Kedua kakak beradik itu duduk saling berhadapan dalam diam. Sebuah meja berbentuk persegi menjadi pemisah di antara keduanya.
Keira mengamati wajah adiknya dengan seksama. Mencari titik lemah gadis itu di balik senyum manisnya. Ia menatapnya tajam dengan mata sedikit memicing.
Sementara gadis di hadapannya duduk dengan santai tanpa merasa terganggu sedikit pun. Ia balik menatap sang kakak dengan mata jernihnya yang berwarna kecoklatan.
"Sudahlah, jangan menatapku seperti itu! Apa matamu tidak lelah?" cibir Reina enteng. Senyumnya masih terus bertengger di bibir tipisnya yang berwarna kemerahan.
"Apa kamu tidak berpikir dulu sebelum menyuruhku mengakali Papa?" Keira mendengus kesal. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya.
"Bagaimana kalau Papa tahu rencanamu ini? Papa pasti akan menghukummu dengan berat, Rein. Apa kamu gak memikirkan efeknya? Papa pasti akan merasa malu karena rencana gilamu ini."
"Aish... sejak kapan kau mulai memikirkan bagaimana perasaan Papa? Mereka aja bahkan gak pernah mikirin gimana perasaan kita, Kei. Bertahun-tahun kita dibiarkan tumbuh sendiri tanpa bertanya, apa yang kita rasakan?" pekik Reina geram.
"Tapi, Rein --"
"Please, Kei. Aku benar-benar belum siap untuk ini. Aku belum ingin menikah dan mungkin tidak akan menikah," ucap Reina akhirnya.
Keira terpaku, berusaha mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh adiknya. Tangan kanannya terangkat. Keira mencoba memeriksa sang adik dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Reina.
"Apaan sih, Kei?" Reina menepis tangan kakaknya.
"Kamu yang apa-apaan? Untuk apa bilang gak mau nikah segala? Emangnya kamu mau jadi jomblo seumur hidup, hah? Mama bisa nangis kalau dengar kamu ngomong kayak gitu," ujar Keira sengit.
"Biarin aja! Aku gak perduli Mama mau ngomong apa. Aku gak mau nikah, titik!" Tangan Reina bersedekap di depan d**a dengan satu tangannya memijit pelipis. Kepalanya terasa berdenyut ketika harus beradu argumen dengan Keira.
"Terus, kamu maunya apa?"
"Aku mau langsung punya anak aja. Gak ribet mesti hidup sama orang yang kita sendiri gak yakin bakal hidup bahagia," ucap Reina datar sambil memijit kepalanya dengan kedua tangan yang bersandar di atar meja.
"Gila! Kamu mikirnya pakai otak gak, sih? Mana ada orang punya anak tanpa menikah?" ujar Keira dingin.
"Ada!" Reina menjawab dengan yakin. "Bayi tabung, Kei."
"Kamu udah gila, ya? Bayi tabung juga butuh s****a pria, Rein! Itu cuma bisa dilakukan oleh suami istri, bukan gadis tanpa suami seperti kamu!" sembur Keira. Kedua matanya melotot tajam.
"Aku akan mencari laki-laki yang bersedia mendonorkan spermanya untuk calon anakku. Terserah kalau kau gak mau membantuku. Tapi tolong, gantikan aku untuk menikah dengan Banyu." Reina menyatukan kedua tangannya, memohon pada Keira dengan tulus.
"Menikahi Banyu?" ulang Keira.
Reina mengangguk mengiyakan. "Kau mau, kan? Kau adalah anak tertua. Harusnya kau yang menikah, bukannya aku. Papa pilih kasih, dia cuma sayang padamu, Kei." Raut wajah Reina berubah sendu. Ia memalingkan wajahnya dengan cepat saat bulir jernih jatuh dari pelupuk matanya.
"Rein..." Keira mengusap pundak Reina dengan lembut.
"Papa itu lebih sayang sama kamu, bukan aku. Dia tidak pernah memaksamu untuk melakukan ini atau itu. Dia hanya mengatur sebuah pernikahan agar kamu tidak selalu merasa kesepian. Papa tahu, kamu terlalu bergantung padaku," ucapnya lirih. Keira menunduk, berusaha menyembunyikan wajah sendunya. Selama ini Keira tak pernah menangis di depan adiknya.
"Itu semua gak benar. Kapan aku bergantung padamu? Itu cuma alasan Papa buat ngusir aku dari rumah, supaya dia bebas membawa perempuan sial itu ke rumah!" pekik Reina.
"Perempuan sial? Siapa maksud kamu?"
"Udah deh, jangan pura-pura bego! Kita semua tahu kalau Papa selingkuh sama sekretaris sialannya itu! Itu sebabnya Papa jarang pulabg dan Mama marah-marah dan gak pernah pulang lagi. Semua itu karena salah Papa, Kei!" Gadis itu meluapkan kemarahan dan sakit hati yang selama ini dipendamnya.
"Apa pernikahan seperti itu yang mereka jadikan contoh untukku? Menikah gak akan menjamin aku bisa bahagia, Kei. Sama seperti Mama yang gak bahagia karena menikah dengan Papa," sambungnya. Keira diam tak berkutik. Semua yang Reina katakan adalah benar. Ia juga mengetahui semuanya sejak lama.
Tak ada pembelaan dari mulut Keira untuk Sanjaya Kesuma. Pria yang ia anggap sebagai orang tua kandungnya.
Keira menyeka air matanya, lalu mengusap pipinya hingga kering, serta membersihkan cairan yang menetes keluar di lubang hidungnya. Ia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya.
"Ya sudah, terserah kamu, kalau memang itu yang bisa membuatmu bahagia," ucap Keira akhirnya.
Senyum di wajah Reina kembali terbit. Buru-buru ia menyeka air matanya dengan tissu.
"Makasih ya, Kei. Aku sayang padamu, Kakakku yang paling baik." Reina melingkarkan tangannya di tubuh Keira, memeluk gadis itu erat.
"Aku juga sama padamu, Rein." Keira membalas pelukan adiknya.
"By the way, kau jadikan menikah dengan Banyu?" bisik Reina. Keira melerai pelukannya.
"Iya." Keira tersenyum. Ia memang telah menyukai laki-laki itu sejak kemunculan Banyu di hotel waktu itu.
"Pegang janjimu." Reina mengangkat kelingkingnya. Begitu juga dengan Keira yang langsung mengaitkan kelingking mereka.
"Tapi kamu yang harus bertanggung jawab jika Papa sampai memarahiku."
"Baik. Aku janji." Keduanya lantas tertawa bersama. Menertawai hidup mereka sendiri serta kesepakatan yang saling menguntungkan di antara mereka.
***
Bau sabun beraroma buah dipadu dengan aroma segar dari shampo, menguar di udara saat pintu kamar mandi terbuka. Reina keluar dengan jubah mandinya serta handuk kecil melilit kepalanya.
Gadis itu melangkah mendekati meja rias. Duduk disana sambil mengamati pantulan dirinya di depan cermin. Reina tersenyum bangga.
Handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya telah dilepas. Digantikan oleh panas yang berhembus keluar dari hair dryer. Reina menata rambutnya dengan model rambut bergelombang di bagian bawahnya.
Puas dengan hasilnya, gadis itu lanjut merias wajahnya dengan riasan natural. Reina hanya memakai pelembap wajah serta memoles flawless powder di wajahnya. Riasannya menjadi sempurna dengan perona pipi dan eyeshadow berwarna pink lembut. Untuk sentuhan akhir, Reina memoles lipstik berwarna nude serta menyemprotkan parfum di sekitar pergelangan tangan dan area leher. Perfect.
Tak ada riasan bold dengan eyeliner, maskara, serta bulu mata palsu. Juga lipstrik berwarna merah.
Reina berdiri, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Beberapa pakaian yang telah dipersiapkan Marta sebelumnya, membuat hati Reina bersorak senang. Tak ada yang mengatur bagaimana ia berpakaian. Atau mengharuskannya mengenakan jenis pakaian tertentu. Di hotel ini, Reina bebas memakai apapun yang ia suka.
Reina mengambil sebuah crop top blouse warna putih dengan tali serut di bagian bawah d**a. Dan untuk bawahannya, Reina sengaja memilih denim hotpant.
"Kamu mau kemana? Jam segini udah cantik," cecar Keira dari depan pintu kamar.
"Makan malam. Aku ingin makan malam di luar denganmu." Reina mengedipkan matanya seraya tersenyum.
"Dengan baju seperti itu? Apa kamu gak takut masuk angin?" Keira tercengang dengan cara adiknya berpakaian. Menurutnya, pakaian itu cukup terbuka.
"Masuk angin? Lalu gimana dengan penyejuk ruangan bersuhu dingin itu?" Tangannya menuding penyejuk ruangan yang bertengger di dinding bagian atas. "Itu jauh lebih dingin dari pada suhu udara malam ini."
"Tapi ini berbeda. Kamu hanya akan jadi santapan mata lelaki hidung belang di luar sana, Rein."
"Apa kau lupa? Aku datang bersama Pak Abdi. Dia pasti bisa mengurus mata orang-orang itu dengan baik." Reina tersenyum genit.
"Ayolah, aku sudah lapar." Reina mengusap perut tipisnya yang terlihat mulus tanpa cacat.
"Sebentar."
Keira segera berganti pakaian serta merapikan riasan di wajahnya. Ia menyambar tasnya dari atas nakas dan hanya mengenakan sandal flip-flop tanpa rasa malu.
"Ayo!" Keira menggandeng lengan adiknya, menyeretnya keluar dari kamar president suite.
"Dimana Pak Abdi?" tanya Keira. Ia mencari sosok lelaki tua yang selalu menemani kemana pun mereka pergi.
Reina mengedikkan bahunya.
"Apa kamu gak bilang kalau kita mau makan di luar malam ini?"
Reina menggeleng pelan. "Aku lupa."
Keira mencubit lengan adiknya kesal. "Bisa-bisanya gadis bodoh ini melupakan Pak Abdi," batin Keira.
"Sana! Kamu harus panggil Pak Abdi sekarang. Jangan sampai dia kelaparan malam ini karena kamu lupa mengajaknya makan malam."
"Apa kita harus mengajaknya juga? Dia bisa makan di bawah tanpa membayar." Reina mencebikkan bibirnya.
"Rein!" Keira melotot kesal. Gadis itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik.
"Iya, iya." Reina terpaksa kembali ke belakang sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Untuk apa mengajaknya? Dia bisa mengurus dirinya sendiri," sungut Reina kesal.
Tok, tok, tok...
Reina mengetuk pintu dengan kuat.
"Pak Abdi!" teriaknya. Namun yang dipanggil tak kunjung keluar dari kamar.
"Pak Abdi!" teriaknya lagi sambil terus mengetuk pintu lebih kuat dari sebelumnya.
Reina tak perduli bahkan jika ada tamu lain yang memarahinya karena mendengar suara teriakan lantangnya. Ia masih saja menggedor pintu dengan cara yang sama selama beberapa menit.
Karena tak juga menampakkan batang hidungnya, Reina putuskan untuk meninggalkan lelaki tua itu. Ia memilih untuk menyingkir dari depan pintu dan kembali mendapatkan Keira yang masih menunggunya di depan lift.
"Pak Abdinya dimana?"
"Gak tau. Udah deh, aku laper."
"Terus, kita perginya sama siapa?" keluh Keira. Merasa khawatir keluar tanpa pengawalan.
"Udah, tenang aja! Lagian ini masih jam delapan, belum terlalu malam juga," sahut Reina betalasan. Ia menarik tangan Keira untuk masuk ke dalam lift.
"Udah lama kita gak jalan-jalan berdua. Kita gak usah naik mobil. Di dekat sini ada cafe yang bagus banget, kita makan di sana aja," ajak Reina memberikan usul.
"Cafe? Tahu dari mana?"
"Nanya sama Mbah Getol!" sahutnya ketus. Reina melangkahkan kakinya ke luar meninggalkan Keira di dalam lift
"Rein!" teriak Keira dari arah belakang.
"Buruan!"