Bab. 25

1279 Words
Bagai disambar petir yang datang sebelum hujan turun. Ucapan Reina membuatnya shock. Ucapan yang bakal menyusahkan Keira pada ujungnya. Sama seperti hujan yang turun deras disertai angin kencang, Keira khawatir bila ucapan Reina akan membawa masalah baru dalam hidup mereka yang bakal ikut menyeret dirinya kelak. Gadis itu tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Kenapa bisa bicara semudah membalikkan telapak tangan? Apakah dia pikir punya bayi bisa segampang itu? Apakah menurutnya bayi itu keluar dari cangkang telur? Apakah dia berpikir bahwa semua bayi itu mungkin diproduksi oleh pabrik bayi, hingga dengan mudah menentukan berapa banyak bayi yang ingin dia miliki? Ya ampun, ada apa dengannya? Apa gadis itu baru saja jatuh dan kepalanya terbentur lantai? Apa mungkin dia sedang mengalami geger otak karena terlalu stres seharian mengurung diri? Keira memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Otaknya terasa panas sekarang. Netranya yang hitam pekat menatap penuh curiga pada Reina yang sedang tersenyum padanya. Beberapa kali Keira menggelengkan kepalanya, berusaha mencerna kalimat itu dengan seksama. "Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu?" keluh Reina. Gadis itu berpindah duduk ke tepi ranjang. "Apa maksud ucapanmu itu? Apa kamu sedang bercanda denganku?" ucapnya setengah membentak. "Tentu saja tidak. Aku seius, Kei. Apa tidak boleh?" cicit Reina santai. Keira mendengus kesal mendengar jawaban adiknya itu. "Apa kamu sudah gila? Kenapa tiba-tiba ingin punya bayi?" tandasnya. "Hei, siapa yang gila? Aku?" Reina menuding dirinya sendiri. "Aku masih waras, Keira!" "Terus... kenapa tiba-tiba ngomong seperti itu? Apa kamu sudah ingin menikah?" "Tidak seperti itu!" sangkal Reina. "Aku cuma ingin punya bayi agar aku tidak kesepian lagi." "Apa?" Keira mengerutkan dahinya. "Iya, biar aku gak kesepian. Kau lihatkan, Papa dan Mama selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sekarang kau juga seperti mereka. Aku gak punya teman, gak punya siapa-siapa. Aku kesepian, Kei." "Dengar ya, kamu baru bisa punya anak kalau kamu sudah menikah. Masalah seperti itu kamu pasti paham, kan? Kamu bukan anak kecil lagi, jadi tidak perlu aku jelaskan padamu lagi." "Iya, aku paham. Jangan pikir aku ini bodoh! Sudahlah, aku malas berdebat denganmu." Reina bangkit berdiri. "Kamu mau kemana?" selidik Keira. "Mandi! Kau sudah janji pergi ke mall denganku sore ini," sahut Reina tak acuh, lalu membanting pintu kamar mandi. "Ya, Tuhan. Ada apa dengannya hari ini?" gumam Keira, memegangi kepalanya yang terasa pusing. Keira masih duduk sambil memainkan ponselnya. Menunggu Reina yang masih berkutat di dalam kamar mandi selama lebih dari setengah jam. Berulang kali Keira melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Diselingi desahan tak sabar yang keluar dari mulutnya. Tak sabar karena harus menunggu lama, Keira beranjak mendekati pintu kamar mandi. Tangannya teracung hendak menggedor pintu itu dengan keras, saat Reina tiba-tiba membuka pintu dan berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan terkejut. "Mau apa kau?" cetus Reina sambil melirik curiga. Keira menarik tangannya kembali sambil tersenyum kikuk. "Oh, ini... aku baru mau mengetuk pintu. Kenapa kamu lama sekali? Aku juga harus mandi." elaknya. "Aku baru selesai. Kulitku butuh perhatian ekstra, jadi aku butuh lebih banyak waktu untuk itu. Asal kau tahu aja, sudah hampir dua minggu aku belum melakukan perawatan kulit," ujar Reina membela diri. "Kamu bisa melakukannya lain waktu, bukan sekarang! Awas, aku juga mau mandi." Keira mendorong tubuh adiknya menjauh dari pintu kamar mandi. *** Keira dan Reina baru saja berhasil keluar dari sebuah ruangan, bersama dengan puluhan orang lainnya yang berjejer pelan di pintu keluar, setelah film yang mereka tonton usai. Ada perasaan lega saat tak lagi saling berdesakan dengan orang lain. Kedua gadis itu langsung berjalan menjauh, mencari tempat untuk bersantai sebelum pulang, karena waktu menunjukkan sudah pukul sembilan malam. Hari ini mereka putuskan untuk pergi berdua saja, tanpa pengawalan dari Pak Abdi karena hanya akan memancing para pencari berita beraksi. "Aku sangat senang hari ini. Lain kali kita harus sering jalan berdua seperti ini. Kau mau, kan?" "Tentu saja. Tapi tidak setiap hari karena aku harus bekerja," sahut Keira seraya menyesap jus jeruknya. "Aku tau. Kalau aku bosan di hotel, aku boleh datang sendirian kesini, kan? Setidaknya kau sudah tahu kemana aku pergi." Reina mengerjapkan matanya beberapa kali agar Keira menyetujuinya. "Baiklah. Tapi kamu harus hati-hati karena kita cuma pendatang di kota ini." "Baiklah, aku mengerti," sahut Reina cepat. "Lain kali bisa 'kan kalau kita datang ke klub bersama? Sudah lama aku tidak minum. Setidaknya untuk buang stres yang udah numpuk. Boleh, ya?" bujuk Reina seraya tersenyum manis. "Kau tidak ingin 'kan kalau kejadian waktu itu menimpaku lagi? Jadi kau harus temani aku. Please..." ucap Reina memohon. "Iya, iya... aku temani. Aku ini bukan kakak yang jahat." "Kau memang yang terbaik, Kei." Reina merangkul Keira erat, membuat orang-orang disekitarnya menatap risih, dan saling berbisik. Kedua kakak dan adik itu hanya tertawa menanggapinya. Mereka pergi dari tempat itu dengan santai. Beberapa saat keduanya menunggu di depan pintu keluar, hingga sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. "Kita langsung balik ke hotel ya, Pak." Keira memberikan perintah ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil. Mobil itu perlahan maju meninggalkan pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota Medan. Tempat itu memang tidak terlalu jauh seperti yang Reina katakan, hanya butuh sepuluh menit untuk kembali ke hotel jika jalanan sedang tidak macet. "Apakah kau betah tinggal disini?" tanya Reina memecah keheningan di dalam mobil. "Kenapa? Apa kamu tidak betah?" Ia melempar pertanyaan itu kembali. "Tidak, jika aku bersama denganmu." Reina tampak memaksa senyumnya, lalu hening kembali hingga mobil tiba di depan pintu masuk hotel. Keduanya melangkah pelan, mengabaikan beberapa orang yang memandang ke arah mereka. Termasuk sosok Alex yang berpangku tangan saat melihat keduanya. "Apa kalian selalu keluyuran seperti ini setiap malam?" cicit Alex. Kedua gadis itu menoleh ke arahnya, tatapan keduanya sama sinisnya. "Bukan urusan anda!" Reina menyahut ketus, manarik lengan Keira menyingkir dari sana. Bukan Alex namanya jika membiarkan gadis itu lepas dari jangkauannya. Harga dirinya sebagai pria sedang dipertaruhkan. Baru kali ini ada gadis yang menolaknya dengan terang-terangan. "Kenapa? Apa kau marah padaku?" Alex menarik lengan Reina sebelum gadis itu berhasil pergi. "Enggak." "Lalu kenapa sikapmu seperti itu?" "Please... lepasin, lenganku sakit." "Maaf," ucapnya saat melepas cengkramannya di lengan gadis itu. "Boleh aku bicara dengannya sebentar?" Alex balas menatap Keira yang sejak tadi melihat keduanya dengan tatapan bingung. "Tidak usah, Kei. Aku tidak punya urusan dengannya," ucap Reina cepat membuat Keira semakin penasaran. Dengan cepat gadis itu menyentak tangan Reina hingga terlepas. "Ada apa dengan kalian berdua? Kemarin kalian masih baik-baik aja, kenapa sekarang malah bertengkar?" cecar Keira emosi. Melihat keduanya bergantian. "Silahkan kalian bicara! Aku akan tunggu disini," ucap Keira akhirnya. Membiarkan Alex membawa adiknya sedikit menjauh. Sementara Reina terus saja menggerutu karena sang kakak membiarkan Alex menariknya. Wajahnya tampak ditekuk. "Kenapa? Apa kau marah padaku? Katakan saja," pancing Alex. "Enggak. Aku kan sudah bilang," cicit Reina. "Lalu kenapa wajahmu seperti itu? Kau juga selalu menghindar dariku. Lihat aku, Rein." Gadis itu menghela nafasnya berat. "Ada apa denganmu? Aku sama sekali tidak menghindarimu. Aku hanya --" Reina menggantung kalimatnya, memastikan jantungnya dalam keadaan baik. "Hanya apa?" "Hanya tidak suka denganmu," jawabnya pelan. "Kenapa? Apa kau sudah punya pacar?" Reina melotot. "Apa?" Jantungnya serasa hampir lepas dari tempatnya. "Apa kau sudah punya pacar? Karena itukah kau menolakku?" ucap Alex lagi. "Apa? Menolaknya? Kapan aku melakukan itu?" gumam Reina. Ia diam mematung menatap pria di depannya dengan perasaan yang entah. "Apakah kau tidak ingin jadi kekasihku?" Alex berkata lagi. "Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan. Banyak gadis diluar sana yang berebut ingin jadi kekasihku." "Hahh?" Mulut Reina terbuka lebar. "Apa maksudmu? Kau pikir siapa dirimu? Dengar ya, aku gak butuh uangmu itu!" balas Reina. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dengan langkah besar gadis itu pergi meninggalkannya. "Ayo pergi, Kei! Pria itu sudah gila." Reina menarik lengan kakaknya menuju lift. Keira hanya menurut saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD