Reina membanting pintu mobilnya sesaat baru keluar darinpintu kemudi. Ia menolak tawaran Pak Abdi untuk mengantarkannya hari itu. Alasan klise, Pak Abdi akan sulit menuruti keinginannya. Reina hanya khawatir seandainya supir tua itu akan mengadu pada Keira atau kakeknya.
Jika sudah seperti itu, semua orang hanya tahu membatasi pergerakannya saja. Dan sudah pasti, akan sulit baginya untuk bersenang-senang.
Kepala maid istana megah itu segera berlari mengejar dirinya saat menyadari Reina baru saja pulang. Raut wajah keriput itu tampak begitu khawatir, sebab Keira selalu menanyakan keberadaan Reina sepanjang siang. Seorang maid bernama Ani mengiringi langkahnya dengan tergesa-gesa dari belakang.
"Nona dari mana saja?" seru Marta saat dirinya sudah sampai di depan Reina.
Tangannya terulur menerima beberapa goody bag yang ditenteng Reina sejak masuk tadi. Ani segera membantu membawakan benda-benda itu ke kamarnya. Gadis itu segera berjalan patuh, meninggalkan Marta bersama Reina di depan pintu masuk.
"Saya baru belanja. Ada apa? Kenapa wajahnya panik gitu?" Kening Reina berkerut melihat tingkat ibu asuhnya itu.
"Nona Keira berulang kali menelpon menanyakan keberadaan Nona Reina. Apa ponsel Nona sedang tidak aktif? Nyonya juga baru saja menelpon dan menanyakan hal yang sama," kata Marta mengadu. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Lalu, Bu Marta bilang apa ke mereka?" tanya Reina acuh tak acuh. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa mahal di ruang keluarga. Ia memejamkan mata sambil mengurut lembut pelipisnya.
"Saya hanya bilang, Nona Reina sedang keluar." Marta menyahut sambil tertunduk. Reina menyentak nafasnya kuat.
"Kenapa mereka cerewet sekali, sih? Sudah pergi dari rumah, masih saja mengusik hidupku!" gerutu Reina.
"Maksud Nona? Nona Keira tidak tinggal disini lagi?" tanya Marta khawatir. Ia duduk di samping Reina, mengambil alih untuk mengurut pelipis tipis milik gadis itu.
"Bukan seperti itu! Hanya saja, Keira tidak akan punya banyak waktu lagi untukku. Kakek memintanya untuk bekerja," ujar Reina. Suara desah nafasnya masih terdengar berat.
"Ooh?" Marta mengerti sekarang. Reina melakukan ini semua karena merasa kesal dan kesepian.
"Apa Nona tidak ikut bersama Nona Keira?" tanya Marta enteng, membuat Keira membuka matanya lebar-lebar. Mata dengan bulu mata palsu lentik itu, mengerjap beberapa kali.
"Ikut kemana? Kerja? Oh... no, no, no!" Jari telunjuk Reina menari-nari, menegaskan penolakan dirinya.
"Aku tidak ingin diatur seperti Keira. Biarkan saja, aku lebih memilih untuk menikmati semuanya." Reina menutup matanya kembali. Pijatan lembut di kepala dan pelipisnya membuatnya mengantuk.
"Apa Nona sudah makan siang? Saya akan segera menyiapkannya." Reina menarik tangan keriput milik Marta tatkala wanita itu bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu. Aku sudah makan siang di luar tadi."
"Apa Nona membutuhkan sesuatu yang lain? Saya akan segera menyiapkannya," tawar Marta.
"Bu Marta tetap disini aja. Kepala saya sedang pusing sekarang," pinta Reina padanya.
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan minta maid untuk menyiapkan air hangat supaya Nona bisa mandi. Setelah itu beristirahatlah."
"Tidak bisakah kita melakukan itu nanti saja? Kakiku terlalu lelah untuk naik ke atas. Biarkan aku beristirahat disini saja. Lihatlah, disini juga tidak ada orang lain." Reina menunjuk ruangan itu dengan ujung matanya.
"Baiklah."
Marta menuruti keinginan nona mudanya itu. Terlihat kesedihan dan kesepian di wajah tirus itu. Memiliki Keira di sisinya setidaknya bisa membuat gadis itu melupakan ketiadaan kedua orangtuanya. Kini Keira pun harus meninggalkannya juga. Marta merasa kasihan pada gadis itu. Bagaimana pun, harta yang mereka miliki tak selamanya dapat memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan. Gadis di depannya itu adalah buktinya.
Marta mengedipkan matanya pada Ani saat gadis itu telah kembali ke sisinya. Dengan langkah pelan, gadis itu segera melangkah pergi. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa bantal dan selimut baru dalam pelukannya.
"Terima kasih," ucap Marta padanya. Ani segera berlalu menuju bagian belakang rumah. Tempat para maid berkumpul dan beristirahat.
Perlahan, bantal empuk itu sudah berpindah di bawah kepala nonanya. Tangan keriputnya kemudian menutupi tubuh Reina yang sedikit terekspos karena memakai pakaian kurang bahan, dengan selimut. Ia bangkit dan perlahan pergi dari situ tanpa suara.
Belum jauh ia melangkah, ponsel Reina berdering nyaring. Suaranya menggema, memenuhi seluruh ruangan. Dengan perlahan Marta membuka tas nona mudanya. Mengambil ponsel mahal itu dari dalam dan memilih untuk menyahuti panggilan itu.
"Hallo?" katanya pelan.
"Siapa ini? Dimana Reina? Kenapa bukan dia yang mengangkat telpon dariku? Apa dia takut?" Serbuan pertanyaan Keira menyakiti pendengaran kepala maid itu. Ia bahkan harus menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya, jika tak ingin telinganya sakit.
"Maaf, Nona. Saya Marta," sahut Marta pelan.
"Dimana Reina? Kenapa Bu Marta bicara pelan sekali?" tanya Keira bertubi-tubi. Pertanyaan yang gadis itu lontarkan sebelumnya saja masih belum sempat dijawabnya.
"Maaf, Nona... Nona Keira sedang istirahat. Ia mengeluh sakit kepala saat pulang tadi," jawab Marta jujur. Ia tak ingin menutupi apapun yan terjadi di rumah itu, karena semuanya ada di bawah tanggung jawabnya selama Keira tidak berada di rumah.
"Apa? Reina sakit? Apa dia sudah makan? Emangnya dari mana saja dia seharian ini?" tanya Keira khawatir.
Kini, bukan hanya Reina yang merasa sakit kepala. Marta pun mengalami hal yang sama, bedanya adalah penyebab sakit kepala itu karena pertanyaan dari nona sulung rumah itu.
"Bukan sakit yang seperti itu, Nona. Nona Reina hanya mengeluh pusing saja dan saat ini sedang tidur. Dia baru saja pulang berbelanja sekitar setengah jam yang lalu," sahut Marta.
"Apa dia sudah makan siang?"
"Nona bilang kalau dia sudah makan di luar," kata Marta.
Tak ada suara sahutan atau pertanyaan susulan yang ia dengar. Ponsel itu hening, tak ada suara. Hanya terdengar suara nafas yang berhembus pelan.
"Nona Keira?" panggil Marta pelan.
"Ya, Bu."
"Anda tidak apa-apa?"
"Saya baik-baik aja. Tolong jaga Reina ya, Bu. Pastikan dia makan malam di rumah dan panggilkan dokter untuknya jika sakit kepalanya bertambah parah."
Marta bisa mendengar dengan jelas, suara desahan nafas halus milik Keira. Gadis itu tengah mengkhawatirkan adiknya.
"Baik, Nona. Nona jangan khawatir, saya akan merawat Nona Reina dengan baik."
"Saya tahu itu. Saya tahu kalau Bu Marta juga menyayangi Reina. Terima kasih ya, Bu. Saya titip Reina." Panggilan itu berakhir. Marta menghela nafasnya panjang. Memberi waktu bagi paru-paru tua miliknya untuk menyerap oksigen sebanyak-banyaknya. Ada kelegaan yang Marta rasakan disana.
***
Kesibukan terlihat di dapur istana megah milik Sanjaya Kesuma. Bu Marta tampak mengawasi seluruh pekerjaan anggotanya. Mereka tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam.
Tak seperti biasanya, malam ini akan terasa istimewa bagi mereka. Tuan Besar Kesuma akan datang berkunjung, setelah beberapa lama tidak pernah muncul di istana itu, saat Atmajaya Kesuma sudah mulai diserang penyakit dimasa tuanya.
Seorang juru masak sedang menyiapkan hidangan utama, dibantu oleh asisten juru masak empat orang maid. Sementara yang lain sibuk menata meja makan.
Setelah memastikan semua anggotanya bekerja sesuai arahannya, Marta meninggalkan mereka. Ia bermaksud menemui Reina yang masih terlelap di sofa. Namun dirinya terkejut, sebab gadis itu sudah tak berada disana lagi.
Marta segera memanggil dua orang maid untuk membantunya mencari Reina di seluruh penjuru tempat itu. Debaran di jantungnya terasa begitu kuat, sulit membuatnya untuk menghentak normal selama nona mudanya belum ditemukan.
Marta berdiri dengan cemas di ruang keluarga. Kedua tangannya saling meremas, menunggu laporan dari kedua gadis yang diperintahnya untuk mencari Reina.
Wanita tua itu menanti kabar dengan gelisah. Karena satu jam lagi, tamu besar mereka akan sampai di tempat itu. Ia tak ingin disalahkan karena lalai menjaga nonanya.
"Bagimana? Apa kalian menemukan Nona Reina?" tanyanya tak sabar saat Emi datang menghampirinya.
Gadis itu menggeleng lemah. "Saya tidak menemukannya di luar rumah atau ruangan lain di lantai bawah," ujarnya.
Kecemasan kepala maid itu semakin bertambah-tambah. Bukan lagi berdiri, Marta sudah berjalan mondar - mandir menanti kabar dari maid terakhir yang ia perintahkan untuk mencari Reina.
"Bagimana? Apa kamu menemukannya?" tanya Marta lagi. Maid bernama Hera menggelengkan kepalanya. Wajahnya sama khawatirnya seperti Marta.
"Nona Reina tidak ada di ruangan lain di lantai dua dan tiga," sahutnya.
"Apa kamu sudah mencarinya ke kamar?" tanya Marta memastikan.
"Saya beberapa kali mengetuk kamarnya, tapi tidak ada jawaban. Pintunya juga terkunci," katanya lagi.
"Tolong ambilkan kunci cadangan di kamar saya!" Marta memberi perintah pada Emi. Gadis itu segera berlari menjauh menuju bagian belakang rumah.
Disana terdapat sebuang bangunan terpisah dari bangunan utama. Tempat para maid beristirahat. Terdapat banyak kamar untuk para maid yang bekerja di istana Sanjaya. Termasuk kamar yang berukuran lebih luas dari kamar lainnya, dan itu adalah milik Marta.
Kesanalah tujuan Emi saat ini. Ia membuka kamar Marta dengan hati-hati. Membuka laci paling atas dari meja kerja yang terdapat di salah satu sudut di kamar itu. Disanalah Marta biasa membuat rincian laporan keuangan dan juga laporan lainnya.
Beberapa menit kemudian, Emi kembali dengan tumpukan kunci yang saling terkait dengan sebuah kertas kode yang menempel di masing-masing kunci.
"Ini kuncinya," kata Emi. Nafasnya tersengal-sengal akibat lari tergesa-gesa dari ruang belakang.
"Terima kasih. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian. Saya akan mencari ke kamar Nona Reina."
"Baik, Bu." Kedua gadis itu menyahut bersamaan, sesaat sebelum berlalu dari sana.
Marta segera berlari ke lantai dua. Dengan bantuan kunci di tangannya, ia akhirnya bisa menerobos masuk ke dalam kamar nona mudanya itu. Ia segera melempar pandangannya ke seluruh ruangan itu. Bantal dan selimut masih tampak rapi di tempat semula, masih belum terjamah sama sekali. Artinya, Reina belum menyentuh kasur itu.
Marta kembali melempar pandangannya ke arah lain. Beberapa goodybag yang diantar oleh Ani tadi juga terlihat masih belum dijamah. Semuanya masih berada di atas meja dengan kondisi baik. Marta menghela nafasnya kasar. Kali ini, rasa khawatirnya semakin bertambah saja.
Wanita tua itu kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Hening. Sama sekali tidak terdengar suara air di dalam sana.
Apakah Nona Reina juga tak berada disana? Pikir Marta. Namun, ia tetap mengayunkan langkah kakinya untuk memasuki kamar mandi yang merupakan tempat paling pribadi di kamar itu.
"Nona Reina," panggil Marta, tetapi tak ada sahutan. Matanya melirik ke dalam ruangan itu.
"Nona Reina. Apa Nona ada di dalam?" panggil Marta lagi. Kali ini ia melangkah semakin jauh masuk ke dalam.
Kali ini, Marta dibuat terkejut. Kedua matanya membelalak lebar saat menyadari ada tubuh yang sedang bersandar di dalam bathup. Dengan buih sabun yang menutupi hampir seluruh tubuhnya yang tampak bergoyang-goyang pelan di dalam air.
Sekalipun seluruh orang di rumah itu berteriak padanya, Reina tidak akan mendengarkan mereka. Sebab telinganya telah disumbat dengan earphone bluetooth.
Marta mengelus dadanya, menahan luapan emosi setelah dibuat kebingungan saat mencari gadis itu di seluruh penjuru rumah. Untung saja dirinya memiliki kunci cadangan seluruh ruangan di rumah besar itu.
"Nona Reina," panggilnya. Tangannya terulur menyentuh pundak Reina yang berhasil membuat Reina terperanjat kaget.
"Ya, Tuhan. Mengapa mengejutkanku seperti itu?" pekik Reina kesal. Ia mengumpat habis-habisan di dalam hati. Jantungnya serasa hampir copot karena ulah Marta yang tanpa sengaja memegang pundaknya.
Reina menekan dadanya kuat, berusaha meredakan hantaman jantungnya yang berdenyut cepat. Hampir saja ia melompat keluar dari bathup saking terkejutnya.
"Jangan lakukan hal seperti itu lagi! Kau mengejutkanku, Bu Marta." Reina mendengus. Menyentakkan nafasnya kuat ke udara.
"Maafkan saya, Nona." Marta berulangkali menundukkan kepalanya. Wanita tua itu tak bermaksud mengejutkan Reina.
"Sejak tadi semua orang mencari Nona Reina. Karena itu saya masuk ke kamar ini untuk mencari." Marta menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya.
"Saya memanggil sejak tadi, tapi tidak ada yang menyahut. Karena itu saya masuk kesini. Saya sempat berpikir, kalau Nona Reina tertidur di bathup. Saya tidak memperhatikan kalau Nona Reina memakai earphone." Marta melanjutkan penjelasannya.
Reina menarik nafasnya panjang. Salahnya sendiri karena memakai benda itu dengan volume kencang. Membuat seisi rumah khawatir padanya. Raut wajahnya kembali datar.
"Ada apa mencariku?" Reina kembali bersandar santai pada pinggiran bathup.
"Tuan Besar Kesuma akan berkunjung ke rumah ini dan sebentar lagi akan sampai," sahut Marta dengan tetap menunduk.
"Hah? Kenapa baru memberitahuku?" Wajahnya berubah panik. "Jam berapa sekarang?"
"Hampir jam tujuh malam," jawab Marta.
"Tolong ambilkan handukku!"
Marta segera meraih handuk dari lemari dan memberikannya ke tangan gadis itu. Kemudian kembali keluar dari kamar itu untuk melanjutkan tugasnya.