Bab. 12

1600 Words
Reina menggeliat pelan di balik selimut yang membungkus hangat tubuhnya. Sinar matahari menyilaukan pandangannya ketika Reina mencoba membuka matanya pagi ini. Suasana kamar yang begitu hening, tanpa suara gedoran pintu, tanpa gangguan maid tua yang bolak-balik membangunkannya, dan tanpa riuh suara Keira yang selalu terdengar begitu berisik setiap pagi. Keira! Reina meraih kesadarannya penuh kala tanpa sengaja otaknya mengingatkannya akan kehiasaan pagi yang selalu ia terima ketika berada di rumahnya sendiri. Ia melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar hotel yang sejak kemarin mereka tempati. Tak ada siapa pun di dalam sana. Bahkan tak ada suara berisik milik Keira atau bahkan suara percikan air dari kamar mandi. Tidak ada! "Dimana Keira?" batin Reina. Tangan kanannya merabai nakas untuk mencari ponselnya. "Astaga! Dimana aku menaruhnya tadi malam?" Suara gerutuan Reina melengkapi paginya. Ia terpaksa bangkit dan berjalan tak tentu arah, menyisir setiap tempat demi mendapatkan benda itu lagi. "Ponsel itu tak punya kaki, jadi gak mungkin hilang gitu aja. Kecuali ada orang yang memindahkannya, atau... ya, sengaja mengambilnya!" gerutunya lagi. "Siapa yang masuk ke kamar ini? Apa petugas pembersih kamar masuk kesini tadi? Apa mereka yang mengambil ponselku? Siapa pun tahu jika itu adalah ponsel keluaran terbaru, dan harganya sangat mahal!" tuduhnya asal karena panik, sambil memutar bola matanya coba mengingat-ingat kembali. Tapi tak berhasil mengingat apapun yang terjadi. "Bagaimana ini? Jika tidak ada ponsel itu, bagaimana caraku menghubungi Keira dan juga Pak Abdi? Bagaimana jika pencuri itu berhasil membobol pinnya? Uangku! Ya, orang itu pasti akan menguras semua uang di rekeningku." Mata Reina melotot besar. Ia panik saat menyadari ponsel itu berisi akun rekening pribadinya dan juga banyak nomor penting yang tersimpan disana. Reina menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ia merasa seluruh sendi di tubuhnya seakan kehilangan kekuatannya. Berulang kali Reina menyentak nafasnya frustasi. Rasanya ingin menangis dan teriak kencang sambil guling-guling di lantai, melepaskan seluruh rasa sesak dan sesal yang terasa menghimpit dadanya. Hingga beberapa menit berikutnya, Reina sadar akan sesuatu lalu menepuk jidatnya kuat. "Ya ampun, aku lupa! Ponselku diambil oleh Keira tadi malam. Sial! Dia pasti lupa mengembalikannya sebelum pergi tadi." Reina mengacak-acak rambutnya kesal. Gerutuan serta umpatan kesal keluar dari mulutnya dengan mulus, semulus jalan tol. "Dasar nenek sihir! Aku ini bukan anak kecil lagi. Dia tidak bisa memperlakukan aku seperti itu." Gegas ia melangkahkan kaki jenjang nan mulus miliknya menuju kamar mandi. Menanggalkan kimono tidurnya dan masuk ke dalam bathup berisi air hangat dan juga buih sabun yang begitu wangi membaui indra penciumannya. Reina muncul dari balik pintu kamar mandi setelah setengah jam merendam tubuhnya. Berjalan mondar - mandir hanya dengan sebuah handuk putih yang membelit tubuhnya hingga sebatas paha. Hiingga satu jam kemudian, nona cantik itu membuka knop pintu dan keluar dari kamarnya dengan dandanan cetar miliknya. Halter dress setinggi lutut warna navi membalut tubuh langsingnya dengan sempurna, memperlihatkan kaki jenjang mulus miliknya dengan terang-terangan. Wajahnya dipoles dengan riasan natural dan lipbalm wana pink cerah. Sementara kakinya hanya mengenakan strappy sandal. Reina melangkah pelan ketika melewati kamar yang ditempati oleh Pak Abdi. Ia sedang tidak ingin dibuntuti oleh pria tua itu saat dirinya ingin bersenang - senang, menghabiskan waktu hingga siang hari. Rasanya itu cukup untuk membalas ulah Keira padanya. Gadis itu pasti akan kebingungan saat mencari adiknya yang kini sudah tak berada di dalam kamar. "Siapa suruh kau mengambil ponselku. Sekarang kalian pasti bingung harus mencariku kemana," desis Reina dengan senyum miringnya. Rasanya menyenangkan ketika Reina bisa membalas kakaknya itu. Gadis itu melenggang dengan santai ketika pintu lift terbuka di lantai dasar. Merasa bersyukur, setidaknya karyawan di hotel itu mengenalinya, sehingga tak sulit baginya saat minta disediakan mobil karena Reina ingin jalan-jalan berkeliling kota. Rasanya, itu saja sudah akan membuat Keira kewalahan saat mencarinya nanti. "Dimana mobil yang saya minta tadi? Apa kalian sudah menyiapkannya?" Reina muncul di meja resepsionis hotel. Mengejutkan para staf yang sedang duduk santai sambil bergosip ria tentangnya dan Keira. "Dengar ya! Saya tidak ingin ada yang bergosip di belakang dan mengatakan hal bodoh tentang saya atau kakak saya." Reina berkata tegas seakan memberi peringatan pada cewek-cewek penggosip yang bekerja di hotelnya. "Jika ada yang ingin kalian ketahui, silahkan tanya langsung pada saya." Ketiga wanita yang duduk di balik meja resepsionis menunduk malu. Tak menyangka bila Reina akan muncul di tempat itu. "Apa kalian tahu dimana kakak saya sekarang? Bisa tolong antar saya untuk menemuinya?" Pertanyaan yang Reina ucapkan seketika membuat ketiga gadis itu pucat. Mereka saling melempar pandang, takut bila sampai Reina mengadu pada atasan mereka. "Hei! Apa kalian dengar yang saya katakan tadi?" Suara bentakan Reina membuat mereka gugup. "Se-sebentar, sa-saya akan tanyakan dulu." Seorang gadis bernama Velia sesuai nameteg miliknya, akhirnya bersuara dengan takut-takut. Mungkin saja saat ini jantungnya sedang berdenyut kencang. "Halo, Pak. Apa Ibu Keira ada di atas?" tanya gadis itu dengan suara bergetar pada seseorang di ujung telpon. "Baik, Pak. Terima kasih." Ia menaruh gagang telpon itu kembali pada tempat semula. Lalu mendongakkan wajahnya, menatap Reina dengan takut. "I-ibu Keira ada di ruangan Pak Robert," katanya. Reina menyentak nafasnya kesal. "Tolong antar saya kesana," ucap pelan. Ia harus menekan emosinya sebelum bertemu Keira. Karena saat itu terjadi, Keira pasti akan beradu mulut dengannya lagi. Kakaknya itu pasti akan mengira kalau dia berbuat ulah lagi. "Silahkan lewat sini," kata Velia. Ia mengulur tangannya ke depan, menunjukkan jalan bagi Reina yang membuntuti langkahnya dari belakang. Reina mengumpat berulang kali di dalam hatinya. Rencananya untuk bersenang-senang hari ini harus gagal hanya karena ulah pegawai kecil seperti Velia dan kedua temannya itu. Ia menghela nafasnya panjang kala harus menunggu lift itu kembali terbuka untuk mereka. "Saya minta maaf, Bu Reina." Tiba-tiba Velia bersuara. Membuat Reina memalingkan wajahnya ke samping, menatap Velia dengan kening berkerut. "Kenapa?" pancing Reina. "Karena membicarakan anak pemilik hotel ini," jawabnya dengan tertunduk. "Emangnya apa yang kalian bicarakan? Kalau kalian ingin tahu sesuatu, lebih baik tanyakan langsung. Jangan malah bergosip murah seperti itu." "Kami tidak berani, takut ditegur atasan." Jawaban itu memancing tawa Reina, meski terdengar sumbang. "Kalian takut bertanya, tapi tidak takut bergosip seperti tadi?" Kalian itu dikasih makan apa, sih?" ucap Reina. "Maaf, Bu Reina." Wajah Velia berubah merah karena menahan malu. Ia terus menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya. Untung saja lift segera terbuka, sehingga ia tidak perlu menjadi sasaran tatapan para tamu dan pegawai yang lain. "Dengar ya, Mbak Velia..." Reina menggantung kalimatnya. Ia menatap gadis di sampingnya dengan seksama. Entah apa yang sedang Reina pikirkan saat ini, tapi itu adalah sesuatu yang jelas akan menguntungkan dirinya ataupun Keira. "Mbak Velia gak perlu takut sama saya ataupun kakak saya. Kedatangan kami kesini untuk bekerja dan bukan untuk mencari-cari kesalahan kalian. Jadi, simpan saja gosip murahan itu di dalam perut kalian sendiri, gak perlu kalian sebarluaskan seperti mak lambe dower. Ngerti, kan?" ucap Reina pelan sambil tersenyum manis. Velia mengangguk paham. "Mbak Velia masih mau 'kan bekerja disini?" Reina menaikkan satu alisnya seraya menyunggingkan senyum kemenangan. Velia mengangguk cepat. "Iya, Bu." "Saya bisa percaya sama kamu, gak?" Reina mulai melancarkan aksinya perlahan. Velia menatapnya dengan seksama. Berusaha menebak ujung dari percakapan mereka saat ini. Hingga akhirnya ia menjawab yakin, "Bisa, Bu Reina." Seketika Reina melebarkan senyumnya. "Mudah sekali," pikir Reina. Langkah kedua gadis itu mulai mendekat ke kantor sang manajer hotel. Menyusuri lorong hingga ke ujung. Melewati deretan ruangan kantor para staf dan petinggi hotel itu. Reina berjalan perlahan, memperhatikan dengan seksama papan nama yang tergantung di masing-masing pintu. Hingga deret terakhir, kedua netranya fokus pada tulisan Manager Umum, yang tergantung di bagian atas pintu ruangan itu. "Disini?" tanya Reina, telunjuknya menuding pintu berpelitur hitam. "Iya, Bu." Velia menyahut pelan. "Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana!" titahnya sebelum melangkah masuk. "Baik, Bu." Velia mengangguk. Suara ketukan pintu mengantarkan langkah Reina masuk ke dalam ruangan Pak Robert. Dengan raut wajah tenang dan senyum yang dibuat semanis mungkin, Reina perlahan mendekati meja kerja Pak Robert. Disana jelas ada Keira yang sedang memeriksa beberapa laporan yang menumpuk di depan mereka. Sementara Pak Abdi tidak terlihat dimana pun. "Selamat pagi, semuanya." Reina menyapa dengan lembut. Keira menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Keira tanpa basa-basi. Ia berdiri mendekat. "Ponselku. Kau membawa ponselku, kau ingat?" Reina melebarkan matanya. "Aku cuma ingin mengambil ponselku di tasmu." Keira menghela nafasnya. Raut wajahnya yang kesal tidak dapat ia sembunyikan. Niatnya menghukum Reina justru membuatnya tertanggu ketika bekerja. Buru-buru Keira menyodorkan ponsel itu ke tangan adiknya yang tersenyum penuh kemenangan. "Ambil ini dan cepat pergi! Jangan buat ulah lagi. Kau dengar?" katanya memberi peringatan. Telunjuknya teracung tepat di depan wajah Reina. "Tenang aja! Pak Abdi akan mengawasiku, kau ingat?" jawabnya setengah berbisik. Tak ingin membuat lelaki di ruangan itu berspekulasi tentang keributan antara kakak dan adik itu. "Pergilah! Temui aku saat makan siang." Reina mengacungkan jempol kanannya sebagai jawaban. Ia buru-buru keluar, menarik Velia menjauh dari tempat itu sambil tertawa kecil hingga mereka kembali ke dalam lift. "Oya, apa kalian lihat laki-laki tua yang datang bersama kami kemarin?" tanya Reina saat ingat Pak Abdi tidak ada di ruangan itu bersama Keira. "Sepertinya beliau ada di restoran untuk sarapan," sahut Velia. "Apa kamu bisa menemani saya kesana?" "Bisa, Bu." Kegugupan Velia memudar perlahan. "Jangan panggil saya seperti itu! Saya ini masih muda, mungkin lebih muda dari kamu." "I-Iya, Mbak." Velia menjawab ragu. Aneh rasanya memanggil atasan tanpa embel-embel 'Ibu' di depan namanya. "Mbak Velia kerja sampai jam berapa hari ini?" "Jam empat sore, Mbak." "Sudah sarapan?" "Sudah, Mbak." Reina memutar bola matanya, seakan tengah memikirkan sesuatu. Kemudian mengulum senyumnya. Entah ide apa yang terlintas di benaknya. "Lain waktu, saya mau minta tolong lagi sama kamu. Bisa, kan?" pancing Reina seraya melirik Velia dengan ujung matanya. "Mm... bisa, Mbak," jawab Velia ragu. Terlebih saat melihat seringai di wajah Reina yang membuatnya menyesal telah menjawab pertanyaan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD