Pelayan wanita mencelupkan jari mereka ke dalam sebuah baki dan mencipratkan jarinya ke wajah Lucy, meninggalkan jejak titik basah disana. Mereka membaringkan wanita tersebut di ranjang dan membuka setiap jendela agar udara bisa masuk.
"Dimana dokternya?" tanya Viscountess Dowager Raylin panik.
"Seharusnya kita tak pernah menerima Fredge sebagai tamu."
"Pelayan tak mungkin berani mengusirnya Ellie. Dan kita juga tak mungkin menolaknya," ujar wanita tersebut muram.
Mereka terkekang dan terikat oleh peraturan kalangan bangsawan. Tak ada dalam sejarah dimana seorang bangsawan mengusir bangsawan lainnya, itu dianggap tak sopan. Bukan sikap yang pantas.
"Au tak peduli dengan norma, tidak saat putriku bersama b******n tersebut."
Pelayan kembali mencipratkan lebih banyak air saat Lucy akhirnya bangun. Ia mengerutkan alis dan menatap sekitar dengan bingung. "Apa yang terjadi?"
"Terima kasih kau sudah sadar Sayang."
"Kau kehilangan kesadaran Lucy."
Lucy menyentuh keningnya dan pelayan dengan sigap memberikan teh willowbark, yang langsung ia minum. Wanita itu menyesapnya saat beberapa detik kemudian menatap ibu dan neneknya.
"Apa aku kehilangan kesadaran karna b******n itu lagi?"
Ibunya mengangguk menyesal sewaktu tersenyum muram. "Sayang, bagaimana kalau kita pindah ke desa saja? Aku tak bisa melihatmu menderita seperti ini lagi."
Lucy menaruh tehnya dengan anggun dan meminta pelayan keluar, meninggalkan mereka bertiga. Ia menggerakkan kepalanya ke samping dan menatap pemandangan diluar jendela.
Seekor burung berwarna biru pucat sedang merangkai sarang dari ranting daun dan jerami. Ia melakukannya dengan teliti, menggigit setiap tangkai dan menaruhnya disana dengan terampil.
Tepat di antara dua cabang pohon yang menjuntai ke arah jendelanya, burung tersebut membuat sarang sebelum ia berdiam disana. Memejamkan mata lelah namun bersyukur memiliki tempat.
Kondisi Lucy sama seperti burung tersebut, aman namun sewaktu-waktu bahaya bisa datang mengancam. Ia menghembuskan nafas lelah dan menyandarkan punggungnya.
"Kemana kita akan pergi Ma? Bahkan mereka sudah tahu aku wanita pengeruk harta," balas Lucy tenang sewaktu meminum tehnya lagi.
Neneknya membuang wajah ke samping, menampilkan ekspresi kesal. "Keterlaluan sekali rumor yang mereka sempatkan padamu. Hanya karna kau jauh lebih cantik dari gadis lain, mereka menghinamu."
"Aku tidak cantik nek," elak Lucy. "Tidak ada yang cukup berani mendekatiku atau berteman denganku selain Bella."
Ellie memegang jemari putrinya. "Kalau begitu kenapa kau tetap ingin disini sayang?"
"Aku berharap menemukan suami Ma," jawabnya polos. "Atau setidaknya begitu sampai harapan tersebut perlahan-lahan lepas dari jangkauanku."
"Apa kau masih berharap mendapatkannya sayang?"
Lucy terdiam lama saat memikirkan jawabannya. Suami? Bisakah ia benar-benar mengharapkan hal tersebut? Lucy teringat saat pertama kali ia mendapatkan julukan sebagai wanita pengeruk harta tersebut.
Tak lama setelah mereka tinggal di rumah neneknya sebuah undangan dikirimkan ke rumah ini. Dowager Marseina, teman neneknya, mengundang Lucy untuk bergabung ke dalam pesta teh miliknya.
Saat itu ia sedang dalam masa setengah berkabung, sehingga Lucy boleh tampil. Namun hanya acara pribadi dan baju yang dipakai masih tak boleh berwarna cerah. Abu-abu diijinkan, warna tua lebih pantas.
Viscountess secara pribadi juga mengirimkan kereta kudanya. Jadi Lucy tak bisa menolak. Mereka hanya minum teh bersama dengan wanita lain dan juga neneknya hingga Lucy meminta ijin ke toilet.
Dalam perjalanan kembali, ia melihat seorang pelayan yang tampak gugup saat mencoba masuk ke dalam sebuah kamar. Lucy kira wanita itu hanya ingin membersihkan kamar tersebut, nyatanya pelayan itu justru membuka sebuah kotak perhiasan dan mengambil beberapa kalung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucy cepat dengan nada berbisik saat pelayan muda itu terkesiap kaget dan menatap horor ke belakang.
"Miss..."
"Aku tak akan melaporkan ini pada siapapun tapi kembalikan semuanya," ujarnya saat ia menatap pelayan tersebut yang siap menangis kapan saja.
"Ibu saya sakit Miss, ia butuh obat," pelayan itu membela dirinya.
"Tapi itu tak membenarkan tindakanmu! Cepat taruh!"
Pelayan muda tersebut menatap ke arah wajahnya, lalu kembali ke perhiasan tersebut dan menggeleng. "Tidak Miss, ibu saya akan mati tanpa obat tersebut. Tolong tutup mata anda atas kejadian ini."
Ia berlalu pergi dan melewati Lucy dengan cepat saat Lucy mengejarnya. "Tunggu! Jangan mencuri barang orang lain!"
Mereka berlari keluar dan Lucy berhasil mengambil beberapa perhiasan dari tangan pelayan tersebut sebelum ia didorong jatuh dan pelayan itu kabur meninggalkan estat Viscountess.
Mendengar keributan, semua wanita menuju asal suara dan memekik halus sewaktu mendapati Lucy yang tengah memegang perhiasan Viscountess sambil terengah-engah.
"Miss Edinburgh, apa yang terjadi disini?"
"Aku... aku mendapati salah satu pelayanmu mencoba membawa kabur perhiasanmu. Dan aku mencoba mengejarnya, tapi aku gagal."
Beberapa wanita muda yang diundang berbisik di balik kipas berbulu miliknya saat neneknya mendekati Lucy. Viscountess kembali berbicara, "Dan dimana pelayan tersebut?"
"Dia kabur. Maafkan aku."
"Bagaimana mungkin seorang pelayan berani mencuri perhiasan majikannya?" bisik wanita lain bergaun pink pada temannya.
"Itu benar. Itu sama saja dengan kematian."
"Menurutku miss Edinburgh sedang mengarang sebuah cerita."
"Apa maksudmu?" tanya neneknya murka saat wanita muda lain menutup mulut mereka.
Neneknya menatap Dowager Marseina cepat. "Kau tahu bagaimana Lucy. Dia tak mungkin memgambil apa yang bukan miliknya."
Viscountess mengangguk dan tersenyum lembut, "Aku akan menyuruh pelayan mencarinya. Jangan khawatir. Sementara itu..." ia berbalik dan menatap wanita muda yang berada di belakangnya.
"Sampai kebenarannya diketahui, aku sangat berharap anda bertiga tak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun. Tentu saja, saya percaya pada kalian semua."
"Tentu Dowager Viscountess, kami akan menunggu pernyataan anda lebih lanjut. Kami akan menutup rapat mulut kami soal hal ini."
Ia menatap Lucy datar. "Saya harap pelaku aslinya akan segera ditemukan, Miss Edinburgh."
Mereka semua pergi dan Viscountess menyuruh pelayan mengejar pelakunya. Lucy berpikir masalah sudah selesai diatasi tapi nyatanya tidak, salah satu dari ketiga wanita muda tersebut memberitahukan hal itu kepada yang lain.
Memang tidak mengatakan bahwa itu adalah Lucy, namun mereka mengatakan bahwa putri seorang saudagar yang baru saja meninggal. Dan semua orang tahu itu adalah Lucy.
Ia dan ibunya mencoba membersihkan namanya, tapi semakin keras ia melakukannya nama Lucy malah berakhir semakin buruk di dalam lumpur. Hal itu diperparah saat Viscountess berhasil menangkap pelayannya yang kabur namun dalam keadaan penuh luka.
Pelayan tersebut memang mengakui ia mencuri perhiasaan itu. Tapi ia tak tahu siapa yang melukainya dan mengambil perhiasan yang sudah susah payah ia curi. Dan orang-orang berpikir bahwa Lucy-lah yang melukai pelayan malang tersebut, untuk mengambil perhiasannya.
Sejak itulah mereka mengecapnya sebagai wanita pengeruk harta. Menempatkan kalimat pencuri untuk bangsawan, bukan hal yang etis dan dianggap tak sopan. Tapi pengeruk harta? Itu adalah hal lumrah.
Sekarang, setelah semua hinaan yang ia dapatkan dan ditanya apakah ia masih berharap untuk suami, Lucy tak tahu. Terlalu banyak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini dan itu menguras emosinya.
Sementara apa yang Fredge katakan benar, neneknya sudah tua dan tak akan lagi bisa mendukung cucunya. Ibunya bahkan terlalu lemah. Tapi ia juga tak mau menjadi wanita simpanan.
Kalau, hanya kalau ia melakukannya, ia menginginkan seorang Duke atau Earl. Setidaknya masa depan Lucy akan aman walaupun ia harus selalu hidup dalam bayang-bayang.
"Akan kujawab saat aku tahu jawabannya Ma," setidaknya hanya itu yang bisa Lucy pikirkan.
_____________________________________________
Suka cerita ini? Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️
Pencet bintang ⭐
Pencet ikuti FoxyRibbit
Ketik komentar
Follow IGku Livia_92 buat spoiler
Ditunggu