Bab. 45

1402 Words
"Perkenalkan, nama saya Steven." Pria itu memperkenalkan dirinya pada penumpang lain di mobilnya. Ia melirik Pak Abdi beberapa saat, lalu kembali fokus menatap jalanan. "Saya Abdi. Dan wanita yang bersama saya itu adalah putri bungsu majikan saya, Mas." Pak Abdi ikut memperkenalkan dirinya dan Reina secara tidak langsung. Pria itu terlihat manggut-manggut. Sesekali ia melirik Reina melalui kaca spion di dekat kepalanya, lalu tersenyum tipis. Reina sengaja mengacuhkannya. "Kalau boleh tau, kalian datang dari mana?" Pria itu mulai bertanya. Untuk beberapa saat, Reina merasa kesal karena pria itu tidak bisa fokus hanya menatap jalanan saja. Menurut Reina, pria itu termasuk jenis pria cerewet. "Kami dari Jakarta, Mas." Pak Abdi akhirnya menjawab rasa penasaran pria itu. "Ooh... datang ke Medan untuk liburan, ya?" tanyanya lagi. Reina pura-pura tidak mendengar. Gadis itu malah melempar pandangannya ke luar jendela. "Iya, Mas. Kebetulan, anak majikan saya yang tertua bekerja di kota ini," jelas Pak Abdi tanpa basa-basi. "Oh, ya? Wah... berarti kita bisa sering ketemu, dong." Pria itu tersenyum lebar. "Idih... siapa juga yang mau ketemu sama kamu. Di lihat dari sudut mana pun, kamu itu masuk golongan cowok playboy. Sok kenal banget, sih." Reina membatin gemas. Sekali lagi, pria bernama Steven itu melirik Reina dari spion tengah. Reina mencebik kesal. Pria berwajah oriental dan berkulit putih itu hanya balas tersenyum. "Kamu ngapain lihat aku kayak gitu?" celetuk Reina dari bangku belakang, membuat dua penumpang di depannya menoleh bersamaan. "Ada apa, Non?" tanya Pak Abdi bingung. "Gak apa-apa, Pak. Aku ngomong sama angin." Reina mengembuskan nafasnya kesal. Steven tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu cantik, tapi aneh. Aneh karena suka ngomong sendiri," celetuk Steven. Reina refleks melotot lebar. "Gak lucu!" sembur Reina. Pak Abdi hanya bisa mendengar sahut-sahutan tak jelas antara Steven dan anak majikannya tanpa bisa ikut berkomentar. "Saya gak lagi ngelawak, kok... makanya gak lucu," balas Steven sambil menahan suara tawanya. "Udah deh, mendingan kamu nyetir aja yang benar!" Steven diam, tak lagi membalas perkataan Reina. Tapi itu hanya untuk sesaat karena pria itu kembali menyambung perkataannya. "Ya udah, saya minta maaf. By the way, nama kamu siapa? Rasanya aneh karena kita ada di mobil yang sama tapi tidak saling kenal. Saya Steven, dan saya bekerja di rumah sakit swasta di kota ini." Pria itu kembali memperkenalkan dirinya. "Aku Reina," sahutnya ketus. "Reina. Kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" "Tidak keduanya." "Itu artinya kamu sudah lulus kuliah? Kenapa gak cari kerja aja?" "Emangnya kenapa?" balas Reina ketus. "Walau pun aku gak kerja, uang yang aku punya cukup untuk membeli apapun yang aku mau. Dan kamu gak perlu ngajarin aku!" Reina memasang wajah galak. "Dasar cowok menyebalkan," gumam Reina membatin. Hening. Suasana dalam mobil kembali senyap. Suara sahut menyahut dua anak muda itu telah berhenti. "Ngomong-ngomong, Mas Steven ini dokter, ya?" celetuk Pak Abdi memecah keheningan. Reina pura-pura tidak mendengar. "Benar, Pak." Steven kembali tersenyum. "Wah... hebat ya, masih muda sudah sukses jadi dokter," puji orangtua itu. "Kalau boleh tau, dokter apa?" lanjut Pak Abdi. Netra kehitaman miliknya menatap Steven penasaran. "Dokter spesialis kandungan, Pak." Steven menjawab dengan bangga, matanya kembali melirik Reina dari kaca spion. Pak Abdi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalian mau ke Santika Hotel, kan? Sebentar lagi kita sampai di sana," ujar Steven mengingatkan. "Tapi kenapa jalannya berbeda, ya? Kami belum pernah melalui jalan ini sebelumnya," ujar Pak Abdi saat melihat ke luar melalui jendela samping. Steven tertawa pelan. "Mungkin sebelumnya kalian lewat jalan protokol, sementara kita lewat jalan tol. Lebih cepat sebenarnya kalau lewat jalan tol seperti ini," kata Steven menjelaskan. Tak lama kemudian, Steven mulai melambatkan laju mobilnya hingga kemudian mobil mulai menepi dan berhenti tepat di depan gerbang Santika Kesuma Hotel. "Benar juga, padahal mobil ini tidak terlalu kencang." Pak Abdi berkomentar. "Terima kasih atas tumpangannya, Dokter Steven," ucap Pak Abdi tulus. Sementara Reina berdiri agak jauh di belakangnya dengan wajah datar. "Sama-sama, Pak." Steven tersenyum ramah pada orangtua itu. "Kalau begitu, saya jalan dulu." Steven melambaikan tangannya sebelum kaca jendela kembali tertutup. Mobil sedan itu kembali melaju menjauhi hotel Santika Kesuma, hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Reina berjalan masuk mendahui Pak Abdi yang terlihat sibuk dengan barang bawaan mereka. "Selamat siang, Bu." Petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk menyapa dengan ramah. "Siang," sahut Reina datar. Ia berjalan mendekati meja resepsionis. "Selamat siang, Bu Reina. Kapan sampai? Kenapa tidak memberi kabar? Kami bisa minta supir untuk menjemput," celoteh seorang gadis yang berdiri di balik meja. "Saya lupa menyimpan nomor telpon manager hotel ini. Kalian tolong rahasiakan kedatangan saya, bisa kan? Saya ingin memberi kejutan pada atasan kalian yang baru," ucap Reina memberi peringatan. "Oya, saya minta kartu masuk. Ada, kan? Sekalian panggilkan bellboy untuk membawakan semua barang saya di sana." Reina menunjuk dua buah koper dengan ujuran berbeda yang dibawa oleh Pak Abdi. "Baik, Bu." Gadis itu menyerahkan sebuah kartu masuk ke tangan Reina. Tak lama kemudian seorang pria berusia dua puluhan mendekati Pak Abdi dan mengambil alih barang-barang itu dan membawanya menggunakan troli. Reina dan orang tua itu langsung mengekor di belakangnya, berjalan memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai atas gedung itu. *** "Kapan kamu sampai?" teriak Keira. Ia terpaku di depan pintu kamar begitu mengetahui adiknya sedang tiduran di atas kasur. "Rein! Kapan kamu datang? Kenapa gak bilang-bilang, sih?" pekik Keira seraya menghambur ke atas kasur dan memeluk adiknya erat. "Kenapa? Kangen ya, sama aku?" ejek Reina seraya tertawa. "Iih... kamu. Bilang aja kalau kamu yang kangen sama ku!" balas Keira. Ia melepas pelukannya di tubuh Reina. "Aku tahu kok, kalau kamu sering tidur di kamarku beberapa hari belakangan ini." Keira tersenyum mengejek sang adik. "Gimana kabarmu?" tanya Reina. Ia menatap Keira penuh haru. "Aku baik-baik aja. Aku cuma merasa bosan karena tinggal sendirian di sini." Keira memasang wajah cemberut. "Aku pun sama. Aku juga cuma sendirian di rumah," ucap Reina tak mau kalah. "Tapi di sana masih ada Bu Marta, juga ada yang lainnya buat temani kamu di rumah," tandas Keira. "Apaan? Mereka semua sibuk sama kerjaannya. Kau juga di sini gak sendirian, masih ada Pak Robert, Alex, juga karyawan hotel yang bisa kau ajak bicara kalau kau kesepian," ucap Reina tak mau kalah. "Intinya, kau kejam banget karena udah maksa aku pulang saat itu." Reina mencebik, wajahnya langsung cemberut. "Aku tahu. Maaf, ya..." sesal Keira, kedua matanya langsung berkaca-kaca. Ia menyentak nafasnya kuat. Dengan jarinya, Keira menyeka sudut matanya yang telah penuh dengan genangan air mata yang berusaha ia tahan sejak tadi. Rasa sesal yang dirasakannya itu adalah sungguhan. Keira mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Aku dengar kamu akan segera menikah. Apa itu benar?" lontar Keira tanpa bisa menahannya lagi. Gadis itu memandang wajah adiknya lekat-lekat. Reina mengangguk pelan. "Hmm." "Dan mereka ingin menikahkanmu disaat aku sedang tidak ada di rumah?" lanjutnya lagi. Reina menangguk lagi. Hatinya terasa sakit. "Papa yang mengaturnya. Dan dia lakukan itu ketika aku ikut bersamamu waktu itu." "Benarkah? Apa dia marah karena kamu ikut denganku?" Keira menerka-nerka. Reina mengedikkan bahunya. Ia sama bingungnya dengan Keira. "Aku gak mau nikah, Kei!" seru Reina. "Apa? Maksudmu gimana?" Dahi Keira tampak berkerut. "Iya, Kei. Udah aku putuskan untuk tidak menikah. Kakek juga keberatan dengan rencana Papa, karena Papa dan Mama gak pernah melibatkan Kakek dalam rencana perjodohan itu," jelas Reina. "Kalau Papa marah, gimana?" Reina menghembuskan nafasnya panjang. "Aku udah sepakat sama Kakek untuk membatalkan perjodohan itu. Coba kau pikir, emangnya kau mau dinikahkan sama cowok yang gak dikenal apalagi gak kita suka? Sementara yang menjalani pernikahan itu adalah kita?" Keira menggelengkan kepala. "Terus gimana caranya? Apa kamu udah pernah bertemu dengan laki-laki itu?" tanya Keira. "Aku sudah bertemu dengannya. Dia gak keberatan kalau perjodohan itu dibatalkan." "Terus?" "Masalahnya, orang tuanya gak mau membatalkan rencana itu." "Jadi, gimana dong?" Reina memandang wajah Keira dengan raut wajah serius, membuat Keira mengerutkan alisnya. "Kenapa diam?" cecar Keira melihat Reina tak juga memberikan respon. "Apa kau bisa menolongku?" celetuk Reina. "Semuanya tergantung sama mu." "Aku mesti tolong apa?" "Gantikan aku menikah dengannya!" Reina memberikan saran. "What? Are you kidding me? Why me?" Keira tampak terkejut. "Please, Kei..." mohon Reina. "Tapi, Rein --" "Ayo, dong. Cuma kamu yang bisa bantu aku, Kei." "Aku takut Papa akan marah sama kita," ujar Keira beralasan. "Kamu pikir-pikir duku, deh. Aku yakin, kamu pasti bakal suka sama cowok itu, Kei." Reina berusaha membujuk kakaknya. "Lagian, aku akan tinggal di sini selama seminggu. Kasih keputusan kamu sebelum aku pulang nanti. Oke!" Reina mengerjapkan matanya berulang kali, memohon Keira agar mau menyetujui permintaannya. "Please..." Reina menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD