Lucy baru saja kembali saat berjalan di taman belakang milik neneknya sewaktu ia mendengar suara derap kuda dari jauh. Ia mengalami kesulitan tidur beberapa hari ini dan membutuhkan udara segar.
Ia benar-benar terkejut saat Bella datang dengan dua kereta kuda sewaktu menemuinya. Wanita itu turun dari keretanya dengan gaun cerah saat menemui Lucy.
"Pelayan, turunkan kotak tersebut pada Miss Edinburgh."
Pelayan tersebut mengangguk dan setidaknya mengeluarkan 3 peti besar yang masing-masing berada di samping tubuh Bella. Lucy mendekatinya dan menatap takjub ke arah kotak tersebut.
"Apa ini?"
Bella tersenyum lebar saat menjawabnya. "Oh hanya baju yang belum pernah kupakai."
"Bella, aku tidak menerima sumbangan," ujar Lucy.
"Sayangnya ini bukan sumbangan. Seperti kataku, semua ini adalah baju yang belum pernah kupakai. Kulihat ya, tapi belum ku kenakan satupun."
"Tapi kenapa aku? Usahamu untuk mencari suami akan semakin sulit kau tahu?" tanyanya balik sewaktu mengingatkan Bella soal niat wanita itu mencari suami.
Bella masuk ke dalam dan Lucy berjalan disampingnya sewaktu ia meminta teh. Pelayan pergi dan meninggalkannya di ruangan depan saat Bella duduk. Lucy ikut duduk disampingnya saat Bella memainkan bulu matanya yang lentik dan menatap Luciana dalam-dalam.
"Sebenarnya aku kemari untuk meminta bantuanmu Lucy."
"Bantuan macam apa?" tanyanya saat melihat deretan kotak tersebut.
"Aku akan dinikahkan oleh ayahku."
"Dan kupikir itu kabar bagus. Jadi kenapa wajahmu pucat seolah-olah kau akan menuju ke tiang gantungan?"
"Dengan Sebastian Benedict!" lanjutnya yang membuat Lucy menutup mulut.
Sebastian Benedict bukan pria yang buruk, sama sekali bukan. Ia kaya dan mapan, muda dan sehat, terlebih orang-orang bersimpati padanya akibat pengkhianatan miss Burburry. Lucy tak melihat ada yang aneh. Pelayan datang dan menyajikan gelas paling cantik, berbanding terbalik saat Milana membawakan gelas yang susah cuil saat Fredge datang.
Luciana menunggu pelayannya pergi sebelum kembali bertanya. "Darimana kau tahu soal kabar pernikahan ini?"
Bella menyesap teh miliknya dan menyandarkan punggung di sofa dengan cara yang sangat tidak elegan. "Aku mengupingnya. Ayahku menerima seorang tamu secara pribadi, dan tamu tersebut ternyata pelayan Mr. Benedict. Lalu seperti yang kau tahu, aku menguping dan pelayan itu berkata bahwa secara khusus aku diundang ke pesta yang akan diselenggarakan oleh pria itu."
"Itu tidak menunjukkan ke arah pernikahan Bella," ujarnya saat Bella melanjutkan ucapannya.
"Tidak sampai dibagian dimana Mr. Benedict menaruh minat padaku dan berharap melakukan pendekatan. Aku bisa mendengar pundi-pundi emas di saku ayahku, dan aku tahu dia akan menyetujui pernikahan ini."
Lucy menutup mulutnya sambil berpikir serius. Bella memang cantik, jadi banyak yang menaruh minat padanya. Tapi wanita itu masih belum mau menikah karna ia ingin posisi sebagai Duchess. Itu cita-citanya sejak lahir.
Sementara Benedict... Lelaki itu sangat tertutup rapat. Luciana sendiri pun hanya bertemu dengannya 2 atau 3 kali di beberapa pesta tapi mereka tak pernah saling bertegur sapa. Masih menjadi misteri apakah ia hanya pengusaha biasa atau kaum pemanjat sosial.
Ayahnya Bella sendiri tak mempermasalahkan gelar menantunya, selama ia mendapatkan uang. Ibunya Bella juga demikian. Pendapat Bella benar-benar tak penting, begitu juga dengan para wanita lainnya.
Lucy mendesah dan menatap Bella lembut saat meremas jarinya. "Kau bisa menolaknya Bella. Katakan saja padanya bahwa kau tak menginginkan pernikahan ini."
Bella menunduk lesu, "Andai semudah itu. Kami belum pernah saling berbicara atau bahkan bertemu. Aku tak ingin menikah dengan pria asing. Belum lagi rumor tersebut. Ia jelas menikahiku hanya untuk membalas dendam pada Miss Burburry."
Lucy melebarkan matanya kaget. Sontak ia menengok ke sekitar untuk memastikan tak ada seorangpun yang mendengarnya. "Darimana kau tahu?"
"Alasan apa lagi yang bisa dipikirkan selain bukan itu?" tanya Bella balik dengan wajah tertekuk. "Ia terluka atas pengkhianatan wanita tersebut, dan memilihku untuk mengatakan bahwa aku-bisa-mendapatkan-gadis-tercantik-dan-menikahinya itu. Aku tumbal Lucy."
Luciana tampaknya setuju atas pemikiran tersebut. Ia menatap was-was Bella, "Jadi bantuan apa yang kau butuhkan dariku?"
Kini gantian Bella yang menatapnya cemas. Ia menaruh cangkirnya, mengambil nafas beberapa kali sebelum akhirnya mencoba tersenyum manis ke arah Lucy. "Bisakah kau yang menikahinya saja?"
"Bella! Apa kau menyuruhku berperan sebagai dirimu?!" jerit Lucy panik saat Bella menggeleng cepat.
"Bukan itu. Astaga tentu saja bukan, aku hanya berpikir kau mungkin bisa menggodanya. Dan membuat ia berubah pikiran."
"Itu tak mungkin Bella, aku bahkan berani bertaruh dia tak tahu apapun soalku atau mengenalku sebelumnya."
"Tapi kau kan belum mencobanya Lucy," bujuknya sewaktu Lucy masih tak bergeming.
Bella mencari cara lain. "Kau bisa terbebas dari Fredge kalau menikahi Sebastian. Kudengar kemarin dia kemari dan mencoba merayumu."
Lucy menggeleng tegas, "Bahkan aku tak akan memanfaatkan seseorang untuk bebas dari masalahku."
"Jadi kau ingin aku dikorbankan begitu saja?" tanyanya balik yang membuat Lucy terdiam.
Memang, rasanya terlalu menyedihkan untuk Bella. Bagaimana bisa seseorang tak diijinkan untuk memilih pasangannya sendiri, benar-benar menyedihkan. Wanita itu harus tinggal bersama dengan seseorang yang tak ia cintai hingga kematian menjemput.
"Aku tak tahu dengan apa aku membantumu Bella," ujarnya jujur sambil memainkan ibu jari. "
Bella memijat keningnya yang terasa berat. "Entah aku menemukan pasangan untukku sendiri atau dia mengubah keputusannya, tak ada yang akan berubah tanpa hal tersebut."
"Bagaimana kalau kita memperkenalkan Mr. Benedict pada Miss Lily dan Rose Hopkins?" tanya Lucy balik saat Bella membelalakkan matanya.
"Itu ide yang sangat bagus Lucy! Sir Hopkins pasti akan setuju dengan ide tersebut. Tapi bagaimana caranya? Sebastian dan kedua saudari tersebut belum pernah bertemu secara langsung."
Luciana memiringkan kepalanya ke samping, "Itu mudah. Kau diundang oleh Sebastian bukan? Jadi kau bisa memintanya mengundang Rose dan Lily."
Bella terdiam sesaat sebelum memikirkan ucapan Luciana. Benar, ia bisa meminta pria itu mengundang Hopkins. Keduanya juga lajang dan menarik. Bella tak percaya lelaki itu tak akan jatuh pada pesona Hopkins.
Bella mengangguk saat tersenyum puas. "Kau akan menemaniku untuk berbicara dengannya. Ditambah kau juga akan ikut dalam pesta tersebut. Tak boleh menolak."
Mata indah Luciana kembali melebar dan suaranya terdengar mendesak. "Bella, kau tidak bisa bertemu dengan Mr. Benedict tanpa wali! Kau bangsawan dan membutuhkan wali untuk memperkenalkan kalian berdua!" sanggahnya mengingatkan peraturan dan tata krama bangsawan.
"Siapa yang peduli dengan tata krama sosial saat aku berada di ujung tebing? Lagipula kami sudah pernah bertemu. Kalau kau takut, temani aku saja."
"Kau memintaku bertindak sebagai pendampingmu?" tanyanya tak percaya.
"Tentu. Kau tak akan menolak kan?"
Lucy tak bisa berkata tidak. Terlebih lagi dia yang membuat ide ini. Miss Rose dan Lily, ia merasa sedikit jahat untuk mereka berdua. Tapi ia hanya melakukan itu untuk Bella.
Jadi Lucy berganti baju dan mengenakan gaun berwarna pink pucat dengan kerudung gelap yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia dan Bella bergegas menuju ke kediaman Sir Benedict.
Kereta kuda dengan emblem bergambar elang dan berwarna putih pucat tersebut melintasi pedesaan. Menarik tirai jendela di dalam kereta, Lucy menatap ke samping sewaktu lahan hijau tersebut mulai menghilang dan diganti dengan orang-orang yang berlalu lalang.
Penjual roti yang membunyikan bel di tangan mereka, gadis penjual bunga mawar, penjual koran. Semuanya tumpah ruah menjadi satu. Gedung-gedung tinggi menghiasi jalanan tersebut.
Lucy menatap ke depan, ke arah Bella yang terlihat gugup. Ia menyadari ini pertama kalinya wanita tersebut pergi mengunjungi rumah seorang pria. Dan pertama kali juga bagi Lucy.
Masih segar dalam ingatannya bagaimana mereka berdua bisa menjadi teman. Saat itu ayah Lucy masih hidup dan mereka memiliki estat yang cukup luas dengan pepohonan yang tertanam di sepanjang sisi danau.
Bella dan keluarganya datang atas undangan dari ayahnya. Lucy kecil, yang mungkin baru berusia 7 tahun memilih berada diluar dan sibuk memanjat pohon saat melihat Bella.
Bella mengenakan jubah putih dengan baju hijau miliknya sewaktu mendongak ke atas, menatap Lucy yang sedang bermain di salah satu cabang pohon yang menjulur ke sungai.
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Memanjat," jawabnya lugu sewaktu Bella menatap ke arah pohon lalu kembali ke arahnya.
"Bagaimana caramu melakukannya?"
"Kau tak bisa mengenakan rok dan sepatu. Kau harus mengenakan baju tidur sepertiku."
Bella membuka jubah, lalu bajunya dan melepas sepatu saat hanya menyisakan baju dalam saja. Ia terlihat bersemangat. "Ajari aku!"
Dan Lucy melakukannya. Ia mengajari Bella bagaimana cara memanjat, meraih cabang pohon dan meletakkan kakinya. Lalu mereka berdua tertawa lebar saat mencapai atas sementara kedua ayahnya berteriak panik dibawah.
Keduanya mendapatkan hukuman dari sang ayah tapi diam-diam setiap kali Bella mengunjungi Lucy, mereka akan pergi memanjat. Dan bahkan berayun disana sebelum menceburkan diri ke danau.
Dan dimarahi, lagi.
Masa itu sangat menyenangkan. Masa dimana tak ada masalah dan kesulitan. Dimana Lucy tak bersedih atau menangis.
Ingatan wanita itu terhenti sewaktu kereta kuda berhenti dan pelayan membukakan pintu, bersiap di samping saat menaikkan sebelah tangannya untuk membantu para wanita turun.
Lucy menatap rumah besar tersebut sebelum menengok ke arah Bella. Ia meremas tangan temannya dan tersenyum manis. "Jangan khawatir. Cara ini pasti akan berhasil."
"Harus."
_____________________________________________
Suka cerita ini? Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️
Pencet bintang ⭐
Pencet ikuti FoxyRibbit
Ketik komentar
Follow IGku Livia_92 buat spoiler
Ditunggu