Part 30

1106 Words

Ucapan terakhir Viscountess Marseina menusuk hati Luciana. Ia tak memikirkan kebahagiannya sendiri, tak memiliki waktu seluang itu. Selalu saja ada lubang baru di atap rumah neneknya, gorden yang sudah pudar warnanya akibat sering di cuci. Atau makanan yang lambat laut semakin menipis. Luciana sering menangis di tengah malam saat memikirkan kondisi keluarga mereka. Harapannya sudah semakin terbang menjauh seiring kesehatan neneknya yang menurun setiap hari. Bahagia? Dia? Bisakah Lucy mendapatkan kesempatan tersebut? Terdengar ketukan di pintu dan Benedict datang sambil membawa dokter tua yang mengenakan kacamata dengan punggung yang agak membungkuk karna usia. Tatapan keduanya bertemu di udara untuk beberapa detik, memancarkan listrik yang memercik di tengah ruangan. Rindu dan sesal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD