Bab. 13

1693 Words
Detik demi detik berlalu, berganti menit yang perlahan namun pasti akan segera berubah menjadi jam. Namun suasana sore itu masih tidak ada yang berubah. Reina menghela nafasnya pelan, merasa akan segera mati karena merasa bosan selalu berada dalam kamar. Rencana untuk keluar dari hotel gagal sudah. Alhasil, ia hanya berkeliling menikmati fasilitas yang tersedia di tempat itu. Terlebih Pak Abdi yang selalu mengawasinya dari jauh, bekerja sama dengan pihak staf hotel dan pihak keamanan hotel. Sudah pasti, ada campur tangan Keira disana. "Nenek sihir itu tak pernah mau membiarku senang!" tuduh Reina. Ia mendengus kesal. Menghentakkan kakinya ke lantai saat berjalan mondar - mandir di dalam kamar. Reina melirik jarum jam yang hampir bergeser ke angka lima. Itu artinya, sudah empat jam dia berada di kamar setelah makan siang tadi. "Dua hari berada di hotel ini, tapi gak bisa ngapa-ngapain. Dia selalu saja mengatur. Aku ini bukan anak kecil lagi." Reina menggelengkan kepalanya berulang kali, sementara mulutnya terus saja mengoceh tak jelas. "Ini malam minggu, tapi aku kayak orang bego di kamar terus," katanya lirih seraya menggigiti ujung kukunya. Rasanya ingin teriak dengan kencang. "Lebih baik jika aku tinggal di Jakarta. Aku bebas mau kemana aja, mau ngapain aja," ucapnya penuh sesal. "Ngapain sih, Keira mau aja dikirim sama Kakek ke sini? Gak ada yang menarik di kota ini!" Reina uring-uringan. "Siapa bilang disini gak ada yang menarik?" Sebuah suara mengejutkan Reina. Spontan membuat gadis itu menolehkan wajahnya ke sumber suara. Air mukanya sedikit pun tak menunjukkan perubahan. "Kapan kau balik?" tanya Reina ketus kala Keira mendekatinya dan duduk di tepi ranjang. "Baru aja." Keira menjatuhkan tubuhnya, menikmati empuknya ranjang yang sedang ditiduri olehnya. Meluruskan tulang punggung yang terasa hampir lepas dari tempatnya, setelah duduk tegak memandangi tumpukan dokumen selama seharian. "Kenapa aku gak dengar kamu masuk?" Reina melempar lirikan tajam ke arahnya. Keira mendesah pelan. "Itu karena kamu terlalu sibuk sama diri sendiri, sambil ngoceh gak jelas kayak gitu," sahutnya tenang. "Itu karena aku bosan seharian di kamar terus!" "Aku tidak menyuruhmu berada di kamar terus!" Keira membela dirinya. "Tapi kau melarangku untuk pergi kemana pun!" sahut Reina tak mau kalah. "Itu karena kamu membuat ulah yang bisa membuat Kakek malu!" Suara Keira mulai meninggi. Ia menghela nafasnya kasar. "Aku hanya menikmati fasilitas di hotel ini. Apa aku salah?" Suara Reina ikut meninggi. "Salah kalau caramu menikmatinya membuatku malu. Seorang Reina Kesuma mabuk di klub sambil menari-nari gak jelas di depan sekumpulan pria lapar!" Keira bangkit dari tidurnya. "Untung saja Pak Abdi cepat menemukannu, jika tidak? Aku bahkan tidak ingin membayangkannya." Keira meninggalkan Reina. Menghilang di balik pintu kamar mandi. Reina memang tidak begitu mengingat seluruh kejadian yang terjadi di klub malam itu kemarin. Yang dia ingat adalah, seorang pria tampan yang merupakan tamu hotel itu, mengajaknya untuk duduk di klub setelah makan malam. Mereka tanpa sengaja bertemu di pintu ketika Reina melangkah keluar dari restoran. Keduanya lantas berkenalan, dan berjanji untuk bertemu dengannya lagi di klub malam itu. Tentu saja setelah ia memastikan bahwa Keira telah tidur nyenyak. Jika tidak, kakak galaknya itu tidak akan mengijinkannya untuk pergi. Ya, Reina berhasil keluar dari kamar sambil berjalan berjingkat agar Keira jangan sampai terbangun. Dan Reina akhirnya berhasil menemukan klub itu setelah bertanya pada salah seorang staf hotel yang ia temui. "Padahal aku hanya minum sedikit, mana mungkin aku sampai semabuk itu?" gumam Reina. Ia memutar bola matanya, mencari ingatan lebih banyak dengan memutar memori di otaknya. "Aku yakin sekali, aku hanya minum segelas wine malam itu. Dan itu tidak mungkin sampai membuatku mabuk. Aku biasa meminumnya di klub langgananku," teriak Reina dari depan pintu kamar mandi. Ia yakin Keira dapat mendengarnya. Benar saja, Keira membuka pintu dan melotot padanya. Tubuhnya hanya dililit handuk putih. "Lalu kenapa kamu bisa mabuk? Mana ada orang mabuk ingat berapa banyak yang dia minum. Kalau dia ingat, itu artinya dia tidak mabuk, Rein." "Sungguh, Kei. Aku tidak bohong padamu. Aku memesan minuman yang sama seperti yang biasa aku pesan di klub milik temanku. Seingatku, aku bahkan baru menghabiskan setengah gelas saat kepalaku mulai pusing." Reina merendahkan suaranya, menekan egonya agar Keira mau percaya padanya. Keira diam untuk sesaat, memandangi wajah adiknya dengan seksama. Raut wajah itu memang dikenalinya. Reina tidak berbohong. "Nanti kita bicara lagi. Aku mau mandi dulu, seluruh badanku terasa lengket." Keira kembali masuk dan menutup pintu dari dalam. Meninggalkan Reina yang mendesah lemah di depan pintu. Reina melangkah gontai. Merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang ukurannya bahkan lebih besar dari kasur ukuran jumbo. Sepertinya kasur itu memang sengaja ditempah khusus untuk keluarga mereka ketika datang berkunjung ke hotel itu. Matanya hampir memejam karena terlalu lelah berpikir, ketika Keira mengejutkannya. Gadis itu menepuk pipinya, membuat Reina terpaksa membuka mata karena terkejut. "Ya ampun, Kei. Kau membuatku kaget." Reina mengusap kuat dadanya yang berdenyut kuat. "Mandi sana! Jangan jadi cewek jorok." Keira berkata sembari berjalan mendekati lemari pakaian. Tangannya mulai memilih pakaian yang akan ia gunakan. "Buruan! Kita akan makan di luar malam ini." Keira mengeling. "Benarkah? Kau lagi gak bohong kan, Kei?" "Bohong? Untuk apa?" sahutnya tanpa menoleh. "Entahlah! Karena kau kadang sulit untuk diajak keluar. Saat kita masih di Jakarta pun, kau selalu seperti itu." "Sudahlah. Buruan mandi sebelum aku berubah pikiran!" ancam Keira. Tak ingin kehilangan kesempatan, Reina buru-buru bangkit kemudian berlari menuju kamar mandi. Tak ada waktu untuk merendam tubuhnya di bathup. Reina mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir jatuh dari shower. Menyeka seluruh tubuhnya dengan sabun cair kesukaannya. Aromanya begitu wangi, membaui seluruh ruangan kamar mandi. Lalu mulai memoles sampo beraroma buah segar di rambut indahnya tanpa terlewat. Semua dilakukan dengan cepat. Sementara itu, Keira telah bersiap. Mengenakan skinny jeans berwarna biru dengan atasan berpotongan d**a rendah dengan tinggi baju yang berada sedikit di bawah d**a, berwarna putih polos. Seakan ingin memamerkan perutnya yang rata dan putih mulus. Rambutnya sengaja ia gerai bebas. Malam ini, Keira terlihat polos tanpa riasan. Hanya polesan bedak tabur dan juga lipbalm warna nude kesukaannya. Reina baru saja keluar dari kamar mandi ketika Keira merapikan rambutnya. Tak lagi menyapa, Reina fokus mencari pakaian yang akan ia kenakan. Outfit yang cocok buat jalan-jalan santai saat malam hari, meskipun ia tidak tahu kemana Keira akan mengajaknya. Tangannya menarik keluar off-shoulder jumpsuit dari gantungan. Memakainya dengan cepat tanpa hambatan berarti. Lalu kembali berlari ke meja rias. Sama seperti Keira, Reina hanya memoles wajahnya dengan bedak tipis dan juga lipbalm warna pink beraroma strawberry. Ini bukan perjalanan kerja, tak butuh riasan tebal saat mereka hanya keluar untuk makan malam. Tanpa semua riasan berlebihan itupun, wajah kedua kakak dan adik itu masih terlihat cantik. Rambut bergelombang miliknya pun hanya digerai seperti sang kakak, setelah dikeringkan seadanya dengan handuk. "Gimana, udah selesai belum?" Keira muncul di ambang pintu, yang menjadi pemisah antara kamar tidur dan living room. Ia lantas mendapatkan siulan nakal dari sang adik. "Cantik banget. Kenapa baru sekarang kau memakainya?" ujar Reina, matanya mempelototi outfit yang dikenakan Keira malam ini. "Aku belum terbiasa. Kamu tahu, kan? Aku jauh dari image nakal sejak dulu. Aku berani memakainya karena jauh dari rumah." "Kau harus lebih sering memakainya. Gayamu itu terlalu tua untuk gadis seumuran kita. Kau itu bukan ibu-ibu pejabat atau tante-tante kaya yang doyan arisan, yang harus memakai stelan sepanjang hari. Jadilah dirimu sendiri, Keira. Kita berdua ini masih muda." "Ku pikir, kau bakal cepat dapat pacar kalau dandan seperti ini sejak dulu." Reina tersenyum seraya menggamit lengan kakaknya itu untuk menggodanya. "Jangan bicara seperti itu. Cepatlah! Kamu ingin jalan-jalan, kan?" Keira buru-buru menjauh agar Reina tak sampai melihat wajahnya yang merona merah karena malu. Atau gadis itu akan terus mengejeknya. Ia keluar lebih dulu untuk menemui Pak Abdi yang sudah menunggu di depan kamarnya. "Kita akan bertemu di lobi hotel. Tolong pesan mobil pada staf resepsionis. Minta mereka menyediakan supir untuk mengantar kita berkeliling kota ini." "Baik, Nona." Pak Abdi menundukkan kepala kemudian berlalu cepat dari sana. Langkah besarnya membuat lelaki tua itu menghilang dengan cepat. "Apa yang kau lihat?" ujar Reina saat keluar dari kamar hotel. Matanya ikut melihat ke arah lorong hotel, persis seperti yang Keira lakukan. "Pak Abdi," sahutnya datar. "Mana? Gak ada orang disana, Kei." "Dia baru saja pergi," sahut Keira cepat tak ingin berdebat panjang. "Apa kamu sudah selesai?" Reina mengangguk. "Hmm.." "Ayo pergi! Mereka menunggu kita di bawah." Dengan cepat Keira meraih lengan adiknya dan menariknya pergi sebelum gadis itu mulai membuka mulutnya dan berkomentar lagi. "Pelan-pelan, Kei. Aku bisa jatuh terpeleset!" gerutu Reina kesal. "Siapa yang suruh kamu memakai stilleto saat jalan-jalan malam seperti ini? Kita bukan ingin pergi ke mall, Rein." "Kau tidak mengatakan apapun padaku." "Aku sudah ingatkan kamu kalau kita akan jalan-jalan. Kamu tahu jalan seperti apa yang akan kita pijak? Sepatu hak tinggi milikmu akan patah kalau memijak jalan berbatu," ejek Keira dengan seringai miring di wajahnya, membuat sang adik semakin kesal. "Kalau begitu, biarkan aku kembali ke kamar untuk mengganti sepatuku dulu." "Tidak perlu! Kamu hanya akan buang-buang waktu saja. Ayolah, Rein. Atau mereka akan pergi meninggalkan kita." Keira berusaha membuat adiknya merasa serba salah. Reina hanya bisa merengut pasrah karena ulah sang kakak. "Mobilnya sudah siap, Nona." Pak Abdi memberi laporan saat mereka bertemu di lobi hotel. Ia melangkah pergi, keluar dari hotel terlebih dulu. Keira dan Reina membututinya dari belakang. Ia berdiri di samping sebuah minibus warna hitam sambil membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk kedua nonanya. Sementara ia sendiri duduk di samping sang supir. "Tolong antar kami berkeliling kota ini, Pak." Keira mulai bersuara saat mobil itu mulai melaju meninggalkan pelataran hotel. "Keliling kemana, Bu?" tanya sang supir bingung. "Mana kami tahu! Kan kamu yang tinggal disini, bukan kami." Reina memekik marah dari kursi belakang. Suasana hatinya sedang buruk saat ini karena ulah kakaknya. "Rein!" hardik Keira pelan. Reina membalasnya dengan cebikan mulut. "Bapak biasa memandu tamu hotel, kan? Tolong antar kami ke spot wisata kuliner di kota ini. Pasti ada banyak tempat yang biasa dikunjungi oleh tamu hotel." Keira berusaha bersikap sopan. Karena memang seperti itulah dia. "Baik, Bu." Si Bapak langsung mengarahkan mobilnya ke jalanan, menambah kecepatan untuk segera sampai ke tempat tujuan. Pria itu tak berhenti bicara saar mereka melewati tempat-tempat bersejarah di kota Medan. Menjelaskan satu persatu spot kuliner di kota itu, agar penumpangnya bisa memilih kemana mereka ingin pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD