertawa sinis. "Jadi sudah berani kamu buka-buka handphoneku?! Tanganmu sangat lancang, Tar!"
"Aku gak perlu menggeledah handphonemu, Mas! Tuhan sedang baik! Tanpa aku buka pun, pesan itu muncul. Wanita mana yang berani mengirimi suami orang pesan dengan emotikon cium, Mas! Jawab aku! Wanita seperti apa yang sampai serendah itu mau menggoda suami orang?!”
“TARI!” teriak Deni lantang.
“Bahkan menafkahi aku dan Fendi saja kamu gak sanggup, tapi kamu malah main gila dnegan wanita lain, Mas?!” ucap Tari dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung.
Deni yang sudah kelelahan merasa darahnya mendidih. Ia mencengkeram tas ranselnya yang masih menggantung di bahunya, lalu tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya ke arah Tari. Tas itu mengenai bahu istrinya, membuat Tari terhuyung mundur.
"Mas!" pekik Tari terkejut. Matanya membulat tak percaya. "Kamu?!”
Deni tidak menjawab. Ia hanya mendengus marah sebelum berjalan cepat menuju kamar. Dengan kasar, ia menutup pintu dengan keras, membuat rumah bergema sesaat.
“Mas, kamu kasar sekali sekarang?! Apa, Mas?! Apa yang membuat kamu jadi ngelupain aku dan memilih wanita lain yang gak punya adab seperti si Rahmi- rahmi itu?!”
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun dalam kemarahan yang tak terbendung. Kaki Deni pun tak diam. Dia menendang keras pintu kamar hingga membuat suaranya nyaring dan terasa memekakkan.
“Diam, Tari!”
Lalu terdengar suara tangisan.
Fendi, putra mereka yang baru berusia Dua tahun setengah, menangis kencang. Anak itu mungkin terkejut mendengar suara bentakan ayahnya atau suara pintu yang dibanting.
"Diam, Fendi!" teriak Deni dari dalam kamar.
Tangisan itu justru semakin keras. Tari yang masih shock langsung tersadar dan berlari menuju anaknya. Fendi berdiri di sudut ruangan dengan wajah penuh air mata. Tari segera meraih tubuh kecil itu dan merangkulnya erat.
"Ssst... Mama di sini, Nak. Mama di sini," bisiknya, mencoba menenangkan anaknya meski hatinya sendiri sedang kacau.
Deni keluar dari kamar dengan wajah semakin gelap. "Kalian berdua benar-benar berisik! AKu muak!”
Tari segera berdiri dan menatap suaminya dengan ketakutan. "Jangan macam-macam, Deni. Jangan berani-berani menyentuh anakku!"
Mata Deni berkilat marah. "Anakmu? Dia juga anakku, Tari!" Suaranya meninggi, membuat Fendi semakin menangis dalam dekapan Tari.
Namun, alih-alih semakin mendekat, Deni justru mundur. Wajahnya berubah. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia meraih jaketnya dan berjalan keluar rumah, membanting pintu di belakangnya.
Tari menatap pintu itu dengan mata nanar. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini jatuh perlahan. Sambil terus menggendong Fendi yang masih terisak, ia menatap kosong ke arah pintu yang kini tertutup rapat.
***
Sudah tiga hari Deni tidak pulang.
Sejak malam itu, setelah pertengkaran besar, Tari dibiarkan sendiri dengan Fendi.
Ia tidak tahu di mana suaminya sekarang, apakah Deni baik-baik saja atau tidak. Yang ia tahu, kepergian Deni meninggalkan masalah baru yang harus ia hadapi sendiri.
Beruntung, sebelum pertengkaran itu terjadi, Deni sempat menyuruhnya berbelanja. Dengan uang dua puluh lima ribu yang tersisa, Tari mencoba bertahan hidup. Kini, setelah tiga hari bertahan, uangnya hanya tinggal tiga ribu rupiah. Dengan uang sebesar itu, Tari tahu ia tidak akan bisa bertahan lama.
Di dapur, Tari membuka tutup tempat beras dan menatap isinya. Masih ada sedikit, cukup untuk makan hari ini, tetapi bagaimana dengan besok?
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia tidak punya pengalaman kerja, tidak tahu harus mencari pekerjaan dari mana, dan lebih parah lagi, ia tidak tahu kapan Deni akan kembali.
Ia menatap Fendi yang tengah duduk di sudut ruangan dengan bonekanya. Anak itu lebih banyak diam selama beberapa hari terakhir, mungkin karena merasakan ketegangan di rumah.
Tari mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia harus melakukan sesuatu. Tidak bisa terus seperti ini.
“Mila magang di tempat Mas Deni, ‘kan? Dia pasti tahu dimana suami tidak bertanggungjawab itu pergi. Aku harus cari dia. Harus!”
Keputusan pun diambil. Ia harus menemui Mila.
Mila adalah sahabatnya, satu-satunya orang yang bisa ia andalkan saat ini. Ia ingin meminta bantuan untuk menanyakan keberadaan Deni di kantor.
Kalau Deni memang masih bekerja seperti biasa, setidaknya ia bisa meminta kepastian kapan suaminya pulang. Jika tidak, mungkin Mila bisa membantunya mencarikan pekerjaan. Suaminya itu, mulai tidak bisa di harapkan.
Tari mengganti pakaian sederhana dan menggendong Fendi yang masih menghisap ibu jarinya. Dengan langkah ragu, ia keluar dari rumah menuju tempat biasa ia dan Mila bertemu setelah mengirimkan pesan pada Mila.
Setibanya di sana, Mila sudah menunggunya dengan wajah khawatir. "Tari! Pucet banget! malem-malem gini ngajak ketemuan ada apa, tar? Bawa-bawa Fendi lagi. Kenapa gak di titip aja sama suamimu.”
Tari tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Itu masalahnya, Mil. Mas Deni sudah tiga hari nggak pulang, uangku hampir habis, dan aku gak punya pekerjaan. Aku gak tahu harus mulai dari mana."
“hah? Gimana, Tar? Gak pulang?”
Tari mengangguk meski sambil menunduk, dia cukup malu untuk menghadap temannya yang di rasa memiliki jalan hidup yang baik itu. Hidupnya yang memalukan itu, terasa seperti sebuah aib yang cukup menggelikan.
“Padahal suamimu masuk kerja terus, Tar. Dia loh–” Mila menggantung kalimatnya. Bingung bagaimana harus menjelaskan pada sahabatnya itu.
Tari menghela nafas panjang. “Kamu bisa bantu aku cari kerja gak, Mil?”
“Kamu.. mau kerja apa, Tar?” ucap Mila menatap iba sahabatnya itu.
"Itu masalahnya, Mil. Aku gak tahu," Tari mengakui dengan suara pelan. "Aku gak punya pengalaman. Aku nggak pernah bekerja sebelumnya. Tapi aku harus ngelakuin sesuatu, Mil. Aku.. gak bisa menunggu Deni pulang tanpa kepastian. Kayaknya… aku harus nyerah sama pernikahan ini, Mil. Aku.. gak kuat lagi–”
***