Part 2

1856 Words
Sehari setelah berita soal affair Miss Burburry dengan seorang pria, Sebastian Benedict memilih berkuda sambil memeriksa lahan miliknya saat ia melihat jejak hewan yang berbekas di tanah. Tak seperti pria pada umumnya, yang terluka atau merasa tersakiti karna tunangannya ternyata memiliki skandal, Sebastian tak mempedulikan hal tersebut. Ia justru merasa bebas karna tak terikat pada komitmen. Keharusan memiliki istri membuatnya merasa seakan jiwa kebebasan lelaki itu dikekang. Ia bersyukur Miss Burburry terlepas darinya. Namun ia merasa malu karna lelaki yang dipilih wanita tersebut ternyata pria kurus ceking yang bahkan tak bisa memegang garpu dengan benar. Sayangnya kesenangan lelaki itu akan kebebasan hanya akan bertahan sebentar. Karna ayahnya akan meminta Sebastian mencari wanita lain untuk ia nikahi. Sebastian menyusurkan tangan di tanah, mengerutkan dahi saat menerka-nerka hewan apa yang sebenarnya dengan berani berada di estat pribadi miliknya. Jejak kakinya sedikit lebih besar daripada babi hutan, tapi tidak sedalam itu. Ia mengambil senjata dan menyusurkan pandangan ke segala arah. Tak ada apapun kecuali pemandangan pohon yew. Ia hanya melihat kelompok angsa yang sedang membersihkan diri mereka di danau, mengibaskan sayapnya yang elegan dan berwarna putih. Ia mencium aroma angin musim dingin, bersama dengan semilir udara yang bertiup pelan di sekitar tubuhnya. Beberapa daun yang rontok memenuhi tanah saat pepohonan hijau rindang terbentang luas. Ia akan melihat kembali besok pagi. Sebastian tak suka dengan hewan yang masuk ke estat pribadinya. Lelaki itu menaiki kuda dengan anggun dan kembali ke dalam mansionnya, Avington Park, saat ia mendapati 3 kereta kuda yang tak diundang datang ke rumahnya berjejer rapi. Pria itu menyerahkan kudanya pada Goose, pelayan pribadi Sebastian, yang menunggu di depan istal saat menyerahkan tali kekang kuda miliknya ke tangan Goose yang berbalut sarung tangan. "Aku tak menerima tamu hari ini." Goose menatap majikannya sesal sambil menerima tali kekang tersebut, "Maafkan saya my Lord, tapi mereka adalah teman anda." "Aku akan mengusirnya kalau begitu," jawab lelaki itu luwes saat masuk ke dalam. "Atas permintaan His Royal Highness," imbuhnya cepat sewaktu Sebastian mendesah jengkel. Jadi ayahnya, sang Raja itu sendiri yang menyuruh ketiga temannya untuk datang kemari? Sebastian tahu apa tujuannya, dan ia semakin jengah karna tahu hal tersebut. Pasti karna Miss Burburry. Ayahnya meminta Sebastian untuk mencari calon istri lain. Ia masuk ke dalam dan menolak berganti baju saat masih mengenakan pakaian berkuda sewaktu menatap pelayan pribadinya. Bau udara pekat menempel di kemeja pas badan miliknya. Celana panjang hitam miliknya masih bernoda saat ia menekuk lutut di luar tadi. Rambutnya yang tebal acak-acakan dan ia membuatnya semakin kacau saat menyisir dengan jari. "Dimana mereka?" "Ruang kerja anda," jawab Goose lagi sebelum pria itu membukakan pintu dan Sebastian maju sambil menarik alis saat menatap temannya jengkel. Mereka sedang duduk di sofa miliknya, yang merupakan hadiah dari ibunya saat ia berhasil lulus dari akademi sekolah anggar. Ketiganya tampak menikmati minuman di sana sewaktu Sebastian masuk dan menuang minuman untuk dirinya sendiri saat menyambut tamu. Lelaki itu berada di sudut ruangan. Gerakannya santai tapi tak menipu saat mengedarkan pandangan. Ia menatap ketiga temannya Kevin Tunner, James Cobalt, Earl Collins dan Gilbert J. Weels dengan pandangan muram. Kevin Tunner merupakan pengusaha yang sukses dibidang perkapalan. Lelaki itu bekerja sama dengan banyak negara seperti Cina dan Amerika. Ia muda dan tampan, memiliki rambut gandum dengan senyum mematikan dan kepintaran yang mumpuni. Matanya jail tak bercela dan ia tersenyum malas. Ia berasal dari keluarga berada, tak memiliki hutang ataupun hobi berjudi. Hanya saja kepintaran lelaki itu dalam bernegosiasi dibarengi dengan kepintarannya dalam b******a. James Cobalt, dia sendiri seorang Earl Collins jadi tak perlu diragukan lagi kekayaannya. Ia gemar berkuda dan berburu, rambutnya berwarna kemerahan dan bola matanya sangat hitam. Wajah lelaki itu datar saat menatap Sebastian. Ia tinggi dan tegap, merupakan idaman para ibu di London juga. James mengerti bagaimana rasanya dikejar-kejar oleh para ibu, itu sebabnya ia dan Sebastian menjadi dekat. Terakhir Gilbert, berambut pirang dengan mata hijau miliknya yang menelisik dan penuh kalkulasi. Orang hampir tak bisa menebak apa yang pria itu pikirkan. Selalu saja ada hal yang membuat bibir lelaki itu berkerut menjadi satu garis lurus kaku. Mereka yang tak mengenal Gilbert akan takut dengan semua otot kencang miliknya yang sudah sering terlatih akibat menjadi tukang pukul. Diantara semuanya, kehidupan Gilbert yang penuh lika liku. Ia pernah bekerja sebagai tukang jagal, awak kapal, penebang pohon dan bahkan pembersih cerobong asap rumah. Dengan uang yang berhasil ia kumpulkan, lelaki itu mulai membuat usaha sendiri. Ia menjual baju siap pakai untuk para bangsawan dan setelah keuangannya mulai membaik, ia membangun usaha lain. Sebuah toko permen, yang sangat bertolak belakang dengan perawakannya. Namun siapa sangka justru dewi keberuntungan berputar kepadanya. Candy's menarik minat semua wanita dan membuatnya menjadi kalangan rendah, menjadi seseorang pengusaha kelas atas yang selalu dinantikan. Mereka semua menyadari betul tatapan haus para ibu yang sengaja memperkenalkan anak mereka padanya. Ke empatnya lajang dan sukses, muda dan kaya raya. Sering kali mereka dipaksa secara halus untuk berdansa dengan para wanita.  Tapi yang paling beruntung diantara mereka adalah Gilbert. Lelaki itu tak memiliki tata krama dan sopan santun sehingga hampir tak ada yang menginginkannya sebagai suami. Dan ia juga terang-terangan menyiratkan tak ingin menikah, namun tak masalah dengan simpanan. Hal yang membuat para ibu geram namun di sisi lain wanita muda menyukai tantangan untuk menjadikan Mr. Weels kekasih gelap mereka. Sebastian sendiri belum ingin menikah, walaupun ayahnya berkata lain. Orang-orang hanya mengenal pria itu sebagai pengusaha Amerika, dan karna ia sendiri tak terlalu suka mengumbar kehidupan pribadinya hampir tak ada yang tahu siapa Sebastian. Kecuali ketiga temannya. "Kudengar kemarin kau memergoki Miss Burburry dengan Sir Fredge," Tunner memulai pembicaraan sementara yang lain menyesap minumannya atau menghirup apa yang disebut rokok. Sebuah kertas panjang yang digulung sementara bagian dalam diisi dedaunan. Mereka membakar salah satu ujung saat menggigit ujung lain dan menghembuskan asap pekat putih itu ke udara. Seperti cerutu namun rokok lebih ramping.  Ia membawanya dari Paris saat kesana musim lalu. Sebastian menatapnya santai saat mendekat, "Aku menunggumu menanyakan itu. Dari siapa kau tahu itu?" Tunner menyandarkan punggungnya di sofa dekat perapian. Ia memandang ke arah kayu yang meletik dan terbakar, membuat suara berderak halus sementara angin musim dingin mulai datang menghampiri London. "Salah satu informanku. Dan ia tahu dari semua tamu yang berada di pesta kemarin. Sayang sekali aku tak hadir disana," timpalnya sungguh-sungguh saat Collin menatap Tunner. "Tak akan ada banyak perbedaan meski kau disana. Sebastian hampir tidak melakukan apapun." Weels mengalihkan pandangan ke Sebastian, "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Sebastian beranjak ke meja kerjanya sendiri, duduk di balik kursi berlapis yang diisi oleh busa. Selimut dari kulit macan, yang ia dapatkan saat berburu di Nepal dulu menjadi alas duduknya. Ia mengenakan kacamata dan mulai mencelupkan pena ke tinta saat menulis surat. "Hubunganku dengan Miss Burburry hanya sebatas bisnis. Tak ada perasaan yang terlibat." Tunner meringis, "Dingin seperti biasa. Sayangnya, kami kemari untuk membawa perintah ayahmu." Gerakan Sebastian terhenti di udara sejenak dan ia menatap mereka dengan tatapan menilai dari balik bulu mata. Nada suaranya santai namun tak menyembunyikan kemalasan disana. "Perintah untuk mencari tunangan lain? Aku tak sabar menunggu," balasnya dengan nada kering. Weels menatap Sebastian tenang saat membuka mulutnya, "Kau mungkin ingin melihat isi suratnya dulu." "Aku tak tertarik dengan wanita manapun. Demi Tuhan, rasanya seperti persembahan terjadi disini." Collin yang kali ini membuka mulut, "Kemarilah Benedict. Kau harus mendengarkan kami terlebih dulu." Sebastian mengangkat kepala lagi dan melihat keseriusan yang hampir tak pernah mereka tunjukkan. Kecuali Weels tentu saja, karna lelaki itu selalu memasang wajah serius hampir di setiap kesempatan. Ia menaruh kacamata dengan hati-hati dan berdiri mendekati mereka. "Apa?" "Kau mungkin mau duduk." "Aku bersumpah akan mengebiri kalian semua kalau ini tak penting," balasnya jengkel saat Tunner menyerahkan surat dengan lambang kerajaan yang disegel lilin. Sebastian membukanya, menarik keluar isinya dan wajah lelaki itu berubah tegang saat ia membaca setiap kalimat yang ada disana. Detik berikutnya ia meremas surat tersebut, membuatnya menjadi bola dan melemparkannya di meja. Lelaki itu berdiri dan berjalan disana saat berhasil mengendalikan amarahnya. "Kalian tahu isi surat tersebut?" Ketiganya terdiam dan mengangguk. Semua sama seperti Sebastian, terkejut oleh keputusan gila Raja. Wajah Sebastian sendiri muak lebih amarah, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Weels membuka mulutnya lebih dulu saat menatap punggung kaku milik Sebastian. "Aku dan Collin memang memiliki firasat buruk sewaktu Raja meminta kami secara pribadi mengantarkan surat ini padamu." "Tapi aku tak menyangka akan seperti ini," sambung Collin prihatin. Lelaki itu beranjak ke jendela, menatap rusa miliknya yang dengan elegan berjalan di atas rumput dan mendonggakkan kepala seakan tengah mengejeknya. Ia memegang tepian jendela hingga seluruh tangannya memutih. "Dan apa pendapat kalian soal perihal tersebut?" Tunner tak berani menjawab, takut kepalanya mungkin tak akan lagi ada di tempatnya setelah ia membuka mulut. Collin berpikir dalam-dalam sementara Weels memberanikan dirinya. "Aku pikir kau tak akan memiliki masalah dengan Miss White. Reputasinya baik dan bersih, tak pernah terlibat skandal." "Mendekati Miss White bukan hal sulit, kami sudah bertemu beberapa kali. Aku hanya tak menyangka ayahku menyuruhku mengadakan pernikahan sebelum tahun ini berakhir atau ia akan menarik semua fasilitas." "Mendekati dan bertemu dengannya langsung sama sekali hal berbeda," jelas Collin mengingatkan lelaki itu. "Kau hanya pernah bertemu dengannya di pesta, tapi tak pernah diperkenalkan sebelumnya." Weels ikut menimpali ucapan Collin. "Kita bisa membuat pesta dan mengundangnya secara pribadi untuk datang. Kau bisa mengutarakan maksudmu." Sebastian berkacak pinggang dan mengumpat, "Setelah pertunangan yang gagal dua kali, aku heran dia menunggu selama ini." Tunner terkikik geli melihat penderitaan temannya. "Kalau saja kau tak menyembunyikan identitasmu, saat ini semua wanita akan mengantri di Avington." "Kalau aku tak merahasiakannya, entah berapa banyak wanita berdiri disana menunggu kalian untuk keluar," balasnya tajam. Sebastian tak ingin menikah, lebih tepatnya tidak sekarang. Ia tahu takdir apa yang ia miliki saat terlahir di keluarga Kerajaan, tapi ia tak ingin terburu-buru dipaksa menikah. Weels menatapnya datar. "Aku tak memiliki masalah dengan para wanita. Mereka selalu membuka kakinya lebar-lebar kepadaku." "Tolong perhatikan ucapanmu Weels," tegur Collin memutar mata saat menatapnya. "Ada cara yang lebih beradab untuk menjelaskannya." Weels berpikir sesaat sebelum mengatakan, "Mereka siap berada di ranjangku kapanpun." Tunner menyeringai licik kepada Collin. "Kupikir kau tak memiliki hak untuk meralat ucapan Weels. Mengingat banyak sekali wanita yang meninggalkan tempat tidurmu dengan senyum puas." Collin menarik alisnya tinggi. Matanya berkilat tajam saat Sebastian menyela masuk. "Ini bukan ajang siapa yang tidur dengan siapa lebih banyak. Dan aku sudah memutuskan untuk mengadakan pesta dan mengundang Miss White. Berita baiknya, kalian akan menemaniku." Terdengar erangan panjang dari 3 pria malang tersebut. Pesta akhir musim, akhirnya pesta berburu para suami, dan itu berarti akan ada banyak debutante dan wanita lain yang mengejar mereka. Sebastian tak ingin merasakan penderitaan itu sendirian. Memikirkan mereka bertiga akan berada di pesta dengan wajah muram dan tatapan melengos, membuat ia menyengir puas saat memikirkan ketiga temannya yang harus berada didalam gerombolan para ibu-ibu lapar sementara mereka menunjukkan anak mereka. "Persiapkan kaki kalian, aku yakin kalian semua akan berdansa sepanjang malam. Suka atau tidak. Sementara itu aku akan memberitahu Goose untuk menyiapkan undangan." Sebastian sengaja berhenti di depan pintu sebelum berbalik menatap ketiganya. "Kalau kalian tak datang, aku sendiri yang akan meminta ayahku secara pribadi untuk memerintahkan kalian agar ikut." "Itu curang," ujar Wells muram. "Salah satu keuntungan seorang Pangeran, kau memiliki hak tersebut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD