KEPULANGAN SELLA

1024 Words
Begitu sampai di tempat tujuannya Sella segera melangkah memasuki gerbang utama. Kedatangannya disambut hormat oleh penghuni rumah ini, tapi tidak dengan pemilik rumah yang yang sedang menatapnya datar sembari menumpukan sebelah kakinya dengan santai. Tanpa menunggu diperintah Sella sudah duduk anteng di sofa lembut yang diduduki juga oleh keluarga baru ayahnya. Gadis yang usianya dua tahun lebih muda darinya menatapnya dengan tatapan sinis tidak membuat Sella gencar membalasnya. Sella menatap sekeliling yang masih sama semenjak terakhir kali dirinya datang ke rumah ini, lalu tatapannya mengarah ke ayahnya yang mengangsurkan sebuah map berwarna merah di hadapannya. Sella menerima begitu saja, saat membukanya seketika itu juga dia menelan salivanya dengan kasar. Sudah Sella perkirakan dugaannya tidak pernah salah. Ayahnya sudah mengetahui pernikahannya dengan pria itu. Sella berusaha tenang meski aslinya dia sendiri merasa risau. Ditengah rasa risaunya senyuman sinis dia dapatkan dari adik tirinya. Tidak semua ibu tiri itu berperilaku jahat karena istri baru ayahnya sangat baik, hanya saja yang tidak Sella sukai adalah anak dari istri baru ayahnya yang membuatnya naik pitam setiap waktu. Gadis itu sangat licik. Mereka selalu perang dingin, lebih terlihat seperti musuh bukan lagi saudara. Kembali lagi Sella memusatkan perhatiannya ke arah map yang berada di tangannya. Perasaannya mendadak tidak enak. “Ayah tidak setuju kamu menikah dengan pria itu. Kamu tahu pasti bagaimana kejamnya dunia bisnis.” Perkataannya memang terkesan santai dan tidak ada bentakan di sana, akan tetapi Sella tahu maksud di balik perkataan ayahnya barusan. “Maksud Ayah?” Sella bertingkah seolah-olah tidak tahu melihat sejauh mana ayahnya memperlakukan dirinya tidak adil. Demi bisnis apapun akan dilakukan ayahnya, bahkan jika mau menjual anaknya pun akan dilakukannya. Kejam memang! Itu yang membuat Sella memilih angkat kaki dari rumah ini. Tidak ada bedanya antara ayahnya dan mamanya yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Mereka sama-sama egois hingga pernikahan keduanya menjadi korban keegoisan mereka. Sella diam berusaha berpikir untuk melawan keinginan ayahnya yang berusaha keras menginginkan dirinya berpisah dengan sang suami. Kepalanya tertunduk merasakan pening akibat otaknya yang dipaksa berpikir keras. Jika niat awal menikah dengan Rishan adalah karena membantunya maka kali ini Sella enggan meninggalkan Rishan. Entah mengapa dia merasa perlu disisi Rishan, apalagi perkataan Rishan waktu itu membuatnya berpikir dua kali untuk meninggalkannya. Membiarkan Sella menghadapi ayahnya maka di seberang sana keadaan tak jauh beda. Rishan kalang kabut begitu sampai di apartemen tidak mendapati keberadaan istrinya, ditambah lagi kopernya pun tidak ada yang mana artinya Sella telah pergi. Pergi meninggalkan dirinya. Rishan berniat menghubunginya namun, seketika itu pula dia baru sadar bahwa nomornya telah diblokir oleh sang istri. Rishan menjambak rambutnya dengan keras bibirnya mengumpat tiada henti. “Sialan! Saya kecolongan bagaimana bisa?!” Rishan meruntuki dirinya sendiri. Padahal dia sudah berusaha keras meyakinkan Sella tentang masalah ini namun, nampaknya Sella sangatlah keras kepala. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah meminta bantuan dari karyawannya yang juga sahabat istrinya, meski dia tahu keberhasilannya hanya lima puluh persen saja, tapi Rishan percaya diri untuk itu. Apapun akan dilakukannya agar Sella kembali ke pelukannya. Ini semua bukanlah semata-mata takut kalau saja sang ibu mengetahui kepergian menantunya, melainkan dia sendiri yang merasa membutuhkan kehadiran Sella disisinya. *** “Masuk,” jawab Sella dari dalam kamar saat pintunya diketuk. Entah siapa yang mengunjunginya malam-malam begini. Sella berbalik begitu merasakan ranjang di sebelahnya bergoyang. Dia menatap si pelaku yang tak lain ibu tirinya sedang tersenyum. Tidak serta merta mendapat senyum ketulusan Sella akan membalasnya dengan tersenyum juga, melainkan hanya tatapan polos yang selalu ditunjukan Sella. Wajahnya yang imut menandakan seolah dia tidaklah memiliki beban karena pada dasarnya Sella selalu bertingkah seolah-olah dia hidup dengan tentram, padahal ... dirinya selalu ditekan keras dengan keadaan. “Kenapa, Tan?” tanya Sella menanyakan kedatangan istri ayahnya ke dalam kamarnya. Bukan lagi menjadi rahasia umum Sella enggan menyebut istri ayahnya dengan sebutan seorang ibu, meskipun demikian Ratna -ibu tirinya- tidak pernah mempermasalah hal itu. Baginya diterima saja sudah cukup karena semua orang pun tahu bagaimana hubungan orang tua dan anak itu. Maka dari itu, wajar saja jika Sella enggan memberikan hati kepada ibu tirinya. Dalam benak dia masih merasa takut dan sedikit cemas jika saja istri ayahnya ini tidak jauh beda dengan ibu kandungnya itu. Mengabaikan pemikirannya Sella lebih menyibukan diri mengotak-atik laptopnya dengan santai tanpa merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya yang tengah memperhatikannya. “Tante cuman mau mengajak kamu makan malam, tapi kalau kamu nggak mau Tante bawakan saja ke kamar, ya?” tutur Ratna mengutarakan kedatangannya. Sella mengangguk mengerti lalu bangkit sembari membawa laptopnya untuk diletakan di atas nakas. Tanpa mengatakan apapun Sella berjalan menuju pintu membiarkan ibu tirinya mengikutinya. Sella memang jarang berkumpul dengan mereka, mungkin baru malam ini dia ikut dalam satu meja makan yang sama. Agak aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Begitu sampai di meja makan Sella memilih duduk di antara ibu tiri dan adik tirinya. Dia bahkan mengabaikan deheman ayahnya. “Duduk di samping Ayah!” Sella diam. Menengok pun tidak. “Sella.” Kembali. Sella diam. Saat akan kembali membuka suaranya elusan di lengan membuat pria paruh baya itu mengunci rapat mulutnya. “Jangan membuat keributan, Mas.” Makan malam berlangsung damai namun, kenyataannya lirikan kedua bola matanya tak bisa anteng. Pancaran aura permusuhan sangat kentara jelas di antara mereka. Sella dan adik tirinya, Asih. Keduanya tidak pernah akur. Sella cemburu? Tentu saja! Mana mungkin dia tidak cemburu melihat kedekatan ayahnya dengan Asih yang notabennya anak tiri sedangkan dia anak kandung tapi diperlakukan seolah anak tiri. Itu yang membuat Sella memilih pergi dari kehidupan ayahnya. Ayahnya pun sama. Tidak merasa kehilangan anak karena Sella dicari kalau dibutuhkan selebihnya tidak dihiraukan sama sekali. “Ayah mau bicara setelah ini.” Pria paruh baya itu beranjak dari kursi kebesarannya dengan penuh wibawa. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi tapi pesonanya tidak perlu dipertanyakan. Buktinya dia bisa menikahi janda muda yang lebih pantas dijadikan adik ketimbang istrinya. “Bicarakan dengan kepala dingin, ya, Sell. Jangan terpancing emosi.” Ratna menasehati anak tirinya meski tidak ada balasan dari Sella. Ratna memaklumi. “Ujung-ujungnya bertengkar lagi terus kabur, deh,” celetuk Asih dengan enteng. Sella geram, tapi dia memilih diam tidak menanggapi adik tirinya. Ratna berusaha mencegah kedua anaknya bertengkar karena bisa menimbulkan masalah besar kalau ayah mereka mengetahuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD