PERMINTAAN AYAH

1010 Words
Sesuai yang diperintahkan ayahnya saat ini Sella sedang duduk berhadapan langsung dengan sang ayah, keduanya dipisahkan oleh meja. Sella diam menunggu ayahnya bersuara terlebih dahulu. Sella sendiri pun sudah tahu maksud ayah memanggilnya ke ruang kerja yang tidak lain bersangkutan dengan suaminya. Suami? Lidahnya terasa kelu saat menyebut suami. Sadar akan statusnya yang sudah berubah saat ini membuat Sella agak canggung menyebut dirinya istri. Tidak salah memang ayahnya meminta dirinya untuk pulang karena terlepas dengan sikap bengis sang ayah ada untungnya juga dia pergi dari Rishan. Hal ini menjadikan celah untuknya menjauh dari sang suami. Bukan apa-apa, hanya saja dia masih asing dengan pernikahan ini. Terlepas dengan perkataan Rishan tempo hari yang membuatnya berpikir keras, tapi ... Sella tidak peduli. Bukan! Pada dasarnya dia risau dan sedikit takut namun, dia berusaha berpikiran positif menepis ketidakmungkinan yang bisa saja menjadi mungkin untuk dirinya. Pernikahan ini tidak berdasarkan cinta, tapi tidak pula karena keterpaksaan, melainkan kesepakan kedua pihak. Sella yang berniat melamar pekerjaan justru dia dilamar balik oleh atasannya sendiri. Sekali lagi Sella melakukannya atas dasar permintaan seorang ibu dan janji seorang anak kepada ibunya. Salah satu bentuk rasa syukur karena ... mertuanya sudah sadar dan meminta sang anak untuk menikah. Sedangkan calon mempelai wanita membatalkannya begitu saja. Sejujurnya Sella tidak ingin mengingat hal mengenaskan seperti ini, apalagi pemaksaan Rishan padanya sebagai mempelai pengganti sangat tidak manis. Diam-diam Sella mengutuk dirinya sendiri. Dia mengorbankan hidupnya untuk orang lain tanpa peduli dengan hidupnya sendiri. “Sella?!” sentak ayahnya karena sedari tadi wanita itu melamun tidak memperhatikan ayahnya yang terus saja memanggil. Lamunannya buyar begitu saja ketika sentakan ayahnya masuk ke dalam indra pendengarannya. Sella menatap sang ayah yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi datar. Sella mengangguk. “Ayah mau ngomong apa?” tanya Sella kemudian. Pria itu menghembuskan napas lelah meladeni anaknya yang kembali melamun. Iya, Sella kembali membawa jiwanya dalam lamunan panjang. Mengabaikan ayahnya yang menatapnya jengkel. “Ayah hanya meminta agar kamu menjauh dari pria itu. Ayah tidak suka!” Suara tegas ayahnya terdengar. “Pria yang Ayah maksud adalah suami Sella menantu Ayah kalau Ayah lupa,” balas Sella sengit. Alisnya menukik tajam menatap sang ayah. Pria paru baya itu pun tak kalah sengit dengan anaknya. Mereka saling beradu pandang sebelum akhirnya Sella membuang muka. “Ayah egois!” desis Sella bersedekap d**a. Ayahnya itu terkekeh sinis mendapati julukan yang tidak asing dari sang anak. “Kamu tidak tahu apa-apa, Sella, alangkah lebih baiknya kamu menurut saja.” Mendesis di hadapan sang ayah dengan segala gumaman mengenai ayahnya. “Kamu tidak perlu bekerja. Ayah sanggup membiayai kebutuhanmu.” Ayahnya menjentikkan jari di hadapan Sella. “Dan membiarkan aku menjadi boneka Ayah?” tanya Sella tersenyum miring. “Tidak akan pernah! Sella rela hidup terlunta-lunta daripada hidup di bawah kekuasaan Ayah.” Sella membantah perintah ayahnya membuat bapak tiga anak itu menggeram tertahan. Sella selalu sama tidak berubah. Masih saja keras kepala sama seperti mamanya. Itu yang membuat pria itu benci dengan sifat Sella yang menyerupai mantan istrinya. Di tengah perdebatan keduanya sosok gadis mungil nan imut datang ke arah Sella. Memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di atas pangkuan Sella. Sella mengelus rambutnya yang tergerai indah. “Kenapa?” tanya Sella mendapati tingkah manja Chika. “Kakak,” lirih gadis kecil itu. “Kenapa, Sayang?” Sella mendekatkan wajahnya ke arah si kecil. Interaksi keduanya tidak luput dari penglihatan sang ayah. “Ayah,” cicit Chika tanpa menampakkan wajahnya yang masih terbenam di atas pangkuan sang kakak. Mengerti maksud adiknya membuat Sella membawa Chika. Menggendongnya dengan perlahan lalu langkah kakinya keluar dari ruang kerja ayahnya. Romli diam saja memperhatikan kedua anaknya yang meninggalkan dirinya seorang diri. Dia tidak bisa mencegah, apalagi saat bersama Chika. *** Di apartemen yang tergolong luas pria itu terduduk lemas dengan lantai yang berserakan. Banyak sampah menyebar entah di kolong meja atau di atas meja. Dapur pun tak kalah kacau. Isi kulkas basi semua. Baunya menguar sampai ke depan. Kondisinya sangat kacau berbeda sekali dengan sosok Rishan, kali ini terlihat sangat berantakan. Entahlah kepergian Sella merubah keseharian Rishan. Meskipun sebelum datangnya Sella Rishan terbiasa sendiri, namun kali ini kepergian Sella membuat Rishan ... gila? Iya, gila! Bayangkan saja Rishan sang CEO yang terkenal rapi dan berwibawa tiba-tiba saja datang ke kantor dengan piyama tidurnya. Bukan tidak sadar, bahkan Rishan sadar betul, tapi dia enggan melepaskan pakaian yang dicuci oleh sang istri. Lagi pula Rishan tipe orang yang bodo amat dengan sekitarnya, mungkin hanya Sella yang berhasil menjadi titik pusatnya. Pria itu terlalu dalam bermain dengan perasaannya sendiri, sehingga belum apa-apa sudah kalah. Rasa pening di kepalanya membuat Rishan sedikit sempoyongan saat hendak bangkit dari tidurnya. Tertidur di lantai merupakan kebiasaan baru seorang Rishan, bahkan dia tidak berani memasuki kamar lebih dari lima menit. Harum tubuh Sella membuatnya terlena sehingga Rishan memilih menempati kamar lain, meski tak senyaman kamar miliknya. Rasanya Rishan menyesal karena meninggalkan Sella di apartemen seorang diri juga menyesal karena tidak mengatakan perasaannya. Pria itu nampak frustasi saat ini, hanya saja dia berusaha menahan diri untuk tidak datang menerjang pria tua itu lalu membawa Sella bersamanya. Bisa saja Rishan menyuruh orang suruhannya. Akan tetapi, tidak dia lakukan karena menghargai keputusan Sella saat ini. Juga sebisa mungkin Rishan ingin membuat image baik di hadapan Romli. Rishan tahu sangat sulit untuk mendapatkan restu dari pria tua itu, bahkan saat menikah dengan Sella pun dia mengeluarkan banyak uang demi mem-block segala akses, supaya Romli tidak datang mengacuhkan. Namun, kini Rishan ingin hidup layak dengan pernikahan sungguhan. Akan dia biarkan Sella berada di sana beberapa hari. Biarkan dia yang menanggung rindu ini seorang diri. 'Tak jadi masalah asalkan setelahnya Sella menjadi miliknya secara penuh. Bukan hanya miliknya saja, melainkan hatinya pun akan didapatkan. Tekat seorang Rishan yang jarang diperlihatkan kegundahannya. "Sella, saya rindu kamu. Ingin peluk-peluk kamu," gumamnya dengan bola mata tertutup. Pria itu mengusap-usap lantai di apartemen yang saat ini menjadi alas tidurnya, dia tersenyum pedih bahkan lantai yang dipeluknya adalah seorang Sella yang sangat dia rindukan. Rishan agaknya sudah tidak tertolong, dia hanya ingin menyentuh Sella untuk terakhir kalinya jika memang mereka akan dipisahkan oleh Romli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD