"Keira, tunggu aku!" Reina kecil berlari mengejar kakaknya.
Dengan cepat melepaskan genggaman tangannya dari jemari seorang pria tua yang masih terlihat gagah saat itu. Kemudian menangkap tangan kakaknya dan menggenggamnya kuat.
Keira tersenyum lebar ke arahnya sambil mengusap pipi kemerahan adiknya dengan lembut.
"Jangan takut. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin bermain ayunan dengan Ibu Marta." Wajahnya mendongak, menatap wajah wanita tinggi yang berdiri di sampingnya.
"Tapi aku ingin ikut denganmu," ujar Reina kecil dengan nada manja.
"Ayo, ikut denganku. Aku akan membantumu naik." Keira menuntun adiknya untuk duduk di sebuah ayunan besi berbentuk lingkaran besar dengan bangku saling berhadapan.
"Ayo Kakek, duduk disini." Reina menepuk ruang kosong di sampingnya.
Pria tua gagah itu bernama Atmajaya Kesuma, orangtua Sanjaya Kesuma. Tubuhnya masih tegap dengan sedikit kerutan di wajahnya. Tersenyum manis memandang kedua cucunya yang tengah bermain riang di taman samping rumah kediamannya. Ia sengaja membuat taman itu untuk tempat bermain bagi kedua gadis kecil itu.
Putra dan menantunya nyaris tak punya waktu untuk merawat dan menemani anak-anak itu. Sehingga ia meminta supir setianya, Abdi, mengantarkan kedua cucunya beserta pengasuh mereka ke rumah kediamannya.
Atmajaya Kesuma merasa tenang jika kedua gadis kecil itu tinggal bersama dengannya. Meskipun tak bisa menggantikan peran orangtua mereka.
Ia sadar, anak dan menantunya mulai terlihat dingin satu sama lain semenjak Keira hadir diantara mereka. Tetapi, bukan berarti menimpakan kesalahan itu sepenuhnya pada Keira. Jika bisa memilih, mungkin Keira akan memilih untuk tidak menjadi bagian dari keluarga besar Kesuma.
"Kakek, ayo sini!" Keira menarik jemari besar milik Atmajaya. Membawanya mendekat lalu duduk di ayunan bersama dirinya dan Reina.
"Kakek, ayunannya tidak mau bergerak. Bagaimana ini?" tanya Reina polos, wajahnya terlihat panik. Lelaki itu tersenyum sembari mengusap puncak kepala Reina.
"Kakek akan membuatnya bergerak. Kalian harus berpegangan yang kuat, ya." Atmajaya mulai mendorong ayunan besi itu dengan kakinya. Ayunan mulai bergerak, semakin lama semakin cepat. Kedua bocah itu tertawa kegirangan.
(Flashback off)
"Keira! Kapan kau sampai? Kenapa tidak mengabariku?" seru Reina antusias di tempatnya berdiri.
Keira muncul dari arah depan sambil tersenyum lebar, diiringi oleh Pak Abdi yang menenteng beberapa goodybag di kedua tangannya.
"Letakkan disana saja," ujar Keira, menunjuk meja kaca lebar di tengah ruangan.
"Baik, Nona."
"Bagaimana kabar Kakek? Maaf, lama tidak datang untuk menjenguk Kakek." Keira menyalami Kesuma lalu memeluknya erat.
"Kakek baik-baik saja," jawabnya senang.
Keira berpaling menatap Reina yang mulai terlihat cemberut.
"Bagaimana denganmu? Kamu tidak membuat ulah lagi, kan? Jangan sering menggoda Kakek," katanya tenang. Ia menarik Reina untuk duduk di sampingnya.
"Ini, aku membelikan ini untukmu. Selalu, spesial edition. You must be like it." Keira mengambil sebuah goodybag dan melangsirnya ke tangan Reina.
"Hanya ini?" protes Reina cepat.
"Jika ingin lebih, kamu bisa membelinya sendiri!" Keira mencibir kesal. "Setidaknya, ucapkan terima kasih padaku!"
"Hmm..." balas Reina sebal.
"Dan ini untuk Kakek." Keira mengambil sebuah goodybag berukuran lebih besar dari yang lainnya.
"Tidak mahal, tapi aku harap Kakek menyukainya," ucapnya tulus.
"Terima kasih. Tapi, apa ini? Kenapa banyak sekali?" Kakek Kesuma mengerutkan keningnya.
"Ini hanya suplemen untuk kesehatan tubuh. Aku sengaja membelinya untuk Kakek."
"Terima kasih, Kakek akan mengkonsumsinya setiap hari. Apa ini bisa membuat Kakek tampak awet muda?"
"Apa?" Keira membelalak kaget.
Kakek Kesuma tertawa terbahak-bahak. "Lupakan saja," serunya. Keira menghela nafasnya panjang.
"Aku membeli ini untuk Pak Abdi." Keira menyodorkan sebuah goodybag dari dua yang tersisa, kepada supir terbaiknya itu.
"Terima kasih, Nona. Saya rasa, saya tidak membutuhkannya." Pak Abdi berusaha menolaknya secara halus.
"Saya akan marah jika pemberian saya ditolak seperti ini." Keira sengaja membulatkan matanya lebar.
"Maaf, Nona. Tapi --"
"Tidak ada tapi-tapi!" Potong Keira cepat. "Terima saja! Pak Abdi pantas menerimanya."
"Terima kasih, Nona." Supir tua itu mengundurkan diri dari sana.
"Sebenarnya, kenapa kakek meminta kami datang kesini? Apakah ada sesuatu yang penting?" Reina kembali mengingatkan tujuan kedatangan mereka.
"Tidak bisakan Kakek meminta kalian datang hanya karena merindukan kalian? Kalian tahu, sudah berapa lama kalian tidak datang kesini?" Kakek Kesuma mencari-cari alasan.
"Come on. Aku tahu kalau Kakek punya alasan penting yang lebih masuk akal dari itu," protes Reina cepat.
"Apa yang ingin Kakek bicarakan sebenarnya?" pancing Reina lagi. Kakek Kesuma tertawa lebar.
"Baiklah. Ternyata tak mudah menipu kalian," serunya kemudian.
"Kami sudah besar, Kakek. Kami bukan anak-anak lagi."
"Reina!" tegur Keira. Matanya melotot tajam. Membuat Reina mendesah kesal.
"Sudah, tidak apa-apa." Tangan pria itu mengibas udara.
"Aku memanggil kalian karena ingin membicarakan sesuatu."
"Ada apa?" lirik Keira. Segalanya berubah serius.
"Kakek memutuskan untuk menyerahkan salah satu hotel padamu untuk kamu kelola." Kakek Kesuma menunjuk Keira. Kedua gadis itu tampak terkejut.
"Kenapa? Bukankah sudah ada Papa yang mengelolanya?" tanya Keira memastikan pendengarannya tidak salah.
"Itu memang benar. Tapi Kakek ingin kalian juga belajar untuk mengelola apa yang akan menjadi milik kalian dikemudian hari. Tidak bisa selamanya mengandalkan orang lain, bahkan orangtua kalian sendiri."
"Tapi, Kek... aku belum paham sepenuhnya cara mengelola hotel itu. Bisa-bisa, aku hanya akan membuat kerugian besar bagi kita." Keira berusaha menolak. Netranya menatap Reina dan Kakek Kesuma bergantian.
Kakek Kesuma diam beberapa saat, seperti orang yang sedang berpikir.
"Kau bisa belajar dari bawah," ucap Kakek Kesuma pada akhirnya.
"Maksudnya?" Kedua alis Keira saling terpaut.
"Untuk menjadi pemimpin, kamu harus belajar jadi bawahan.Kamu bisa mulai bekerja besok. Kakek akan menempatkanmu sebagai Manager marketing. Kamu bisa mulai dari sana."
"Bagaimana denganku?" Reina menunjuk dirinya sendiri.
"Kakek juga akan meminta hal yang sama padamu. Namun sebelumnya, kamu harus memperbaiki sifatmu dulu."
"Kenapa? Apa yang salah dengan itu?" Reina menghela nafas kesal.
"Sebagai pewaris keluarga Kasuma, kalian harus bisa bersikap dewasa dan profesional. Mulai sekarang, kamu harus belajar mengandalkan dirimu sendiri. Jangan selalu berlindung di belakang Keira. Dia punya kehidupannya sendiri," sambung Kakek Kesuma. Reina menyentak nafasnya kuat. Ia merasa belum siap jauh dari Keira.
***
Reina mengikuti Keira untuk naik ke lantai dua, dimana kamar mereka berada. Dua orang maid terlihat baru saja keluar dari kedua kamar yang saling bersebelahan itu. Itu adalah kamar yang sama, yang mereka tempati sejak masih kecil.
"Kei!" panggil Reina.
"Ada apa lagi?" Keira menyahut tanpa menghentikan langkahnya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kakek tiba-tiba ingin kita bekerja di hotelnya?" tanya Reina penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin Kakek hanya bermaksud baik agar kita bisa meneruskan usahanya itu," jawab Keira sekenanya.
"Tapi 'kan ada Papa?" cecar Reina lagi. Gadis itu ikut merebah di sebelah Keira.
"Entahlah, aku juga gak tahu."
"Apa Kakek ingin mewariskan semua usahanya itu pada kita?" tebak Reina asal, wajahnya terlihat sumringah.
"Mungkin," sahut Keira tak ambil pusing, dan malah tertidur disana tanpa disadari oleh Reina.
"Aku hanya bingung, Kei, untuk apa kita ikut bekerja. Padahal Kakek memiliki orang-orang yang bisa melakukan semua pekerjaan itu untuknya. Iya 'kan, Kei?" lanjut Reina. Ia masih berkutat dengan pikiran saat dengkuran halus milik Keira mulai terdengar.
"Keira!" teriak Reina kesal.
Sebuah bantal melayang ke tubuhnya. Keira tak perduli. Tubuhnya merasa begitu lelah, sehingga tak menghiraukan apapun yang Reina lakukan. Dengan wajah kesal, Reina keluar dari kamar itu sambil menghentakkan kakinya menuju kamarnya sendiri.
Ia meletakkan goodybag miliknya di atas nakas. Lalu melepas sepatunya dan melemparnya kesembaran arah. Hatinya sudah sangat kesal pada Keira sejak Keira meninggalkannya sendirian tadi pagi. Tanpa sadar, Reina ikut tertidur pulas sore itu.