Bab. 9

1331 Words
Reina keluar dari kamarnya, dan dengan tergesa-gesa turun menyusuri anak tangga menuju lantai bawah. Ia menggerutu dan mengumpat tiada henti pada dirinya sendiri. Terlebih saat Marta meninggalkannya di kamar itu tanpa mengambilkan pakaian untuknya terlebih dulu. Hal itu membuat Reina harus menyiapkan pakaiannya sendiri. Tak ada waktu untuk memilih satu per satu pakaian di dalam lemarinya. Dengan cepat tangannya menarik skinny jeans berwarna biru dan atasan wrap-top warna putih. Reina bahkan tak sempat untuk merias wajahnya. Ia hanya menyapu wajahnya dengan bedak tipis dan mengoleskan lipbalm warna pink terang dengan aroma strawberry yang biasa ia gunakan saat di rumah. Sementara rambut bergelombangnya sengaja ia gerai. Sebuah bando dengan hiasan pita kecil dan beberapa manik-manik yang menempel diatasnya, Reina pakai untuk mempermanis mahkotanya itu. Saat kakinya hampir menjejak di anak tangga paling bawah, Reina baru menyadari bahwa ia hanya hanya mengenakan alas kaki yang biasa ia kenakan ketika berada di kamar. Sepasang sendal kelinci berbulu warna putih, lengkap dengan mulut, mata, dan telinganya. Baru saja Reina berniat untuk segera kembali ke kamarnya, saat netranya menangkap rombongan maid yang dikepalai oleh Marta sedang berlari tergopoh-gopoh. Mereka datang dari arah bagian belakang rumah, melewati dirinya yang masih tertegun di tangga sambil menundukkan kepala, menuju ke pintu depan untuk menyambut kedatangan Atmajaya Kesuma yang baru saja tiba. Sudah lama sekali pria tua itu tak datang berkunjung ke istana Sanjaya. Reina mengikuti rombongan itu dari arah belakang sambil berjalan santai. Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa Reina membuntuti langkah mereka. Tak ada yang mendengar suara langkah kaki Reina. Tak ada suara ketukan heels setinggi sepuluh senti yang mengetuk lantai saat ia berjalan. Semua orang dibuat tercengang kala Tuan Besar Kesuma memergoki Reina berada di baris terakhir rombongan itu. Deretan gigi putih yang tersusun rapi menyembul dari dalam mulut Reina saat ia mengulas senyumnya lebar. "Apa yang sedang kamu lakukan disitu?" tanya Kakek Kesuma saat menyadari bahwa cucunya berada di deretan maid. "Aku ingin menyambut kedatangan Kakek," sahut Reina santai. Kakek Kesuma spontan tertawa terbahak-bahak. "Kamu bukan salah satu dari maid ini, jadi tidak perlu menyambutku dengan cara seperti itu," ujar Atmajaya Kesuma di sela tawanya. Reina merutuki kebodohannya lagi. "Maaf, Kakek. Sebenarnya aku baru aja tiba disini saar Kakek masuk tadi," aku Reina jujur. Ia mendekati Atmajaya Kesuma dan memeluknya beberapa saat. "Tidak apa-apa, Sayang. Kakek melihatmu kedatanganmu tadi. Kakek hanya ingin menggodamu," ujar Kakek Kesuma seraya menepuk pelan punggung cucunya. Reina mengulum senyumnya. Kemudian menuntun pria tua itu untuk melangkah masuk ke ruang makan. "Apa Kakek datang sendirian?" tanya Reina. Ia tak melihat seorang pun datang bersama pria tua itu. "Tentu saja. Karena Keira tak bersama Kakek. Apa Keira ada disini?" Kakek Kesuma balik bertanya. Reina spontan melotot lebar. Garis kerutan di keningnya tergambar jelas. "Apa? Tidak, Kek. Keira tidak ada disini. Sejak tadi aku hanya sendirian di rumah ini," jawab Reina bingung. "Jadi, Keira masih belum kembali?" Atmajaya Kesuma kembali melontarkan pertanyaan yang semakin membuat Reina bingung. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Keira masih belum kembali," katanya. "Bukankah Keira tinggal bersama Kakek? Yang aku tahu, Keira akan tinggal disana untuk belajar langsung dari Kakek," ujar Reina lagi. "Iya, itu benar. Tapi, tadi pagi Kakek memintanya kembali ke rumah ini." "Kenapa?" cecar Reina. Atmajaya menghentikan langkahnya, padahal mereka hampir tiba di ruang makan utama yang biasa digunakan untuk menyambut tamu penting di rumah besar itu. "Karena Kakek khawatir padamu. Kamu hanya tinggal sendirian di rumah ini. Karena itu, Kakek meminta Keira untuk kembali kesini." "Jadi... maksud Kakek, Keira berhenti bekerja?" tanya Reina memastikan. Tangannya kembali menuntun Kakek Kesuma untuk melanjutkan langkahnya. "Tidak seperti itu, Sayang. Keira akan tetap bekerja. Tetapi dia akan tinggal disini bersamamu. Untuk belajar pada Kakek, tidak harus tinggal bersama Kakek, kan?" Kakek Kesuma tersenyum miring. Reina tidak mampu memahami jalan pikiran pria tua renta di sampingnya itu. Mungkin, Atmajaya Kesuma masih berpikir bahwa Reina masih seperti gadis kecil yang harus diawasi terus menerus. Sang kakek lupa, bahwa gadis kecil itu kini telah berusia dua puluh dua tahun. Dan mampu untuk menjaga dirinya sendiri. Seluruh maid di rumah itu segera menyajikan hidangan di depan ketiga orang yang kini duduk di meja makan. Selain Reina dan Kakek Kesuma, perawat pribadi sang kakek juga ikut serta. Dengan cekatan Marta mengatur semuanya, kemudian mulai berdiri berbaris mengelilingi meja makan. Suara langkah kaki terdengar seirama dari arah ruang keluarga. Ketiga orang yang tengah bersiap untuk makan malam, bersama seluruh maid diruangan itu menoleh ke sumber suara. Seorang maid bernama Ani, segera maju dan berlari pelan saat keluar dari ruang makan. Sepatu bersol karet yang ia kenakan, meredam suara langkah kakinya. Hingga beberapa menit kemudian, seseorang akhirnya muncul di ruangan itu dengan senyumnya yang mengembang sempurna. "Keira!" panggil Reina senang. Ia bangkit berdiri, namun tak sampai meninggalkan kursinya. "Kenapa kalian tak mengajakku untuk makan malam bersama? Apakah sekarang kalian melupakanku?" Keira pura-pura cemberut, dengan bibir yang kini dibuat manyun. Ia melangkah mendekati Kakek Kesuma dan duduk di sampingnya. "Bukan begitu. Aku juga baru diberitahu kalau Kakek akan datang untuk makan malam disini," ujar Reina membela diri, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan. Keira mengulum senyumnya saat melihat raut wajah Reina yang sedikit panik. "Kapan Kakek datang?" Keira berbalik pada Kakek Kesuma. Tangannya menggosok pelan punggung orangtua itu. "Belum lama, Nak. Bagaimana dengan pekerjaan barumu?" "Semuanya lancar, meski awalnya aku sempat berpikir tidak akan mampu untuk menyelesaikan tantangannya." "Kakek harap, semoga pekerjaanmu selalu berakhir dengan baik." "Amin," sahut Keira cepat. *** Seluruh anggota inti keluarga Kesuma berkumpul di ruang keluarga, selepas makan malam bersama. Mereka menikmati hidangan cemilan dan teh yang telah disiapkan oleh Marta. Atmajaya Kesuma menyesap teh hangat miliknya perlahan dari gelas porselen yang sedang dipegangnya. Memberi rasa hangat di mulut hingga rongga perutnya. Reina dan Keira duduk tak jauh darinya. Masing-masing menyesap teh mereka. Pun dengan perawat sang kakek. "Jadi, sekarang kau akan tinggal disini lagi, kan?" ucap Reina membuka percakapan mereka. Keira mengangguk pelan mengamini pertanyaan adiknya. "Itu pun selama aku bekerja disini." "Maksudnya?" tanya Reina tak mengerti. Netranya menatap intens kakaknya dan juga sang kakek bergantian. "Ada kemungkinan kalau Keira akan menangani cabang hotel yang lain dengan jabatan yang berbeda," jawab Kakek Kesuma, memecah kesunyian. "Jadi?" "Ya, itu artinya... Keira akan banyak menghabiskan waktunya di kota yang berbeda selama beberapa waktu." "Mau tidak mau, kamu harus bisa mengerti pekerjaanku." Reina diam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Intinya adalah, pada akhirnya Keira akan tetap meninggalkannya sendirian. Tak ada bedanya dengan kedua orangtua mereka. Yang mereka pikirkan hanya uang dan pekerjaan. Membuat Keira dan Reina nyaris tak merasakan kasih sayang dari kedua orangtua mereka hingga saat ini. Semuanya diukur oleh uang dan diselesaikan dengan uang. "Apa aku boleh ikut denganmu?" tanya Reina akhirnya. "Apa?" Keira terlihat bingung. Ia memalingkan wajahnya pada sang kakek. Mencari jawaban dari pria tua itu. "Tidak apa-apa. Kalian bisa tinggal di lantai teratas yang sengaja dibuat sebagai tempat tinggal pemilik hotel. Jadi, kalian tidak perlu memusingkan tempat tinggal saat ditugaskan ke cabang hotel manapun. Karena selalu ada kamar yang disiapkan untuk kalian tempati," kata Kakek Kesuma menjelaskan. Membuat kedua gadis itu tersenyum dan menghela nafas lega. "Malam ini, apakah Kakek akan menginap disini, kan?" tanya Keira. "Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Kakek." "Sayang sekali karena malam ini Kakek tidak bisa menginap," katanya. "Jika ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa langsung menjumpai Kakek. Pintu rumah Kakek selalu terbuka untuk kalian." "Tapi..." Keira diam. Tam mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Butuh ketetapan hati untuk mengutarakannya. Tapi akhirnya harus kandas. "Tidak apa-apa, lain waktu kita akan bicara lagi." Atmajaya Kesuma bangkit berdiri. Perawat pribadinya dengan cekatan membantunya agar ia tidak goyah. Kedua kakak beradik itu ikut bangkit. Mengantar sang kakek hingga ke pintu depan. Supir pribadinya telah berdiri sambil membukakan pintu mobil untuk Tuan Besar Kesuma. Di sisinya berdiri Pak Abdi, supir setia keluarga Kesuma. Atmajaya Kesuma menepuk pelan pundak Pak Abdi, setengah berbisik padanya. Entah apa yang mereka bicarakan, Keira dan Reina saling melempar pandang. Hingga kemudian pintu mobil ditutup kencang. Mobil mewah itu keluar dari pelataran istana Sanjaya, meninggalkan para penghuni rumah dengan sejuta tanya di benak mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD