KEPERGIAN SELLA

1187 Words
“Kamu hari ini ke kantor, ‘kan?” Sella diam tetap menyibukkan diri dengan riasannya membiarkan Rishan berceloteh seorang diri. Mendapat kebungkaman istrinya membuat Rishan diam. Dia lebih memilih membaca koran pagi sembari ditemani secangkir kopi yang dibuatkan sang istri. Maniknya menatap Sella yang bangkit membawa koper keluar kamar sukses membuat Rishan melemparkan koran ke sembarang arah. Rishan mengejar Sella yang sudah berada di tengah tangga. Memegang lengannya yang halus dengan sangat erat, mungkin jika diperhatikan bisa saja membekas di pergelangan tangannya yang putih mulus. Merasa mendengar rintihan dari bibir istrinya barulah Rishan melepaskan genggaman tangannya. Rishan menatap Sella dengan tatapan penyesalan, tapi yang didapatkan olehnya adalah tatapan datar seorang Sella yang jarang sekali diperlihatkan. “Apa kamu semarah itu sampai pergi dari apartemen?” tanya Rishan dengan suara rendah tanpa menatap lawan bicaranya. Sella terdiam saat suara suaminya terdengar. Baru kali ini dirinya mendapati Rishan yang bertolak belakang dengan Rishan yang dia kenal sebagai atasannya. Sella berjalan membawa koper kecil miliknya. Koper yang sama saat dia datang ke apartemen ini sebagai istri Rishan. Sella menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di sofa panjang yang tersedia. Memejamkan mata menikmati semilir angin yang masuk melalui jendela terbuka. Mengingat kembali bagaimana memori itu muncul dalam benaknya. Sama seperti sebelum-sebelumnya dimana sang ayah memintanya pulang hanya untuk dikenalkan dengan laki-laki pilihannya. Namun, kali ini bukan itu permasalahannya, melainkan sang ayah mengetahui bahwa sekarang dia sudah menikah dengan seseorang yang sangat dibenci oleh ayahnya, yang mana artinya masalah bertambah besar ... mereka tidak bisa disatukan layaknya air dan minyak. Hal itu yang membuat Sella bingung akan memihak siapa, ayahnya atau suaminya? Sella tersentak saat keningnya diurut oleh tangan besar yang sedikit kasar. Tangan ini yang selalu mendekapnya setiap malam. Bukan! Tolong jangan katakan Sella murahan karena dia wanita biasa yang tidak bisa menolak sentuhan hangat dari pria matang yang statusnya sudah sah. Iya, memang benar. Dirinya telah menyerahkan kehormatannya kepada pria yang berstatus sebagai suaminya, itulah mengapa yang membuat Sella bingung dan sedikit ... menyesal, mungkin. Bukan berarti dia menyesali semua keputusannya hanya saja Sella rasa terlalu cepat jika pernikahan tanpa cinta yang baru berlangsung kurang dari satu minggu tapi dia sudah menyerahkan semuanya. Kembali lagi Sella dibuat terkejut saat tubuhnya didekap erat dari belakang. Lengan kekar melingkar di atas perutnya. Posisi seperti ini membuat Sella merasa nyaman dan terlindungi. Sella mendongak berusaha menghalau buliran bening yang hendak menetes. Sebisa mungkin dia tidak akan menunjukan kelemahannya, meskipun di depan suaminya. Rishan mengecup puncak kepala istrinya. “Kamu mau pergi meninggalkan saya setelah malam panjang itu, Sella?” Sella menegang saat tangan besar milik suaminya menyelusup masuk ke dalam kaos miliknya. “Saya menjamin akan ada kehidupan baru di dalam sana,” ujar Rishan tersenyum tipis lalu kembali mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. Diam. Sella diam, dia baru menyadari akan hal itu setelah apa yang mereka perbuat malam itu bersama. Seketika Sella kembali dibuat risau. “Jangan mengada-ngada!” desis Sella menghentakan lengan Rishan membuat pelukan keduanya terlepas. Rishan tersenyum miring mendapati penolakan dari istrinya. “Jadi kamu tidak mau mengandung anak saya?” Nampaknya Rishan terlihat kecewa. Mereka sudah membicarakan ini semua malam itu yang berakhir membuat keduanya bersatu. Membicarakan semua kehidupan mereka bahkan masalah kepergian Sella. Akan tetapi, sepertinya tidak semudah itu meyakinkan Sella yang sudah terlanjur risau. Rishan pun tahu alasan Sella mau dinikahi adalah bukan hanya membantu pria itu saja, melainkan Rishan pun turut serta membantunya. Mereka menjalin hubungan karena saling membutuhkan. Seperti perjanjian yang dikatakan oleh Sella beberapa saat dia benar-benar memintanya selepas memergoki Rishan bertemu dengan perempuan lain. Sella yang menawarkan satu tahun pernikahan sukses saja membuat pria itu murka sehingga salah satu cara untuk Sella selalu berada terikat dalam pernikahan adalah mengikat dia selamanya. “Sebenarnya apa rencana Bapak terhadap saya?!” “Kita sudah bahas ini, Pak. Tolong mengerti,” pinta Sella dengan derai air mata. Melihat tangisan istrinya membuat Rishan tidak tega, tetapi dia harus tegas. “Saya tidak mengizinkan sampai kapan pun! Tidak ada perpisahan dalam hubungan kita, Sella!” Sella berdecih, lalu membuang muka menghindari kontak mata dengan suaminya. Melihat keterdiaman Sella membuat Rishan berani mendekatinya. Mencoba meraih tangannya yang terkepal erat dan untungnya Sella tidak menolak sentuhannya. Rishan menarik kedua bahu istrinya membawanya ke dalam pelukan hangat miliknya membiarkan Sella menangis sepuasnya. Sadar akan kegelisahan dan ketakutan yang dirasakan oleh Sella membuat Rishan menggeram tertahan. Ini semua kesalahan ayah sang istri yang tidak pantas disebut seorang ayah. Ayahnya yang mengotot akan menghancurkan perusahaan milik Rishan secara terang-terangan kepada pria itu diketahui oleh Sella saat tidak sengaja mendengar obrolan dingin suami dan ayahnya. Itulah yang membuat Sella memilih pergi dari kehidupan Rishan daripada pria itu yang akan mendapatkan kesialan karena dirinya. “Saya tidak akan membiarkan kamu pergi kecuali saya ikut bersamamu,” gumam Rishan. *** Setelah memastikan Sella tertidur barulah Rishan bisa fokus bekerja. Hari ini dia tidak jadi ke kantor dikarenakan ingin memastikan Sella tidak pergi Rishan rela membawa setumpuk berkas ke apartemen. Mengerjakannya dengan tatapan yang selalu menyorot ranjang di mana Sella berada. Posisi tidur Sella yang membuatnya gelisah dan panas dingin. Bagaimana bisa dia tidur dengan nyaman padahal di sini suaminya sedang berusaha keras agar tidak menerkamnya. Jika dilihat lebih dekat Sella memang terlihat sangat memukau untuk ukuran wanita dua puluh dua tahun. Dia baru saja terjun ke dunia kerja dan sudah dilibatkan olehnya ke dalam masalah pribadi. Jika wanita iblis itu tidak membatalkan pernikahan mereka, pastinya Sella tidak akan ikut masuk ke dalam kehidupan Rishan, hanya saja ... ah, sudahlah! Yang terpenting saat ini adalah keutuhan hubungan mereka. Rishan memang bukanlah pria yang romantis apalagi humoris. Dia masuk kedalam kategori cuek namun, semenjak menyeret Sella masuk dalam hidupnya perlahan kecuekan itu berubah menjadi perhatian kecil. Rishan bahkan tidak peduli dengan asal-usul wanita itu karena tujuan utamanya ingin memanfaatkan Sella. Apalagi, mengetahui siapa orang tua wanita itu. Namun, belum juga berhasil melancarkan bom Rishan sudah lebih dulu terjebak dengan permainannya sendiri, pesona Sella memang sulit untuk ditolak. Pernikahan yang baru dijalaninya beberapa hari ini sudah terkena badai tanpa dia duga penyebabnya adalah ayah sang istri. Pria paruh baya yang merupakan musuh bebuyutan keluarganya. Itulah sebabnya yang membuat istrinya risau? ‘Drtz ... drtz ....’ Ponselnya berdering ada telepon masuk dari kantor yang meminta dirinya untuk datang membuat Rishan mau tidak mau pergi ke kantor meninggalkan istrinya seorang diri. Begitu suara handle pintu tertutup barulah Sella membuka matanya perlahan. Memastikan hanya ada dirinya saja di kamar ini. Sella menyibak selimutnya bergegas mengganti pakaiannya tak lupa dia membawa serta koper miliknya yang sempat dilempar oleh Rishan. Sella berjalan dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan, meskipun dia tahu kepergiannya akan segera diketahui oleh suaminya, tapi sebisa mungkin Sella berusaha menghilangkan jejak. Saat berada di sebelah meja resepsionis Sella menatap sekeliling dan menemukan seorang anak laki-laki berkisaran delapan tahun yang sedang duduk di ruang tunggu. Sella menghampirinya mencoba mengajaknya bicara dan untungnya anak itu tidak melakukan hal nekat semacam berteriak mungkin. Hanya dengan sekotak coklat sukses membuatnya keluar dari gedung megah ini. Ketika sampai di pinggir jalan Sella memberhentikan taksi yang lewat untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. “Perumahan XB jalan XXX, Pak,” ucap Sella kepada sopir taksi begitu masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD