Bab. 26

1461 Words
"Dasar cowok sialan! Uangku bahkan cukup untuk membeli harga dirinya itu." Reina berulang kali mengumpat kesal. Ia membanting pintu kamar hotel dengan keras. "Kamu kenapa, Rein? Emangnya apa yang kalian bicarakan tadi?" "Pria itu membuatku marah. Dia pikir, dia itu siapa? Dia bilang bersedia membayarku jika mau jadi kekasihnya. Hahh..." Reina mendengus kesal. Ia melempar tubuhnya di atas ranjang. "Uangku bahkan cukup untuk membeli harga dirinya yang tinggi itu. Siapa sih dia? Ada urusan apa dia di hotel ini?" gerutu Reina. "Dia rekan bisnis Papa, Rein. Dia salah satu pemegang saham di hotel ini," jelas Keira. Gadis itu ikut berbaring disisi Reina. "Ya ampun, apa dia gak tau siapa kita? Hah? Apa semua orang di hotel ini tidak tahu siapa kita?" pekik dengan mata melotot. "Hanya Pak Robert yang tahu. Kakek Kesuma sendiri yang minta untuk merahasiakan identitas kita." "Kenapa?" "Karena kita gak tau gimana pikiran orang-orang di kota ini, Rein! Kakek khawatir bila ada seseorang yang berniat jahat padamu atau padaku! Kita gak bisa mempercayai orang semudah itu. Jika mereka tahu siapa kita, apapun bisa saja terjadi. Jangan sampai Papa atau Kakek turun tangan, Rein. Apa kamu paham? Masalah dengan Alex sebaiknya lupakan saja. Jangan diperpanjang lagi. Biarkan aku yang menanganinya untukmu." Reina menggelengkan kepala seraya memutar nola matanya kesal. Keira bisa mendengar tarikan nafasnya yang berat. Malam ini mereka tidur dengan saling berhadapan punggung. Masing-masing hanyut dengan pikirannya sendiri. *** "Selamat pagi," sapa Keira. "Hari ini kamu bangun lebih awal dari biasanya." "Hmm... jangan mengejekku," sahutnya datar. "Aku memujimu, asal kamu tahu." "Terima kasih." Reina masih terlihat bergelung di bawah selimut. "Sempurna." Ia berkata sambil tersenyum manis saat memandang bayangannya di depan cermin. Ia menyematkan sebuah bros bertahta mutiara di pakaiannya. Dan mengenakan giwang dengan model yang sama persis. "Cepatlah bangun dan bersiaplah turun untuk sarapan. Aku harus turun sekarang," ujar Keira. "Kenapa wajahmu terlihat begitu senang? Ada apa?" tanya Reina penasaran. "Tentu saja aku senang, karena sebentar lagi kita akan kedatangan tamu penting," sahut Keira seraya memakai stiletto heels berwarna senada dengan pakaian yang ia kenakan. "Siapa?" Keira kembali mengulas senyumnya. "Kamu harus melihatnya sendiri." "Oh, ya. Tadi pagi seorang staf hotel datang mengantarkan paket untukmu. Aku meletakkannya di atas nakas." Keira menuding sebuah meja kecil di samping ranjang. "Aku pergi dulu. Cepatlah bersiap-siap, aku menunggumu di bawah." Keira berteriak dari depan pintu. Ruangan itu kembali hening. Suara celotehan Keira sudah tak terdengar lagi. Reina menarik tubuhnya untuk bangun meski sebenarnya ia masih mengantuk. Pertemuannya dengan Alex kemarin malam membuatnya tidak bisa tidur. Otaknya masih terus berpikir meskipun ia sudah sangat lelah. "Apa sih menariknya pria itu? Dia bahkan terlihat lebih tua dariku. Apa semua pria kaya memperlakukan wanita seperti itu? Picik sekali!" gerutu Reina. "Aku akui wajahnya memang tampan, tapi sikapnya sangat buruk. Tidak mungkin jika dia belum beristri." Reina menarik bibirnya ke samping. "Apa dia berniat menjadikanku sugar baby? Apa wajahku terlihat seperti itu? Ya, Tuhan... mimpi apa aku semalam?" keluh Reina. Ia mengusap wajahnya berulangkali. Sesaat kemudian tawanya menggelegar. Sialan! Rasanya Reina ingin menampar wajah pria itu berulang kali. Atau mencabik wajah tampan itu dengan kuku-kukunya yang lentik. Atau memukul wajah mesumnya itu dengan heelsnya hingga puas. Hidup Reina memang hedonis, tapi dia gak butuh pria itu untuk mendapatkan semua yang ia inginkan. Ia memiliki rekeningnya bernilai fantastis, yang dapat ia gunakan untuk hidup berfoya-foya seumur hidup. Sesaat kemudian, tatapannya tertumpu pada dua buah kotak dengan ukuran berbeda yang tersusun rapi di atas nakas. Keduanya dibungkus cantik dan diberi pita untuk mempermanis tampilan luarnya. Sebuah kartu terselip diatasnya. Tangan Reina terulur, menarik kartu itu dari sana dan membacanya dengan seksama. "Aku minta maaf dengan tulus padamu. Terimalah ini sebagai tanda permintaan maaf dariku. Aku ingin kamu memakainya malam ini." Kening Reina seketika berkerut dalam saat membaca kalimat terakhir dari tulisan itu. Seingatnya, ia tidak bertengkar dengan siapapun kecuali Alex. Alex? Tapi untuk apa dia mengirim semua ini? Pikir Reina. Matanya melirik dua benda yang masih teronggok disana. Rasa penasarannya mengintimidasinya untuk melihat isi di dalam kotak. Reina membuka kotak berukuran kecil lebih dulu yang ia yakini sebagai perhiasan. Benar saja! Terdapat sebuah kalung dengan liontin bertahta permata berkilauan di dalam kotak. Secepat kilat Reina menariknya keluar. Memperhatikan permata itu dengan teliti, dan melakukan beberapa percobaan nekat. "Ini asli," gumamnya. Lalu meletakkan benda itu kembali ke tempatnya semula. Ia mengambil kotak kedua lalu membukanya. Reina menarik tinggi benda ke udara. Sebuah gaun malam berwarna navy yang kontras dengan warna kulitnya, terpampang jelas di hadapan Reina. Sesaat otaknya kembali teringat pada ucapan Keira tentang tamu yang menunggunya di bawah. Tapi, siapa? Apa ada hubungannya dengan semua hadiah ini? Reina berusaha menebak, namun buntu. Belum hilang rasa penasarannya, Reina kembali dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarnya. Dengan langkah terseok, Reina menarik kakinya untuk membuka pintu kamar. "Maaf, Nona." Pak Abdi terlihat berdiri di depan pintu. "Ada apa?" "Nona Keira sudah menunggu di bawah untuk sarapan pagi." "Iya, nanti aku menyusul. Aku mandi dulu." "Baik, Nona." Pak Abdi membalik tubuhnya dan bersiap untuk pergi. "Pak Abdi," panggil Reina. Pria tua itu terpaksa menghentikan langkahnya. "Ya?" "Apa Pak Abdi tahu siapa yang akan datang ke hotel ini?" Pria itu menautkan kedua alisnya lalu menggeleng pelan. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu." Setelah berkata seperti itu, Pak Abdi melanjutkan langkahnya menuju lift. Meninggalkan Reina sendirian di depan pintu. Lengkap sudah. Pikiran Reina semakin tidak tenang setelah mendengar jawaban Pak Abdi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Menerima hadiah itu dan memakainya? Tapi untuk apa? Pikiran Reina benar-benar buntu. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti perkataaan Keira. Dengan malas, Reina menyiapkan dirinya. Air shower mengalir deras menyiram tubuhnya, memberikan kesegaran baru padanya pagi ini. Perlahan tangannya mulai membalurkan shampo di rambutnya. Serta mulai menyabuni tubuh indahnya. Menutupi seluruh kulitnya dengan buih-buih harum. Seluruh buih itu perlahan turun setelah air shower kembali mengalir membasahi tubuhnya. Meninggalkan aroma menyegarkan di kulitnya yang kini terasa lembab. Gadis itu keluar dari kamar mandi setelah membersihkan rongga mulutnya dan menyikat barisan gigi putihnya. Reina memandang bayangan dirinya di depan cermin. Hari ini ia memilih pakaian semi formal, baju terusan setinggi lutut dipadu blazer. Melengkapi gayanya dengan giwang dan cincin dengan model serupa. Sementara rambutnya diikat tinggi diatas kepala. Ia melangkah keluar seraya mengulum senyumnya, setelah merias wajahnya hingga terlihat lebih cantik dari biasanya. Suara heelsnya menggema mengetuk lantai ketika Reina berjalan dengan terburu-buru. Reina membawa langkahnya memasuki restoran. Melempar pandangannya berkeliling untuk beberapa saat. Mencari keberadaan Keira di tempat itu. Hingga sebuah senyum terbit di wajahnya tatkala matanya terpaku pada satu sosok yang sedang duduk bersebrangan dengan seorang pria. Reina mempercepat langkahnya, mendekati meja dimana keduanya sedang duduk. Senyumnya terus bertahan bahkan semakin mengembang sempurna ketika mendapati sosok di hadapan Keira dengan jelas. Matanya membulat besar ketika pria itu berdiri seraya tersenyum ke arahnya. (Beberapa saat yang lalu...) Pak Abdi dengan diantar oleh seorang supir yang diutus oleh pihak manajemen hotel, berangkat menuju bandara saat hari gelap sebab matahari masih belum terbit. Mereka tiba tepat waktu saat pesawat yang mereka tunggu baru saja mendarat. Kedua orang itu berdiri di pintu keluar, menanti seorang tamu yang sudah dikenal baik oleh Pak Abdi. Hampir tiga puluh menit keduanya menunggu. Hingga sebuah tangan melambai kearah mereka. Seorang pria tampan tampak berdiri di belakang beberapa penumpang lain yang keluar bersamanya. Tangannya menarik sebuah koper kecil di sisinya. Benda itu beralih ke tangan Pak Abdi saat ia tiba di pintu keluar. "Apa mereka tahu saya datang hari ini?" Pak Abdi menoleh ke arahnya sambil tersenyum. "Saya rasa belum, Tuan Muda. Tapi saya tidak bisa menjamin jika Tuan Sanjaya sendiri yang mengabari mereka," jawab Oak Abdi lugas. Lelaki itu tersenyum. "Setidaknya tetap rahasiakan ini jika ada yang bertanya," pintanya kemudian. "Baik, Tuan Muda. Anda bisa mempercayai saya." "Makasih, Pak." Lelaki muda itu menepuk bahu Pak Abdi. Mobil itu berlalu pergi meninggalkan area bandara. Hari mulai terang, matahari mulai menunjukkan dirinya dengan malu-malu. Tiga puluh menit mereka tempuh untuk sampai di hotel Kesuma Grup. Pak Abdi menuntun pria muda itu menuju kamarnya setelah check-in di meja resepsionis. Kamarnya berada tepat di seberang kamar yang ditempati oleh kedua putri Sanjaya. Mereka sengaja memilihkan kamar itu untuknya. Setelah beristirahat melemaskan tubuhnya, ia bersiap-siap untuk turun. Memberikan kejutan pada gadis yang akan menjadi pasangannya hidupnya kelak. Ya, pemuda itu adalah Banyu Danuarta. Putra tunggal dari pasangan Dimas Danuarta dan Lena. Sahabat baik keluarga Kesuma. Kedua orangtua mereka, Dimas dan Sanjaya adalah sahabat dekat ketika mereka masih duduk di bangku kuliah. Bedanya, Dimas menikahi kekasihnya sebelum menyelesaikan pendidikannya. Sementara, Sanjaya masih harus meneruskan usaha sang ayah, Atmajaya Kesuma, setelah ia lulus kuliah. Ia menikahi Ayuningtias karena perjodohan. Atmajaya menjodohkannya dengan putri sahabat kecilnya dulu. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniakan seorang putri cantik bernama Reina Santika Kesuma. Nama gadis itu, yang kemudian menjadi cikal bakal Hotel Santika Kesuma, bagian dari jaringan Hotel Kesuma Grup, yang kini dikelola oleh Sanjaya Kesuma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD