3-Siapa Rahmi?

1203 Words
Pagi itu, Deni sarapan dengan tenang seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Ia duduk bersila dengan piring berisi nasi dan telur dadar di depannya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Namun, satu hal yang membuat Tari semakin muak adalah bagaimana suaminya itu begitu lekat dengan ponselnya. Jari-jarinya terus bergerak, matanya sesekali berbinar karena sesuatu yang dilihatnya di layar. Tawa kecil keluar dari bibir Deni. Ia bahkan tampak lebih bahagia dengan ponselnya dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Tari hanya bisa menghela napas panjang. Ia memilih untuk tidak membuka percakapan, sudah terlalu lelah beradu mulut dengan pria itu. Tiba-tiba, Deni mengerang pelan. Tangannya memegangi perut, ekspresi wajahnya berubah tidak nyaman. Dengan terburu-buru, ia beranjak dari meja makan dan berlari menuju kamar mandi, meninggalkan ponselnya begitu saja di atas meja. Tari menoleh ke arah benda itu. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melihat apa yang begitu membuat Deni tertawa tadi. Dengan ragu, ia mendekati meja dan baru saja ingin menyentuh ponsel itu ketika sebuah notifikasi muncul di layar. Pesan dari seseorang bernama Rahmi. Rahmi : [Mas, berangkat jam berapa?] Rahmi : [Kalau gak berangkat sekarang, telat lho!] Rahmi : [Cepetan, aku tunggu (emotikon cium)] Tari tercekat. Napasnya tertahan. Jari-jarinya yang hendak mengambil ponsel itu langsung mengendur. Hatinya berdesir, bukan karena cemburu, tapi lebih ke rasa perih yang menyayat. Jadi, selama ini Deni mengabaikannya karena ada wanita lain? Ia ingin mencari tahu lebih banyak, membuka isi pesan-pesan sebelumnya, tetapi suara pintu kamar mandi terbuka. Pria itu awalnya menatap Tari dengan tatapan tidak suka, tapi tari yang sama sekali tidak melihat suaminya, berpura-berpura berlalu dengan mengangkat cangkir kosong yang hanya tersisa ampas kopi dan membawanya ke wastafel. Deni pun mendekat dengan wajah kesal dan langsung menyambar ponselnya dari meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa berkata apa-apa, Deni mengambil jaketnya dan pergi begitu saja. Setelah kepergian suaminya, kaki Tari rasanya lemas. “Aku ternyata bodoh, Mas. Aku sangat bodoh! Ya Tuhan, kenapa aku bisa terjebak dalam pernikahan seperti ini?” ratap Tari dengan tangan yang menggenggam erat pinggiran wastafel. *** Sementara itu, di pabrik tempat Deni bekerja, Mila tampak segar dan bersemangat untuk memulai magangnya. Ia melangkah masuk ke area pabrik dengan penuh antusias. Namun, langkahnya sedikit terhenti ketika ia melihat sesuatu yang terasa janggal. “itu bukannya Mas Deni, ya? Suami Tari?” gumam kecil Mila. Di depan gerbang pabrik, ia melihat Deni. Dan yang lebih mengejutkan, pria itu tidak sendirian. Ia tengah berboncengan dengan seorang wanita. Mereka terlihat akrab. Wanita itu pun tak sungkan berpegangan pada jaket Deni. Mila mengernyit, hatinya ingin berpikir positif. Mungkin keduanya hanya searah, atau mungkin mereka tidak sengaja bertemu di perjalanan, tapi semuanya terlalu aneh untuk tidak disalahpahami. Mila menggelengkan kepala, menepis pikirannya, ‘Mil, Fokus!’ ucapnya dalam hati yang kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju resepsionis untuk melapor. Seorang pegawai di sana mengarahkannya untuk menemui bagian HRD. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya seorang wanita datang menghampirinya. Wanita itu tampak ramah dan profesional, dengan senyum yang begitu lekat di wajahnya. "Halo, kamu pasti Mila Rea, ya?" Wanita itu mengulurkan tangan. Mila balas tersenyum dan menjabat tangan wanita itu. "Iya, saya Mila Rea. Pegawai yang akan magang di pabrik ini." "Salam kenal ya, Mil. Saya Rahmi, dari bagian HRD. nanti selama magang di sini saya yang akan jadi penanggung jawab kamu selain kepala bagian. Jadi nanti kalau kamu perlu data, ijin, dan sebagainya selama magang, jangan sungkan untuk hubungi saya ya?" Mila mengangguk sambil tersenyum lebar, meski jantungnya terasa berdegup kencang. Gadis muda berusia dua puluh dua tahun itu, mengingat dengan persis wanita yang tadi pagi berboncengan dengan suami sahabatnya. Ada perasaan tak nyaman yang bergelayut. Namun, tak banyak yang ia bisa lakukan. Terlebih, Mila bahkan belum memulai magangnya. Mila berusaha menyembunyikan keterkejutannya dan tetap bersikap profesional. Rahmi dengan tenang menjelaskan beberapa peraturan perusahaan dan memberikan berkas yang harus ditandatangani. Ia kemudian mengantar Mila ke bagian purchasing, tempat di mana ia akan magang selama beberapa bulan ke depan. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, pikiran Mila terus berputar. Ia ingin berpikir bahwa semua ini hanya kebetulan. Sesampainya di ruangan Purchasing, Rahmi memperkenalkan pada kepala bagian dan para pegawai di ruangan itu. “Ini ruangan kamu ya, Mil. nanti kalau butuh apapun silahkan hubungi saya,” ucap Rahmi dengan senyum ramah. “Makasih, Bu–” “Mbak, panggil aja Mbak Ami.” “Amih!” sapa seseorang dari ujung pintu ruang administrasi yang terbuka. Mila dan rahmi pun menoleh ke sumber suara, anehnya seluruh ruangan itu seolah menulikan pendengarannya dan fokus pada pekerjaan mereka masing-masing. ‘Mas Deni…’ gumam Mila dalam hati. Sebenarnya ia ingin menyapa, tapi Mila urungkan karena sepertinya Deni tidak mengenalinya. Buktinya, Mila bagai kasat mata saat Deni datang menghampiri Rahmi dengan senyum lebar yang terlihat manis. Mila menahan napas. Deni berdiri santai di hadapan Rahmi, tangannya diselipkan ke dalam saku celana, sementara matanya menatap wanita itu dengan penuh minat. “Ngapain kamu?” tanya Deni antusias. “Nganterin anak magang, kamu ngapain di sini, Mas?” ucap Rahmi sambil tersenyum sama lebarnya dengan lawan bicaranya. “Mau minta barang buat produksi.” “Mas, nanti makan siang bareng ya?” suara Rahmi terdengar begitu ringan, tanpa canggung sedikit pun. Deni menyeringai. “Iya, aku jemput ke ruanganmu nanti.” Deg! Mila merasakan dadanya mencelos. Ia ingin berpikir positif. Ia ingin percaya bahwa ini hanyalah percakapan biasa antara rekan kerja. Tapi... cara mereka saling menatap, bahasa tubuh mereka, dan terutama cara Deni tersenyum begitu tulus—itu semua terlalu akrab untuk sesuatu yang disebut sekadar “rekan kerja”. Mila tanpa sadar melangkah maju. Ia hendak menyapa. Deni mengenalnya, bukan? Suami sahabatnya? Namun, Deni bahkan tidak menoleh ke arahnya. Bukan hanya tidak menoleh. Tatapannya tidak menunjukkan tanda bahwa ia mengenali Mila sama sekali. Mila mengurungkan niatnya. Tangannya yang semula sedikit terangkat kini kembali jatuh di sisi tubuhnya. Jadi begini, ya? Seorang suami yang bahkan tidak ingat sahabat istrinya sendiri? Atau… jangan-jangan Deni pura-pura tidak mengenalinya karena tak ingin interaksi mereka terganggu? Perasaan tak nyaman semakin menekan d**a Mila. Ia harus melihat lebih banyak. “Saya tinggal ya, Mil.” Ucapan itu tentu saja membuat pikiran Mila yang tengah berkelana kembali pada kesadarannya. Ia pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah menuju meja kerja yang sudah disediakan untuknya dengan perasaan tidak menentu. Ia mencoba mengabaikan pikirannya, berusaha meyakinkan diri bahwa ia hanya terlalu banyak berspekulasi. Namun, bayangan Rahmi dan Deni yang tampak begitu akrab terus membayangi benaknya. Mila menghela napas, mencoba mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya. Tapi saat ia hendak duduk, telinganya menangkap suara pelan dari arah meja sebelah. “Ya ampun, si Rahmi makin berani ya?” Mila menajamkan pendengarannya. “Iya, tiap hari makin dekat sama Deni. Sudah gak sembunyi-sembunyi lagi.” “Lagian, istrinya Deni ‘kan bukan orang sini. Mungkin dia pikir gak bakal ketahuan.” “Tapi kalau beneran selingkuh, keterlaluan banget, sih.” “Halah, kalau Rahmi emang bisa bikin Deni lebih bahagia, ya wajar aja sih.” Jantung Mila berdegup semakin cepat. Jadi, rumor tentang Deni dan Rahmi bukan hanya perasaan atau spekulasi semata? Ia mencoba berpikir jernih. Belum tentu semua yang mereka katakan benar. Bisa saja itu hanya gosip tanpa bukti. Namun, semakin banyak fakta kecil yang ia kumpulkan, semakin sulit baginya untuk menepis kecurigaannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD