Atmajaya Kesuma berang ketika menerima kabar bahwa cucunya akan menikah tanpa melibatkannya. Tangannya terkepal kuat, tetapi tidak mampu melakukan apapun untuk mencegah perjodohan itu.
Selama bertahun-tahun pria tua itu menyimpan penyesalan di dalam hatinya, karena perjodohan yang ia lakukan dulu pada putra satu-satunya. Dengan mata kepalanya sendiri Atmajaya melihat kehancuran rumah tangga putranya meski dibalut dengan sangat rapi.
Karena itu, ia tidak ingin kedua cucunya mengalami nasib yang sama seperti orangtua mereka. Atmajaya ingin agar kedua gadis itu dapat menikah dengan laki-laki pilihan mereka sendiri. Lagipula, pemikiran Reina berbeda dengan sang kakak. Atmajaya tidak yakin bila Reina mampu memikul beban sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Gadis itu terlalu kekanakan dan juga urakan. Atmajaya khawatir, apa yang pernah dialami oleh putra dan menantunya akan dialami juga oleh Reina.
Pada siang itu juga, dengan menaiki mobil mewahnya, Atmajaya Kesuma bersama perawat beserta asisten pribadinya berangkat menuju kediaman Sanjaya. Berharap keputusan itu dapat dibatalkan dengan kehadirannya disana.
Raut wajahnya terlihat tidak tenang. Ia membuang wajahnya menatap ke luar dari jendela samping. Suara hembusan nafasnya terdengar berat kala pria itu menghela nafasnya panjang. Rasanya tak sabar ingin lekas sampai disana tepat waktu.
Jarum jam arlojinya terus berputar searah, menciptakan detak seirama dengan degup jantung Kakek Kesuma saat ini. Butuh waktu satu jam untuk sampai di kediaman Sanjaya. Dan saat itu terjadi, ia berpikir bahwa semuanya mungkin sudah terlambat.
Drrt... drrt... drrt.
Kakek Kesuma terkejut untuk beberapa saat ketika ponsel di sakunya bergetar. Netra tuanya menatap layar pipih bertuliskan sebuah nama, Keira Kesuma.
"Halo, nak." Kakek Kesuma tersenyum tipis.
"Kakek apa kabar?"
"Kakek baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya. Bagaimana denganmu? Apakah pekerjaanmu lancar? Apa Reina membebanimu?"
"Semuanya baik-baik aja, Kakek. Reina tidak seperti itu."
"Jangan terlalu membelanya, Kei. Kamu harus fokus dengan pekerjaanmu. Dimana kalian?"
Terdengar desah nafas Keira saat gadis itu tertawa pelan di ujung sana.
"Itu tidak benar, Kakek. Reina sangat baik, ya sejauh ini." Keira terdengar membela adiknya.
"Baiklah. Ada apa menelpon?" Kakek Kesuma kembali mengingatkan Keira pada tujuannya semula.
"Oh, itu. Ya... tadi pagi Bu Marta menelpon dan bertanya kapan kami akan pulang. Aku pikir pasti ada alasannya kenapa dia bertanya seperti itu," sahut Keira tanpa basa-basi.
"Aku penasaran. Apa yang terjadi? Apakah Kakek mengetahuinya juga? Bukankah Kakek yang memintaku untuk tetap berada disini selama tiga bulan ke depan?" cecar Keira lagi.
"Tidak ada yang terjadi. Jangan terlalu memikirkannya. Kakek ingin kamu tetap berada disana untuk menguasai semuanya. Kakek mendengar bahwa telah terjadi kecurangan disana, tolong kamu selidiki. Bisa kan? Dan Reina, kamu bisa mengirimnya pulang jika gadis nakal itu menyusahkanmu."
"Tidak, Kakek! Aku bukan gadis nakal dan aku tidak pernah mengganggu pekerjaan Keira!" Reina menyahut cepat sebelum Keira sempat bersuara.
"Ooh... ternyata kamu disana juga." Terdengar suara Kakek Kesuma tertawa pelan.
"Jangan ganggu kakakmu saat dia bekerja," ujar Atmajaya. "Dan jika kamu bosan, kamu boleh pulang bersama Abdi. Kamu paham?"
"Aku gak mau pulang! Tidak ada siapa pun disana!" jawab Reina ketus.
"Gadis nakal! Kalau begitu, kamu harus membantu pekerjaan Keira. Kamu harus belajar agar bisa memimpin hotel itu suatu saat nanti. Apa kamu mengerti?" Atmajaya mengeraskan suaranya setengah membentak. Satu tangannya terkepal kuat menekan dadanya yang terasa nyeri.
"Sudahlah Kakek, jangan terlalu memaksanya. Aku akan tetap berada disini untuk melakukan apa yang Kakek perintahkan," sahutnya.
"Saat ini kami sedang makan siang. Apakah Kakek sudah makan?" Suara lembut Keira seakan menghipnotis Atmajaya, menetralkan ketegangan yang terjadi setelah percakapannya dengan Reina.
"Baiklah. Lanjutkan makan kalian. Kakek dalam perjalanan untuk menemui orangtua kalian. Mereka sudah tiba di rumah sekarang."
"Benarkah? Mungkin itu sebabnya mereka bertanya kapan kami pulang." Keira terdengar menghela nafasnya berat.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam untuk mereka semua," ucap Keira sebelum panggilan mereka berakhir.
Atmajaya menarik nefasnya panjang, kemudian melepaskannya perlahan. Melakukan hal itu berulang kali, agar rasa nyeri di dadanya memudar.
Tatapannya lurus ke depan, ke arah jalanan aspal yang membentang di hadapan mereka. Ia termenung, seakan tengah memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
"Apakah yang aku lakukan ini sudah benar?" gumamnya pelan. Asisten pribadinya melirik ke arahnya dari spion depan.
Satu jam berlalu. Mobil yang membawa Atmajaya terparkir di pelataran depan. Perawat menurunkan Atmajaya dengan hati-hati. Dan mulai mendorong pria tua itu masuk ke dalam rumah. Melewati beberapa maid yang menyambut mereka dengan kepala tertunduk.
Ketiga orang itu melangkah masuk lebih jauh ke dalam rumah saat tak mendapati seorangpun berada di ruang tamu. Bahkan ruang keluarga juga terlihat kosong. Ketiganya lantas meneruskan langkah menuju ruang makan. Sama seperti ruangan lainnya, tempat itu pun kosong melompong seperti baru saja dibersihkan.
"Marta!" panggil Atmajaya kuat.
Seorang wanita berlari dari arah dapur dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat kaget ketika mendapati Tuan Besar Kesuma telah berada di rumah itu tanpa diketahui olehnya.
"Maaf, Tuan." Marta berkata dengan nafas tersengal-sengal.
"Dimana Sanjaya dan juga tamu mereka?" pekik Atmajaya dengan nada marah.
"Ma-maaf, Tuan. Mereka baru saja pergi setelah makan siang." Wanita itu menjawab dengan rasa takut. Tangannya memilin ujung bajunya.
"Kemana?"
"Sa-saya tidak tahu, Tuan."
"Apakah Ayu juga pergi bersama mereka?"
"Be-benar, Tuan."
"Aku memintamu menjad mata dan telinga untukku di rumah ini. Jadi, apakah kau tahu siapa yang akan mereka nikahkan?" tanya Atmajaya lagi.
"I-iya, Tuan. Tuan Sanjaya akan menikahkan Nona Reina dengan Tuan Muda Banyu," jawab Marta.
"Reina?"
"Benar, Tuan."
"Apakah kau memberitahu mereka berdua? Keira baru saja menelpon dan mengatakan bahwa kau bertanya kapan mereka pulang. Apa itu benar?" cecarnya lagi dengan tatapan tajam menusuk.
"I-iya, Tuan. Saya hanya bertanya saja. Tapi tidak memberitahu apapun pada mereka." Kali ini, wajah Marta kian memucat takut.
"Jaga rahasia ini dari mereka. Kau dengar? Hal ini jangan sampai bocor ke publik." Atmajaya mengangkat telunjuknya tinggi di hadapan Marta sebagai peringatan.
"Ba-baik, Tuan Besar."
Atmajaya dan dua orang yang mengikutinya langsung angkat kaki dari rumah itu. Meninggalkan Marta yang berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Setelah bertahun-tahun bekerja dengan keluarga Kesuma, baru kali ini ia mendengar pria tua itu terlihat begitu marah hingga bicara dengan membentak keras padanya. Membuat maid lain yang bekerja sebagai bawahannya ikut merasa takut.
***
"Kenapa kau selalu sok bersikap manis seperti itu?" Reina cemberut, bibirnya maju dua inci.
"Apaan, sih? Siapa yang bersikap manis? Harusnya sikapmu itu yang harus dirubah! Kamu tidak pantas membentak Kakek Kesuma seperti itu." Keira ikut mencebik kesal melihat tingkah adiknya itu.
"Untung saja aku membelamu tadi. Jika tidak, kamu pasti akan dipaksa pulang oleh Kakek."
Kedua mata Reina mendadak melotot saat mendengar perkataan kakaknya.
"Apaan sih, Kei. Gak lucu! Aku gak butuh dibela. Aku 'kan gak pernah mengganggu saat kau bekerja. Justru aku yang hampir mati bosan karena berkurung di kamar terus." Reina mendengus kesal.
"Terserahmu! Lain kali aku gak akan mau membelamu lagi," rajuk Keira. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Iya, terserah! Tapi kau harus tetap mentraktirku sore ini karena kau sudah janji." Reina tersenyum miring dengan alis yang naik - turun.
"Hmm... tapi kamu harus janji, jangan membuat ulah lagi selama aku bekerja. Kalau kamu mau pergi kemana pun, atau ingin melakukan sesuatu, katakan lebih dulu padaku. Kalau kamu tidak ingin diatur, aku akan minta Pak Abdi untuk membawamu pulang."
"Iya, iya. Terserah kau saja!"
Reina menyandarkan punggungnya, sementara tangannya dilipat bersedekap di depan d**a. Daripada dipaksa pulang, lebih baik ia mengalah.
Sementara Keira menyunggingkan senyum licik. Senang karena berhasil membuat adiknya yang keras kepala itu jadi penurut.
"Apa kamu udah selesai? Aku mau balik duluan. Ada laporan yang harus aku kerjakan. Setelah kerjaanku beres, kita langsung pergi. Oke!"
Keira mengerling lalu bangkit berdiri. Meninggalkan Reina sendirian sebelum gadis itu mulai membuka mulutnya lagi. Suara heelsnya mengetuk lantai, semakin lama semakin jauh.
Reina hanya bisa mengumpat kesal di dalam hati. Memandangi punggung Keira dari jauh, hingga gadis itu tak terlihat lagi.
"Jangan membuat ulah lagi? Emangnya apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semua orang ingin sekali mengatur hidupku?" gerutunya pada diri sendiri.
Reina mengakhiri makan siangnya, lalu kembali ke kamar hotel. Hotel mewah itu kini seakan tak memiliki nilai lebih dimatanya, saat hidupnya hanya berputar di dalam kamar, restoran dan lobi hotel.
Bagaimana kalau berenang?
Tidak. Reina tak suka menjadi pusat perhatian karena membuka tubuhnya di depan umum.
Gym?
Oh, no. Reina bukan type wanita yang suka olah raga.
Bar and Lounge?
Reina tidak akan mendatangi tempat itu lagi. Pengalaman buruknya saat pertama kali tiba di tempat itu membuatnya jera. Kecuali, jika Keira bersamanya mungkin dapat dipertimbangkan.
Layanan spa? Reina mengulas senyum penuh arti. Sayangnya, tidak untuk saat ini. Karena Keira bisa kembali ke kamar kapan saja.
Reina menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kuat. Merebahkan tubuhnya dan menghabiskan waktu sepanjang siang dengan menonton televisi.
Tatapan Reina terpaku lurus menatap layar kaca di depannya. Mengikuti jalan cerita dengan raut wajah serius. Sesekali wajahnya ikut merona, dengan mata memerah. Reina terhipnotis. Airmatanya ikut mengalir bersama cairan dari hidungnya. Pucuk hidungnya memerah karena gadis itu berulang kali menyekanya dengan tissu.
Reina terbawa perasaan, membuatnya fokus menatap layar televisi hingga tak menyadari kehadiran Keira di ruangan itu sejak sepuluh menit yang lalu.
"Kenapa kamu menangis?"
Sapaan itu mengejutkan Reina. Ia bangkit, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Lalu menyeka wajahnya dengan tissu.
"Sejak kapan kau berdiri disitu?" Mata Reina melotot tajam.
"Sudah sejak tadi."
"Apa? Sial! Kenapa kau tidak langsung masuk saja?" Reina mengumpat kesal.
"Kenapa? Kamu malu? Bukannya selama ini kamu memang cengeng, ya?" ledek Keira. Sebuah bantal dengan cepat melayang kuat ke arahnya.
"Aku tidak seperti itu!" pekik Reina tak mau kalah. Sayangnya, jawaban itu malah membuat Keira tertawa mengejeknya.
Keira terpaksa menutup mulutnya karena pelototan tajam dari Reina. Karena jika diteruskan, gadis itu akan berteriak histeris karena ulahnya. Dan itu sungguh merepotkan.
"Jadi, kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak ingin membaginya denganku?" tanya Keira perlahan setelah tawanya mereda.
"Tidak. Karena kau hanya akan mengejekku lagi," tolak Reina. Matanya kembali fokus menatap layar televisi.
"Aku tidak akan tertawa. Aku janji."
"Mm... well, aku ingin punya bayi. Bukan hanya satu, tapi kembar. Mungkin dua atau tiga bayi sekaligus. Bagaimana menurutmu?"
"Apa maksudmu, Rein?" Mata Keira membola.