Begitu masuk ke dalam apartemen yang didapatinya adalah kondisi ruangan berantakan dan sosok putranya terbaring dengan pandangan mengarah ke langit-langit atap.
Wanita itu yang sering disapa Mita meletakan rantang berisi makanan ke atas meja tanpa menimbulkan suara, takut-takut jika putranya tersentak mendengar bunyinya. Mita duduk di bibir sofa tepat di bawah kaki putranya yang masih terbungkus sepatu. Dia melepas sepatunya dengan pelan sembari mengingat kenangan mereka sebelum kecelakaan itu terjadi yang menyebabkan dirinya tertidur panjang.
Matanya terbuka tapi hatinya tertutup. Itu yang sedang dirasakan oleh Rishan saat ini. Dia masih hidup tapi jiwanya sebagian sudah dibawa pergi oleh Sella. Sudah satu bulan lamanya mereka berpisah tanpa ada kabar membuat Rishan seolah kehilangan rumahnya.
Sang ibu pun tidak bisa berbuat banyak, meskipun Rishan tidak mengatakannya tetapi hati seorang ibu sangatlah perasa. Tahu apa yang dirasakan anaknya tanpa si anak memberitahukannya, apalagi selama dirinya mengantarkan makanan untuk Rishan tidak pernah sekali pun berjumpa dengan istrinya, Sella. Pertemuan mereka hanya saat pernikahan saja selebihnya tidak pernah bertemu.
Mita tidak pernah bertanya perihal hubungan anak-anaknya. Dia yakin mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Makan dulu Ibu tahu kamu belum makan, ‘kan?” Rishan tersentak saat suara lembut seseorang menyapa indera pendengarannya akhir-akhir ini. Rishan mengerjapkan mata menghalau cahaya lampu yang menyorot padanya. Dia tersenyum menyapa ibunya yang Mita yakini senyum keterpaksaan.
Mita ikut tersenyum mengulurkan sebelah tangannya untuk Rishan genggam. “Ayo bangun!” Rishan bangkit dengan dibantu oleh sang ibu.
Begitu sampai di meja makan mereka duduk berhadapan. Sekali lagi Rishan kembali mengingat saat piringnya diisi oleh istrinya. Ingatan satu bulan yang lalu membuat napsu makannya seketika hilang.
“Kenapa tidak dimakan? Tidak suka dengan makanannya? Mau Ibu masakin apa, Nak?” tanya Mita heran dengan perubahan putranya.
Rishan menggeleng. “Rishan harus ke kantor, Bu,” pamit Rishan tak lupa pula mencium punggung tangan sang ibu yang mulai berkeriput.
Mita tidak bisa mencegah kepergian putranya, tatapannya menyorot iba dengan penderitaan batin putranya. Dia tahu, bahkan sangat tahu perihal kepergian menantunya. Apa lagi jika bukan karena bisnis?
Kejam memang.
Rasa dikorbankan hanya demi bisnis semata, tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena segala kendali ada di tangan putranya semenjak suaminya tiada.
Tangannya mencari nomor seseorang yang akhir-akhir ini menjadi informan untuknya. Sambungan telepon telah terhubung dengan seseorang di seberang sana. “Saya mau tahu kabar dia hari ini.”
“Rumah sakit?” gumamnya menatap layar ponsel yang menampilkan seorang wanita baru saja keluar dari rumah sakit ternama di kota ini.
Dahinya berkerut pertanda sedang berpikir keras. “Siapa yang sakit?” batinnya bertanya-tanya.
Mengabaikan suasana penuh kebingungan dari ibu Mita, maka di satu sisi pria yang baru sampai membuat geger satu kantor, hanya karena masalah kopi. Belum genap satu jam kedatangan bos besar di kantor sudah membuat geger orang satu kantor.
Permintaan anehnya kepada office boy membuat beberapa pasang mata menatapnya tidak percaya. Seorang Rishan Diantoro yang terkenal cool tiba-tiba saja memprotes kinerja office boy pribadinya.
“Saya tidak mau tahu kamu harus buat sesuai keinginan lidah saya! Paham?!” bentak Rishan. Tatapannya menggelap menatap sepuluh office boy yang sengaja dikumpulkan di dalam ruangannya.
Kopi dengan perasan jeruk lemon tersedia sepuluh cangkir dari sepuluh office boy yang berbeda, tetapi tidak ada satu pun yang disukainya.
Ferrnan sahabat sekaligus menager berusaha meredakan amarah atasannya yang tengah memuncak. Dia tahu alasan atasannya marah-marah tidak jelas seperti ini tidak lain karena istrinya. Teringat Sella kembali. Saat bayangan Sella datang Rishan pasti akan gelap mata dan berakhir marah-marah tidak jelas. Ferrnan sendiri pun tidak bisa menghentikannya dengan mudah.
“Keluar semuanya!” bentak Rishan.
“Semuanya!” Kini tatapannya mengarah kepada Ferrnan yang masih setia berdiri di ambang pintu. Tanpa mengindahkan perintah atasannya Ferrnan justru dengan berani melangkah mendekati Rishan dengan santai.
Tatapan matanya tidak lepas dari Ferrnan yang melangkah ke dalam kamar pribadinya. Rishan diam tanpa berniat membuka suaranya.
Dua botol tersedia di meja bar. Minuman dengan dosis tinggi yang selalu tersedia di kamarnya dibawa oleh Ferrnan. Menuangkan dua gelas lalu memberikannya kepada Rishan yang langsung diterima. Menenggak hingga tandas tak tersisa.
Tidak cukup dengan satu gelas Rishan menenggak langsung satu botol. Ferrnan diam memperhatikan, posisinya saat ini sebagai seorang sahabat bukan lagi rekan kerja. Ferrnan tahu cara meluluhkan emosi seorang Rishan. Pelampiasannya, ya cuman ini.
Berbotol-botol habis diminum tidak akan membuat Rishan hilang kendali. Itu membuat Ferrnan tenang karena Rishan tidak akan hilang kendali dan melakukan hal nekat.
“Lo nggak ada niat cari dia?” tanya Ferrnan santai.
Rishan menghembuskan asap rokoknya ke udara. Menenggak kembali minumannya, lalu tatapannya menerawang ke arah balkon.
“Gue nggak akan memaksa,” jawab Rishan tak kalah santai. Ferrnan mengangguk mengerti.
“Meski lo sendiri tersiksa?” Rishan menatapnya tajam, Ferrnan cengengesan ditatap seperti itu.
“Mati aja sana!” desis Rishan.
Ferrnan terbahak. Suasana kembali normal di antara keduanya.
***
“Kopi dengan perasan jeruk lemon, Bu.” Seorang waiters mengantarkan segelas minuman yang dipesannya.
“Terima kasih.”
Akhir-akhir ini dia selalu datang ke cafe ini yang letaknya agak jauh dari tempat tinggalnya. Sejauh apapun akan dia tempuh hanya demi segelas kopi selepas itu pulang dengan senyum kepuasan.
Duduk sendiri dengan ditemani laptop yang menyala, serta kepul kopi yang beraroma harum jeruk peras sangat terasa di indera penciumannya. Rasanya ... menikmati hari sepi sendiri tanpa adanya gangguan, bahkan seseorang di luar sana dia haramkan masuk.
‘Drtz ... drtz ... drtz ....’
Bunyi dering ponsel membuat atensinya teralihkan dari sinar laptop. Nama sahabatnya tertera di layar ponsel yang masih berdering. Dia mendengus jengah mendapati sahabatnya yang sangat menjaga dirinya.
Hidup jauh dari keluarga membuatnya harus bisa melawan arus seorang diri. Sepi, hampa dia rasakan sendiri, hanya ada sahabatnya.
“Ke luar, deh! Gue lumutan!” teriak seseorang di seberang telepon.
“Gue baru mau merasakan nikmatnya kopi,” balasnya tidak bersemangat.
“Mendung, sebentar lagi hujan, Sayang,” kata seseorang di seberang sana geregetan.
Tertawa sumbang mendengar gerutuan sahabatnya. “Beliin gue cilok dulu, deh!” Dia berusaha menawar.
Meski dongkol setengah mati, tetap menyanggupi keinginan sahabatnya. “Deal!”
Dia tersenyum lebar.
“Gue menang!”
Dan pada akhirnya Sella meninggal segelas kopi yang baru diminum satu tegukan saja.