Bab. 3

1800 Words
Reina menenggelamkan tubuh seluruhnya dalam bathup, hanya menyisahkan wajahnya yang melayang di atas air. Air hangat dan juga buih sabun melimpah yang disiapkan oleh Marta untuknya, membuat Reina betah berlama-lama merendam dirinya. Cocok untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Sebuah ketukan di pintu membuat Reina membuka matanya. "Siapa?" teriaknya tanpa berniat keluar dari zona nyamannya. "Ani, Non. Bu Marta bertanya, apakah Nona Reina akan turun untuk makan siang?" Ani menyahut dari balik pintu dengan takut. "Katakan padanya, sebentar lagi aku akan turun. Siapkan saja makan siangku." "Baik, Nona. Tadi Nona Keira menelpon, menanyakan keadaan Nona Reina." Ani berkata lagi. Tangannya saling meremas, takut bila Reina keluar dan memarahinya tanpa sebab. "Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku. Kau boleh pergi!" Tanpa menunggu lagi, Ani buru-buru keluar dari kamar nona mudanya sebelum gadis itu terkena serangan jantung mendadak. Sebenarnya Reina bukanlah gadis semenakutkan itu. Reina gadis cantik yang ramah, royal, dan mudah terbawa suasana. Hanya saja, ia keras kepala dan perangainya kerap berubah setiap kali ia merasa marah dan kecewa pada keluarganya. Tapi hal itu tidak berlaku pada Keira. Karena perangai Keira yang tegas, mandiri dan disiplin, membuatnya tahan terhadap kelakuan adiknya itu. Reina menyudahi mandinya tak lama setelah maid bernama Ani itu keluar dari kamarnya. Ia mengabaikan pakaian yang telah dipersiapkan Marta sebelumnya, karena merasa stelan yang dipilihkan Marta terlalu formal dan menutupi jati dirinya sebagai gadis feminin dan fleksible. Namun akhirnya pilihannya jatuh pada blus satin berwarna coklat dan juga rok A-line warna senada. Setidaknya, Reina masih bisa berpakaian dengan sopan saat akan bertemu dengan Kakek Kesuma. Reina menyapu wajahnya dengan bedak dan riasan bold andalannya. Tangannya meraih ankle strap heels warna cream dari rak sepatu, dipadu dengan clutch warna senada, keluaran dari rumah mode ternama untuk menyempurnakan gaya berpakaiannya. Suara langkah kaki Reina terdengar mengetuk lantai saat ia muncul dari dalam lift. Ia berjalan memasuki ruang makan yang begitu luas dan lengang karena tak seorang pun berada di ruangan itu selain dirinya. Makanan tampak berjejer rapi di atas meja. Koki keluarga Kesuma telah menyiapkan beragam jenis makanan yang dapat dipilih olehnya untuk disantap. Marta berdiri di belakangnya, tak jauh dari tempat duduk Reina. Beberapa maid tampak berdiri berjejer dengannya. Mereka siap melayani Reina, mengambilkan makanan dan minuman untuknya. Bukannya mulai menikmati makanan di piringnya, Reina malah memilih bermain ponsel. Hanya ada satu nama yang tertera disana, KEIRA. Reina menempelkan ponselnya di telinga. Terdengar suara dering panggilan, tapi tak ada sahutan. Ia mengulang kembali panggilan itu untuk yang kelima kalinya, tapi tak juga mendapat sahutan. BRAAKK !! Reina menggebrak kuat meja makan dengan tangannya, membuat sendok dan garpu berdenting di atas meja. "Sialan! Apa sih yang dilakukan perempuan itu disana? Apa yang mereka bicarakan sampai harus menolak panggilan dariku?" umpat Reina kesal. "Kirimkan pesan padanya. Tanyakan dimana dia sekarang. Lakukan terus sampai perempuan itu membalas pesanku!" katanya disertai dengusan. Marta melangkah maju, mengambil ponsel milik Reina langsung dari tangannya. Kemudian mundur beberapa langkah, ke tempatnya semula. "Ganti makananku! Aku tidak suka makan yang ini." Reina menggeser piringnya menjauh dari hadapannya. Maid bernama Emi maju mendekat. Tangannya mengangkat piring makan Reina dan menggantinya dengan piring makan yang baru. Seorang maid lain bernama Hera, maju dan mengambilkan makanan lain untuk Reina, kemudian kembali ke tempatnya semula. Kali ini, Reina melahap makan siangnya meski dengan wajah masam. Bukan karena makanannya yang tidak enak, tapi karena perasaannya yang sedang kurang baik. "Bagaimana? Apa Keira menjawabnya?" tanya Reina disela makannya. "Maaf, Nona. Nona Keira masih belum menjawab." Marta menyahut dengan hati-hati. "Lakukan terus sampai dia bosan mendengar panggilanku!" titahnya. "Baik, Nona." Reina kembali melahap makanannya hingga kandas. Rasa lapar ternyata menguasai perutnya karena ia melewatkan sarapannya. "Katakan pada koki, tidak perlu menyiapkan makan malam karena aku dan Keira akan makan malam di rumah Kakek Kesuma." "Baik, Nona." Lagi-lagi Marta menyahut disertai anggukan kecil. "Bagaimana?" Keira bangkit setelah menyeka mulutnya dengan serbet. Ia melangkah mendekati Marta. "Masih belum dijawab juga," katanya. Wajahnya dipenuhi raut penyesalan. "Ya sudah, gak apa-apa. Katakan pada supir, aku akan berangkat sekarang!" katanya tenang pada Marta. Ia menerima kembali ponsel itu dari tangan Marta. "Baik." Marta melirik pada Ani. Yang dilirik langsung paham dan segera berlari keluar dari ruang makan. Gadis itu berlari menuju ruangan Pak Abdi untuk menyampaikan pesan Nonanya. Beberapa menit kemudian, ia kembali lagi ke ruang makan. "Pak Abdi sudah menunggu, Nona." Ani berkata sambil menunduk. Reina menyentak nafasnya kuat. "Terima kasih," ujarnya sambil tersenyum tipis. Hal yang paling jarang terlihat dari seorang Reina. Reina kembali ke meja makan untuk mengambil clutch miliknya. "Kalau begitu, saya berangkat sekarang. Jaga rumah dengan baik. Sepertinya malam ini, aku dan Keira akan menginap di rumah Kakek Kesuma." Reina berkata pada kepala maid itu saat berjalan keluar dari ruang makan. Marta mengiringi langkahnya tak jauh di belakang. "Baik, Nona." Marta menundukkan kepalanya hingga mobil yang membawa Reina berlalu dari pelataran istana megah milik Sanjaya Kesuma. "Tidak usah terburu-buru, Pak Abdi. Aku tau kalau Keira masih belum tiba disana. Aku malas harus menghadapi Kakek Kesuma sendirian. Tuntutannya padaku terlalu banyak." Reina mengoceh dari kursi penumpang belakang. "Baik, Nona." Pak Abdi melirik Reina dari kaca spion di dekat kepalanya. Ia bisa melihat Reina yang begitu gelisah. Perjalanan menuju rumah kediaman Kakek Kesuma biasanya dapat ditempuh selama satu jam dengan kecepatan normal. Namun karena permintaan nona mudanya, mereka harus terlambat hampir tiga puluh menit. Dan itu sangat melelahkan bagi Pak Abdi yang selalu tepat waktu dalam mengemudi. Reina kembali mengutak-atik ponselnya. Masih mengirimkan pesan dan juga melakukan panggilan beruntun ke nomor Keira. Selama hampir setengah jam perjalanan, tak juga mendapat jawaban. Reina akhirnya memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya lalu memejamkan mata. Berkutat dengan ponsel dan juga Keira membuat kepalanya pusing. Belum lama ia tertidur, ponselnya berdering. Memaksa Reina membuka kembali matanya. "Keira?" gumamnya kesal. Jarinya menekan tombol hijau dengan cepat. Reina membulatkan matanya penuh saat melihat penampakan wajah Keira di layar ponselnya yang membuatnya muak. Gadis itu tersenyum padanya, seakan mengejeknya. "Dimana kau, Keira?" bentak Reina melalui panggilan video. Bukannya menyahut, Keira malah tertawa mengejek dirinya. "Aku masih disini," sahutnya. "Lihat, aku membelikanmu sesuatu." Keira mengangkat beberapa goodybag miliknya dan menunjukkannya pada Reina. "Apakah semua itu untuk ku?" tanya Reina. Lupa bahwa beberapa saat yang lalu ia begitu marah pada saudarinya itu. "Tentu saja. Tapi tidak semuanya, karena beberapa adalah milikku." Reina mencebikkan mulutnya. "Dasar kau," geramnya kesal. "Aku membelinya dengan uangku. Harusnya kamu bersyukur karena aku masih mengingatmu." Keira pura-pura merengut jengkel. "Baiklah, aku minta maaf. Terima kasih sudah ingat padaku. Ku pikir, kau sengaja melupakanku." "Itu tidak mungkin. By the way, dimana kamu sekarang?" "Aku lagi di perjalanan ke rumah Kakek. Dimana kau? Apa kau sudah kembali dari sana?" "Sebentar lagi. Aku sedang menunggu mobil jemputan yang akan mengantarku ke bandara." "Kenapa lama sekali?" protes Reina. Wajahnya tampak berkerut kesal. "Tenanglah, sebentar lagi aku akan tiba disana. Oya, periksa ponselmu! Papa baru saja mengirimkan uang ke rekeningmu." Pernyataan Keira membuat Reina kembali membelalakkan mata. Ia paham maksud dari perkataan saudarinya itu. "Apa Papa meninggalkanmu lagi?" tanyanya datar. Keira hanya tersenyum tanpa menjawab. Fix! Reina sudah tahu jawabannya. Tak perlu Keira jelaskan padanya lagi. Lelaki tua itu pasti meninggalkan Keira sendirian disana. d**a Reina terasa sesak, wajahnya ikut memanas. "Cepatlah kembali. Aku malas bertemu Kakek sendirian." Reina mengalihkan pembicaraan. Ia menahan sekuat tenaga agar airmatanya jangan sampai menetes keluar. "Iya." Keira kembali menunjukkan senyumnya meski terasa pahit. Panggilan video itu berakhir. Pak Abdi hanya mendengarkan obrolan singkat dua kakak beradik itu dari kursi kemudi. Sesekali matanya melirik dari spion tengah. Lelaki tua itu paham apa yang sedang terjadi. Kedua gadis itu tengah terluka. Ia adalah seorang ayah, sedikit banyak mengerti apa yang nonanya rasakan saat ini. Kecewa! *** Beberapa waktu lalu. Sanjaya buru-buru keluar dari kamar hotel, meninggalkan putrinya seorang diri. Bukan karena tak perduli pada Keira, tetapi ia memiliki urusan yang jauh lebih penting. Seseorang sedang menunggunya di depan hotel untuk menjemputnya. Ada pertemuan pemegang saham yang harus ia hadiri dan juga rapat penting dengan klien pada hari itu juga. Sanjaya mendengar sekilas suara jeritan Keira dari dalam kamar, sebelum pintu kamar kembali tertutup rapat. Ia sempat menoleh, namun suara itu tak bisa mencegahnya untuk tetap pergi. Baginya, pekerjaan dan bisnisnya jauh lebih penting. Selama keluarganya bisa hidup dengan layak dan berkecukupan, seharusnya tak ada yang protes akan hal itu. Sanjaya membuang nafasnya kuat sesaat setelah memasuki lift sambil menundukkan kepala. Sepasang tamu berdiri di belakangnya saat itu. Tetapi, samar-samar ia mendengar suara yang amat dikenalnya. Sanjaya menajamkan telinganya mendengarkan obrolan orang di belakangnya. "Ayu!" pekiknya kuat saat menoleh ke belakang. Wanita itu tampak terkejut. "Mas Sanjaya," ucapnya pelan. Ia melepaskan pelukannya dari pinggang pria di sampingnya. Sanjaya menatap dua manusia berbeda jenis itu bergantian. Betapa mesranya mereka, pikirnya. Membuat kilat marah terlihat jelas di kedua matanya yang membelalak lebar. "Apa yang kau lakukan disini, hah? Ibu macam apa kau ini? Hah? Siapa dia? Apa dia pria simpananmu? Apa kau menghabiskan semua uangku bersama pria b******k ini?" bentaknya kasar. Membuat Ayuningtias merona malu. "Siapa kau? Dasar laki-laki tidak punya malu! Apa kau tahu kalau dia ini istri orang lain? Aku tahu kalau kau hanya mengincar uangnya saja!" tunjuknya geram tepat di depan wajah pria itu. Pria asing itu segara melepaskan rangkulannya di pundak istri Sanjaya. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. "Maaf, Tuan. Saya tidak akan ikut campur masalah keluarga kalian." Buru-buru ia keluar saat pintu lift membuka, meninggalkan wanita pasangannya bersama pria yang mengaku suaminya. Sanjaya membiarkan pintu lift kembali menutup dan bergerak naik kembali. Memanfaatkan momen itu untuk bicara pada istrinya. "Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau berada di rumah dan mengurus kedua putrimu itu. Bukannya malah berbuat m***m dengan pria asing yang lebih muda darimu!" bentak Sanjaya pada istrinya. "Apa bedanya denganmu? Kau juga tak pernah ada di rumah, Mas. Kau juga tak pernah memperhatikan kedua putrimu," sahut Ayuningtias tak mau dipersalahkan. Sanjaya mengepal kedua tangannya di samping tubuhnya. Ia tak ingin terjadi kekerasan, karena semuanya terekam pada cctv hotel. "Aku memperhatikan kedua putriku, asal kau tahu!" katanya. Telunjuknya teracung di depan wajah Ayu. "Aku bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan rumah dan juga kebutuhan Keira dan Reina. Lalu apa yang sudah kau lakukan pada mereka? Kau hanya tau menghabiskan uang saja!" bentak Sanjaya lagi. Urat di wajah dan lehernya tampak membesar karena menahan marah. Ayuningtias mencebikkan bibirnya. "Jangan kau pikir kalau aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, Mas. Kau juga memiliki perempuan simpanan. Jadi jangan sok suci dan menganggap kau lebih baik dariku." Ayuningtias menarik satu sudut bibirnya ke atas. Ia menekan satu tombol di dinding lift berulang kali, tak lama pintu lift kembali terbuka. Ayu melenggang keluar, meninggalkan Sanjaya yang bermuka masam. Akan tetapi, Sanjaya sedikit pun tak berniat mengejar istrinya. Ia tak menampik tuduhan yang dialamatkan Ayu padanya. Sanjaya memilih untuk segera pergi meninggalkan hotel. Pertemuannya dengan para pemegang sahan jauh lebih penting. Semua itu demi pundi-pundi yang akan segera terisi penuh kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD