Langkah Sella terhenti saat netranya menemukan sepasang manusia berjenis kelamin berbeda sedang berbincang santai, tapi tunggu dulu! Yang membuat Sella harus menghentikan emutannya pada si lollipop adalah ... suaminya!
Suaminya sedang duduk santai di sana dengan seorang wanita yang bisa dikatakan cantik, bahkan jika disandingkan dengan dirinya ia akan merasa malu sekali, apalagi saat Sella menunduk memperhatikan pakaiannya saat ini sukses membuatnya meringis.
Malu sekali dia!
Meskipun Sella kerap kali membanggakan dirinya di depan sahabatnya bahwa dia memang cantik, tapi kalo urusan membanggakan dirinya di depan wanita itu yang Sella yakini kekasih suaminya, maka dia lebih memilih mundur.
Tidak mau harus bersaing dengan wanita sesempurna kekasih suaminya yang ada dia seperti mempermalukan dirinya sendiri.
Jika yang kalian harapkan Sella akan mencak-mencak dan melabrak mereka, maka jawabannya salah! Sella bahkan menyunggingkan senyuman saat otak cantiknya menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum selebar ini.
Menyadari langkah seseorang tidak terdengar di belakangnya membuat Agnes menengok dan mendapati keberadaan sahabatnya tertinggal sangat jauh. Agnes menghela napas penuh kesabaran jika harus menghadapi polah tingkah Sella.
Sudah bukan lagi menjadi rahasia umum kalau Sella ini tergolong wanita yang polos dan bersikap kekanak-kanakan, maka dari itu begitu mengetahui sang sahabat menikah dengan bosnya sukses membuat Agnes was-was sendiri, meskipun dia tahu dibalik ini semua.
Memikirkan nasib sahabatnya yang sama sekali tidak memikirkan nasibnya. Karena Sella tergolong wanita yang cuek dan apa adanya, makanya Agnes khawatir kepolosan Sella dimanfaatkan oleh bosnya secara suami sahabatnya itu tergolong pria matang.
Agnes memilih menunggu dengan pose tampang garang. Bersedekap d**a saat Sella menatapnya dengan menunjukkan deretan giginya yang putih rapi. Ditunggu sampai lima menit, tetapi Sella tidak ada niatan menghampirinya membuat Agnes yang memilih menghampiri Sella.
Belum sempat sampai di hadapan Sella dia malah diacuhkan dengan kepergian Sella ke arah restoran. Dan yang membuat Agnes melototkan bola matanya sempurna adalah orang yang dihampiri sahabatnya itu.
Agnes tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya saat ini. Ingin mencegah, tapi tidak mungkin karena Sella sudah duduk manis di meja itu. Meja suaminya yang juga bosnya dengan seorang wanita yang tak kalah cantik dari sahabatnya.
Agnes memilih duduk di meja belakang mereka. Mengamati apa yang akan terjadi. Agnes bersumpah jika sampai sahabatnya itu membuat keributan dia akan meninggalkan Sella di sini.
Bodo amat yang penting dia sudah bersama suaminya, begitulah pikir Agnes.
Sampai menit kesepuluh belum ada tanda-tanda pertengkaran yang diperkirakan oleh Agnes saat kedua wanita akan saling menjambak di depan pria itu. Justru Sella dengan santainya ikut berbincang seolah tidak sadar atau bahkan pura-pura tidak sadar ada wanita lain yang juga bersama suaminya.
“Emang dasar bocah kalau dinikahin ya gini kelakuannya. Polosnya bikin gue pengin bunuh lo, Sell!” Agnes terus saja ngedumel tidak jelas. Sumpah serapah akan dia lontarkan untuk Sella.
Sedangkan di meja nomor lima belas seorang pria yang sedang ditatap sedemikian rupa oleh istrinya membuat Rishan terdiam kaku. Dia merasa terciduk oleh istrinya sendiri.
Merasa sadar telah main belakang. Bilangnya ke kantor, tapi malahan mangkal di sini.
Merasa bersalah, ya, Mas?
Wanita itu yang duduk berhadapan dengan Rishan juga sama bingungnya mendapati keberadaan Sella di antara mereka. Saat wanita itu akan membuka suaranya tiba-tiba saja Sella menyelanya dengan sapaan lembut.
“Hallo, Kak,” sapa Sella ramah bahkan sampai tersenyum.
Wanita itu menerima uluran tangan Sella dengan ragu. Saat mendapati senyuman itu entah mengapa wanita itu pun ikut tersenyum.
Senyuman Sella selalu menjadi candu bagi siapa pun, termasuk suaminya mungkin.
Mendapat sambutan baik dari kekasih suaminya membuat senyum Sella makin lebar. Dia bahkan sampai menatap suaminya. Mengatakan seolah ‘kami adalah teman’ nyatanya Rishan sudah ketar-ketir mendapati senyum lebar istrinya yang jarang sekali terlihat. Karena saat bersamanya, Rishan selalu mendapatkan tatapan sinis tidak mengenakan.
***
Setelah menyeret Sella yang berakhir meninggalkan teka-teki untuk Bella. Rishan langsung membawa Sella pulang, tidak lagi kembali ke kantor. Baginya saat ini lebih penting Sella daripada pekerjaannya.
Eits ... jangan salah paham! Maksud pak Rishan itu mementingkan meredamkan amarah Sella sebelum istrinya itu membludak dan berakhir dia yang berurusan dengan sang ibu.
Bukan tidak peka, bahkan Rishan sangat peka dengan tingkah Sella barusan. Istri mana yang baik-baik saja saat suaminya—
Sampai di apartemen Sella memilih menyibukan diri di dapur dengan segala macam wajan dan pisau demi menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Rishan pun tak kalah canggungnya dengan Sella, akan tetapi dia memilih menghampiri Sella. Karena jika masalah ini diendapkan yang ada akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Rishan duduk di depan meja pantry memperhatikan istrinya yang bergerak lincah ke sana ke mari dengan celemek yang menempel di tubuh mungilnya.
“Sella ....”
Tidak ada tanggapan. Sella diam Rishan ikutan diam. Bingung akan memulai percakapan dari mana karena yang diajak bicara sepertinya tidak mood.
“Mau saya bikinin kopi atau teh?” Pertanyaan Sella membuat Rishan tersadar karena sedari tadi dia melamun.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya dia menyuguhkan secangkir kopi yang masih mengepul. Harum semerbak kopi menguar sampai hidungnya membuat Rishan tanpa sengaja tersenyum tipis. Sangat tipis hanya dia seorang yang tahu.
Mengabaikan harum kopi Rishan justru fokus memperhatikan istrinya yang masih asik berkutat dengan pisau. Jika diperhatikan sekilas Sella nampak seperti anak SMA dari tubuhnya yang terbilang kecil. Mungkin itu salah satu daya tarik tersendiri baginya kenapa dia menjadikan staf kantornya ini sebagai istri.
Sella duduk di depan Rishan. Mengambilkan nasi beserta lauknya untuk sang suami. Mendapat perhatian kecil seperti ini membuat hatinya menghangat karena baru kali ini dia merasa dilayani dan dihormati.
Bahkan saat menjalin kasih dengan mantan kekasihnya dulu tidak pernah dia merasa diutamakan seperti halnya Sella mengutamakan dirinya. Apa karena dia istrinya? Tapi ... tidak juga! Buktinya teman-temannya sering kali mendapat perlakuan seperti saat dia diperlakukan oleh Sella yang mana artinya apakah hubungan seperti ini yang patuh dipertahankan? Terlebih orangnya.
Mengenyahkan pikiran ngawurnya perihal masa lalu Rishan memilih menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh istrinya, meskipun Rishan tahu kalau Sella melakukannya dengan sedikit menggerutu tidak ikhlas, tetapi Rishan bodo amat.
Baginya terpenting makan lalu berbincang sedikit dengan sang istri yang sudah terlanjur menutup mulut.
Berbeda dengan Rishan yang terlihat ketar-ketir Sella justru sangat santai menanggapinya. Bahkan dia sama sekali tidak mempermasalahkan kedekatan suaminya dengan wanita lain. Hanya saja dia sedikit penasaran. Hanya penasaran tidak lebih!
Kira-kira siapa wanita itu?