2-Satu Tamparan, Seribu Luka

1110 Words
Tari membuka netranya perlahan. Langit-langit putih di atasnya tampak samar, dan aroma khas obat-obatan segera memenuhi inderanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menyadari bahwa ia tengah berbaring di ranjang rumah sakit. "Tari... Syukur kamu udah sadar. Ya ampun, Tar… Aku takut banget," suara yang terdengar bergetar setengah panik begitu familiar di telinga Tari membuatnya menoleh. Di sampingnya, Mila duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. "Mila..." suara Tari terdengar serak. Tenggorokannya terasa kering. "Iya, ini aku. Kamu pingsan tadi. Sumpah aku kaget banget, Tar. untung banyak orang di sekitarku. fendi juga lagi aku gendong. Kalau sakit harusnya kamu bilang, Tar. Kita kan gak harus ketemuan hari ini," celoteh Mila panjang lebar. "Oh iya, maaf ya, tadi aku buka-buka handphonemu. Aku coba telepon suamimu, tapi nggak di angkat,” ucap Mila yang sebenarnya menutupi fakta bahwa panggilannya semenjak tadi di tolak. Ia mencoba mengirim pesan singkat, juga tidak ada jawaban. Tari terdiam. "Mungkin dia sibuk, Mil," ucapnya pelan. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, tapi dalam hati, ia merasa bahwa ponselnya lah yang tidak penting bagi Deni. Mila menghela napas, lalu mengusap kepala Fendi yang tertidur di samping ibunya. "Ya ampun, tadi aku panik banget, Tar. Kamu jatuh, Fendi nangis kejer. Padahal pas ketemu senyum-senyum, tapi pas liat kamu jatuh dia langsung rewel. Nangis terus karena lihat ibunya nggak bangun-bangun. Kayaknya dia capek deh habis nangis heboh, sekarang akhirnya dia bisa tidur." Tari mengelus pelan kepala putranya. Melihat wajah kecil itu, hatinya terasa hangat. "Maaf ya, Mil. Makasih juga, udah mau direpotin. Jadi gak enak nih aku." Mila tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Tar. Kata dokter, kamu kelelahan dan tekanan darahmu rendah banget. Kok bisa sih, Tar. Aku sih gak heran kalau kena anemia. Badan kamu juga kurus banget lho, Tar. Repot pasti ya ngurus Fendi cuma berdua sama suami di kota orang?" ‘Jangankan berdua, aku ngurus semuanya sendiri, Mil.’ Kata-kata itu hanya bisa ia simpan di dalam hatinya. Tari pun hanya mengangguk lemah. Ia tak mau membuka aib rumah tangganya. ia terlampau malu. "Oh iya, Tar," lanjut Mila dengan nada lebih ceria, "aku mau magang di pabrik tempat suamimu kerja." Tari menatap sahabatnya dengan kagum. "Wah, selamat ya, Mil." Mila tertawa kecil. "Iya, Tar. Aku gak nyangka surat pengajuan magangku di terima. Secara perusahaan itu besar ‘kan. Aku kira bakalan susah karena banyak pasti yang mau magang di sana. Tapi ternyata rejekiku. Aaa.. Seneng!" Mila kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap sendu temannya. “Padahal tadinya aku mau traktir kamu, kok malah gini sih, Mil.” “Maaf ya, Mil.” “Gak apa, gak masalah. oh iya, administrasinya udah selesai semua. Jadi nanti setelah infusnya selesai, kamu bisa pulang. Nanti aku anter. “Lho, bayarnya–” “Aman. Gratis. Pakai Kartu kesehatanmu, tuh!” Tari tersenyum kecil. Ada setitik rasa penyesalan menyusup dalam hatinya. Seandainya dulu ia memilih kuliah seperti Mila, mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini. Mungkin ia tidak akan terjebak dalam pernikahan yang perlahan mengikis harga dirinya. Namun saat menoleh ke arah Fendi, rasa sesalnya menghilang. Melihat wajah polos anaknya yang tertidur pulas, ia tahu bahwa takdirnya memang harus seperti ini. Seberat apa pun hidupnya, Fendi adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan padanya. *** "Dari mana saja kamu?" Suara Deni menggema di ruangan sempit itu, sarat akan kemarahan yang tak terselubung. Matanya menatap tajam ke arah Tari yang baru saja masuk dengan Fendi di gendongannya. "Keluyuran saja kerjaanmu! Pantes uang habis! Kemarin minta uang buat beli bedak, fungsi bedakmu itu buat kamu gak malu keluyuran sama teman-temanmu? Iya?! Kamu itu cuma bisanya buang-buang uang. Keluyuran gak jelas! Bahkan tega ngajak Fendi pas hari lagi panas-panasnya. Pikiranmu dimana, Tari!” Tari menegang. Amarahnya naik ke permukaan, tak bisa lagi ia pendam. "Keluyuran? Mas?! Keluyuran katamu?! Baru sekali ini aku pergi, Mas! Memangnya aku kamu?! Setiap hari pergi, setiap hari pulang kantor ada aja acaramu. Masa sekali ini aja kau pergi gak boleh?” “Aku ini penat seharian kerja, kamu ini penat apa?! Cuma di rumah aja–” “Cuma, Mas?! Cuma kata kamu? Mas tau gak, saking penatnya aku, bahkan aku sampai harus masuk rumah sakit, Mas. Tekanan darahku rendah, dokter bilang aku capek. Bahkan sekedar untuk diriku aja, aku gak bisa, Mas! Temanku tadi coba nelepon kamu, tapi kamu gak angkat!” “Aku kerja lah!” “Kerja? Oke kerja, Setelahnya, Mas?! Mas sama sekali gak nanyain kabarku! Padahal aku tau kamu, Mas. Kamu dan hpmu itu sudah seperti cinta matimu. Mana bisa kamu jauh-jauh. Dia udah bilang ‘kan, Mas? Aku pingsan. Pingsan, Mas! Kamu gak ada khawatirnya dansekarang malah maki aku!" Tari membalas dengan suara gemetar, bukan karena takut, tapi karena muak. Deni mendengus sinis. "Itu ‘kan salah kamu sendiri! Tau gak enak badan masih ngotot pergi! Itu akibatnya kalau terlalu suka main! Keluyuran aja terus!" Mata Tari membulat, amarahnya semakin menjadi. "Main? Aku tadi pingsan, Mas! Kamu dengerin aku ngomong gak sih, Mas! Aku kelelahan! Kamu bilang aku gak ngapa-ngapain? Itu karena aku di rumah dan ngerjain semua pekerjaan rumah ini! Bahkan kamu gak kasih aku waktu istirahat, Mas. Kamu bilang aku gak kerja?! Pakaianmu wangi, makanan selalu ada, rumah bersih. Kamu pikir sapu itu bisa melayang dan nyapu sendiri.” Deni merasa telinganya panas. Ia muak dengan ocehan Tari yang kini mulai bisa menjawab kata-katanya. “Mas, bahkan buat sekedar makanan kita aja, rasanya gak layak, Mas. Gak ada gizinya. Bahkan kadang aku cuma bisa makan mie instan! Hanya demi perutku kenyang. Kamu lebih peduli sama rokok, kopi, dan tempat nongkrongmu. belum lagi kuota untuk hpmu itu!” “Tari!” bentak Deni yang mulai kehabisan kata untuk menghentikan ocehan Tari. “Aku gak mungkin pingsan, Mas. Setidaknya, kalau makananku layak, aku tidak akan seperti ini! Hidup aku berubah drastis sejak menikah sama kamu, Mas! Aku dulu dirawat baik sama orang tuaku! Sekarang lihat, aku seperti ini karena kamu!" Suasana mendadak sunyi. Wajah Deni memerah karena emosi. Tanpa berpikir panjang, ia melayangkan tamparan ke wajah Tari. Tubuh wanita itu terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan. Suara tari yang menabrak pinggiran meja hingga beberapa jatuh terasa nyaring di rumah petak kecil di tengah kampung itu. Tangis Fendi meledak seketika. Bocah kecil yang semenjak tadi ada di gendongan ibunya terasa di abaikan oleh dua orang dewasa yang sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya yang meluap. Keributan itu menarik perhatian tetangga. Beberapa orang sudah berdiri di depan rumah, mendengarkan pertengkaran mereka. “Den.. tari.. Buka dulu.” Suara beberapa orang dengan ketukan membuat Deni melirik ke arah jendela, lalu tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi melalui pintu belakang, enggan berhadapan dengan tatapan penasaran mereka. Tari hanya bisa memeluk Fendi erat-erat, menahan tangis yang kini memenuhi dadanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD