Part 3

1971 Words
Bella dengan berbaik hati mengantarkan Luciana kembali ke kediamannya saat mereka selesai menonton opera. Sebuah kereta kuda berwarna putih dengan sepuhan warna emas diatas membuat para tamu terpukau. Kereta itu ditarik oleh empat kuda besar, semuanya berwarna hitam dan tampak anggun sewaktu menarik kereta tersebut. Mereka berdua mendekati kereta saat kusir membantu dan membuka pintu, mengejutkan Lucy saat melihat sebuah tangga kecil tiga tingkat berada disamping pintu. Kereta kuda ini model terbaru, memiliki pegas otomatis yang membuat tangga tersebut akan keluar dan menutup saat pintu terbuka. Lebih aman bagi para wanita dan lebih stabil. Bagian dalam kereta tersebut diberikan jok lembut berwarna putih dengan bordiran renda sebagai alasnya. Memiliki empat partiseri jendela yang dilapisi oleh kain sutra transparant. Sebuah tirai putih berhiaskan bordiran emas menambah estetika kereta itu. Bagian luarnya, memiliki sudut tajam dibagian atas kereta. Di bagian atas samping pintu, terdapat pengait yang digunakan untuk menaruh lentera lampu. "Aku sekarang paham kenapa keuanganmu terus menipis," ujar Lucy sambil menarik kesiap nafas tajam melihat betapa mewahnya kereta kuda ini. Bella mengiyakan dengan muram dan wajah tertekuk saat mengambil selimut yang ada di kereta dan menepikannya ke sudut. "Ibuku tidak setengah-setengah dalam membanggakan setiap jengkal kekayaan keluarga kami." Kereta berderak pelan, meninggalkan jalanan saat Luciana menatap temannya prihatin. "Kita berdua mungkin akan menjadi perawan tua seumur hidup." Bella langsung bergidik ngeri saat membayangkan ia dan Luciana duduk di pojokan pesta, menatap iri para pasangan sementara ia hanya menyerut teh susunya dengan wajah pahit. "Uhhh tidak, tidak. Kau yang akan menjadi perawan tua. Aku tidak." "Kupikir kita berdua teman," katanya sambil tersenyum licik saat Bella menggerakkan tangannya di udara. "Tidak saat masa depanku dipertaruhkan. Aku benar-benar penasaran siapa yang akan menjadi suamiku kelak. Duke Bayning? Duke Labbot? Atau Earl Collins?" Mendengar nama ketiga pria tersebut membuat Lucy merilekskan punggungnya dan menatap temannya skeptis. "Maafkan aku bertanya tapi kenapa kau yakin sekali mereka bertiga akan mengejarmu?" Bella tersenyum masyul dengan tatapan lugu yang sengaja dibuat-buat. "Bayning seorang duda tanpa anak, jelas ia membutuhkan seorang wanita untuk mengurus anak-anaknya. Labbot berumur 40 tahun dan didesak untuk menikah. Dan terutama keduanya mengirimkan surat kepadaku yang jelas mengisyaratkan hubungan serius." "Dan Collins?" "Dia hanya akan menjadi pilihan terakhir. Masalahnya adalah, aku tak menyukai Labbot dan Bayning. Mereka berdua memiliki tinggi yang sama denganku." "Jelas kekayaan mereka tidak membuatmu tergiur," sindirnya. "Tapi Bella, apa pentingnya tinggi badan saat mereka berdua begitu kaya raya? Andai aku jadi kau aku akan memilih Bayning." "Akan kuminta dia melamarmu kalau begitu," potongnya serius. "Bagiku penting Lucy, aku tak menyukai pria yang lebih rendah atau sama tingginya denganku." Kereta mulai melambat yang menandakan bahwa mereka sudah tiba di jalan kediaman milik neneknya Lucy. "Sementara kau memikirkan tinggi badan mereka, aku menyarankan sebaiknya kau memilih dengan cepat sebelum keduanya diambil wanita lain." Tapi bukannya menerima saran tersebut, Bella melengkungkan mulut indahnya dengan sengaja sambil mengendikkan bahu. "Mereka bisa mencoba dan akan berakhir dengan kegagalan." Pelayan menghentikan kereta dan membuka pintu saat menawarkan sebelah lengannya ke ukuran tangan Lucy. Luciana menjejakkan kaki dengan aman dan berbalik menatap temannya. "Kadang aku bingung darimana semua kepercayaan dirimu itu." "Wanita cantik selalu begitu. Aku akan mengirimkan kereta lagi untuk menjemputmu besok. Jangan lupa kita memiliki janji di Square." "Aku tahu." Pelayan menutup pintu, membungkuk hormat pada Lucy sebelum meninggalkan tempat tersebut. Luciana menatap kereta yang semakin menjauh sebelum masuk ke dalam rumahnya. *** Lagi. Tongkat sialan itu lagi. Siang itu, Lucy menatap tongkat kayu melengkung dengan ukiran emas yang berada di sisi samping pintu saat ia baru saja hendak pergi. Wanita itu meremas erat rok miliknya dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Fredge, pria itu bahkan tak tahu malu masih berani datang kemari setelah ia sudah terlibat skandal. Benar-benar memalukan bagi kalangan bangsawan. Entah sejak kapan lelaki itu menginginkannnya sebagai wanita simpanan. Tapi sudah berapa kali Lucy menolak lelaki itu benar-benar tak mengerti kata menyerah. Kini, setelah akhirnya pria itu bisa menikah dengan wanita lain, Lucy akan menyelesaikan masalah tersebut hari ini juga. "Dimana dia?" tanyanya pada Milana, pelayan muda yang terlihat cemas. "Dia sedang menunggu anda, di tempat seperti biasanya Miss," jawab pelayan itu khawatir. Mengingat terakhir kalinya Fredge kemari pria tersebut mencoba menghancurkan reputasi wanita tersebut. Para pelayan tak ada yang berani mendekat, takut pekerjaan mereka menjadi taruhannya. Tapi juga mereka tak bisa membayangkan Lucy dinodai. Beruntung saat itu, nona muda mereka berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Ia mengambil pisau dan mengarahkan benda tajam tersebut ke arah lehernya. Dengan mata membelalak ia menatap tajam Fredge yang terlihat kaget. "Kalau kau berani mendekatiku sekali lagi, aku akan membunuh diriku sendiri." "Miss Edinburgh, tenang. Taruh pisau itu dengan perlahan," pintanya sewaktu mundur ke belakang. Lucy mendekatinya sambil tetap menempelkan benda tersebut. "Aku lebih memilih mati daripada bersama denganmu." "Miss Edinburgh," mulainya dengan was-was saat mencoba merangkai kata-kata. "Coba pikirkan dengan lebih realistis saat ini. Ibumu membutuhkan pengobatan sementara Dowager Raylin sudah terlalu tua untuk menjagamu. Kau membutuhkan pelindung, dan aku bersedia membantumu." "Aku tidak. Pergi." "Miss Edinburgh..." "Pergi!!" bentaknya kasar dan ia menggerakkan pinggiran pisau hingga mengenai lehernya dan darah segar keluar dari luka tersebut. Setelah kejadian itu, Fredge pergi dan tak pernah kembali. Tapi sepertinya lelaki itu berpikir ia masih bisa mencoba kesempatannya musim ini. Ayah lelaki itu sudah meninggal dunia dan meninggalkan cukup banyak warisan padanya. Walau ia hanya seorang Baron tapi ia masih memiliki gelar bangsawan dan lahan pribadi di Mayfair. "Apakah ibu dan nenekku pergi?" "Tidak Miss, mereka pergi menyambut Mr. Fredge. Mereka mengatakan bahwa anda tak ada di rumah tapi ia mengatakan bahwa akan tetap tinggal sampai anda kembali." "b*****h," rutuk Lucy muak menyadari usaha keduanya untuk menyembunyikan ia gagal. Lalu Lucy menatap pelayannya datar, "Kalau saja aku bisa memberikan ia air danau, aku akan melakukannya." Milana tampak menatap penuh persekongkolan. "Saya setuju Miss." Jadi Lucy menuju ruang tamu, membuka pintu dan menatap pria keriting berambut pirang tersebut yang tersenyum menjijikkan kepadanya sewaktu Lucy bangkit. Fredge tidak jelek, sama sekali tidak. Ia memiliki mata biru dengan dagu yang agak lancip. Alisnya pendek dan hidungnya bengkok. Ia kurus dan terlihat ringkih. Tapi ia memiliki senyum yang menawan, dimata wanita lain. Ia berdiri dan membungkuk hormat, "Akhirnya anda kembali. Saya dengar dari Madam Edinburgh anda tengah mengunjungi rumah sahabat anda, Miss White." Lucy menatap datar ke ibunya yang tampak menggeleng, menjelaskan wanita tersebut tak memiliki pilihan lain. Lalu ia masuk ke dalam sana, membiarkan pintu tetap terbuka saat duduk di sofa gelap, yang berjauhan dengan kursi milik Fredge. "Persahabatan saya dan Miss White memang sudah terkenal," balasnya mencoba untuk tetap anggun dan mati-matian bersikap sesopan mungkin. "Saya tahu. Oh ini, saya membawakan ini saat perjalanan terakhir saya ke India." Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu bersepuh emas dengan detail rumit mutiara ke arah Lucy. Neneknya tersenyum canggung, "Terima kasih atas kebaikan anda Sir Fredge tapi kami tak bisa menerimanya." "Itu benar. Kami yakin Miss Burburry akan menyukai hadiah tersebut," ucap ibunya sewaktu pria itu tersenyum santai. "Aku membeli ini untuk Miss Edinburgh. Bangsawan India mengenakan ini di tangan mereka, dan saat aku melihatnya, aku yakin gelang ini akan sangat cocok untuk Miss Edinburgh." Fredge membuka isi kotak, menampilkan deretan gelang emas tersebut ke Lucy yang sama sekali tak melihat atau bahkan mencoba berbasa-basi. Sebaliknya, ia menatap lurus ke dalam mata Fredge. "Saya tak bisa menerima pemberian semahal ini dari anda. Terlebih, saya yakin Miss Burburry lebih berhak dan pantas mengenakan gelang secantik ini mengingat kabar pernikahan anda." Milana mengantarkan teh pahit dan memasang wajah datar saat menaruh nampan kristal tersebut di depan Fredge. Kalau saja ia bisa menambahkan air dari Sungai Thames kemari, ia akan melakukannya. Fredge menunggu Milana pergi sebelum menyesap tehnya dengan wajah kecut. Ia tertunduk dan menatap Lucy penuh minat yang membuat wanita itu mual. "Mungkin pernikahan itu tak akan terjadi." "Maaf?" bahkan neneknya yang dikenal meemiliki sikap sopan tak tercela, melongo menatap pria tersebut. Bagaimana bisa ia dan Burburry tidak menikah setelah skandal mengerikan itu? Tentu saja lelaki itu harus mengambil tanggung jawab ya kan? Fredge menyandarkan punggungnya di sofa dengan elegan. "Bisakah kalian meninggalkan saya dan Miss Edinburgh berdua?" "Tidak, itu tak pantas," jawab ibunya lantang. Saat Eliana mendengar bahwa putrinya hampir dinodai Fredge, ia luar biasa geram. Jadi mana mungkin ia akan membiarkan hal itu terjadi lagi? Fredge menekan ujung lidahnya ke sisi mulut dan mengangguk masyul. "Alasan saya kemari adalah untuk meminta miss Edinburgh sebagai pasangan saya." "Anda sudah memiliki Miss Burburry," balas ibunya tenang saat lelaki itu mengangguk. "Betul. Tapi saya mencintai putri anda." "Dengan memintaku menjadi simpananmu." "Miss Edinburgh..." "Apa yang anda lihat dari saya sebenarnya Sir?" tanya Lucy blak-blakan dan mengabaikan sopan santun. "Saya memiliki penglihatan yang tak bagus, bintik di wajah, miskin, dan tak ada mas kawin." "Lucy..." ucap ibunya. "Apa yang membuatmu ingin menjadikanku wanita simpanan?" Fredge kembali menatap kedua wanita yang lebih tua tersebut dengan tatapan memohon. "Bisakah anda meninggalkan kami berdua? Sendirian?" "Tentu tidak." "Ma, lakukanlah." "Lucy!" Neneknya memekik kaget saat cucunya tersenyum lembut. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja," ujarnya meyakinkan saat kedua wanita tersebut menatap ragu sebelum melenggang pergi. Ditinggalkan berdua saja, membuat Lucy semakin menatap lelaki itu dingin. "Jangan bilang kau akan menikahi Burburry dan menjadikanku simpananmu?" Lelaki itu mengangguk dan tersenyum lebar saat Lucy mendengus tak percaya. Fredge mencoba mendekatinya saat wanita tersebut menatap tajam dan membatalkan niat lelaki itu. Ia menatap Lucy putus asa. "Aku harus bagaimana? Pilihan apa lagi yang kupunya?" "Kau bisa menikah dengan Burburry." "Dia hanya kesalahanku. Lucy, aku hanya mencintaimu." "Kau gila. Aku tak akan menggunakan sopan santun terhadapmu. Jadi jauhi aku, kau pria beristri. Dan lagi, kenapa aku harus menjadi simpananmu?" "Kau akan membutuhkan pendamping." Luciana tertawa histeris. "Aku bisa menjadi biarawati." Wajah Fredge memucat mendengar ucapan tersebut. "Kau tak bisa menyia-nyiakan kecantikanmu. Hanya aku yang bisa melihat kecantikanmu Lucy." Bisakah seseorang mati karna menahan amarah? Lucy sudah bersikap kasar, tapi lelaki itu masih tak tahu malu. Apalagi, cinta? Bagaimana bisa dia mengatakan kalimat sesakral itu disaat ia meminta Lucy sebagai seorang simpanan? Luciana menatapnya dingin. "Kalau begitu kenapa aku? Bukannya ada banyak wanita lain disana." Fredge tersenyum malu-malu yang membuat Lucy merinding jijik. Lelaki itu menjilat bibirnya yang kering dan menatap Lucy lekat-lekat. "Kau membuatku terpesona. Aku tak pernah menemukan wanita secantik dirimu. Aku tak peduli dengan penampilanmu karna kau..." Lucy memotong ucapannya. "Kalau benar begitu kenapa kau ingin menjadikanku simpanan?" Lelaki itu terlihat menyesal, "Kau pasti sudah mendengar rumor soal dirimu. Aku tak bisa sejauh itu. Tapi aku janji akan memperlakukanmu bak ratu." Seluruh syaraf dalam diri Lucy berteriak, darahnya mendidih karna amarah dan ia menggeram muak. Sel-sel dalam tubuhnya berlomba dan darah terpompa dari setiap inci tubuh. "Keluar." "Miss Edinburgh." "Keluar! Keluar kataku!" jeritnya murka sewaktu menatap lelaki itu dingin haus darah. Fredge berdehem dan meminum teh pahitnya lagi, "Akan kuberikan kau waktu untuk mempertimbangkannya." "Keluar!!" Lelaki itu langsung melenting naik seakan ada per di kursi dan ia buru-buru keluar dengan cara yang sama sekali tidak menunjukkan sikap bangsawannya. Lucy memijat keningnya yang lelah. Kepala wanita itu seakan berputar dan pandangannya tak fokus. Ia memejamkan mata sesaat untuk mengambil nafas sebelum menenangkan dirinya sendiri. Rumor, semua karna rumor tersebut. Dibuat oleh sekelompok wanita yang tak menyukai Lucy hanya karna wanita itu tak terhina oleh cacian mereka. Lalu entah sejak kapan semua orang percaya ia pengeruk harta. Ibu dan neneknya masuk ke dalam saat meremas lengan Lucy dan menatapnya cemas. Wajah wanita itu sepucat kertas. "Kau sedingin salju di pagi hari sayang. Apa yang ia katakan padamu?" "Ma?" "Ya sayang?" "Sepertinya aku butuh tidur," ujar Lucy sewaktu kepalanya semakin terasa pening. Setiap kali wanita itu membuka mata, perutnya terasa semakin mual. Ia menatap ibunya lunglai sewaktu Eliana membantu putrinya berjalan ke tangga. Tapi belum sempat mereka tiba di kamar Lucy, wanita itu merasa sekelilingnya berputar sebelum ia merosot ke bawah dan membuat mereka menjerit. "Lucy!" "Panggil dokter!" _____________________________________________ Suka cerita ini?  Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️ Pencet bintang ⭐ Pencet ikuti FoxyRibbit Ketik komentar Follow IGku Livia_92 buat spoiler Ditunggu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD