Perasaan Reina sedikit tenang sekarang, karena sudah mendapatkan kabar dari Keira tentang keberadaannya saat ini. Meskipun kakaknya itu akan terlambat tiba di rumah Kakek Kesuma, sudah tak jadi masalah baginya.
Senyumnya kembali terurai kala membuktikan perkataan Keira beberapa saat yang lalu. Nominal angka di akun rekening miliknya sukses membuat Reina tercengang. Keira tidak berbohong padanya.
Di dalam hati, Reina mengumpat kesal karena uang itu merupakan uang tutup mulut dari papanya agar tak banyak menuntut. Meskipun disisi lain, hatinya juga merasa girang. Setidaknya, Sanjaya masih mengingat mereka walaupun harus menukar waktunya dengan uang yang ia miliki.
"Apa kita bisa singgah sebentar?"
Pak Abdi melirik melalui kaca spion kala ia mendengar nonanya bicara.
"Kenapa, Nona? Apa ada tempat yang ingin anda kunjungi?"
"Iya. Bisakah kita singgah di toko anggur? Aku ingin membelinya untuk Kakek. Hatiku mengatakan bahwa akan ada perayaan disana nanti."
Meski tak mengerti sepenuhnya, Pak Abdi tak ingin membantah.
"Baik, Nona." Lelaki tua itu menyahut patuh. Kemudian mulai memutar stirnya ke tempat lain.
Seperti biasa, dia dengan singgap menekan pedal gas, kembali pada kecepatan yang sesungguhnya. Harusnya ada yang memberinya aplaus karena kesetiaan dan kemahirannya itu.
Pak Abdi mengarahkan kendaraan mereka menuju toko anggur terbaik yang merupakan langganan Tuan Sanjaya. Lagipula, sudah tugasnya untuk mengetahui semua tempat penting yang akan menjadi tujuan orang kaya menghabiskan uang mereka.
Reina menyerahkan sebuah blackcard pada Pak Abdi sebelum keluar dari mobil. Reina menyerahkan tugas itu padanya. Tak sampai sepuluh menit, Pak Abdi keluar dari sana sambil menenteng sebuah tas berisi barang pesanan Reina. Ia membawanya dengan hati-hati.
"Terima kasih." Reina tersenyum manis.
Pak Abdi tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
Mobil kembali menyala dan perlahan berlalu dari tempat itu. Pak Abdi kembali menambah kecepatan mobil saat melintasi jalan raya. Tatapannya kembali fokus ke depan.
"Pak Abdi punya anak?" Reina tiba-tiba nyeletuk dari bangku belakang.
Supir tua itu melirik sekilas lalu kembali fokus. "Punya," jawabnya pendek.
"Sudah menikah?" Lagi-lagi Reina melontarkan pertanyaan padanya.
"Yang sulung sudah menikah. Yang kecil masih kuliah."
Reina menganggukkan kepalanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
"Pak Abdi tidak rindu dengan mereka?"
Tatapan mereka bertemu saat supir tua itu menatapnya sekilas dari kaca spion.
"Apa anda merindukan Tuan?" Lelaki itu balik bertanya.
Reina hening sejenak, seperti tengah berpikir.
"Tentu saja. Tapi... sepertinya Papa tidak pernah merindukanku ataupun Keira." Reina membuang pandangannya ke jendela samping. Ia menyentak nafasnya kuat.
"Anda salah, Nona. Tuan pasti rindu pada keluarganya. Hanya saja, pekerjaan menuntutnya untuk pergi jauh."
Jawaban supir tua itu seakan menghantamnya kuat.
"Apakah benar seperti itu? Dia bahkan tak pernah ada sejak aku kecil. Apa itu yang namanya orangtua?" protes Reina. Namun wajahnya menunjukkan raut datar tanpa ekspresi.
"Saya juga seperti itu. Saya hampir tidak pernah pulang ke rumah sejak bekerja dengan Tuan Besar Kesuma." Pak Abdi menyahut perkataan Reina. Berusaha menutup lubang menganga di hati gadis itu. Setidaknya bisa membuatnya tidak berpikiran buruk pada orangtuanya.
"Tapi bukan berarti saya lupa pada istri dan anak-anak saya. Saya sangat merindukan mereka." Ia berkata lagi.
Reina kembali menatap ke arah supirnya itu.
"Benarkah?" tanyanya memastikan.
"Ya, Nona."
"Pak Abdi sudah berapa lama bekerja dengan Papa?"
"Lama sekali. Jauh sebelum Tuan Sanjaya menikah. Saat itu saya masih bekerja pada Tuan Besar Kesuma."
"Benarkah?" Reina menegakkan duduknya. "Bagaimana dengan keluarga Pak Abdi?" tanyanya penasaran.
"Iya, Nona. Saat itu saya masih bisa ijin untuk pulang ke kampung karena Tuan Besar memiliki beberapa orang supir. Tapi, setelah Tuan Sanjaya menikah, saya diharuskan untuk mengabdi padanya."
"Sejak itu Pak Abdi gak pernah pulang?" sambar Reina cepat.
"Iya, Nona." Supir tua itu berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa tidak minta ijin sama Papa?" Alis Reina nampak saling bertaut.
"Tuan tidak mengijinkan."
"Kenapa?"
"Karena hanya saya yang dimiliki oleh Tuan Sanjaya. Beliau tidak percaya pada supir lain untuk bekerja padanya."
"Tapi sekarang Papa sudah punya supir lain, kan? Kenapa tidak coba untuk meminta ijin padanya?" Tanpa sadar, tangan Reina mencengkram pinggiran kursi. Hatinya merasa kesal sekaligus iba.
"Nona Keira sangat membutuhkan bantuan saya. Begitu juga dengan Nyonya."
Reina menghela nafasnya kesal saat lelaki itu mengingatkannya pada sosok wanita yang telah menyia-nyiakan dirinya dan Keira.
"Mama sudah lama tidak ada disini. Keira juga bisa menyetir mobilnya sendiri." Reina memberengut kesal. Pak Abdi tak menyahut lagi.
***
Keira menenteng tas belanjaannya pada kedua tangan saat berjalan memasuki terminal keberangkatan di bandara. Sementara tas tangannya sengaja dijepit di ketiak. Seorang pramugari tampak menyambut kedatangannya dan membantunya membawa barang bawaan Keira menuju pesawat.
"Kita berangkat sekarang!" katanya setelah pantatnya mendarat sempurna dikursi empuk pesawat.
Sama seperti ketika ia datang ke negara itu, Keira kembali seorang diri dan hanya ditemani para kru pesawat.
Hari ini ia cukup puas, menghabiskan waktu siangnya tanpa Reina. Ia melakukan semua yang ia ingin lakukan. Pergi kemanapun yang ia suka dan makan makanan yang ia inginkan. Tak ada yang melarang atau mengomel padanya. Tak juga harus mendahulukan keinginan orang lain.
Beberapa saat yang lalu, ia memberi kabar pada supir pribadi keluarga Kesuma untuk menjemputnya di bandara. Keira yakin, saat itu Reina pasti sudah berada di rumah Kakek Kesuma.
Tangannya terulur, memeriksa satu persatu goodybag yang ia bawa. Berharap tak ada barang yang terlewat untuk dibeli atau tertinggal di mobil yang mengantarnya tadi.
Keira lantas mengurai senyumnya. Ia memiliki semua barang itu disana. Bahkan, Keira tak lupa membelikan oleh-oleh untuk Kakek Kesuma, meskipun bukan barang mewah. Karena ia tahu, Kakek Kesuma tentu saja sanggup membeli apapun yang ia inginkan dengan uang yang ia miliki itu. Setidaknya, Keira memiliki perasaan tulus saat membelinya.
Keira menghela nafasnya pelan. Pikirannya melayang pada sosok pria asing yang menanyakan keberadaan Reina padanya.
"Banyu..." Keira menggumam, menyebut nama pria itu.
"Siapa pria itu? Kenapa malah menelpon ke ponselku, dan bukannya Reina?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kenapa Reina harus memberikan nomor ponselku pada orang lain? Lihat aja nanti, aku akan menggetok kepalanya. Dasar anak nakal!" umpat Keira mengeraskan rahangnya. Segala hal tentang Reina membuatnya merasa tidak tenang.
Keira menyenderkan kepalanya dan menutup matanya rapat. Kedua telinganya disumbat earphone yang tersambung ke ponselnya. Ada lagu mengalun lembut, menghantarkannya ke dunia mimpi. Keira selalu melakukannya, cocok untuk mood healing, setiap kali ia merasa suasana hatinya sedang tidak baik.
Sebuah tepukan pelan di pundaknya berhasil mengejutkan Keira. Matanya mengerjap beberapa kali, hingga penglihatannya kembali sempurna. Seorang pramugari cantik berdiri di sampingnya.
"Maaf, Nona. Kita akan segera mendarat. Tolong pasang sabuk pengaman anda sekarang," katanya mengingatkan. Kedua tangannya menyatu di depan d**a.
Keira tersenyum tipis. Membenarkan posisi duduknya lalu memasang sabuk pengamannya sesuai instruksi. Sebuah guncangan keras menghentak duduknya beberapa saat lamanya. Hingga kendaraan berbadan bongsor itu berhenti bergerak, barulah Keira merasa tenang.
"Terima kasih sudah melakukan perjalanan bersama kami, Nona." Sang kapten pesawat menyapanya ramah di pintu keluar pesawat sambil tersenyum lebar.
Reina mengangguk pelan, tak lupa membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Seorang pramugari terlihat membantu membawakan barang milik Keira turun dari pesawat.
Keira kembali berjalan anggun sambil menenteng beberapa goodybag dikedua tangannya. Wajahnya tampak lelah, namun Keira mengabaikannya.
Ia melangsir goodybag itu ke tangan Pak Abdi saat tiba di pintu keluar bandara. Supir tua itu sudah berada disana, menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.
Dengan cekatan Pak Abdi menerima barang-barang itu dari tangan Keira dan menyimpannya dalam bagasi mobil. Kemudian membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk Keira, dan membantingnya pelan.
"Reina sudah disana?" tanya Keira, membuka percakapan mereka saat mobil mulai bergerak maju.
"Sudah, Nona."
"Bagimana situasinya?"
"Kondusif. Nona Reina sangat tenang selama di perjalanan."
"Dan Kakek? Apakah Beliau baik-baik saja?"
"Ya, Nona. Tuan Besar dalam keadaan baik." Pak Abdi melirik sekilas saat Keira tersenyum ke arahnya dari bangku belakang.
"Apakah Mama juga hadir disana?"
"Maaf, Nona. Nyonya sepertinya tidak datang."
Keira menghentak nafasnya jengah. Beberapa jam yang lalu papanya meninggalkannya di kamar hotel. Dan sekarang, mamanya juga tidak datang ke pertemuan itu.
"Ada apa dengan keluarga ini?" batin Keira.
"Pak Abdi," Keira memutus kalimatnya.
"Ada apa, Nona? Apa ada yang ingin dibeli?" tanyanya memastikan, sebelum mereka sampai ke tempat tujuan.
"Bukan itu."
"Maaf..." Pak Abdi mendesah halus.
"Apa Pak Abdi tau, dimana Mama sekarang?" tanya Keira ragu.
"Maaf, Nona. Saya juga tidak tahu," jawabnya jujur. "Kenapa tidak tanya langsung pada Tuan?" tanyanya balik.
"Papa gak ingin membicarakannya denganku." Keira membuang wajahnya ke jendela samping. Dadanya terasa sesak, seakan tak merasai udara yang masuk ke celah paru-parunya.
"Mungkin Tuan memang tidak mengetahuinya."
"Enggak! Aku yakin kalau Papa telah berbohong." Keira membantah. "Papa pasti tau, tapi dia coba menutupi keberadaan Mama."
"Maafkan saya, Nona."
"Gak apa-apa, Pak. Jika Pak Abdi mengetahuinya, tolong beritahu kami."
"Baik." Lelaki tua itu mengangguk patuh. Keira dapat melihatnya meskipun sedikit terhalang oleh kursi kemudi.
***
Reina berjalan-jalan di taman samping rumah Kakek Kesuma. Halaman rumah yang asri dan memiliki banyak pohon rindang, membuatnya betah berada di luar.
Kedua sudut matanya tampak mengawasi seorang pekerja kebun yang sedang merapikan beberapa tanaman hias. Pekerja itu terlihat mahir mengayunkan guntingnya, membentuk dahan-dahan pohon menyerupai beberapa pola yang sangat cantik.
Semilir angin meniup anak rambut Reina yang jatuh di depan telinga. Jemarinya menjepit anak rambutnya di balik telinga. Reina sebenarnya sejak dulu menyukai tempat itu. Hanya saja, Kakek Kesuma terkadang terlalu keras padanya, membuatnya tidak betah berlama-lama di rumah itu.
"Maaf, Nona. Anda dipanggil Tuan Besar untuk masuk." Seorang maid menghampiri Reina di taman samping rumah. Reina menoleh ke arahnya.
"Baiklah." Ia mengiringi langkah wanita itu masuk ke dalam rumah megah Kakek Kesuma.
Sebuah rumah yang tak kalah besarnya dengan istana berlantai empat yang mereka tinggali. Bedanya, di rumah ini, Kakek Kesuma memiliki lahan kosong yang begitu luas di samping rumahnya, yang telah dialih fungsikan sebagai taman.
Sementara di kediaman mereka, lahan kosong itu diubah menjadi lahan parkir bagi deretan mobil mewah milik Sanjaya Kesuma. Tentu saja, ia dan Keira juga ikut menikmatinya.
Reina mengikuti maid itu memasuki ruang keluarga yang sangat luas. Ruangan yang memiliki perpaduan desain modern dan klasik, dengan lampu kristal yang menggantung cantik di tengah ruangan, serta beberapa lukisan di dindingnya yang bercat putih bersih, menambah kesan mewah.
Reina menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk di tengah ruangan, setelah meletakkan goodybagnya di atas meja kaca besar berbentuk persegi.
"Eheemm!" Suara deheman yang cukup kuat berhasil mengejutkan Reina. Kedua matanya membulat sempurna.
Kakek Kesuma terlihat menuruni anak tangga perlahan, dibantu oleh perawat pribadinya dan juga seorang maid, yang belakangan diketahui bernama Mira kepala maid di rumah Kakek Kesuma.
Reina bangkit. Menyambut kedatangan kakeknya itu. Mengambil alih lengan tua penuh keriput itu dari tangan Mira dan membantunya duduk.
"Kakek apa kabar?" tanya Reina basa-basi.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Pria tua itu tersenyum padanya.
"Aku membawa ini untuk Kakek." Reina menyerahkan goodybag berisi sebotol wine padanya. Pria tua itu tertawa renyah.
"Bagaimana kau tahu kalau Kakek menyukainya?" selidiknya saat botol anggur itu menyembul keluar dari pembungkusnya.
"Bukan aku yang memilihnya," jawab Reina jujur. Kakek Kesuma lantas tertawa lebar.
"Ternyata dia masih mengingatnya," gumamnya pelan disela tawanya.
"Apakah Kakek menyukainya?"
"Tentu saja. Sayangnya, umurku tak mengijinkan aku untuk menikmatinya."
"Sayang sekali...." Raut wajah Reina mendadak berubah. Lantas duduk di sofa tak jauh dari pria tua itu.
"Jangan sedih! Hari ini kita akan meminumnya bersama-sama." Kakek Kesuma tersenyum.
"Dimana Keira? Kenapa dia tidak kelihatan?" Mata tua itu mencari-cari keberadaan satu cucunya yang lain.
"Dia masih dalam perjalanan," jawab Reina tak bersemangat.
"Apa? Dia pergi kemana?"
"Singapura. Papa meminta kami untuk menemuinya disana."
"Lalu? Kenapa kau ada disini?"
"Itu karena aku ketiduran. Jadi Keira meninggalkanku," adunya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Jangan bilang kalau kau mabuk lagi. Kakek tidak suka melihatmu mabuk seperti itu. Itu bukan hanya akan merusak otak dan kesehatanmu, tetapi juga nama baik keluargamu." Kakek Kesuma mulai mengoceh, membuat Reina memutar bola mata jengah.
"Kenapa Kakek jadi menyalahkanku?" Reina mencebik kesal sambil menyentak nafasnya kuat.
"Kakek bukan menyalahkanmu. Tapi yang Kakek katakan itu memang benar!"
Reina bangkit. "Keira!"