Sanjaya hampir tertidur nyenyak kala satu panggilan masuk mengejutkannya. Tangannya merabai sisi ranjang di sebelahnya, mencari benda pipih yang dilempar sembarangan saat ia masuk ke kamar itu. Sementara kedua matanya setengah membuka saat menekan tombol hijau dan tidak melihat dengan jelas nama si penelpon.
Dengan malas ia menjawab, "Halo?"
Namun, suara di ujung sana berhasil mengejutkannya dan seketika Sanjaya tersadar penuh lalu membuka matanya.
"Kamu dimana?" kata orang itu.
"Kamu..." Sanjaya tak melanjutkan kalimatnya. Ia bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.
"Iya, ini aku. Bagaimana kabarmu?" katanya berbasa-basi.
"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba muncul seperti ini? Siapa yang memberitahumu nomor ponselku?" Sanjaya memberondongnya dengan pertanyaan. Nada suaranya terdengar sengit.
"Kenapa kamu jadi panik begitu? Santai saja, aku tidak bermaksud mengganggumu dan juga keluargamu." Orang itu menjawab dengan suara tawa yang terdengar sedikit dipaksakan.
"Lalu? Untuk apa menelponku?" Sanjaya mengatur nafasnya. Wajahnya terlihat memerah menahan marah.
"Aku hanya ingin mengetahui kabar tentang Keira. Apakah dia baik-baik saja?"
"Tidak usah pura-pura! Untuk apa kamu menanyakannya?" Sanjaya mengeraskan rahangnya.
"Aku merindukannya."
"Pembohong! Kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal itu? Kemana saja kamu selama dua puluh tahun? Kamu itu ibu paling munafik yang pernah ku kenal!" bentaknya murka.
"Aku menyesal," sura itu tiba-tiba berubah mengiba.
"Jangan berpura-pura padaku! Jangan pernah berpikir untuk mendekati Keira, karena dia adalah putriku!" hardiknya keras.
"Tapi aku adalah ibunya."
"Tidak! Kau hanya wanita yang dititipkan anak oleh Tuhan untuk kau lahirkan. Keira adalah putriku dan Ayu. Harusnya kau bersyukur karena aku masih menganggapmu sebagai istri dari sahabat baikku."
Satu kalimat terakhir yang mampu meledakkan emosi wanita di ujung sana, hingga menangis meratap. Sanjaya memutus sambungan telpon itu dan memblokir nomornya segera setelah panggilan itu berakhir.
Sebuah rahasian yang selama ini berusaha ditutupi olehnya dan keluarga besarnya. Sebuah rahasia tentang kelahiran Keira dan siapa orangtua kandungnya.
Ya, Keira Kesuma ternyata adalah anak angkat Sanjaya dan Ayuningtias.
Suami istri itu mengadopsi Keira kecil saat masih berusia dua tahun. Ketika itu, Sanjaya mendapatkan kabar bahwa sahabatnya itu sedang sakit keras, sementara sang istri tak diketahui keberadaannya. Dan putri kecil mereka diserahkan kepada Sanjaya untuk diasuh, sebelum sahabatnya itu menghembuskan nafasnya di rumah sakit.
Tak ada yang tahu kemana ibu kandung Keira pergi. Sementata gadis kecil itu masih membutuhkan kasih sayang dan juga perawatan. Hingga akhirnya, Sanjaya dan Ayu yang saat itu memiliki seorang bayi berusia satu tahun, merasa iba dan memutuskan untuk mengadopsi Keira secara hukum. Dan menyembunyikan identitas asli Keira hingga ia dewasa.
Mereka sangat menyayangi gadis kecil itu seperti putri mereka sendiri. Bahkan Keira tumbuh menjadi kakak yang begitu baik bagi Reina, putri kandung mereka. Kedua gadis kecil, Keira dan Reina, tumbuh besar bersama.
Sanjaya berulang kali mengumpat kesal dalam hatinya. Perempuan yang selama ini tak diketahui keberadaannya, tiba-tiba saja menelponnya dan tanpa beban bertanya tentang putrinya.
Dengan wajah berang, Sanjaya turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Pria itu membersihkan tubuhnya dan segera berpakaian lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan dalam langkah besar ketika lift tiba di lantai bawah.
"Bu Marta!" panggilnya kuat, hingga meninggalkan gema di ruangan itu. Wanita tua itu lari tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Ya, Tuan." Bu Marta menunduk takut.
"Dimana supir yang dikirimkan oleh Papa? Apa dia sudah sampai disini?" tanyanya tak sabar. Nada suaranya sedikit membentak, membuat siapa pun yang mendengar suaranya gemetar ketakutan.
"Maaf, Tuan. Supir baru itu belum sampai," sahut Marta tanpa melihat. Kepalanya terus saja menunduk takut, menatapi lantai granit di bawah kakinya.
"Sial!" Sanjaya meninju udara.
"Telpon dia! Tanyakan dimana orang itu sekarang!" katanya kemudian berlalu pergi.
"Baik, Tuan." Marta masih tetap menunduk hingga tuannya menghilang dari ruangan itu. Barulah ia berani untuk bergerak.
Sanjaya berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Ia memandang jauh le depan, ke arah pintu gerbang yang masih belum bergerak meski sudah ditunggu selama lima belas menit.
Tak sabar, Sanjaya segera mengambil kunci mobilnya. Ia memilih untuk menyetir sendiri. Hanya ada satu tempat yang menjadi tujuan utamanya.
***
Reina membuka tirai jendela dan melihat keluar. Daratan di bawah sana makin terlihat jelas. Dan perlahan pemukiman penduduk mulai tampak meski sangat kecil dari atas.
Senyumnya mengembang sempurna, saat menyaksikan garis lurus membentang jauh di bawah sana. Setelah beberapa jam berada di pesawat, akhirnya mereka tiba di tujuan. Ya, sebenarnya nyaris tiba di tujuan karena pesawat itu masih belum benar-benar mendarat di tanah.
Sebuah guncangan kuat mereka rasakan hingga burung besi itu perlahan berhenti bergerak. Seorang pramugari menyapa ketiganya sebelum pintu pesawat kembali dibuka.
Reina berjalan mendahului yang lainnya saat menapaki anak tangga hingga kakinya menginjak bumi. Keira menyusul di belakangnya, melangkah anggun menuruni anak tangga secara perlahan hingga ke bawah. Di ikuti oleh Pak Abdi dan rombongan kru pesawat.
Sorang pria menunggu ketiganya di pintu keluar sambil memegang selembar kertas karton bertuliskan sebuah nama, Keira Kesuma. Ketiganya datang mendekati dan menyatakan diri di depan pria itu.
Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di hotel yang menjadi tujuan kedatangan mereka. Dan itu membuat Keira kesal luar biasa. Karena ternyata, kota tujuan mereka sama macetnya dengan kota asal mereka.
"Tenanglah, Kei. Kita tidak sedang buru-buru. Jalanan macet adalah hal normal untuk kota besar," cetus Reina santai. Kedua netranya memandang ke kuar jendela.
Hanya dengusan nafas yang terdengar sebagai jawaban dari Keira pada adiknya itu. Ia menunjukkan raut wajah kesal di sepanjang jalan. Tak ada komentar yang keluar dari mulut Keira. Hanya suara dengusan dan gerutu pelan.
"Pelajari semua jalanan di kota ini, Pak Abdi!" titah Keira tiba-tiba, membuat pria yang duduk di bangku kemudi melirik sebentar pada Keira dari spion depan.
"Baik," sahut Pak Abdi pelan. Ia mengerti maksud dari perkataan gadis itu.
Barulah ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di depan pintu masuk sebuah hotel, wajah masam Keira berubah menjadi senyuman. Keira dan Reina melangkah masuk ke dalam hotel. Di iringi oleh Pak Abdi sambil membawa masuk barang bawaan mereka.
Ketiganya duduk menunggu di loby hingga seseorang datang mendekati mereka. Seorang pria bernama Robert, sesuai dengan nametag yang menempel di bajunya, adalah seorang manager hotel.
"Selamat siang dan selamat datang di Hotel Santika Kesuma." Ia menyapa sopan, lengkap dengan senyum cemerlang miliknya. Kedua tangannya dikatupkan di depan d**a.
"Nama saya Robert, dan saya menjabat sebagai Manager di hotel ini," katanya memperkenalkan diri.
Keira bangkit dan memperkenalkan dirinya juga. Ia ikut mengatupkan kedua tangannya di depan d**a.
"Saya adalah Keira Kesuma. Dan ini adalah adik saya, Reina Santika Kesuma." Keira berkata sopan sambil menudingkan kelima jarinya ke arah Reina."
"Dan ini adalah Pak Abdi. Orang kepercayaan yang diutus oleh Atmajaya Kesuma, pemilik hotel ini, yang akan mengawal kami secara pribadi selama berada di kota ini."
Reina ikut bangkit, memperkenalkan supir pribadi mereka. Keira sempat terkejut saat mendengarkan penuturan frontal dari adiknya itu. Namun ia berusaha agar raut wajahnya kembali netral.
Manager hotel itu kembali tersenyum, saat mengetahui yang tengah berdiri di depannya adalah ahli waris dan orang kepercayaan dari pemilik hotel tempatnya bekerja. Sebelumnya, ia memang mendapatkan kabar bahwa mereka akan kedatangan petinggi hotel itu. Namun tak menyangka, bahwa itu adalah dua orang gadis yang masih muda.
"Apakah kamar untuk Nona Keira sudah disiapkan?" tanya Pak Abdi, membuyarkan lamunan pria di depannya itu.
"I-iya, Pak. Kami sudah menyiapkan kamar sesuai perintah atasan."
"Saya ingin, kalian menyiapkan kamar untuk saya tepat di samping kamar mereka." Pak Abdi kembali bersuara.
"Baik, Pak. Akan kami siapkan segera. Silahkan lewat sini," katanya seraya menunjukkan jalan untuk ketiganya. Sementara itu, seorang bellboy mengikuti mereka sambil mendorong troli yang berisi barang bawaan mereka.
Manager hotel itu membawa ketiga tamunya naik ke lantai sepuluh. Mengantarkan mereka sampai ke depan pintu kamar masing-masing, kemudian meninggalkan ketiganya.
Reina segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang kingsize yang terasa begitu nyaman seperti di kamarnya sendiri. Pun dengan Keira, ikut melakukan hal yang sama, setelah perjalanan panjang mereka untuk sampai di tempat itu. Kedua gadis itu berbaring berdampingan. Satu hal yang hampir tidak pernah mereka lakukan, karena selama ini keduanya tidur terpisah sejak masih anak-anak.
"Apa kau yakin akan bekerja disini, Kei?" Pertanyaan dadakan itu membuat kedua alis Keira saling menaut.
"Kenapa? Aku pikir tidak buruk. Aku hanya mengawasi pekerjaan mereka saja, sesuai perintah kakek."
"Aku pikir, pria itu tidak baik. Aku kurang suka melihatnya saat memandangmu tadi." Reina menghela nafasnya.
"Itu hanya reaksinya karena tiba-tiba kedatangan ahli waris pemilik hotel ini. Andai saja kamu tidak ikut denganku..." Keira menggantung kalimatnya.
"Kenapa? Dari mana dia tahu kalau kita ini ahli waris?" Satu pertanyaan bodoh yang mengudang pelototan tajam dari Keira.
"Nama, Rei. Nama hotel ini memakai nama belakangmu. Apa kamu masih tidak menyadarinya?" gerutu Keira, seraya menghela nafasnya.
"Ya ampun, kau benar." Reina tertawa saat menyadari hal itu.
"Aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh selama aku bekerja disini. Atau kakek tidak akan mengijinkanmu untuk ikut denganku lagi. Apa kamu paham?"
"Emangnya apa yang akan aku lakukan? Ada Pak Abdi yang bakal mengawasi disini. Kau ingatkan? Aku tahu kalau kau sengaja membawa Pak Abdi bersama kita." Reina mencebikkan bibirnya.
"Bukan aku, tapi Kakek yang menyuruhnya ikut. Karena Kakek khawatir padamu."
"Jangan jadikan aku alasan!"
"Itu memang benar!" balas Keira, suaranya terdengar separuh berbisik.
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah cucunya, Rei." Keira berbisik pada dirinya sendiri.
"Kei! Jawab aku." Reina memalingkan wajahnya, memandang Keira yang pura-pura tidur sambil memunggunginya.
Reina tak tahu bahwa kakak yang disayanginya itu tengah berjuang untuk menguasai debaran di jantungnya, ketika mengetahui satu kebenaran tentang dirinya dari sang kakek, sehari sebelum keberangkatan mereka ke kota itu. Kebenaran yang menyakiti hati dan perasaannya.
Apa kau sudah tidur, Kei?" tanya Reina meyakinkan dirinya. Tak ada sahutan. Keira malah mengeluarkan suara dengkuran halus untuk mengecoh Reina. Keira tak ingin membuka matanya, karena takut airmatanya akan langsung jatuh tanpa bisa dicegah olehnya.
Reina menyentak nafasnya sebal. Saat dirinya masih terjaga, sang kakak malah telah tidur nyenyak di sampingnya. Ia membalik tubuhnya, ikut memunggungi Keira dan mulai memejamkan matanya. Tak lama kemudian, kedua gadis itu telah tertidur pulas. Rasa lelah dan kantuk menguasai keduanya.