Bab. 2

1713 Words
Seorang gadis cantik bernama Reina Santika Kesuma, berusia 22 tahun dan baru saja menyelesaikan kuliahnya. Memiliki saudara perempuan yang terpaut hanya satu tahun lebih tua darinya. Ialah Keira Kesuma, gadis cantik yang mandiri dan selalu menjafi tempat bersandar bagi Reina diusianya yang baru menginjak 23 tahun. Merupakan putri dari pasangan pengusaha pemilik jaringan hotel terkenal di Indonesia, Sanjaya Kesuma dan Ayuningtias. Mereka bahkan memiliki saham di beberapa hotel di beberapa negara. Biasa hidup bergelimang harta dan dilayani dengan fasilitas terbaik dari kedua orangtua mereka, tak membuat kedua putri Sanjaya merasa bahagia. Keduanya tak pernah merasakan kehadiran sosok ayah sedari mereka kecil. Sementara sang ibu selalu disibukkan dengan segala kegiatan di luar rumah, sehingga tak memiliki wakru merawat dan membesarkan buah hatinya. Baik Reina maupun Keira, kedua putri itu dibesarkan oleh pengasuh bernama Marta, sejak keduanya masih berusia balita. Keira baru berumur setahun, sementara Reina baru saja merayakan hari lahirnya yang pertama. Itu artinya, separuh hidup Marta ia abadikan sebagai pengasuh kedua putri Sanjaya Kesuma, ahli waris dari jaringan perhotelan yang dimiliki oleh Atmajaya Kesuma, orangtua dari Sanjaya Kesuma. *** Keira mematut dirinya di depan cermin. Wajah dan rambutnya sudah tampak sangat berantakan sekarang. Sebab ulahnya sendiri yang tak dapat menahan emosi setelah kepergian Sanjaya dari kamar itu. Keira membuang nafas jengah. Ia berjalan lemah ke arah kamar mandi setelah mengunci pintu lebih dulu. Beberapa barang jatuh berserakan di atas lantai sebab ulahnya. Ia harus berjingkat dan mulai melompat untuk menghindari pecahan vas bunga yang berserakan di atas karpet rasfur dan juga lantai. Akibat ulahnya, Keira harus rela kehilangan waktunya yang sangat berharga. Ia harus membersihkan riasan wajahnya yang terlihat sangat berantakan. Juga rambut yang sudah acak-acakan. Keira membasuh wajahnya dengan sabun untuk membersihkan sisa riasan yang masih melekat kemudian membilas dan mengeringkannya. Peralatan rias sederhana yang selalu dia bawa ditas miliknya untuk menyempurnakan wajahnya, cukup membantunya pada situasi seperti ini. Tak harus riasan bold, karena Keira dianugerahkan dengan wajah yang cantik. Keira keluar dari kamar mandi setelah menggelung tinggi rambutnya. Ia sudah rapi kembali seperti sebelumnya. Langkah kakinya kembali menggema ketika meninggalkan kamar hotel menuju lift yang tak berada jauh dari kamar hotel papanya. Ia mengangkat dagunya tinggi. Lukisan wajah dingin dan juga tegas kembali menghiasi wajahnya. Keira berjalan lurus tanpa menoleh lagi. Mobil yang menjemput dirinya saat di bandara telah kembali menyala ketika melihat kedatangan Keira. Sang supir siap mengantarkan wanita itu kemana pun yang ia inginkan. Keira menarik sudut bibirnya, terlihat seringai di wajahnya. Keira akan menghambiskan sisa waktunya dan menikmati tiap detiknya tanpa gangguan nyata dari Reina. Meskipun gadis itu terus mengganggunya lewat panggilan ponselnya, kali ini Keira mengabaikannya. Ia akan mencari alasan terbaik yang tak dapat dibantah Reina. "Kita ke pusat fashion. Saya ingin berbelanja sebelum kembali ke bandara." Terdengar titah dari mulut Keira saat mobil itu mulai bergerak. "Baik." Jawaban tegas keluar dari mulut pria itu dan harus seperti itu karena Keira memang tak ingin mendengar bantahan. Sang supir menekan pedal gas, mempercepat laju kendaraannya meski dalam kecepatan normal. Keira menyentak nafasnya yang terasa begitu sesak sejak pertemuannya tadi dengan Sanjaya. Selalu berakhir seperti ini, orang tua itu akan mengganti waktu yang tak bisa ia berikan pada putrinya dengan nominal uang yang tak main-main. Perlakuan seperti itu membuat Keira memiliki dana fantastis di akun rekening banknya. Bagimana tidak? Ia tak pernah menggunakan uang itu lebih dari yang ia butuhkan. Selain dana kuliah yang telah terbayar lunas oleh Sanjaya, biaya hidup juga sudah terpenuhi melalui akun rekening rumah tangga yang disiapkan oleh sang mama untuk mereka. Dan semua itu dikelola oleh Marta, kapala maid di rumah itu. Namun semua itu seakan tak ada artinya bagi Keira, tak lebih penting dari perjumpaannya dengan kedua orangtuanya dan kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan. Hal berbanding terbalik justru ditampilkan oleh Reina. Kucuran dana fantastis yang ia dapatkan itu selalu tak bertahan lama. Selalu saja ada celah dan lubang untuk membuang uang sebanyak itu. Reina akan segera bersenang-senang dengan uangnya tanpa memperdulikan hal lain. Menurutnya, lebih baik seperti itu daripada memikirkan rasa sakit hati karena tak pernah dianggap sebagai anak sejak kecil, karena hanya akan semakin membuat kepalanya bertambah pusing. Seakan tak pernah perduli apapun yang orangtuanya lakukan, selama Reina memiliki Keira disisinya. Reina tak pernah menangis atau tertawa kepada kedua orangtua itu. Paras wajah dingin dan datarlah yang selalu ia andalkan setiap kali mereka bertatap muka. Mungkin itu adalah bentuk protesnya, namun tak juga mendapat tanggapan, baik dari papanya, Sanjaya Kesuma, ataupun dari mamanya, Ayuningtias. Hanya Keira yang selalu ada untuknya, menemaninya, menasehatinya, membantunya, bahkan menyeka air matanya. Lebih dari orangtuanya sendiri, Reina lebih memihak pada Keira. Perlahan mobil yang membawa Keira berhenti di pelataran Mall Marina Bay Sands, Sungapura. Pusat belanja terbaik di negara itu yang menjual berbagai barang mewah dan berkelas, sesuai yang diharapkan oleh Keira. Sang supir dengan cekatan membuka pintu bagi Keira untuk keluar. "Jangan kemana-mana. Dua jam lagi, temui saya disini." Keira berkata tegas tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke dalam gedung mewah itu nyarid tanpa kedip. Sang supir menundukkan kepalanya tak berani membantah sekalipun ia ada kepentingan mendadak, Nona Keira tetap harus diutamakan. Ia membawa mobilnya berlalu dari pelataran gedung setelah Keira melangkah masuk ke dalam gedung. Keira mengangkat dagunya tinggi berjalan anggun melintasi toko yang berderet di lantai dasar hingga masuk lebih ke dalam. Tangan kirinya mencekal handbag mahal yang ia bawa. Siapa pun yang melihat gadis itu pasti tau, nilai outfit yang ia kenakan siang itu tidaklah main-main. Dari pakaian, tas, heels, perhiasan hingga jam tangan yang Keira kenakan bukanlah barang murah atau tiruan. Ditambah dengan black card yang ia miliki, pemberian dari Sanjaya Kesuma, membuat Keira menjadi vip customer di gedung itu. Semua pemilik usaha di tempat itu mengenal sosok Keira Kesuma dan juga sang mama, Ayuningtias, yang banyak menghabiskan uangnya di pusat perbelanjaan itu. "Silahkan masuk, Nona. Toko kita saat memiliki barang baru edisi terbatas." Seorang pramuniaga toko menghampiri ketika Keira melangkahkan kaki masuk ke sebuah toko tas ternama. Keira hanya mengangguk kecil dengan senyum simpul menghias bibirnya. Kakinya melangkah mengiringi pramuniaga yang berjalan di sisinya, sambil mendengarkan semua ocehan yang sering ia dengar setiap kali menginjakkan kaki di tempat itu. Keira memilih diam dan menebalkan telinganya, sambil melirik ke arah benda yang pramuniaga itu tunjukkan. "Apa tidak ada yang lain? Saya sudah punya jenis yang ini," katanya saat membuka mulutnya. Gadis pramuniaga itu menunjukkan barang yang lainnya, dan Keira masih menolaknya. Hingga akhirnya, sang manajer toko langsung turun tangan begitu menyadari kedatangan Keira di toko mereka. "Mari ikut dengan saya, Nona Keira," ujar manajer toko itu, Sandrina Lee, tulisan yang tertera pada nametag yang tergantung di lehernya. Keira lantas tersenyum cerah. Ia akhirnya bebas dari gadis pramuniaga yang Keira tebak masih baru bekerja di toko itu. Keira tetap diam karena tak ingin membuat gadis itu berada dalam masalah. "Apakah ada barang baru?" tanya Keira. "Karena aku ingin memberikannya sebagai hadiah pada seseorang." Sandrina yang paham maksud dari perkataan Keira, lantas membawa gadis muda itu masuk ke sebuah ruangan khusus. Di dalamnya terdapat sebuah lemari pajangan yang seluruhnya terbuat dari kaca tebal dan diberi pengaman berupa kata sandi untuk membukanya. "Kedua barang ini baru saja tiba hari ini. Dab keduanya bukan saja merupakan edisi terbatas, tetapi juga merupakan edisi khusus. Anda paham maksud saya, kan?" Sandrinya mengurai senyumnya lebar. "Tenang saja. Aku akan mengambil keduanya jika kalian bisa menjamin keaslian dari edisi khusus yang kamu bicarakan tadi." Keira mengangkat sebelah alisnya dan berkata dingin tanpa ekspresi. Hal itu cukup berguna dalam hal tawar menawar, agar tak ada orang yang berani bermain curang dan menipunya. "Seperti biasa, Nona. Kami akan menyertakan sertifikat keaslian barang yang bisa digunakan untuk menuntut jika kami berani menipu anda." Sandrina mempertegas perkataannya. Tatapannya lurus dan suaranya sedikitpun tak ada getaran. Keira tau, wanita itu tidak berani berbohong padanya. "Baiklah." Sandrina membawa kedua barang itu ke meja kasir. Melakukan pembayaran itu langsung dan membungkus rapi dengan tangannya sendiri. Ia tak bisa menyerahkan tugas itu pada karyawannya karena ia tahu, customernya ini hanya ingin dilayani oleh dirinya saja. "Terima kasih." Keira mengambil barang itu dan pergi dari sana. Tak sulit baginya mendapatkan barang bagus. Ia juga tak membutuhkan waktu lama untuk memilih, seakan semua yang ia inginkan sudah mereka persiapkan sebelumnya. Satu keuntungan lainnya menjadi bagian dari keluarga Sanjaya Kesuma, meskipun tak memberinya kebahagiaan yang utuh. Keira membawa tas belanjaannya fan menaruhnya di lantai, di samping kursi. Membuka handbagnya, mengeluarkan ponselnya dari dalam. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti kala deretan notifikasi pesan dan panggilan dari Reina. Gadis manja itu pasti sedang marah besar padanya sekarang. Dilihat dari isi pesan yang ia kirimkan pada Keira, berisikan kalimat umpatan dan sarkastik. Keira tak ambil pusing dengan kemarahan Reina, karena gadis itu tidak mudah untuk sungguh-sungguh membenci Keira. Reina hanya frustasi sebab Keira tak mau menerima panggilan telpon darinya sejak tadi. Mata Keira membulat sempurna ketika mendapatkan satu notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenalnya, diantara himpitan puluhan notifikasi pesan milik Reina. Rasa penasaran menuntunnya untuk membalas isi pesan itu, yang bertanya tentang Reina. Keningnya mengernyit bingung saat pemilik nomor itu bertanya tentang keberadaan Reina, yang tentu saja mengundang rasa curiga. Tak ingin dipermainkan, Keira memutuskan untuk melakukan panggilan telpon. "Halo?" ucap Keira dingin dikala panggilannya mendapat jawaban. "Reina?" Suara seorang pria balik bertanya padanya, membuat Keira menajamkan telinganya. "Kamu siapa? Ada apa mencari Reina?" tanya Keira tenang. Ia terbiasa menghadapi priia m***m yang berusaha mendekati Reina dan mencoba memanfaatkan kebodohan gadis itu. "Apakah kamu Reina?" Pria itu bertanya balik padanya membuat Keira menyentak nafasnya kuat. "Kamu siapa? Apakah kamu tidak memiliki sopan santun untuk menjawab pertanyaan saya?" cerca Keira dibarengi suara dengusan kesal. "Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Banyu, dan saya memiliki janji untuk bertemu dengan Reina," katanya menyahuti Keira. "Banyu?" ulang Keira memastikan bahwa dirinya tak salah dengar. Jujur saja, Keira tak tahu menahu bila Reina memiliki teman pria atau kenalan bernama Banyu. Jelas saja, sebab Keira selalu berada dimana Reina berada. Tapi nama itu, Keira jelas tak mengetahuinya. "Iya, benar. Apakah kamu Reina?" tanya pria itu balik. Dengan tenang Keira menyahut, "Maaf, anda sepertinya salah alamat. Saya bukan Reina." "Maaf, kalau begitu." Pria bernama Banyu itu memutuskan panggilan telponnya. Keira menggeleng heran., terdengar decak kesal keluar dari mulutnya. Keira kembali berselancar di atas layar ponselnya. Tak lama, suara dering terdengar. Kemudian muncul wajah seorang gadis yang tengah melotot kesal di dalam layar ponselnya. Keira membalasnya dengan seringai miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD