Pria itu yang sudah menguasai hatinya terlihat sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Wanita yang sama saat dirinya lihat di mall waktu itu, dia Bella wanita yang Sella yakini kekasih suaminya. Memang benar faktanya. Karena wanita itu yang sudah membuat dirinya menikah dengan Rishan, kepergian wanita itu yang membuatnya masuk ke dalam kehidupan seorang Rishan Diantoro.
Mau bagaimana lagi? Nyatanya dirinya sudah terlanjur masuk. Dan sudah dipastikan susah untuk lepas.
Dan saat ini yang dilihatnya membuat Sella sakit, meski yang dia lihat Rishan tidak seceria saat bersamanya namun, faktanya wanita itu yang saat ini sedang bersamanya, bukan dirinya.
Ajakan Agnes membuatnya tahu bagaimana kondisi pria itu, tubuhnya yang kurus membuatnya yakin bahwa Rishan tidak benar-benar menjaga diri, terlebih yang dia ketahui dari sahabatnya bagaimana perubahan sosok Rishan setelah kepergiannya.
Baru satu bulan lamanya, tapi nyatanya efek kepergian Sella memberikan pengaruh besar bagi Rishan. Bisa dilihat dengan kelakuan Rishan akhir-akhir ini. Sella sendiri pun masih belum mau menemui suaminya, padahal Agnes terus saja memaksanya untuk ikut pulang, tapi Sella menolak.
Urusan dengan ayahnya sudah dia selesaikan, dengan kesepakatan bahwa dirinya bukan lagi bagian dalam artian ahli waris kekayaan Romli. Sella pun tidak mempermasalahkannya, lagi pula dia bisa hidup tanpa campur tangan harta ayahnya selama ini. Ingat saja Sella itu pintar terbukti saat ini dirinya menjadi manager toko bunga hanya dalam jangka waktu satu bulan.
Dari penghasilan toko bunga itu bisa menghidupi kesehariannya, apalagi saat ini ada nyawa yang harus diperjuangkan.
Benar! Perkataan atau bahkan bisa disebut ancaman Rishan memang terbukti. Dua minggu kepergiannya ternyata kabar baik dia dapatnya, karena kabar inilah yang membuat Sella membuat keputusan besar. Memilih melepas ahli waris yang sebenarnya dia sendiri tidak menginginkannya.
Baginya hidup sederhana merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Sella. Tanpa campur tangan ayahnya dan yang terpenting tanpa bayang-bayang bisnis.
Dunia bisnis tidak baik untuknya, Sella tahu itu.
Sembari menunggu kedatangan Agnes dia memesan makanan terlebih dahulu guna mengganjal perutnya yang sudah lapar. Seseorang perlu asupan bergizi darinya.
Matanya masih memandang dari kejauhan sosok Rishan dan Bella. Sella berusaha menekan sakit dadanya saat Bella dengan sengaja menyentuh lengan suaminya yang terkena air.
“Kenapa rasanya sesakit ini?” batin wanita itu memilih memalingkan muka.
“Udah lama?” tanya Agnes mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Sella berusaha mengatur mimik mukanya di hadapan Agnes. Dia tersenyum. “Baru aja, kok,” jawab Sella.
Agnes mengangguk mengerti. “Udah pesan makanan?” tanya Agnes saat tidak mendapati makanan di mejanya.
“Gue udah pesan, lagi nunggu. Lo pesan, deh!” usul Sella. Dia sengaja membuat Agnes tidak menyadari akan keberadaan Rishan, karena bisa dipastikan sahabatnya akan merasa bersalah karena 'tak sengaja mempertemukan di sini.
“Udah lama, ya, kita nggak kayak gini?” celetuk Agnes memandang sekitar, hingga tatapannya terkunci pada satu titik.
Mulutnya terbuka lebar, lalu tatapannya mengarah kepada Sella yang juga sedang menatap sosok itu. Agnes menggenggam tangan sahabatnya yang terasa dingin. “Nggak papa, ‘kan?” tanya Agnes terlihat khawatir.
Sella berusaha tersenyum. “Gue nggak papa, lo tenang aja, ya.” Sella berusaha menyakinkan Agnes yang terlihat tidak enak hati.
“Gue seharusnya tahu tempat ini sering dikunjungi dia, atau lo mau kita pindah aja? Pindah, deh, ya?” Agnes menatap Sella memohon.
Sella menggeleng lemah. “Nggak usah, Nes. Gue nggak papa.”
Namun, Agnes tidak bisa dibohongi begitu saja, apalagi saat mendapati Sella yang menunduk seolah tidak ingin keberadaannya diketahui oleh pria itu. Agnes menghela napas panjang, dia tidak bisa memaksa Sella, tubuhnya sedikit condong berupaya menutupi Sella supaya tidak terlihat jelas.
"Sorry, Sell," sesalnya dan dibalas senyuman singkat dari wanita itu.
***
Setelah kepulangannya dari cafe Sella langsung menyibukkan diri dengan karangan bunga untuk mengalihkan pikirannya tentang Rishan. Mendadak Sella menjadi memikirkan sosok Rishan, bahkan jika saja dia tidak ingat sedang bersembunyi mungkin saja Sella sudah berlari dan memeluk suaminya dengan erat, tetapi sekali lagi Sella dikuasai oleh ego.
Sella terlalu takut dicampakkan, maka dari itu dia lebih memilih pergi secara perlahan dan membiarkan luka menguasainya. Sella tidak ingin egois menahan Rishan berada di sisinya, apalagi dengan alasan seorang anak. Baginya cukup dia saja yang tidak mendapatkan keadilan, anak jangan sampai. Sebisa mungkin Sella akan membuat anaknya tanpa merasa kekurangan, meski tanpa seorang ayah.
Padahal dia tahu sendiri mungkin dengan jujur kepada Rishan keadaan akan berbanding terbalik. Pada intinya Sella terlalu takut memulai. Sehingga apapun yang akan dia mulai dirasa akan gagal terlebih dahulu. Dia hanya 'tak ingin anaknya mendapatkan kehidupan seperti halnya dia dulu.
Yang dialami Sella membuat segala hal mengenai keluarga terlihat buruk, kenangan masa kecilnya dan menjadi saksi berpisahnya kedua orangtuanya membuat Sella memiliki trauma.
Andai saja waktu itu bukan karena terpaksa dan dipaksa mungkin sampai saat ini Sella masih melajang. Hidup seorang diri, terlunta-lunta mencari pekerjaan. Itu andaikan tidak bertemu dengan Rishan. Melamar dirinya dengan resmi meski tidak seperti pasangan pada umumnya yang terlihat romantis.
Sella tersenyum begitu ingatan dimana dia dilamar oleh Rishan kembali terulang.
Saat itu, Sella mendapatkan kabar bahwa lamarannya diterima dan diminta untuk melakukan interview namun, bukan interview yang dilakukan melainkan kotak beludru warna merah yang disodorkan oleh Rishan waktu itu.
Sebuah cincin berlian yang sangat indah dia dapatkan. Rishan hanya memintanya menjadi pengantin pengganti karena pengantin aslinya kabur dan mau tidak mau Sella menerimanya, apalagi bayarannya tidak main-main. Menjadi sekretaris tetap CEO perusahaan itu yang tidak lain adalah Rishan Diantoro, suaminya sendiri.
Mungkin ini yang dimaksud menjadi sekretaris pribadi karena mengurus suaminya sendiri, Sella terkekeh mengingatnya. Meski tidak sepantasnya dia mengharapkan ruang di hati suaminya.
Rasanya tidak pantas mengharapkan hati atasannya sendiri dengan kasus pernikahan seperti ini, lagi pula siapa dirinya sampai berani meminta hatinya? Status istri hanya di atas kertas saja, itulah pemikiran Sella saat ini.
Berasal dari keluarga terpandang, akan tetapi Sella sama sekali tidak pernah tercium publik anak seorang Romli pengusaha di bidang industri. Yang orang lain ketahui Romli memiliki satu anak perempuan, hanya saja identitasnya tidak diketahui.
Nyatanya menjadi anak pengusaha tidaklah mudah, harus rela menjadi boneka di depan kamera dan Sella tidak suka hidup diatur-atur. Maka dari itu, dia kerap kali kabur dan membangkang dengan perintah ayahnya.
Terbukti saat ini ayahnya saja tidak memperdulikan dirinya, dia hanya dijadikan umpan semata.